Analisis Film: Freedom Writers

Posted: March 7, 2012 in Film, Psikologi, Psikologi Pendidikan

Sinopsis

Diterbitkan oleh Broadway pada tahun 1999, The Freedom Writers Diary adalah kisah nyata guru bahasa Inggris Erin Gruwell, dia bertugas mengajar pertama kali di Long Beach, California. Gruwell dengan cepat belajar bahwa murid-muridnya memiliki lebih banyak potensi yang perlu diperhatikan daripada PR harian.

Suatu hari,  Gruwell ketika lewat disisi bangku murid-muridnya dia melihat karikatur rasis penuh kebencian. Murid-murid Gruwell mengatakan bahwa itu adalah semacam kebencian dan kesalah pahaman yang menuju Holocaust. Gruwell terkejut mengetahui bahwa murid-muridnya belum pernah mendengar tentang Holocaust.

Gruwell bekerja paruh waktu untuk mendapatkan uang tambahan untuk membeli buku The Diary of a Young Girl karangan Anne Frank. Dia juga memberikan setiap siswa jurnal agar mereka untuk memiliki tempat untuk mendiskusikan perasaan mereka, ketakutan mereka, dan pengalaman mereka. Yang memang untuk pertama kalinya, para siswa berminat di bidang akademik.

Untuk melakukan perubahan hidup yang bersejarah ini, para siswa mengadakan “Taste for Change” untuk mengumpulkan uang guna mengundang Miep Gies ke sekolah mereka, wanita yang menyembunyikan keluarga Anne Frank. Mereka juga dikunjungi oleh Zlatá Filipovic. Siswa-siswi ini mendapatkan pengakuan yang luar biasa dari media dan dari pemerintah, berharap bahwa orang lain akan menemukan inspirasi dalam kisah sukses mereka. Dan akhirnya seluruh anggota dari The Freedom Writers lulus dari SMA dan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Analisis

Dilihat dari perspektif psikologi pendidikan, Erin Gruwell menggunakan pendekatan humanistik dalam pengajarannya. Adapun prinsip-prinsip humanistik antara lain :

a.  Memahami manusia sebagai suatu totalitas

b.  Metode yang digunakan adalah life history

c.  Mengakui pentingnya personal freedom dan responsibility dalam proses pengambilan keputusan yang berlangsung sepanjang hidup.

d.  Mind bersifat aktif, dinamis. Melalui mind, manusia mengekspresikan keunikan kemampuannya sebagai individu, terwujud dalam aspek kognisi, willing, dan judgement.

Berdasarkan prinsip itu, Erin ingin membuat murid-muridnya menjadi individu yang lebih baik dan saling menghormati satu sama lain dengan menggunakan berbagai metode pengajaran yang berbeda-beda dan disesuaikan dengan fenomena yang dialami murid-muridnya. Seperti saat dia membuat permainan garis, mengadakan kunjungan ke museum, dan mengundang Miep Gies.

Film ini juga menceritakan bagaimana proses pendidikan multikultural berlangsung dan dapat terlaksana dengan baik. Meskipun pihak sekolah yang sudah mendapat otonomi sekolah terintegrasi tidak menjalankan sistem pendidikan multikultural ini, tetapi Erin tetap menjalankannya dengan dukungan dari pihak-pihak lain.

Permainan garis dan kunjungan ke museum merupakan pelatihan yang diberikan Erin kepada murid-muridnya agar lebih sadar budaya (kultur), dengan menganalisis kultur yang dipengaruhi faktor historis, sosial, dan politik sehingga membentuk pandangan mereka tentang kultur dan etnis.

Comments
  1. Musha Slater says:

    Freedom Writers telah menyentuh hati saya dengan melihat bagaimana seseorang itu boleh berubah jika mendapat pertolongan yang dia perlukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s