Analisis Artikel Keluarga

Posted: May 6, 2012 in Psikologi, Uncategorized

Permasalahan 1 : M hilang (kabur) dari rumah saudaranya.

Diskusi                : Kemungkinan terjadinya permasalahan tersebut adalah kurangnya pengawasan yang dilakukan oleh keluarga terhadap M. Sehingga saat M meninggalkan rumah, keluarganya tidak ada yang curiga atau mengawasinya.

Menurut John DeFrain (dalam David H.L. Olson & John DeFrain, 2002), terdapat enam karakteristik yang sama dimiliki oleh keluarga-keluarga kokoh baik di negara maju ataupun berkembang. Salah satunya adalah waktu bersama yang berkualitas, memprioritaskan kebersamaan. Kesanggupan keluarga dalam menyediakan waktu bersama untuk saling berbagi kasih dan perhatian, kelembutan, kegembiraan, ketakutan bahkan dalam kemarahan merupakan unsur yang memperkokoh keluarga. Keluarga yang kokoh dan sehat adalah yang meluangkan waktu bersama, melakukan sesuatu bersama.

Jadi permasalahan tersebut dapat dilihat sebagai kurangnya waktu bersama yang berkualitas dalam keluarga M. Meskipun banyak saudaranya yang sedang berkumpul, muncul asumsi bahwa M tidak terlalu merasa nyaman dalam situasi tersebut, dan M lebih memilih meninggalkan rumah (untuk bertemu teman Facebook­-nya) daripada menghabiskan waktu bersama keluarganya.

Pengawasan dapat dilakukan melalui komunikasi secara terbuka dengan si anak. Ini terutama dimaksudkan agar orangtua dapat memantau pergaulan anaknya. Orangtua harus mengetahui orang-orang di sekitar si anak yang sering menjadi temannya dalam ber-facebook.

 

Permasalahan 2 : M menggunakan situs jejaring sosial padahal usianya belum mencukupi.

Diskusi                : Kemungkinan terjadinya permasalahan tersebut adalah anak belum mulai belajar untuk mengontrol perilakunya sendiri. Sehingga dengan menyadari atau tidak aturan-aturan dalam situs tersebut, ia tetap menggunakannya meskipun belum tahu ‘kejahatan’ apa saja yang ada di dalamnya.

Menurut Santrock (2008), pola asuh indulgent adalah gaya asuh dimana orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anaknya tapi tidak banyak memberi batasan atau kekangan pada perilaku mereka. Orang tua ini sering membiarkan anaknya untuk melakukan apa yang si anak inginkan dan membiarkan anak mencari cara sendiri untuk mencapai tujuannya, sebab orang tua model ini percaya bahwa kombinasi dukungan pengasuhan dan sedikit prmbatasan akan menciptakan anak yang kreatif dan percaya diri. Hasilnya adalah si anak biasanya tidak belajar untuk mengontrol perilakunya sendiri. Orang tua ini tidak memperhitungkan seluruh aspek perkembangan si anak.

Selain itu, berdasarkan teori pola hubungan keluarga, yaitu hubungan antar orang tua-anak. Beberapa hal yang menjadi indikasi serasinya hubungan antara orang tua-anak antara lain: Adanya pengetahuan dan wawasan orang tua-anak tentang pentingnya hubungan yang setara dalam keluarga; Tumbuhnya rasa cinta dan kasih sayang antara orang tua-anak atau sebaliknya; Munculnya rasa hormat dan menghargai satu sama lainnya; Adanya sikap dan perilaku orang tua yang rasional dan bertanggung jawab terhadap proses tumbuh kembang anak; Adanya kemampuan orang tua untuk mendeteksi gejala yang memungkinkan timbulnya permasalahan anak.

Jadi permasalahan tersebut dapat dilihat sebagai adanya ketidaksamaan kebutuhan dan keinginan antara pengharapan orang tua terhadap anak dengan apa yang sebenarnya diinginkan oleh anak yang menjadi sumber dari tidak efektifnya komunikasi antara orang tua dengan anak. Tanpa orang tua M sadari, mereka memberikan kebebasan yang berlebihan tanpa pengawasan pada aktivitas yang dilakukan M.


Permasalahan 3 : M diduga bertemu dan dibawa teman dari situs jejaring sosial tersebut yang baru dikenalnya.

Diskusi                : Kemungkinan terjadinya permasalahan tersebut adalah penggunaan situs jejaring sosial yang tanpa kontrol. Sehingga ia dapat mengenal siapa saja di dunia luar, yang belum tentu itu adalah identitas aslinya dan tidak terjamin keamanannya.

Menurut Stanley Hall (dalam Alan Slater & J. Gavin Bremmer, 2003), “Masa remaja adalah masa ‘stress and strain’ (masa kegoncangan dan kebimbangan). Akibatnya para pemuda-pemudi melakukan penolakan-penolakan pada kebiasaan di rumah, sekolah dan mengasingkan diri dari kehidupan umum, membentuk kelompok hanya untuk ‘gangnya’. Mereka bersifat sentimentil, mudah terguncang dan bingung. Tugas perkembangan remaja yang berkaitan dengan permasalahan ini adalah: Mencapai hubungan sosial yang lebih matang dengan teman-teman sebayanya, baik dengan teman-teman sejenis maupun jenis kelamin lain; Dapat menjalankan peranan-peranan sosial menurut jenis kelamin masing-masing; Menerima kenyataan (realitas) jasmaniah serta menggunakannya seefektif-efektifnya dengan perasaan puas; Mencapai kebebasan emosional dari orang tua atau orang dewasa lainnya; Memperlihatkan tingkah laku yang secara sosial dapat dipertanggung jawabkan; Memperoleh sejumlah norma-norma sebagai pedoman-pedoman dalam tindakan-tindakannya dan sebagai pandangan hidupnya.

Teman pergaulan (sering juga disebut teman bermain) pertama kali didapatkan manusia ketika ia mampu berpergian ke luar rumah. Pada awalnya, teman bermain dimaksudkan sebagai kelompok yang bersifat rekreatif, namun dapat pula memberikan pengaruh dalam proses sosialisasi setelah keluarga. Puncak pengaruh teman bermain adalah pada masa remaja. Kelompok bermain lebih banyak berperan dalam membentuk kepribadian seorang individu.

Berbeda dengan proses sosialisasi dalam keluarga yang melibatkan hubungan tidak sederajat (berbeda usia, pengalaman, dan peranan), sosialisasi dalam kelompok bermain dilakukan dengan cara mempelajari pola interaksi dengan orang-orang yang sederajat dengan dirinya. Oleh sebab itu, dalam kelompok bermain, anak dapat mempelajari peraturan yang mengatur peranan orang-orang yang kedudukannya sederajat dan juga mempelajari nilai-nilai keadilan.

Jadi permasalahan tersebut dapat dilihat sebagai bukti penyalahgunaan teknologi informasi dan komunikasi yang dapat mengakibatkan munculnya dampak negatif. Hal ini dapat menjadikan  anak dan remaja sebagai korban penculikan oleh sindikat perdagangan manusia, dll.

Fase perkembangan anak rentan terhadap dampak negatif  internet ini. Mereka memasuki fase perkembangan yang tidak stabil. Sejalan dengan perkembangan fungsi jasmani, perkembangan intelektualnya berlangsung sangat intensif. Mereka biasanya memiliki minat yang tinggi terhadap pengetahuan dan pengalaman baru.

Anak dan remaja otomatis memerlukan perlindungan mental, fisik, sosial, ekonomi dari dampak negatif internet, termasuk pengawasan terhadap penggunaan facebook. Perlindungan ini harus dilakukan kalangan keluarga, sekolah, masyarakat, maupun pemerintah.

Hak anak sudah dilindungi hukum. Ini tertuang melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. UU ini menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Hak anak tersebut merupakan bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi  keluarga, masyarakat, serta pemerintah dan negara. UU tersebut harus diterjemahkan secara konkret dalam kehdiupan sehari-hari. Keluarga harus senantiasa mengawasi anak mereka saat memanfaatkan layanan internet.

 

Referensi

Olson, David H.L. & DeFrain, John. 2002. Marriages and Families: Intimacy, Diversity, and Strengths. Boston: McGraw-Hill.

Santrock, John W. 2008. Psikologi Pendidikan Edisi ke-2. Dallas: University of Texas.

Slater, Alan & Bremmer, J. Gavin. 2003. An Introduction to Developmental Psychology. Malden: Wiley-Blackwell.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s