Prasangka & Politik

Posted: January 10, 2011 in Psikologi Sosial

dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Sosial

Oleh :

Kelompok 13

Ahmad Maulana

Imas Fauzyah

Nuraini Azizah

Rizka Magenda

Fakultas Psikologi

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SUNAN GUNUNG DJATI

B A N D U N G

2010

BAB I

PENDAHULUAN

Prasangka berkaitan dengan persepsi orang tentang seseorang atau kelompok lain, dan sikap serta perilakunya terhadap mereka. Prasangka dan politik merupakan dua bidang terapan psikologi sosial yang sangat penting. Prasangka terhadap anggota suatu kelompok sosial ternyata merupakan jenis sikap yang secara social sangat merusak, Lebih dari enam juta orang Yahudi Eropa dibunuh oleh Nazi pada tahun 1940-an, dengan kedok “memurnikan” ras Eropa. Dewasa ini hanya ada sedikit orang Yahudi yang tetap tinggal di Eropa.

Menurut Erich Fromm, masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang membiarkan anggota-anggotanya mengembangkan cinta satu sama lain. Sedangkan masyarakat yang sakit menciptakan permusuhan, kecurigaan, dan ketidaksalingpercayaan anggota-anggotanya (dalam Schultz, 1991). Mendasarkan pada kriteria ini, tampak jelas bahwa adanya prasangka yang luas di masyarakat merupakan indikasi jelas ketidaksehatan sosiopsikologis dalam masyarakat bersangkutan. Hal ini karena prasangka menumbuhkan kecurigaan, ketidakpercayaan, dan permusuhan. Prasangka juga menghalangi anggota-anggota masyarakat untuk mengembangkan cinta satu sama lain di antara anggota-anggota masyarakat dan untuk menyebarkan perdamaian.

Banyak pihak yang menilai bahwa masyarakat Indonesia saat ini merupakan masyarakat berprasangka. Penilaian itu tentu bukan tanpa dasar. Saat ini masyarakat Indonesia memiliki kecurigaan yang akut terhadap segala sesuatu yang berbeda atau dikenal dengan istilah heterophobia. Segala sesuatu yang baru dan berbeda dari umumnya orang akan ditanggapi dengan penuh kecurigaan. Kehadiran anggota kelompok yang berbeda apalagi berlawanan akan dicurigai membawa misi-misi yang mengancam.

BAB II

ISI

2.1  Prasangka

2.1.1  Definisi Prasangka

Prasangka adalah penilaian terhadap suatu kelompok atau seorang individu yang terutama didasarkan pada kelompok atau seorang individu yang terutama didasarkan pada keanggotaan kelompok orang itu. (David O. Sears, :149)

Prasangka adalah sikap (biasanya negatif) kepada anggota kelompok tertentu yang semata-mata didasarkan pada keanggotaan mereka dalam kelompok (Baron & Byrne, 1991). Misalnya karena pelaku pemboman di Bali adalah orang Islam yang berjanggut lebat, maka seluruh orang Islam, terutama yang berjanggut lebat, dicurigai memiliki itikad buruk untuk menteror. Sementara itu, Daft (1999) memberikan definisi prasangka lebih spesifik yakni kecenderungan untuk menilai secara negatif orang yang memiliki perbedaan dari umumnya orang dalam hal seksualitas, ras, etnik, atau yang memiliki kekurangan kemampuan fisik. Soekanto (1993) dalam ‘Kamus Sosiologi’ menyebutkan pula adanya prasangka kelas, yakni sikap-sikap diskriminatif terselubung terhadap gagasan atau perilaku kelas tertentu. Prasangka ini ada pada kelas masyarakat tertentu dan dialamatkan pada kelas masyarakat lain yang ada didalam masyarakat. Sudah jamak kelas atas berprasangka terhadap kelas bawah, dan sebaliknya kelas bawah berprasangka terhadap kelas atas. Sebagai contoh, jika kelas atas mau bergaul dengan kelas bawah maka biasanya kelas atas oleh kelas bawah dicurigai akan memanfaatkan mereka. Bila kelas bawah bergaul dengan kelas atas dikira oleh kelas atas akan mencuri dan sebagainya.

Prasangka sosial (social prejudice) merupakan gejala psikologi sosial. Prasangka sosial ini merupakan masalah yang penting dibahas di dalam intergroup relation. Prasangka sosial atau juga prasangka kelompok  yaitu suatu prasangka yang diperlihatkan anggota-anggota suatu kelompok terhadap kelompok-kelompok lain termasuk di dalamnya para anggotanya.

Beberapa ahli meninjau pengertian prasangka sosial dari berbagai sudut:

1)    Feldman (1985)

Prasangka sosial adalah sikap negatif terhadap kelompok sosial tertentu yang hanya didasarkan pada keanggotaan mereka dalam kelompok itu.

2)   Mar’at (1981)

Prasangka sosial adalah dugaan-dugaan yang memiliki nilai positif atau negative tetapi dugaan itu lebih bersifat negatif.

3)   Kimball Young

Prasangka adalah mempunyai ciri khas pertentangan antara kelompok yang ditandai oleh kuatnya ingroup dan outgroup.

4)   Sherif and Sherif

Prasangka sosial adalah suatu sikap negatif para anggota suatu kelompok, berasal dari norma mereka yang pasti kepada kelompok lain beserta anggotanya.

Dari pendapat-pendapat para ahli tersebut mempunyai kecenderungan bahwa prasangka sosial adalah suatu sikap negatif yang diperlihatkan oleh individu atau kelompok terhadap individu lain atau kelompok lain.

Ciri-Ciri Prasangka Sosial

Brighman (1991) menjelaskan prasangka sosial menjelaskan tentang ciri-ciri prasangka sosial bahwa individu mempunyai kecenderungan untuk membuat kategori sosial (social categorization). Kategori sosial adalah kecenderungan untuk membagi dunia sosial menjadi dua kelompok, yaitu “kelompok kita” (ingroup) dan “kelompok mereka” (outgroup). Ingroup adalah kelompok sosial di mana individu merasa dirinya dimilki atau memiliki  (“kelompok kami”). Sementara outgroup adalah grup di luar grup sendiri (“kelompok mereka”).

Komponen Prasangka

Sebagai sebuah sikap, prasangka mengandung tiga komponen dasar sikap yakni perasaan (feeling), kecenderungan untuk melakukan tindakan (behavioral tendention), dan adanya suatu pengetahuan yang diyakini mengenai objek prasangka (beliefs). Perasaan yang umumnya terkandung dalam prasangka adalah perasaan negatif atau tidak suka bahkan kadangkala cenderung benci. Kecenderungan tindakan yang menyertai prasangka biasanya keinginan untuk melakukan diskriminasi, melakukan pelecehan verbal seperti menggunjing, dan berbagai tindakan negatif lainnya. Sedangkan pengetahuan mengenai objek prasangka biasanya berupa informasi-informasi, yang seringkali tidak berdasar, mengenai latar belakang objek yang diprasangkai. Misalnya bila latar belakang kelompoknya adalah etnik A, maka seseorang yang berprasangka terhadapnya mesti memiliki pengetahuan yang diyakini benar mengenai etnik A, terlepas pengetahuan itu benar atau tidak.

Menurut Poortinga (1990) prasangka memiliki tiga faktor utama yakni stereotip, jarak sosial, dan sikap diskriminasi. Ketiga faktor itu tidak terpisahkan dalam prasangka. Stereotip memunculkan prasangka, lalu karena prasangka maka terjadi jarak sosial, dan setiap orang yang berprasangka cenderung melakukan diskriminasi.

Sementara itu Sears, Freedman & Peplau (1999) menggolongkan prasangka, stereotip dan diskriminasi sebagai komponen dari antagonisme kelompok, yaitu suatu bentuk oposan terhadap kelompok lain. Stereotip adalah komponen kognitif dimana kita memiliki keyakinan akan suatu kelompok. Prasangka sebagai komponen afektif dimana kita memiliki perasaan tidak suka. Dan, diskriminasi adalah komponen perilaku.

  • Stereotip

Stereotip adalah kombinasi dari ciri-ciri yang paling sering diterapkan oleh suatu kelompok terhadap kelompok lain, atau oleh seseorang kepada orang lain (Soekanto, 1993). Secara lebih tegas Matsumoto (1996) mendefinisikan stereotip sebagai generalisasi kesan yang kita miliki mengenai seseorang terutama karakter psikologis atau sifat kepribadian. Stereotip dapat diwariskan dari generasi ke generasi melalui bahasa verbal tanpa pernah adanya kontak dengan tujuan/objek stereotip (Brisslin,1993). Beberapa contoh stereotip terkenal berkenaan dengan asal etnik adalah stereotip yang melekat pada etnis jawa, seperti lamban dan penurut. Stereotip etnis Batak adalah keras kepala dan maunya menang sendiri. Stereotip orang Minang adalah pintar berdagang. Stereotip etnis Cina adalah pelit dan pekerja keras.

Stereotip berfungsi menggambarkan realitas antar kelompok, mendefinisikan kelompok dalam kontras dengan yang lain, membentuk imej kelompok lain (dan kelompok sendiri) yang menerangkan, merasionalisasi, dan menjustifikasi hubungan antar kelompok dan perilaku orang pada masa lalu, sekarang, dan akan datang di dalam hubungan itu (Bourhis, Turner, & Gagnon, 1997). Melalui stereotip kita bertindak menurut apa yang sekiranya sesuai terhadap kelompok lain. Misalnya etnis jawa memiliki stereotip lemah lembut dan kurang suka berterus terang, maka kita akan bertindak berdasarkan stereotip itu dengan bersikap selembut-lembutnya dan berusaha untuk tidak mempercayai begitu saja apa yang diucapkan seorang etnis jawa kepada kita. Sebagai sebuah generalisasi kesan, stereotip kadang-kadang tepat dan kadang-kadang tidak. Misalnya stereotip etnis jawa yang tidak suka berterus terang memiliki kebenaran cukup tinggi karena umumnya etnis jawa memang kurang suka berterus terang. Namun tentu saja terdapat pengecualian-pengecualian karena banyak juga etnis jawa yang suka berterus terang.

  • Jarak Sosial

Jarak sosial adalah suatu jarak psikologis yang terdapat diantara dua orang atau lebih yang berpengaruh terhadap keinginan untuk melakukan kontak sosial yang akrab. Jauh dekatnya jarak sosial seseorang dengan orang lain bisa dilihat dari ada atau tidaknya keinginan-keinginan berikut :

–       Keinginan untuk saling berbagi,

–       Keinginan untuk tinggal dalam pertetanggaan,

–       Keinginan untuk bekerja bersama,

–       Keinginan yang berhubungan dengan pernikahan.

Pada umumnya prasangka terlahir dalam kondisi dimana jarak sosial yang ada diantara berbagai kelompok cukup rendah. Apabila dua etnis dalam suatu wilayah tidak berbaur secara akrab, maka kemungkinan terdapat prasangka dalam wilayah tersebut cukup besar. Sebaliknya prasangka juga melahirkan adanya jarak sosial. Semakin besar prasangka yang timbul maka semakin besar jarak sosial yang terjadi. Jadi antara prasangka dan jarak sosial terjadi lingkaran setan.

Sampai saat ini masih mudah ditemui adanya keengganan orangtua bila anak-anaknya menikah dengan orang yang berbeda etniknya. Masih mudah pula ditemui orangtua yang membatasi pilihan anak-anaknya hanya boleh menikah dengan etnis sendiri atau beberapa etnis tertentu saja, sementara beberapa etnis yang lain dilarang. Kenyataan seperti itu merupakan cerminan dari adanya prasangka antar etnik. Saya pernah mendengar secara langsung ada petuah orang tua pada anaknya laki-laki, yang kebetulan etnis jawa, untuk tidak mencari jodoh etnis Dayak, etnis Minang, dan etnis Sunda. Diluar ketiga etnis itu dipersilahkan, tetapi lebih disukai apabila sesama etnis jawa.

  • Diskriminasi

Diskriminasi adalah perilaku menerima atau menolak seseorang semata-mata berdasarkan keanggotaannya dalam kelompok (Sears, Freedman & Peplau,1999). Misalnya banyak perusahaan yang menolak mempekerjakan karyawan dari etnik tertentu. Lalu ada organisasi yang hanya mau menerima anggota dari etnik tertentu saja meskipun jelas-jelas organisasi itu sebagai organisasi publik yang terbuka untuk umum. Contoh paling terkenal dan ekstrim dalam kasus diskriminasi etnik dan ras terjadi di Afrika Selatan pada tahun 80-an. Politik aphartheid yang dijalankan pemerintah Afrika Selatan membatasi akses kulit hitam dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya. Diskriminisi ras itu dikukuhkan secara legal melalui berbagai peraturan yang sangat diskriminatif terhadap kulit hitam. Misalnya anak-anak kulit hitam tidak boleh bersekolah di sekolah untuk kulit putih, kulit hitam tidak boleh berada di tempat-tempat tertentu seperti hotel, restoran dan tempat publik lainnya. Kulit hitam juga tidak boleh naik kendaraaan umum untuk kulit putih, dan bahkan tidak boleh memasuki wilayah pemukiman kulit putih.

Diskriminasi bisa terjadi tanpa adanya prasangka dan sebaliknya seseorang yang berprasangka juga belum tentu akan mendiskriminasikan (Duffy & Wong, 1996). Akan tetapi selalu terjadi kecenderungan kuat bahwa prasangka melahirkan diskriminasi. Prasangka menjadi sebab diskriminasi manakala digunakan sebagai rasionalisasi diskriminasi. Artinya prasangka yang dimiliki terhadap kelompok tertentu menjadi alasan untuk mendiskriminasikan kelompok tersebut.

2.1.2  Asal-Usul Prasangka

Perdebatan umum yang terjadi adalah tentang antagonis kelompok berpangkal pada realitas atau tidak.Sebagian orang mengalami sikap mereka terhadap berbagai kelompok  social sebagai pencerminan dari realitas karakteristik kelompok tersebut.Mungkin kita merasa bahwa kita memperoleh persepsi ini melalui pengalawan kita dengan anggota  kelompok,tidak peduli apakah pengalaman tatap muka langsung atau pengalaman lain yang tidak langsung.

Sebagian besar kategorisasi yang menimbulkan stereotip didasarkan pada norma sosial yang sewenang-wenang.kita membuat kategorisasi berdasarkan sifat yang menonjol. Sifat apa yang sangat menonjol sangat tergantung pada arah perhatian kita, dan ini biasanya tergantung pada norma yang kita pelajari. Di Amerika serikat, misalnya, ras merupakan hal yang sangat menonjol. Di Kuba atau Brasil, ras tidak menonjol; warna kulit merupakan hal yang umum, kategorisasi berdasarkan ras tidak lazim terjadi. Di Libanon atau Irlandia Utara, pilihan keagamaan merupakan dasar utama katergorisasi; orang katolik atau protestan. Ras tidak begitu penting.

Masalah kedua yang berkaitan dengan pemikiran tentang stereotip yang di dasarkan pada realitas adalah bahwa penganut stereotip seringkali hanya mempunyai sedikit pengalaman pribadi dengan kelompok yang distereotip, sehingga tidak bisa memperoleh stereotip yang didasarkan pada generalisasi tentang orang-orang yang dikenalnya. Sebagai contoh, para mahasiswa yang berpartisipasi dalam penelitian hanya memiliki kontak pribadi dengan anggota kelompok yang distereotip.

Karena itu, yang sangat mengesankan adalah bahwa mahasiswa yang terlibat dalam survey tersebut menggunakan standar stereotip  yang sama tentang kelompok itu, tanpa memiliki kontak langsung dengan mereka.Ini menunjukan bahwa stereotip merupakan masalah tradisi social. Orang cenderung merasa bahwa antagonisme mereka terhadap kelompok sosial lain berakar pada karakteristik itu sendiri.

Pengalaman pribadi dengan kelompok seringkali terlalu singkat,dan dasar perceptual stereotip terlalu sewenang-wenang, sehingga “realitas” kurang bisa dijadikan penjelasan yang adekuat bagi antagonisme.

Orang tidak begitu saja secara otomatis berprasangka terhadap orang lain. Tetapi ada faktor-faktor tertentu yang menyebabkan ia berprasangka. Prasangka di sini berkisar pada masalah yang bersifat negatif pada orang (kelompok) lain. Ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya prasangka.

1)     Orang berprasangka dalam rangka mencari kambing hitam. Dalam berusaha, seseorang mengalami kegagalan atau kelemahan. Sebab dari kegagalan itu tidak dicari pada dirinya sendiri tetapi pada orang lain. Orang lain inilah yang dijadikan kambing hitam sebagai sebab kegagalannya.

2)     Orang berprasangka, karena memang ia sudah dipersiapkan di dalam lingkungannya atau kelompoknya untuk berprasangka.

3)     Prasangka timbul karena adanya perbedaan, di mana perbedaan ini menimbulkan perasaan superior. Perbedaan di sini bisa meliputi :

a)      Perbedaan fisik/biologis, ras. Mis. : Amerika Serikat dengan Negro

b)      Perbedaan lingkungan/ geografis. Mis. : orang kota dan orang desa

c)      Perbedaan kekayaan. Mis. : orang kaya dan orang miskin

d)     Perbedaan status sosial. Mis. : majikan dan buruh

e)      Perbedaan kepercayaan/agama

f)       Perbedaan norma sosial, dsb.

4)     Prasangka timbul karena kesan yang menyakitkan atau pengalaman yang tidak menyenangkan.

5)     Prasangka timbul karena adanya anggapan yang sudah menjadi pendapat umum atau kebiasaan di dalam lingkungan tertentu.

Prasangka sosial tidak dibawa sejak dilahirkan tetapi terbentuk selama perkembangannya, baik melalui didikan maupun dengan cara identifikasi dengan orang-orang lain. Dalam beberapa penelitian dan observasi tampak bahwa di sekolah-sekolah internasional tidak terdapat sedikitpun prasangka sosial pada anak-anak sekolah yang berasal dari bermacam-macam golongan ras atau kebudayaan. Mereka baru akan memperolehnya di dalam perkembangannya apabila mereka bergaul erat dengan orang-orang yang berprasangka sosial. Dan hal ini berlangsung secara sendirinya dan pada taraf tidak sadar malalui proes-proses imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati yang memegang peranana utama di dalam interaksi itu. Sementara itu, secara tidak sadar mereka lambat laun mungkin memperoleh sikap-sikap tertentu terhadap golongan-golongan tertentu yang lambat laun dapat melahirkan stereotip-stereotip.

Selain itu, adapula satu faktor yang dapat mempertahankan adanya prasangka sosial seperti yang dapat berkembang secara tidak sadar itu, yaitu faktor ketidaksadaran (ketidakinsyafan) akan kerugian-kerugian masyarakat apabila prasangka itu dipupuk terus-menerus, yang mudah terjelma dalam tindakan-tindakan diskriminatif.

2.1.3  Teori Prasangka

Teori Konflik Kelompok

Teori ini menyatakan bila dua kelompok bersaing memperebutkan sumber yang langka, mereka akan saling mengancam. Hal ini menimbulkan permusuhan diantara mereka dan dengan demikian menciptakan penilaian  negatif yang bersifat timbal balik. Jadi prasangka merupakan konsekuensi dari konflik nyata yang tidak bisa di elakkan. Mungkin dapat diminimalkan, tetapi tidak dapat dialihilangkan sama sekali, karena ditimbulkan oleh realitas yang tidak dapat dihindarkan.

Bila prasangka timbul karena dua kelompok benar-benar saling mengancam, maka ancaman itu akan menjadi sebab psikologis prasangka yang paling kuat bagi individu. Dengan kata lain, individu yang paling merasa terncam akan menjadi individu yang paling besar prasangkanya.

Bila dua kelompok bersaing, mereka saling mengancam. Hal ini menimbulkan permusuhan diantara mereka dan keadaan demikian menciptakan penilaian negatif yang bersifat timbal balik. Jadi, prasangka merupakan konsekuensi dari konflik nyata yang tidak dapat dielakkan. LeVine dan Campbell (1972) menyebutnya sebagai konflik kelompok yang realistis. Kadang-kadang dua kelompok berada dalam situasi dimana mereka bersaing untuk memperebutkan sumber langka yang sama.

Teori Belajar Sosial

Prasangka adalah sesuatu yang dipelajari seperti orang-orang belajar nilai-nilai sosial yang lain. Prasangka diperoleh anak-anak melaui sosialisasi. Misalnya, sebelum remaja anak Melayu (Malaysia) mengamati masyarakat di mana ia tinggal bahwa orang Melayu secara sosial lebih tinggi di berbagai hal dibanding orang keturunan India.

Teori Kognitif

Dalam mengamati orang lain, seseorang mencoba mengembangkan kesan yang terstruktur tentang orang lain. Seseorang melakukan proses kategorisasi. Kategorisasi seringkali hanya didasarkan pada isyarat yang sangat jelas dan menonjol. Warna kulit, bentuk tubuh, logat bahasa, dijadikan dasar penggolongan. Prasangka muncul karena adanya perbedaan antara “kelompok kami” (ingroup) dan “kelompok mereka” (outgroup).

Teori Psikodinamika

Prasangka adalah agresi yang dialihkan. Pengalihan terjadi bila sumber frustasi tidak dapat diserang karena rasa takut dan frustasi itu benar-benar tidak ada. Dalam kondisi semacam ini, orang mencari kambing hitam yang dapat dipersalahkan dan dierang.

2.1.4  Pengaruh Prasangka

Prasangka dan stereotip mempengaruhi sikap dan perilaku melalui berbagai cara.

1)   Persepsi tentang individu anggota kelompok sasaran

Dalam kasus tertentu, stereotip mewarnai persepsi subjek tentang interaksi sosial.

2)   Membentuk sikap yang konsisten dengan prasangka kita

Tekanan psikologis terhadap konsistensi psikologis sering menyebabkan kita membentuk sikap yang konsisten dengan prasangka kita. Dampak prasangka rasial dalam situasi penjurian pura-pura merupakan fokus dari salah satu penelitian. (Ugwuegbu, 1979 dalam Sears, 1994)

3)   Respons politik terhadap kelompok minoritas

Prasangka sangat mempengaruhi sikap dan perilaku politik orang, tidak peduli apakah itu merupakan sikap mereka terhadap kebijakan umum atau perilaku mereka dalam memberikan suara.

4)   Menimbulkan perilaku diskriminasi dengan cara yang lebih nyata tetapi tidak langsung

Prasangka tidak hanya dapat mempengaruhi sikap dan perilaku orang dewasa, tetapi juga sikap dan perilaku anak-anak, sehingga dapat membatasi kesempatan mereka untuk berkembang menjadi orang yang mempunyai toleransi rasial.

5)   Menjadi dugaan pemuas-diri

Bila diterapkan pada stereotip, rangkaian dugaan pemuas-diri melibatkan empat tahap :

a)      stereotip (harapan) tentang bagaimana orang lain akan berperilaku;

b)      perubahan perilaku pada diri penganut stereotip;

c)      menimbulkan perubahan perilaku pada diri orang yang menjadi sasaran;

d)     persepsi tentang perilaku orang yang menjadi sasaran sebagai penyesuaian terhadap stereotip dan bukan sebagai respons terhadap perilaku si penganut stereotip.

2.1.5  Mengelola prasangka

Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam mengelola prasangka, antara lain :

1)   Efek Sosialisasi

Salah satu pemecahan untuk mengurangi prasangka adalah dengan mengubah proses sosialisasi awal. Bila orang tidak mulai diajar untuk berprasangka, mungkin prasangka itu nantinya tidak akan berkembang.

2)   Peran Pendidikan Tinggi

Orang yang pernah duduk di perguruan tinggi biasanya memiliki prasangka yang lebih sedikit dibandingkan orang yang tidak pernah.  Salah satu faktor penting yang menentukan pengaruh pendidikan tinggi adalah adanya norma kelompok teman sebaya yang baru.

3)   Kontak Langsung

Ada keyakinan bahwa kontak dapat menghilangkan stereotip, dan bahwa kedekatan dan interaksi biasanya dapat meningkatkan rasa suka. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa peningkatan kontak dapat mengurangi antagonisme, prasangka, dan stereotip. Teori kontak dari Allport (1954), menyatakan bahwa kontak antarkelompok hanya dapat mengurangi permusuhan antarras bila kontak itu memenuhi tiga kondisi penting :

a)      kontak yang akrab;

b)      saling ketergantungan yang kooperatif;

c)      kontak harus terjadi dalam status yang sederajat.

2.2  Politik

2.3.1  Definisi Politik

Secara bahasa, kata politik  berasal dari bahasa Yunani yaitu politeia yang berasal dari kata polis, yang artinya kesatuan masyarakat yang mengurus dirinya sendiri, dan teia yang berarti urusan. Politeia berarti menyelenggarakan urusan negara. Jadi secara etimologi pengertian politik adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan yang menyangkut kepentingan dari sekelompok masyarakat atau negara.

Secara umum, politik mempunyai dua arti yaitu politik dalam arti kepentingan umum (politics) dan politik dalam arti kebijakan (policy). Politik dalam arti politics adalah rangkaian asa/prinsip, keadaan, jalan, cara atau alat yang akan digunakan untuk mencapai tujuan. Sedankan Politik dalam arti policy adalah penggunaan pertimbangan tertentu yang dapat menjamin terlaksananya usaha untuk mewujudkan keinginan dan cita-cita yang dikehendaki.

Dari situs wikipedia bahasa Indonesia dijelaskan bahwa politik merupakan  proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik.

Menurut Prof Miriam Budiarjo, pada umumnya dapat dikatakan bahwa politik adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistim politik (negara) yang menyangkut menentukan tujuan-tujuan dari sistim itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu. Politik mempunyai beberapa konsep dasar yaitu: Negara (state); Kekuasaan (power); Pengambilan keputusan (decision making); Kebijakan (policy); Pembagian (distribution); dalam hal ini pembagian kekuasaan.

Adapun definisi politik dari sudut pandang Islam adalah pengaturan urusan-urusan (kepentingan) umat baik dalam negeri maupun luar negeri berdasarkan hukum-hukum Islam. Pelakunya bisa negara (khalifah) maupun kelompok atau individu rakyat.

Rasulullah saw bersabda:

“Adalah Bani Israel, para Nabi selalu mengatur urusan mereka. Setiap seorang Nabi meninggal, diganti Nabi berikutnya. Dan sungguh tidak ada lagi Nabi selainku. Akan ada para Khalifah yang banyak” (HR Muslim dari Abu Hurairah ra).

Jadi, esensi politik dalam pandangan Islam adalah pengaturan urusan-urusan rakyat yang didasarkan kepada hukum-hukum Islam. Adapun hubungan antara politik dan Islam secara tepat digambarkan oleh Imam al-Ghajali: “Agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan runtuh dan segala sesuatu yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang dan lenyap”.

Berbeda dengan pandangan Barat politik diartikan sebatas pengaturan kekuasaan, bahkan menjadikan kekuasaan sebagai tujuan dari politik. Akibatnya yang terjadi hanyalah kekacauan dan perebutan kekuasaan, bukan untuk mengurusi rakyat. Hal ini bisa kita dapati dari salah satu pendapat ahli politik di barat, yaitu Loewenstein yang berpendapat “politic is nicht anderes als der kamps um die Macht” (politik tidak lain merupakan perjuangan kekuasaan).

2.3.2  Perkembangan Ilmu Politik

Ilmu politik adalah salah satu ilmu tertua dari berbagai cabang ilmu yang ada. Sejak orang mulai hidup bersama, masalah tentang pengaturan dan pengawasan dimulai. Sejak itu para pemikir politik mulai membahas masalah-masalah yang menyangkut batasan penerapan kekuasaan, hubungan antara yang memerintah serta yang diperintah, serta sistem apa yang paling baik menjamin adanya pemenuhan kebutuhan tentang pengaturan dan pengawasan.

Ilmu politik diawali dengan baik pada masa Yunani Kuno, membuat peningkatan pada masa Romawi, tidak terlalu berkembang di Zaman Pertengahan, sedikit berkembang pada Zaman Renaissance dan Penerangan, membuat beberapa perkembangan substansial pada abad 19, dan kemudian berkembang sangat pesat pada abad 20 karena ilmu politik mendapatkan karakteristik tersendiri.

Ilmu politik sebagai pemikiran mengenai Negara sudah dimulai pada tahun 450 S.M. seperti dalam karya Herodotus, Plato, Aristoteles, dan lainnya. Di beberapa pusat kebudayaan Asia seperti India dan Cina, telah terkumpul beberapa karya tulis bermutu. Tulisan-tulisan dari India terkumpul dalam kesusasteraan Dharmasatra dan Arthasastra, berasal kira-kira dari tahun 500 S.M. Di antara filsuf Cina terkenal, ada Konfusius, Mencius, dan Shan Yang (±350 S.M.).

Di Indonesia sendiri ada beberapa karya tulis tentang kenegaraan, misalnya Negarakertagama sekitar abad 13 dan Babad Tanah Jawi. Kesusasteraan di Negara-negara Asia mulai mengalami kemunduran karena terdesak oleh pemikiran Barat yang dibawa oleh Negara-negara penjajah dari Barat.

Di Negara-negara benua Eropa sendiri bahasan mengenai politik pada abad ke-18 dan ke-19 banyak dipengaruhi oleh ilmu hukum, karena itu ilmu politik hanya berfokus pada negara. Selain ilmu hukum, pengaruh ilmu sejarah dan filsafat pada ilmu politik masih terasa sampai perang Dunia II.

Di Amerika Serikat terjadi perkembangan berbeda, karena ada keinginan untuk membebaskan diri dari tekanan yuridis, dan lebih mendasarkan diri pada pengumpulan data empiris. Perkembangan selanjutnya bersamaan dengan perkembangan sosiologi dan psikologi, sehingga dua cabang ilmu tersebut sangat mempengaruhi ilmu politik. Perkembangan selanjutnya berjalan dengan cepat, dapat dilihat dengan didirikannya American Political Science Association pada 1904.

Perkembangan ilmu politik setelah Perang Dunia II berkembang lebih pesat, misalnya di Amsterdam, Belanda didirikan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, walaupun penelitian tentang negara di Belanda masih didominasi oleh Fakultas Hukum. Di Indonesia sendiri didirikan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, seperti di Universitas Riau. Perkembangan awal ilmu politik di Indonesia sangat dipengaruhi oleh ilmu hukum, karena pendidikan tinggi ilmu hukum sangat maju pada saat itu.Sekarang, konsep-konsep ilmu politik yang baru sudah mulai diterima oleh masyarakat.

Di negara-negara Eropa Timur, pendekatan tradisional dari segi sejarah, filsafat, dan hukum masih berlaku hingga saat ini. Sesudah keruntuhan komunisme, ilmu politik berkembang pesat, bisa dilihat dengan ditambahnya pendekatan-pendekatan yang tengah berkembang di negara-negara barat pada pendekatan tradisional.

Perkembangan ilmu politik juga disebabkan oleh dorongan kuat beberapa badan internasional, seperti UNESCO. Karena adanya perbedaan dalam metodologi dan terminologi dalam ilmu politik, maka UNESCO pada tahun1948 melakukan survei mengenai ilmu politik di kira-kira 30 negara. Kemudian, proyek ini dibahas beberapa ahli di Prancis, dan menghasilkan buku Contemporary Political Science pada tahun 1948. Selanjutnya UNESCO bersama International Political Science Association (IPSA) yang mencakup kira-kira ssepuluh negara, diantaranya negara Barat, di samping India, Meksiko, dan Polandia. Pada tahun 1952 hasil penelitian ini dibahas di suatu konferensi di Cambridge, Inggris dan hasilnya disusun oleh W. A. Robson dari London School of Economics and Political Science dalam buku The University Teaching of Political Science. Buku ini diterbitkan oleh UNESCO untuk pengajaran beberapa ilmu sosial(termasuk ekonomi, antropologi budaya, dan kriminologi) di perguruan tinggi. Kedua karya ini ditujukan untuk membina perkembangan ilmu politik dan mempertemukan pandangan yang berbeda-beda.

Pada masa-masa berikutnya ilmu-ilmu sosial banyak memanfaatkan penemuan-penemuan dari antropologi, sosiologi, psikologi, dan ekonomi, dan dengan demikian ilmu politik dapat meningkatkan mutunya dengan banyak mengambil model dari cabang ilmu sosial lainnya. Berkat hal ini, wajah ilmu politik telah banyak berubah dan ilmu politik menjadi ilmu yang penting dipelajari untuk mengerti tentang politik.

2.3  Prasangka dan Politik

2.3.1  Peranan Media dalam Politik

Tahap Pertama : Kekuatan yang Besar. Penelitian tentang pengaruh media dalam politik dilakukan melalui tiga tahap. Tahap pertama di mulai pada tahun 1920-an dan 1930-an, ketika pesawat radio menjadi hal yang umum digunakan Negara-negara Barat dan film bicara, yang diikuti dengan film berita, menjadi sumber hiburan masyarakat. Untuk pertama kalinya, para pemimpin politik dapat menjangkau masyarakat melalui saluran audio dan visual, dan tidak hanya melalui pernyataan tertulis.

Tahap Kedua: Pengaruh yang Minimal. Pemikiran ini menyoroti perlunya pengujian dampak media secara lebih sistematis tentang dampak media massa, dengan menggunakan metode baru untuk menyelediki pendapat umum. Analisis itu menemukan dua penemuan pokok : (1) Relatif sedikit responden yang mengubah pilihan mereka selama berlangsungnya massa kampanye; dan ini bertentangan dengan rasa takut para analisis sebelumnya. (2) Perubahan yang tidak terjadi tidak berkaitan dengan latar belakang sosial yang ada. Kenyataannya, orang menghadiri kampanye masing-masing kandidat ini biasanya sudah menjadi pendukung sebelum mereka mendengarkan propaganda tersebut. Mereka memilih untuk menempatkan diri di isi yang telah mereka tentukan. Kontak pribadi lebih penting dibandingkan propaganda media. Keputusan pemberian suara merupakan “pengalaman sosial”.

Tahap Ketiga : Pembaruan Penghargaan. Dua dasarwara terakhir merupakan pengantar bagi munculnya jaman ketiga, jaman pembaruan penghargaan kekuatan media dalam politik. Hal ini sebagian disebabkan oleh adanya televisi dan kecintaan masyarakat Amerika terhadap televisi. Sebagian lagi karena adanya perubahan acara televisi.

Dampak Media Terhadap Politik : Dampak Yang Terbatas

Sangat sulit untuk menghasilkan perubahan besar dalam sikap  sesorang terhadap sesuatu yang di perhatikan dan dilibatinya. Sebagian besar kasur persuasi massa tidak banyak menghasilkan perubahan nyata.

2.3.2  Hambatan yang Dihadapi

Hambatan utama yang dihadapi media dalam kehidupan politik antara lain :

1)   Tingkat penyiaran yang rendah

Beberapa faktor yang menimbulkan gangguan diantara sumber dan target. Jika suatu pesan tidak mencapai targetnya, tidak akan ada perubahan sikap. Orang yang terlibat dalam usaha mempengaruhi masyarakat tahu bahwa masalah mereka yang paling penting dan sulit adalah cara menjangkau orang-orang yang ingin mereka pengaruhi.

2)   Penyiaran selektif

Selain menghadapi kesulitan yang disebabkan oleh tingkat penyiaran yang rendah, pakar propaganda juga menghadapi masalah yang lain. Bila suatu pesan dikirimkan, ada kemungkinan bahwa orang yang menerima pesan itu sudah memiliki pandangan yang sama dengan isi pesan tersebut. Ini adalah gejala penyiaran selektif. Orang cenderung menutup diri terhadap informasi yang bertentangan dengan keyakinannya.

3)   Perlawanan terhadap persuasi

Seorang komunikator yang berhasil menyampaikan pesan kepada target belum berarti dapat mengubah opini target. Informasi baru diinterpretasi berdasarkan sikap yang dianut. Tampaknya ini merupakan tanggapan yang khas terhadap sebagian besar komunikasi massa. Perlawanan yang sangat besar terhadap perubahan sikap menunjukkan bahwa sikap itu mencerminkan keterikatan yang cukup kuat. Kenyataan ini merupakan masalah utama dalam usaha mencapai perubahan untuk  mengatasi hambatan juga akan menghadapi sikap yang terikat kuat.

BAB III

KESIMPULAN

Prasangka adalah penilaian terhadap suatu kelompok atau seorang individu yang terutama didasarkan pada kelompok atau seorang individu yang terutama didasarkan pada keanggotaan kelompok orang itu. (David O. Sears, :149)

Teori prasangka :

1)      Teori Konflik Kelompok

2)      Teori Belajar Sosial

3)      Teori Kognitif

4)      Teori Psikodinamika

Pengaruh media dalam politik meliputi tahapan kekuatan yang besar, pengaruh yang minimal, dan pembaruan penghargaan.

Hambatan utama yang dihadapi media dalam kehidupan politik antara lain :

1)      Tingkat penyiaran yang rendah

2)      Penyiaran selektif

3)      Perlawanan terhadap persuasi

REFERENSI

O. Sears, David. et al. Psikologi Sosial. 1994. Jakarta: Erlangga.

http://smartpsikologi.blogspot.com/

http://ichwanmuis.com/

http://tomysmile.wordpress.com/

http://definisi-pengertian.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s