Tes Forer

Posted: March 7, 2012 in Tes Psikologi
Tags:

Kelompok 5

Muhammad Farid

Nur’aini Azizah

 

Fakultas Psikologi

UIN Sunan Gunung Djati Bandung

 

Survey mengenai penggunaan tes menemukan bahwa sentence completion tests (SCT) paling banyak digunakan dalam instrument assessment kepribadian. Tes ini diberi peringkat kedua oleh clinician Jepang (Ogawa & Piotrowski, 1992), peringkat ketiga oleh psikolog klinis (Goh & Fuller, 1983), peringkat kelima oleh clinician yang bekerja pada remaja (Archer, Maruish, Imhof, & Piotrowski, 1991), peringkat keempat oleh psikolog sekolah (Kennedy, Faust, Willis, & Piotrowski, 1994), peringkat kelima oleh penyedia layanan kesehatan mental representative, dan peringkat ketiga oleh anggota Society for Personality Assessment dalam respons dengan pertanyaan: “Withwhat 5 projective tests should the professional practitioner be competent?” (Piotrowski, 1985, hal. 81).

Sangat menarik bahwa SCT diklasifikasikan secara umum, sementara instrument kepribadian lain diberi peringkat sesuai namanya (seperti Rorscach atau Minnesota Multiphasic Personality Inventory–2 [MMPI–2]), tidak berdasarkan kategorinya (misalnya inkblot dan storytelling technique). Padahal dalam SCT juga terdapat beberapa macam tes yang dibuat oleh ahli yang berbeda. Pada makalah ini kami membahas salah satu dari SCT tersebut, yaitu Forer Sentence Completion Test.

2.1  Sejarah Tes Forer

Bertram R. Forer (24 Oktober 1914-6 April 2000) adalah psikolog Amerika yang terkenal dengan Forer effect, atau validasi subjektif. Lahir di Springfield, Massachusetts, Forer lulus dari University of Massachusetts Amherst  pada tahun 1936. Dia mendapat gelar M.A. dan Ph.D. dalam psikologi klinis dari University of California, Los Angeles. Dia menjadi psikolog dan administrasi di rumah sakit militer Perancis selama Perang Dunia Kedua. Setelah itu ia bekerja di veteran administration klinik mental di Los Angeles, dan membuka praktik di Malibu, California.

Dalam eksperimen klasiknya di tahun 1948, B. R. Forer memberikan sebuah uji kepribadian pada mahasiswanya, mengabaikan jawaban mereka, dan membagikan hasil yang sama pada setiap siswa. Ia meminta mereka menilai tugas mereka pada skala dari 0 hingga 5, dimana 5 sangat akurat. Evaluasi yang diberikan rata-rata 4.26. Tes ini telah diulang ratusan kali dan rata-ratanya tetap sekitar 4.2.

Orang cenderung menerima deskripsi kepribadian umum dan kabur berlaku pada diri mereka sendiri tanpa menyadari deskripsi yang sama dapat berlaku pada siapa saja. Orang cenderung menerima klaim mengenai diri mereka sendiri yang sebanding dengan keinginan mereka kalau klaim tersebut benar daripada sebanding dengan ketelitian empiris dari klaim seperti yang diukur oleh standar non subjektif.

Efek Forer mungkin penyebab kenapa orang percaya astrologi, bioritme, peramal keberuntungan, grafologi, pembaca guratan telapak tangan, dan metode lain analisis karakter. Forer mengatakan kalau kecerobohan dapat bertanggung jawab atas kecenderungan pelanggan untuk menerima hasil tes kepribadian yang sama. Tampak lebih rumit daripada itu dan mungkin melihatkan bukan hanya kecerobohan, namun juga penipuan diri, pemikiran berharap, dan bias konfirmasi.

Kita cenderung menerima tanpa mempertanyakan, bahkan pernyataan yang samah mengenai diri kita sendiri, bila kita merasa ia cukup positif. Kita sering memberi penafsiran yang sangat liberal pada klaim yang kabur atau tidak konsisten mengenai diri kita sendiri untuk membuat klaim tersebut masuk akal. (Carroll 2003: 147).

Fenomena tersebut disebut juga sebagai Barnum Effect, yang diambil dari nama P. T. Barnum, seorang showbiz man yang pernah mengatakan bahwa “any good circus should have something for everyone”. Pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa untuk membuat sesuatu yang menarik, kita harus bisa membuatnya menarik bagi semua orang. Dalam kaitannya dengan eksperimennya, Forer menyimpulkan bahwa untuk terlihat akurat, deskripsi astrologi tidak harus akurat. Alih-alih, seorang astrologer dapat memberikan gambaran kepribadian yang umum dan samar kepada orang-orang, yang sebenarnya gambaran tersebut dapat berlaku juga bagi setiap orang lainnya. Dalam beberapa literatur psikologi, hal ini juga sering disebut dengan pernyataan “one size fits all”, yaitu di mana sebuah pernyataan berlaku bagi (hampir) semua orang.

Sejumlah ilmuwan psikologi mencoba mereplikasi apa yang dilakukan oleh Forer. Dari penelitian-penelitian tersebut, ditemukan bahwa hampir semua orang sangat rentan terhadap Barnum Effect –orang tua dan kaum muda, laki-laki dan perempuan, orang-orang yang percaya maupun yang skeptis terhadap astrologi, dan bahkan para Manajer SDM sekalipun.

Dalam penelitian lain, Margaret Hamilton, seorang psikolog dari University of Wisconsin, menemukan bahwa terdapat perbedaan dalam tingkat kepercayaan terhadap keakuratan horoskop. Secara tradisional, keduabelas zodiak dibagi menjadi enam zodiak “positif” (Aries, Gemini, Leo, Libra, Sagitarius, dan Aquarius) dan enam zodiak “negatif” (Taurus, Cancer, Virgo, Scorpio, Capricorn, dan Pisces). Sifat-sifat yang diasosiasikan dengan zodiak-zodiak “positif” cenderung lebih menyenangkan daripada sifat-sifat yang diasosiasikan dengan zodiak-zodiak “negatif”. Dalam penelitian tersebut, partisipan diberikan sebuah deskripsi kepribadian menurut zodiak. Setelah itu, mereka diminta untuk memberi penilaian mengenai deskripsi tersebut dan sejauh mana mereka percaya terhadap astrologi. Dari penelitian tersebut terungkap bahwa partisipan yang berzodiak positif, dibandingkan dengan mereka yang berzodiak negatif, cenderung lebih percaya terhadap penjelasan astrologi yang dipaparkan dalam penelitian tersebut. Dalam hal ini, terjadi flattery effect di mana orang-orang akan cenderung percaya dan mendukung gagasan-gagasan yang membuat mereka terlihat positif. Temuan ini mendukung gagasan Forer sebelumnya, bahwa dalam astrologi yang terpenting bukanlah akurasi, melainkan bagaimana membuat orang mengiyakan gambaran diri yang diberikan.

 “Anda memiliki kebutuhan yang besar untuk disukai dan dikagumi oleh orang lain. Anda memiliki kecenderungan untuk bersikap kritis terhadap diri sendiri. Anda memiliki kapasitas besar dalam diri Anda yang belum Anda manfaatkan untuk menjadi sesuatu yang menguntungkan. Walaupun memiliki sejumlah kelemahan, secara umum Anda mampu mengkompensasi kelemahan itu. Di luar, Anda adalah orang yang disiplin dan mampu mengendalikan diri, tetapi di dalam, Anda cenderung pencemas dan gelisah. Terkadang, Anda memiliki keraguan besar apakah Anda telah membuat keputusan yang tepat atau melakukan hal yang benar. Anda senang akan adanya sejumlah perubahan dan keanekaragaman dalam hidup dan tidak suka jika dikelilingi oleh peraturan dan batasan. Anda bangga menjadi seorang pemikir yang independen dan tidak bisa menerima pernyataan orang lain tanpa adanya bukti yang meyakinkan. Anda melihat bahwa tidak baik untuk terlalu terus terang dalam menunjukkan diri kepada orang lain. Di beberapa kesempatan, Anda terbuka, ramah, dan mudah bergaul, di kesempatan lainnya Anda tertutup, ragu-ragu, dan pendiam. Beberapa aspirasi Anda cenderung tidak realistis. Keamanan adalah salah satu tujuan utama Anda dalam hidup.” (http://en.wikipedia.org/wiki/Forer_effect)

2.2  Administrasi Tes Forer

Tes Forer (ditulis pada tahun 1950; Forer, 1960, 1993) dirancang dengan fokus pada berbagai macam attitudes dan sistem nilai yang didasari teori Henry Murray tentang kebutuhan, tekanan, dan inner states. Tes ini diterbitkan oleh Western Psychological Services (1998).

Tes ini mengidentifikasi sikap dan pandangan individu mengenai dirinya, orang lain, dan dunia. Pernyataan dalam tes sebagai stimulus dicocokkan dalam kondidi orang ketiga dan orang pertama baik tunggal maupun jamak. Struktur Tes Forer meliputi spesifikasi pernyataan awal dan sistem evaluasi digunakan untuk meng-assess kualitas respons. Waktu mengerjakan tes ini 15-20 menit, dengan subjek populasi remaja dan dewasa.

Tes ini terdiri dari 100 item yang dibagi dalam subskala:

  1. Interpersonal Figures: sikap terhadap karakteristik interpersonal figures (ayah, ibu, laki-laki, perempuan, kelompok, tokoh otoritas).
  2. Wishes: keinginan-keinginan.
  3. Causes of Personal Emotions: sebab-sebab dari perasaan atau tindakan seseorang.
  4. Reactions to Emotions: reaksi-reaksi terhadap keadaan luar

Skoring

Respons diberi skor dengan menggunakan checklist dan form evaluasi klinis untuk menganalisa subskala dalam variasi emosi, dorongan, dan keinginan. Bentuk ini memberikan skema evaluasi yang terstruktur bahwa pemeriksa dapat menggunakan grup dari item-item ke dalam salah satu dari empat subskala tadi.

 

2.3  Interpretasi Tes Forer

Setiap item ditentukan berdasarkan “attitudes toward” dan “characteristics of” dalam dua kategori pertama, dan “attitudes toward” dalam dua kategori terakhir. Forer telah mencoba untuk mendefinisikan istilah-istilah tesnya secara operasional dalam pedoman klinis, secara spesifik dan implikasi tentang struktur dan organisasi dari kepribadian seseorang. Sedangkan untuk standarisasi tes ini, reliabilitas dan validitas masih kurang karena masih menggunakan sistem manual yang tidak berisi informasi tentang reliabilitas dan validitasnya. Untuk penggunaan norma-normanya pun sangat minim. Oleh karena keterbatasan tersebut, penggunaan tes Forer dianjurkan sebagai tambahan untuk tes psikologis dalam setting klinis dan penelitian.

 

3.1  Kesimpulan

Tes Forer (ditulis pada tahun 1950; Forer, 1960, 1993) dirancang dengan fokus pada berbagai macam attitudes dan sistem nilai yang didasari teori Henry Murray tentang kebutuhan, tekanan, dan inner states. Tes ini diterbitkan oleh Western Psychological Services (1998).

Waktu mengerjakan tes ini 15-20 menit, dengan subjek populasi remaja dan dewasa. Tes ini terdiri dari 100 item yang dibagi dalam subskala:

  1. Interpersonal Figures: sikap terhadap karakteristik interpersonal figures (ayah, ibu, laki-laki, perempuan, kelompok, tokoh otoritas).
  2. Wishes: keinginan-keinginan.
  3. Causes of Personal Emotions: sebab-sebab dari perasaan atau tindakan seseorang.
  4. Reactions to Emotions: reaksi-reaksi terhadap keadaan luar

Respons diberi skor dengan menggunakan checklist dan form evaluasi klinis untuk menganalisa subskala dalam variasi emosi, dorongan, dan keinginan.

Setiap item ditentukan berdasarkan “attitudes toward” dan “characteristics of” dalam dua kategori pertama, dan “attitudes toward” dalam dua kategori terakhir. Untuk standarisasi tes ini, reliabilitas dan validitas masih kurang karena masih menggunakan sistem manual yang tidak berisi informasi tentang reliabilitas dan validitasnya. Untuk penggunaan norma-normanya pun sangat minim.

 DAFTAR PUSTAKA

 

Bagaskara, M.Si, Sunu. 2011. Astrologi; Bisa Dipercaya Gak Sih?. Tersedia di: http://www.dailypsychology.net.

Holaday, Margot. A. Smith, Debra. Sherry, Alissa. 2000. Sentence Completion Tests: A Review of the Literature and Results of a Survey of Members of the Society for Personality Assessment. _____: Lawrence Erlbaum Associates, Inc. Dalam JOURNAL OF PERSONALITY ASSESSMENT, 74(3), 371–383.

__________. 2011. Bertram Forer. Tersedia di: http://www.en.wikipedia.org/Bertram_Forer.

__________. 2011. Forer Effect. Tersedia di: http://www.en.wikipedia.org/Forrer_effect.

http://www.kids-iq-tests.com/Forer-Structured-Sentence-Completion-Test.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s