Family Therapy

Posted: March 7, 2012 in Psikoterapi
Tags:

Kelompok 5

Ni’matun Hasanah

Nur’aini Azizah

Fakultas Psikologi

UIN Sunan Gunung Djati Bandung

The essence of family therapy is its view that “change calls for altering the process, not discovering the original culprit”.

(Goldenberg & Goldenberg, 2004, hal. 16)

 

Fokus dari family therapy bukan pada pasien individu, melainkan keluarga secara keseluruhan. Argumen dasarnya adalah bentuk treatment ini lebih logis, cepat, memuaskan, dan ekonomis untuk merawat seluruh anggota keluarga daripada berkonsentrasi pada satu orang yang harus diberikan treatment. Tugas dari family therapist adalah untuk mengubah hubungan antara anggota keluarga yang bermasalah sehingga perilaku simtomatik tersebut hilang. Untuk mencapai hal ini, family therapists mengembangkan berbagai strategi dan teknik, berdasarkan teori yang berbeda-beda, dengan tujuan memperbaiki hubungan sehingga seluruh anggota keluarga dapat menyesuaikan diri, termasuk pasiennya itu sendiri.

Family therapy mencakup metode dalam menghadapi keluarga dengan berbagai macam kesulitan biopsikososial. Beberapa family therapists berpendapat bahwa seluruh masalah manusia secara esensi berhubungan dan family therapy terlibat dalam hal tersebut. Yang lain berargumen bahwa marital dan family therapy digunakan untuk masalah hubungan yang spesifik atau sebagai pendamping treatment farmakologis, seperti pada penderita skizofrenia.

Sebagian family therapists juga berpendapat bahwa masalah yang perlu diatasi dengan terapi adalah masalah yang dihadapi klien, seperti orang tua, anak-anak, atau pasangan yang membutuhkan bantuan. Yang lain berpendapat bahwa masalahnya lebih baik dihadapi oleh diagnosa psikiatrik professional, seperti kekerasan dalam rumah tangga, atau seseorang dengan masalah alcohol.

BAB II

ISI

2.1  Sejarah Perkembangan Family Therapy

Pada awal abad ke-20, psikoanalisis menjadi kekuatan dari terapi. Mengikuti langkah Freud, pada tahun 1950-an terapis meyakini bahwa berbahaya jika proses terapi melibatkan lebih dari satu anggota keluarga (Broderick & Scharder, 1991). Kemudian di akhir Perang Dunia Kedua muncul berbagai tantangan baru diantaranya stress pada keluarga yang berkaitan dengan pernikahan pada masa peperangan, tekanan baby boom, dan perubahan peran laki-laki dan perempuan sebagai hasil dari peluang pendidikan dan pekerjaan yang baru

Hal ini memancing peneliti dan clinician untuk memperhatikan proses intrafisik dan individual untuk menemukan akar permasalahan psikologis; yang kemudian menjadi awal kelahiran family therapy.

Family therapy tidak secara langsung muncul dari kajian psikologi, melainkan berawal dari teori general systems dan cybernetics. Norbert Wiener, seorang matematis dari Massachusetts Institute od Technology menginisiasi pengembangan teknologi dalam perang di awal 1940-an, mulai mempelajari mesin, membandingkan hal tersebut dengan organisme hidup untuk memahami dan mengendalikan sistem yang kompleks (Becyar & Becyar, 2003). Hasil dari penelitiannya dinamakan cybernetics, studi tentang mekanisme feedback dalam sistem regulasi diri (David, 2004; Nichols & Schwartz, 2006). Feedback yaitu proses dimana perilaku sebuah sistem dapat diperbaiki dan dipandu melalui informasi yang dimiliki sistem tersebut. Informasi ini terdiri dari systems performance yang berhubungan dengan lingkungan, juga hubungan diantara bagian-bagian dari sistem. Feedback untuk mengembalikan kondisi dasar, yang dinamakan homeostatis, atau menguatkan performance dari sistem.

Dari teori general systems dan cybernetics, pendekatan atau pemikiran sistemik telah mencapai konsep yang lebih fokus terhadap hubungan diantara elemen dibanding atribut elemen tersebut, sebagaimana yang biasa dilakukan psikoanalisis secara tradisional. Istilah “cybernetics” lebih sering digunakan di Eropa, sedangkan di Amerika Serikat lebih dikenal sebagai “systems theory”, dimana family therapy mulai dikembangkan (Becvar & Becvar, 2003).

Sebagaimana sistem yang mengorganisasikan bagian-bagian dalam membentuk keseluruhan yang kompleks dan lebih besar dari bagian-bagian tersebut, keluarga lebih dari sekedar sekelompok individu; yakni jaringan hubungan. Serupa dengan bagaimana mengontrol sistem informasi-proses dalam cybernetics, keluarga mengatur interaksi diantara anggotanya dan menjaga kestabilan perilaku mereka, dimana terdapat beberapa keluarga yang terjebak dalam perilaku tidak produktif yang berulang selama proses tersebut (Nichols & Schwartz, 2006). Sistem pemikiran clinician tentang konsep perilaku manusia dalam konteks sosial bukan fokus terhadap individu, melainkan pada hubungan individu tersebut dengan lingkungannya. Family therapy yang melibatkan systems thinking, mengembangkan dari terapi individual dengan mengubah emphasis perilaku manusia dari “why” menjadi “what”, dan dari masa lalu menjadi masa kini. Family therapists lebih memperhatikan apa yang terjadi pada keluarga saat ini, daripada latar belakang masalah ataupun berakar dari masa kanak-kanak (seperti yang diyakini psikoanalis).

Tujuan dari family therapy adalah untuk memahami konteks, mengidentifikasi pola yang membangun masalah, dan akhirnya mengubah konteks untuk mengeliminasi masalah. Pola dalam mengatasi masalah tersebut sering melibatkan solusi bersama dan komunikasi keluarga mengenai masalahnya (Becvar & Becvar, 2003).

Family therapy dimulai “dari berbagai tempat dari terapis dan peneliti individual di banyak daerah” (Broderick & Schrader, 1991, hal.21). Terdapat beberapa pionir yang memprakarsai bidang family therapy.

Sigmund Freud

Terdapat dua pemikiran Freud yang melandasi family therapy. Yang pertama datang dari pelatihan awalnya dalam ilmu biologi, dari teori instincts­-nya. Yang kedua, terdapat penjelasan yang lebih psikologis, dalam teori Oedipus Complex. Di awal tahun 1909, Freud (1964) melihat hubungan antara simtom fobia anak laki-laki dan hubungan dengan ayahnya. Freud memilih memberikan treatment pada ayahnya, dan pilihan ini mempengaruhi terapis pada dekade selanjutnya.

Alfred Adler

Adler memiliki pengaruh yang penting tetapi secara tidak langsung terhadap family therapy. Hal yang paling mempengaruhi adalah yang disebut social thinkers dalam terapi. Adler melihat konteks dan lingkungan sebagai esensi. Manusia lebih didasari oleh sosial daripada insting, dimotivasi bukan oleh drives tetapi oleh tujuan.

Yang kedua, Adler menekankan pada pentingnya kumpulan keluarga.  Hal ini tidak hanya melihat interaksi anatara anak dan orang tua-konsepnya diperluas menjadi termasuk saudara dan hubungannya. Pemikiran Adler mengenai posisi saudara ini menjadi konsep dasar dalam pemikiran sekolah family therapy Murray Bowen (1971).

Nathan Ackerman-Menninger Institute, Topeka

Meskipun Freud disebut sebagai “ayah” dari psikoterapi, penemu family therapy masih diperdebatkan. Banyak yang mempertimbangkan Nathan Ackerman sebagai penemu asli family therapy, berdasarkan tulisannya mengenai dinamika keluarga pada tahun 1930-an dan assessment klinis tentang keluarga pada akhir 1940-an (Green & Framo, 1981). Selama karirnya, dia menganut psikoanalisis dan fokus pada konflik intrafisik tentang bagaimana dampak psikologis keluarga terhadap individu. Sebagai psikiater di Child Guidance Clinic di Menninger Institute, Topeka, tahun 1937, Ackerman meyakini bahwa  penelitian keluarga dalam area skizofrenia pada tahun 1950 sampai 1960-an adalah cikal bakal asli dari family therapy “dalam studi tentang gangguan nonpsikotik pada anak-anak yang berhubungan dengan lingkungan keluarga” (Ackerman, dalam Becvar & Becvar, 2003, hal.22).

Ackerman memiliki konsep tentang kausalitas sirkular dalam sistem pemikiran, dimana konflik intrafisik (seperti diantara perasaan dan hasrat) menuntun pada konflik interpersonal dalam keluarga. Untuk mengatasi simtom pada individu, terapis membawa konflik tersebut ke dalam interaksi keluarga (Nichols & Schwartz, 2006). Pendekatan terapeutik Ackerman melibatkan hubungan yang mendalam dengan keluarga dimana masalah digali secara mendalam; termasuk konflik dan fantasi yang terkubur dalam alam bawah sadar individu. Fungsi terapis sebagai dynamic catalyst yang menggunakan gaya komunikasi terbuka dan provokatif, dan jujur secara brutal dalam melakukan observasi dan interpretasi. Dia memiliki kesamaan pemikiran dengan Don Jackson, Lyman Wynne, dan Murray Bowen. Dia juga menemukan family process bersama Jackson pada tahun 1962, sebagai jurnal pertama di area family therapy.

John Bell-Massachusetts

John Bell juga merupakan pionir pertama yang menangani keluarga. Sebagai psikolog di Clark University, Worcester, Massachusetts, Bell “merasuki” family therapy dengan cara yang bisa disebut sebagai “happy accident”. Dia salah meyakini bahwa John Bowlby menggunakan keluarga dalam menghadapi anak-anak dan memutuskan untuk melakukan eksperimen dengan metode barunya sendiri pada tahun 1951. Dengan mengadopsi pendekatan terapi kelompok, Bell berperan sebagai fasilitator pada diskusi terbuka saat sesi keluarga. Bell belum mempublikasikan idenya sampai tahun 1961. Tidak seperti penemu family therapy lainnya, dia bukannya mendirikan pusat klinis yang penting melainkan menghasilkan murid-murid yang terkenal (Nichols & Schwartz, 2006).

Yang Mengawali dari Skizofrenia

Meskipun terapis seperti Ackerman dan Bell telah mulai mengkaji keluarga dan treatment-nya terhadap anak-anak pada tahun 1950-an, akar teoritis yang sebenarnya dari perkembangan keluarga berasal dari studi tentang skizofrenia.

Harry Stack Sullivan

Kontribusi Sullivan terhadap family therapy berdasar pada penelitiannya tentang skizofrenia. Sullivan berpindah dari penjelasan biologis menjadi penjelasan psikologis, menemukan bahwa hubungan antara ibu dan anak berperan penting dalam skizofrenia. Sullivan berpendapat bahwa fokus terapi berpindah dari intrafisik menjadi interpersonal.

Dari banyak yang memperhatikan sistem keluarga untuk pemahaman yang lebih baik tentang manifestasi gangguan mental, salah satunya adalah antropolog dan etnologist Gregory Bateson. Darinya dan koleganya di Palo Alto, California, banyak teori dan konsep yang dikembangkan sebagai fondasi intelektual dari family therapy.

Palo Alto Group lebih mengedepankan proses daripada isi/ content dalam memahami perilaku manusia dan penyakit mental (Guttman, 1991). Pada tahun 1952, Bateson mendapat kesempatan untuk meneliti fenomena paradox dalam komunikasi manusia, yang kemudian menjadi Palo Alto project. Bateson mengumpulkan sekelompok peneliti, yang beberapa diantaranya menjadi figur signifikan dalam family therapy, seperti Jay Haley, seorang ahli komunikasi, dan John Weakland, seorang insinyur kimia dan antropolog budaya. Proyek ini mengkaji konflik antara level yang berbeda-beda dalam komunikasi.

Double-Bind Theory. Pada tahun 1954, kelompok peneliti tersebut mulai mengkaji komunikasi schizophrenic (Becvar & Becvar, 2003). Dengan bergabungnya Don Jackson, tim tersebut fokus dalam mengembangkan model komunikasi yang dapat menjelaskan awal mula perilaku skizofrenik, khususnya pada konteks keluarga. Mereka menemukan bahwa pola komunikasi patologis dalam keluarga berpengaruh terhadap berkembangnya perilaku skizofrenik salah satu anggota keluarga tersebut. Hal ini menjadi landasan double-bind theory pada tahun 1956; Bateson dan koleganya mendefinisikannya sebagai situasi dimana seseorang terkonfrontasi oleh dua pesan kontradiktif dalam level berbeda yang berasal dari orang lain yang memiliki hubungan intens dengannya. Contohnya dalam kasus seorang ibu yang berkata pada anaknya, “Tidurlah, kau sangat lelah dan saya ingin kau segera tidur.” Pernyataan sebenarnya di balik pesan penuh cinta itu mungkin, “Menyingkirlah karena saya muak denganmu.” Jika anaknya menangkap respon penolakan dari si ibu, dia mungkin memahami persepsi anak tersebut sebagai suatu kritik bahwa dia bukan ibu yang baik dan akan mendekati anaknya untuk membuktikan bahwa anaknya salah. Sebaliknya, jika si anak mengabaikan pesan tak tampak itu dan mendekati ibunya, si ibu malah akan merasa penolakan yang dilakukannya menjadi sebuah ketakutan. Si anak akan merasa kebingungan, dan tidak mampu menghindari situasi ini. Dengan kata lain, si anak mengalami kegagalan dalam merespons; yang bisa disebut sebagai double-bind (Bateson, Jackson, Haley, & Weakland, 1956; Goldenberg & Goldenberg, 2004).

Family Homeostatis. Selain hipotesis double-bind, teori penting lainnya yang mengembangkan konsep family therapy juga berasal dari grup Palo Alto.

Paradoks Terapeutik dalam Strategic Family Therapy. Selain grup Palo Alto, MRI juga mengembangkan model komunikasi pada tahun 1960-an. Strategic therapy berakar dari model komunikasi dan dikembangkan oleh Jay Haley. Strategic therapy menggunakan paradox terarah dan terapeutik; terdiri dari explicit atau implicit directives, atau tugas yang mencegah interaksi yang berulang dan tidak efektif (Goldenberg & Goldenberg, 2004). Seperti yang dikatakan Madanes (1981), “tugas terapis adalah untuk merancang sebuah intervensi terhadap klien dalam situasi sosial” (hal. 19).

Dua family therapists lainnya yang mengawali penelitian di MRI adalah Cloe Madanes dan Virginia Satir. Seperti Haley, Madanes bekerja bersama Salvador Minuchin dalam mengembangkan struktur family therapy di Philadelphia Child Guidance Clinic di tahun 1970-an. Pada tahun 1976, dia dan Haley meninggalkan Philadelphia dan mendirikan Family Therapy Institute di Washington, DC. Sementara Satir, dikenal dari pendekatan experiential dan humanistic dalam family therapy. Dia fokus pada tingkat emosional orang sebagai “sebuah dimensi perasaan yang membantu menyeimbangkan dengan pendekatan relatively cool dan cerebral (Nichols & schwartz, 2006, hal. 30).

Fusion. Bowen (1971) menggunakan istilah fusion dalam menggambarkan proses observasinya terhadap keluarga skizofrenik. Yaitu bahwa berbagai anggota keluarga berhubungan satu sama lain dalam suatu cara yang tidak satupun dari mereka memiliki perasaan sebenarnya terhadap individu yang independen.

Pseudomutuality. Lyman Wynne, Irving Ryckoff, Juliana Day, dan Stanley Hirsch menggambarkan pseudomutuality sebagai jenis kedekatan yang salah dalam keluarga skizofrenik. Terdapat ketergantungan dalam keluarga, sehingga anggotanya terjebak dan tidak bisa pergi. Tidak ada intimasi atau kedekatan sejati, yang ada hanya pseudo-love atau caring. Keluarga berkumpul bukan karena pilihan tapi karena diperlukan.

Mystification. R.D. Laing di Inggris, yang melakukan penelitian dengan remaja skizofrenik dalam keluarga, menambahkan proses yang disebut mystification, sebuah proses dimana seseorang yang dilihat bermasalah sebenarnya keluarganya yang paling bermasalah.

Pionir lainnya yang mengawali dari kajian skizofrenia dan family systems antara lain Theodore Lidz dari Yale yang mengembangkan karakter instabilitas dan strife pada skizofrenia dalam keluarga; Ivan Boszormenyi-Nagy-Philadelphia yang mengembangkan contextual family therapy yang fokus pada dimensi etik; Carl Whitaker; Salvador Minuchin; David Kantor, Fred Duhl, dan Bunny Duhl yang mendirikan Boston Family Institue di tahun 1969; dan James Framo.

Family Life Cycle. Diprakarsai oleh Betty Carter dan Monica McGoldrick pada tahun 1980. Pemikiran ini menggambarkan urutan tingkat perkembangan yang dilalui keluarga, seperti tingkat perkembangan yang dilalui individu. Enam tingkat dalam perkembangan keluarga yaitu:

  1. Leaving home: single young adults
  2. Joining of families through marriage: the new couple
  3. Families with young children
  4. Families with adolescents
  5. Launching children and move on
  6. Families in later life

Dalam tingkatan perkembangan ini terdapat alur stress vertical dan horizontal dari dalam dan luar family system.

Functional versus Dysfunctional Families. Carter dan McGoldrick (1999) melihat masalah keluarga muncul sebagai hasil dari kegagalan dalam mengatasi stressor lingkungan atau tantangan perkembangan yang menunjukkan disfungsi keluarga. Seluruh keluarga adalah sistem terbuka, dimana mereka berinteraksi dengan lingkungannya dan mampu meregulasi dan memelihara dirinya dengan memanfaatkan lingkungan. Semakin family system-nya terbuka, maka keluarga itu akan semakin mampu beradaptasi dengan masalah (Goldenberg & Goldenberg, 2004). Tingkatan keterbukaan ditunjukkan dari lingkaran/ boundaries yang memisahkan keluarga dari lingkungan.

  1. Firm boundaries: permeable, menerima informasi yang diperlukan saja dari lingkungan
  2. Diffuse boundaries: permeable but not durable, tanpa ada filter informasi yang masuk
  3. Closed boundaries: menolak interaksi dari luar
  4. Rigid boundaries: tidak berubah selamanya
  5. Flexible boundaries: melakukan penyesuaian (David, 2004).

Keluarga yang sehat adalah keluarga yang memiliki firm dan flexible boundaries. Untuk memelihara homeostatis atau stabilitas, keluarga harus bertahan pada aturan tentang perilaku dan interaksi anggotanya, mulai dari pernyataan eksplisit hingga implisit. Selain itu juga, kebutuhan dari family systems harus diseimbangkan dengan kebutuhan anggotanya.

Psychoanalysis                                                                                             Systems

2.2  Konsep dan Teori Family Therapy

Family therapy dapat didefinisikan sebagai upaya untuk memodifikasi hubungan dalam keluarga untuk mencapai harmoni. Sebuah keluarga dilihat sebagai sistem terbuka, dimana terdapat tiga konsep dasar dalam family therapy: sistem, triangles, dan feedback. Family therapy adalah sebuah loncatan kuantum dari (a) paradigma utama mengenai memandang orang sebagai individu yang terpisah dari yang lainnya (b) melihat mereka dalam hubungannya dengan orang lain. Sebagai hasilnya, letak patologi bergeser dari individual ke sistem. Dalam family therapy, pasien diidentifikasi sebagai simtom dan sistem (keluarga) dilihat sebagai klien.

Konsep Sistem

Sebuah sistem (Buckley, 1967) tersusun dari bagian-bagian yang berbeda dengan kesamaan pada dua hal: (a) bagian-bagian tersebut saling berhubungan dan bergantung dengan hubungan timbal balik satu sama lain, dan (b) setiap bagian berkaitan dengan yang lain dalam cara yang stabil. Sistem terbuka seperti keluarga, memiliki tiga bagian penting: wholeness, relationship, dan equifinality.

  1. Wholeness. Sistem bukan hanya gabungan dari bagian yang terpisah, tetapi juga termasuk interaksinya. Sehingga suatu bagian tidak akan mampu mengetahui bagiannya kecuali ia memahami hubungannya dengan bagian lain. Secara terapeutik, hal ini berarti klien harus dilihat dari konteks kehidupan mereka, khususnya hubungan mereka dengan keluarganya. Wholeness merepresentasikan konsep Gestalt karena keseluruhan berbeda dan lebih dari sekedar gabungan bagian-bagian; keluarga terdiri dari orang-orang di dalamnya dan hubungan antar individual.
  2. Relationship. Mempertimbangkan apa yang terjadi diantara bagian-bagian dan menguji interaksi. Hubungan ini lebih mengkaji apa yang terjadi daripada mengapa itu terjadi. Sehingga menghasilkan penggunaan paradigm lebih berdasarkan konsep sistem dibanding kumpulan yang terpisah dari individu.
  3. Equifinality. Atau struktur self-perpetuation, memiliki arti bahwa intervensi dibuat disini dan sekarang, perubahan dapat dihasilkan karena sistem terbuka tidak diatur oleh kondisinya. Sistem tidak memiliki ingatan. Silvano Arieti (1969) berpendapat bahwa menghindari masa lalu yang disebut “genetic fallacy,” dapat menjadi kontribusi yang paling penting yang dibuat sistem pemikiran untuk terapi.

Interlocking Triangles

Sekumpulan interlocking triangles adalah pondasi dasar dari sistem hubungan keluarga (Bowen, 1971). Sebuah jaringan emosional seperti keluarga tersusun dari sekumpulan interlocking triangles yang membuat sistem stabil. Terdapat pernyataan: Saat keseimbangan emosional diantara dua orang terlalu dekat atau terlalu jauh, pihak ketiga dapat digunakan untuk mengembalikan keseimbangan pada sistem dan menjaga stabilitas.

Menganalisa berbagai triangles dalam suatu sistem dan memberikan intervensi untuk merubah sistem adalah tugas utama dari family therapist. Murray Bowen dan pendukung teori family systems fokus pada triangles yang melibatkan tiga generasi: kakek-nenek, orang tua, dan anak. Salvador Minuchin (1974) dan structuralist lainnya lebih fokus pada triangles yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Bagaimanapun keduanya bekerja dalam triangles sebagai salah satu cara dalam menghasilkan perubahan, bukan dengan individu dalam sistem.

Feedback

Dalam teori sistem, feedback berarti proses dimana sistem menyesuaikan dirinya. Feedback negatif adalah proses yang dilalui dimana deviasi dalam sistem diperbaiki dan keseimbangan sebelumnya dikembalikan. Feedback positif menghancurkan sistem dengan memaksanya untuk berubah, tidak mengizinkannya untuk kembali ke kondisi sebelumnya.

Pola observasi klinis mengilustrasikan konsep feedback negative sebagai berikut. Orang tua John meminta tolong dalam mengatasi anaknya yang “school phobic.” Terapis melihat masalah John sebagai respon dari family system: dia terlalu dekat dengan ibunya dan terlalu jauh dengan ayahnya. Dia melihat John sebagai cover-up dari masalah orang tuanya. Konselor mulai melakukan konseling dengan orang tua dan pernikahannya, kemudian John mulai lega dan mau ke sekolah. Tetapi pernikahan orang tuanya memburuk dan semakin banyak masalah yang tidak terselesaikan. John ‘mencium’ hubungan mereka yang memburuk dan mulai mengalami fobia lagi. Orang tua John sekarang bersama kembali demi anaknya. School phobia yang dialami John dapat disebut “negative feedback” yang membutuhkan sistem yang lama tetap dijaga.

Positive feedback disebut Carl Whitaker (1975) sebagai pendekatan “menara miring Pisa”. Seorang terapis, bukannya memperbaiki simtom, melainkan mendorong masalah ke arah lain sehingga sistem kembali ke jalurnya. Pendekatan ini menggunakan absurditas simtom, dan bukannya mengembalikan keseimbangan, malah mengarahkannya ke kekacauan hingga kehancuran mutlak. Positive feedback  dapat ditemukan pada tulisan Mara Palazzoli, dkk di Milan, Italia (1978). Terlatih sebagai seorang child analyst, atas pengaruh dari Gregory Bateson, dia bergabung dengan grup Palo Alto dan menggabungkan ide mereka dengan karyanya dalam anak anorexia.

Kepribadian

Family therapy menampilkan teori kepribadian yang unik. Setiap pendekatan terapi menggunakan pendekatan mengenai konsep apa itu human nature, apa itu kesehatan, apa itu sakit, dan apa yang dapat terapis lakukan dalam mengintervensi.

Teori Kepribadian

Teori kepribadian keluarga menyatakan bahwa perkembangan psikologis individu berasal dari family system. Keluarga adalah sumber dasar dari kondisi sehat dan sakit. Teori keluarga fokus pada family system lebih dari sistem psikoterapeutik karena semua hal menjadi sederajat, pendorong utama dari perkembangan individu adalah keluarga. Dalam family therapy, terdapat tiga isu yang perlu dibahas.

What Is a Family?

Setiap individu memiliki kebutuhan dasar: sebagian fisik, sebagian emosional. Bagian fisik yang lebih mudah dikenali; sebaliknya emosi sangat sulit. Kebutuhan emosi terbagi dalam tiga dimensi: intimacy, power, dan meaning. Orang-orang perlu dekat satu sama lain untuk rasa memiliki (melibatkan hubungan heteroseksual). Mereka juga perlu untuk mengekspresikan diri, untuk menjadi unik (melibatkan pekerjaan). Akhirnya, mereka perlu merasa berarti atau memiliki tujuan dalam hidup (terkait dengan memiliki anak).

Orang-orang biasanya menikah dikarenakan mereka memahami pernikahan sebagai cara yang paling mampu memuaskan kebutuhan emosional mereka. Cara mereka mengatasi perbedaan menentukan keberhasilan suatu pernikahan. Dapatkah aku dekat denganmu dan tetap menjadi diriku sendiri? Dapatkah aku tidak dikalahkan olehmu? Apakah hubungan kita memberi arti pada hidupku? Proses pernikahan dapat menjawab berbagai pertanyaan tersebut.

What Is a “Dysfunctional Family”?

Family therapists lebih banyak membahas mengenai disfungsi daripada kondisi sakit karena kondisi ini lebih jelas terlihat sebagai masalah yang fundamental-ketidakmampuan anggota keluarga dalam mencapai tujuan kedekatan, ekspresi diri, dan menjadi berarti. Saat tujuan ini tidak tercapai, muncullah perilaku simtomatik. Sebagai contoh, suami yang berselingkuh, sehingga istrinya mengalami depresi, dan anaknya mengalami school phobic.

Carter dan McGoldrick (1999) melihat masalah keluarga muncul sebagai hasil dari kegagalan dalam mengatasi stressor lingkungan atau tantangan perkembangan yang menunjukkan disfungsi keluarga. Seluruh keluarga adalah sistem terbuka, dimana mereka berinteraksi dengan lingkungannya dan mampu meregulasi dan memelihara dirinya dengan memanfaatkan lingkungan. Semakin family system-nya terbuka, maka keluarga itu akan semakin mampu beradaptasi dengan masalah (Goldenberg & Goldenberg, 2004).  Tingkatan keterbukaan ditunjukkan dari lingkaran/ boundaries yang memisahkan keluarga dari lingkungan.

  1. Firm boundaries: permeable, menerima informasi yang diperlukan saja dari lingkungan
  2. Diffuse boundaries: permeable but not durable, tanpa ada filter informasi yang masuk
  3. Closed boundaries: menolak interaksi dari luar
  4. Rigid boundaries: tidak berubah selamanya
  5. Flexible boundaries: melakukan penyesuaian (David, 2004).

Keluarga yang sehat adalah keluarga yang memiliki firm dan flexible boundaries. Untuk memelihara homeostatis atau stabilitas, keluarga harus bertahan pada aturan tentang perilaku dan interaksi anggotanya, mulai dari pernyataan eksplisit hingga implisit. Selain itu juga, kebutuhan dari family systems harus diseimbangkan dengan kebutuhan anggotanya.

Why Must a Family Change?

Sebagaimana individu melalui serangkaian tingkatan, begitu juga dengan keluarga. Di awal pernikahan, suami dan istri harus bersatu ke dalam sistem yang fungsional. Mereka harus membentuk fungsi “kita” dalam kepribadian mereka masing-masing.

Tahapan selanjutnya adalah membuka sistem, mengizinkan yang lain untuk masuk, khususnya anak-anak (Entwistle & Doering, 1981). Kehadiran pihak ketiga berarti munculnya kemungkinan munculnya jeda dan perbedaan. Suami dan istri harus memainkan peran baru, yaitu orang tua. Hal ini sangat jauh berbeda dari peran sebagai pasangan. Tingkat banyak orang meningkat saat menjadi orang tua, tapi lingkungan sekitar memberi dukungan positif pada masa ini, mengurangi keraguan dan kecemasan orang tua baru.

Sistem berpikir membahas tentang perbedaan dan kesulitan pada masa orang tua dengan konsep feedback. Jika suami mengecawakan istrinya, feedback dapat dengan mudah dilakukan dan diperbaiki. Berbeda dengan peran orang tua. Orang tua harus memikirkan apa yang mereka lakukan. Apakah aku terlalu ketat? Apakah aku terlalu memanjakan?  Jawabannya tidak bisa diketahui dalam beberapa tahun. Feedback pada masa ini tidak dapat dengan cepat dilakukan.

Hubungan yang terlalu dekat antara orang tua dan anak juga bisa menimbulkan perilaku simtomatik. Sebagai contoh, seorang ibu tidak akan memberikan kebebasan pada anaknya yang beranjak dewasa karena hal ini membuat dia merasa tidak memiliki arti lagi dalam hidupnya.

Konsep

Dalam family therapy, kepribadian individu-bagaimana seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak-dilihat sebagai hasil dari myriad, hubungan yang kompleks yang terjadi dalam keluarga. Terdapat tiga dimensi dalam family therapy: the marital subsystem, the sibling subsystem,  dan homeostatis.

  1. Marital Subsystem

Family systems diawali oleh adanya pasangan. Mereka membentuk kesatuan yang menempatkan mereka dalam satu tempat, terpisah dari orang lain. Proses diferensiasi harus dilakukan oleh keduanya. Fusion, atau enmeshment adalah hasil dari ketidakmampuan dalam memisahkan diri dari keluarga asal karena terlalu dekat dengan orang tuanya, pasangannya, atau anaknya.

Secara simbol, kemampuan dalam “menutup pintu,” memiliki privasi bersama, sangat vital demi pernikahan yang sehat. Suami dan istri perlu memiliki rahasia yang tidak diketahui orang tua dan anak-anak mereka. Perlu adanya intimasi yang dapat memelihara privasi mereka.

Selain itu, pernikahan yang baik mengutamakan pasangannya dari yang lain. Anak-anak selalu mengenal pernikahan itu disfungsional. Anak-anak memaknakan keluarga bahagia saat ayah dan ibunya memiliki kehangatan dalam hubungan. Seorang laki-laki harus selalu menjadi suami baru kemudian menjadi ayah, dan seorang wanita menjadi istri dahulu baru kemudian menjadi ibu.

Orang tua yang paling sukses adalah yang mengutamakan perannya sebagai pasangan, dan kedua sebagai orang tua. Alasannya adalah seseorang yang menikah dengan normal tidak membutuhkan anak untuk melengkapi atau memberi makna hidup pada pernikahan. Dengan merasa puas pada dirinya sendiri dan pernikahannya, pasangan dapat memberi kebebasan pada anaknya untuk memilih. Anak-anak tidak terperangkap dalam perasaan marah-dengan “melakukannya sendirian” dan merasa bersalah.

Triangles yang ada diantara suami, istri, dan anak berkurang dengan bersatunya pasangan. Jika mereka membuat koalisi, hal ini mencegah anak untuk memihak salah satu dari orang  tuanya. Hal ini diperlukan untuk membuat anak mampu menjalin hubungan dengan teman sebayanya, khususnya kakak atau adiknya.

  1. Sibling Subsystem

Konsekuensi alami dari koalisi orang tua adalah formasi sebuah sibling subsystem yang memberikan kesempatan pada anak untuk menjalin kedekatan dengan kakak dan adiknya. Family therapists memaksa anak-anak harus memiliki rahasia dari orang tuanya; untuk memelihari kehidupan pribadinya. Setiap subsystem, seperti layaknya orang, harus memiliki boundaries yang sesuai.

Selama anak-anak tumbuh, perbedaan tiap individu harus dihormati. Privasi adalah hal yang penting bagi perkembangan kepribadian. Seberapa banyak kebebasan yang diberikan kepada anak dipengaruhi oleh dua faktor: maturity dan culture.

Perkembangan fisik, intelektual, dan emosional anak-anak tidak tumbuh dalam kecepatan yang sama. Mereka akan memiliki keunikan masing-masing. Sebagai konsekuensinya, si A tidak akan mendapat privilege yang sama dengan si B. Maka hal ini juga dapat menjadi konflik. Keinginan untuk membagi perbedaan dan mengkompromikannya adalah tanda dari keluarga yang fungsional.

Area yang paling mengganggu dalam family therapy adalah dampak dari budaya (culture). Bagaimana anggota keluarga bertindak, akan berbeda dari budaya satu dengan yang lainnya. Bagaimana perasaan diekspresikan, penggunaan uang, menghabiskan waktu dengan anggota lain, dll sangat bervariasi (Papajohn & Spiegel, 1975).

  1. Homeostatis

Konstruk dari family homeostatis ini yaitu dasar dari stabilitas dan keseimbangan yang dicari keluarga untuk dapat dipelihara atau menghilangkan stress (Goldenberg & Goldenberg, 2004). Menurut Jackson, keluarga sebagai unit, cenderung menolak perubahan. Konsep ini menggambarkan apa yang membuat keluarga terjebak dalam suatu masalah dan bagaimana simtom seseorang mempengaruhi stabilitas keluarganya.

Hubungan Symmetrical dan Complementary. Jackson menyebutkan dua jenis pola komunikasi dalam keluarga. Pada hubungan symmetrical, perilaku seseorang menjadi cermin bagi yang lainnya. Sebagai contoh, pasangan menikah yang berusaha tampak “lebih” di hadapan anaknya dengan menyebutkan perannya masing-masing dalam keluarga. Hubungan symmetrical juga bisa ditemukan pada dua individu yang berusaha memuaskan satu sama lain. Sebaliknya, hubungan complementary, menonjolkan perbedaan yang membuat participants saling melengkapi, misalnya yang satu asertif (pursuer role) dan yang lainnya submissive (distance role) (Nichols & Schwartz, 2006).

2.3  Proses Family Therapy

Terapi keluarga pada dasarnya adalah sebuah cara unik untuk melihat patologi dalam sistem keluarga. Historisnya yaitu dimulai pada diri individu yang menekankan pada aspek intrapsikisnya kemudian berlanjut kepada individu sebagai anggota keluarga sehingga meningkatnya hubungan interpersonal dan komunikasi diantara mereka. Terapi keluarga berfokus pada cara suatu sistem keluarga yang mengorganisasi patologis yang terstruktur dengan dipandang sesuatu yang salah.

Teori Psikoterapi

Emosi, kognitif, dan kehendak, merupakan aspek yang ada di dalam diri manusia yang menyebabkan permasalahan. Dalam terapi ini, terapis mengikuti pola pembicaraan tentang perasaan, pemikiran dan tindakan anggota keluarga.

Diagnosa

Terapi tradisional mendapat banyak perhatian untuk mendapatkan diagnosis yang benar. Hal ini dianggap penting untuk mengetahui apakah seorang klien adalah neurotik, memiliki gangguan karakter, atau psikotik. Dalam terapi keluarga, ada kekhawatiran sedikit untuk bagian diagnosis ini karena kurangnya cara untuk mengukur disfungsi keluarga yang berkaitan dengan sistem.

Pengaruh

Terapi lebih menggunakan anggota keluarga untuk mengubah interaksi mereka dibandingkan dengan mengatasi dirinya terhadap perasaan sendiri. Misalnya dia akan menjadi marah dengan ayah yang memungkinkan anaknya untuk mengolok-olok dia untuk mendapatkan ayah dan membuat beberapa perubahan dalam hubungannya dengan anak. Dia tidak akan berkonsentrasi pada kurangnya merasa bahwa ayah sedang mengalami hal tersebut, tetapi lebih pada cara di mana kekurangan yang dapat digunakan untuk memindahkan sistem itu ke arah yang lain.

Peran pembelajaran

Masalah ini biasanya bagaimana membuat klien atau keluarga menyadari proses belajar. Hubungan terapis dan klien yaitu dengan menghabiskan waktu menganalisis hubungan masa lalu dan mendiskusikan bagaimana mereka mempengaruhi masa sekarang. Mengajarkan anggota keluarga cara-cara baru untuk berhubungan yang akan menajdi tujuan dari seorang terapis.

Transferensi dan Ketidaksadaran

Analis adalah langkah penting dalam terapi (Sutandar, 1967). Tranferensi dan kontratransferensi memiliki peran unik dalam bentuk pemikiran dari Carl Whitaker (Whitaker & Keith, 1981). Whitaker menggunakan perasaan sendiri dan reaksi untuk membantu melakukan terapi sistem keluarga dan melihat sebagai proses yang baik bagi pertumbuhan dirinya sendiri.

Terapis sebagai guru dan model

Terapis keluarga umumnya sepakat bahwa media perubahan adalah terapis tidak sebagai objek transference tetapi sebagai guru model, yang dipelajari adalah komunikasi atau individuasi.

Proses Psychotherapy

Terapi keluarga sangat bervariasi, terdiri dari beberapa sesi tergantung pada permasalahan yang ada, yang dapat diselesaikan dan bisa mencapai dalam waktu setahun.

Awal Wawancara

Ada dua tujuan dalam wawancara ini: pertama, untuk mengungkapkan masalah, dan kedua, untuk melibatkan keluarga.

Tahapan

Terapis mengumpulkan semua anggota keluarga untuk sesi awal, dia melanjutkan dalam serangkaian tahapan dalam proses treatment.

  1. 1.      Warm-Up

Setiap anggota keluarga duduk dengan kursi yang dipilihnya sendiri sehingga ada kontak langsung sesama anggota keluarga dan membicarakan hubungan satu sama lain.

  1. 2.      Relabeling the problem
  2. 3.      Spreading the problem
  3. 4.      Kebutuhan untuk berubah
  4. 5.      Changing pathways

Penggunaan Teknik

Beberapa teknik yang digunakan oleh terapis keluarga meliputi :

  1. 1.      Pemeragaan

Yaitu dengan cara memperagakan ketika masalah itu muncul. Misalnya ayah dan anaknya sehingga mereka saling diam bertengkar, maka terapis membujuk mereka untuk berbicara setelah itu terapis memberikan saran-sarannya dan bisa disebut dengan psikodrama. Dan komunikasi dalam keluarga paling penting.

  1. 2.      Homework

Yaitu dengan cara mengumpulkan seluruh anggota keluarga agar saling berkomunikasi diantaranya.

  1. 3.      Family Sculpting

Cara untuk mendekatkan diri dengan anggota keluarga yang lain dengan cara nonverbal.

  1. 4.      Genograms

Sebuah diagram terstruktur dari sistem hubungan tiga generasi keluarga. Diagram ini sebagai roadmap dari sistem hubungan keluarga. Hal ini berarti memahami masalah dalam bentuk grafik daripada hanya membicarakannya saja.

  1. 5.      Teknik Modifikasi Tingkah Laku

Terdapat kesamaan antara teknik modifikasi perilaku dan pendekatan strategic, dan kemudian Gregory Bateson mengembangkannya. Pendekatan ini banyak dikaji oleh peneliti dan terapis.

  1. 6.      Multiple Family Therapy

Menggunakan beberapa teknik dalam melakukan family therapy.

Lama Treatment

Ada beberapa sesi yang harus dilakukan untuk memberikan terapi. Intervensi struktural dan strategis cenderung lebih singkat daripada hubungan klien dan sistem terapi keluarga. Gerald Zuk (1975) mengungkapkan panjang pengobatan tergantung pada tujuan yang diinginkan oleh keluarga.

  1. Berlangsung selama 1-6 wawancara jika tujuan utamanya mengurangi ketegangan
  2. Dan pengurangan ketegangan tersebut bisa berlanjut dengan mengambil 10 sampai 15 sesi
  3. Jika menginginkan komunikasi yang lebih baik ada 25 sampai 30 sesi selama periode 6-8 bulan yang diperlukan
  4.  Jika restrukturisasi keluarga dengan diferensiasi yang lebih baik dari anggota keluarga, panjangnya sesi mulai dari 40 atau lebih selama periodenya diperpanjang

Kebanyakan terapis tidak mengambil pretests dan posttests dalam terapi keluarga. Kebanyakan dari individu mengungkapkan permasalahannya sendiri. Terapis keluarga berkonsentrasi pada perubahan perilaku sebagai bukti kemajuan.


BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Family therapy dapat didefinisikan sebagai upaya untuk memodifikasi hubungan dalam keluarga untuk mencapai harmoni. Sebuah keluarga dilihat sebagai sistem terbuka, dimana terdapat tiga konsep dasar dalam family therapy: sistem, triangles, dan feedback.

Terdapat tiga dimensi dalam family therapy: the marital subsystem, the sibling subsystem,  dan homeostatis.

Tahapan proses treatment: warm-up, Relabeling the “problem”, spreading the problem, kebutuhan untuk berubah, dan changing pathways.

Beberapa teknik yang digunakan oleh terapis keluarga meliputi: Pemeragaan, Homework, Family Sculpting, Genograms, Teknik Modifikasi Tingkah Laku, dan Multiple Family Therapy.

DAFTAR PUSTAKA

Carr, Allan. 2006. Family Therapy Concepts, Process, and Practice. Chichester: John Wiley & Sons, Ltd.

J. Corsini, Raymond & Wedding, Danny. 2000. Current Psychotherapies, Fourth Edition. Illinois: F.E. Peacock Publishers, Inc.

Kerr, Christine, et.al. 2008. Family Art Therapy: Foundations of Theory and Practice. New York: Routledge (Taylor & Francis Group).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s