Dollard & Miller

Posted: January 10, 2011 in Psikologi Kepribadian

dalam rangka memenuhi tugas

mata kuliah Psikologi Kepribadian II

Oleh

Neina Qonita Istiqomah       NIM. 1209600057

Muhammad Farid                   NIM. 1209600054

Nuraini Azizah                          NIM. 1209600061

Pahmi Taofik                             NIM. 1209600064

Fakultas Psikologi

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SUNAN GUNUNG DJATI

B A N D U N G

2010


BAB I

PENDAHULUAN

John Dollard dan Neil E. Miller keduanya mengabdi di Institute Of Human Relation, antara Dollard dan Neil E. Miller berbeda dalam mengambil suatu gagasan namun dengan pendekatan psikoanalisis antropologi dan sosial keduanya melakukan sebuah gagasan teori yang nantinya sangat berpengaruh di bidang psikologi yang dikenal dengan stimulus- response theory yang berkaitan dengan teori belajar.

Dari teori yang diketemukan oleh Dollard dan Miller bahwa mereka beranggapan bahwa kebiasaan merupakan salah satu elemen dalam struktur kepribadian, kemudian bagaimana Dollard dan Miller menjelaskan dinamika kepribadian, perkembangan kepribadian serta tingkah laku abnormal.

BAB II

ISI

2.1       BIOGRAFI

2.1.1    John Dollard

John Dollard dilahirkan di Menasha, Wisconsin, pada tanggal 29 Agustus 1900. Ia menerima gelar A.B. dari Universitas Wisconsin pada tahun 1922 dan berturut-turut meraih M.A. (1930) dan Ph.D.-nya (1931) dalam bidang sosiologi di Universitas Chicago. Dari tahun 1926 sampai de­ngan 1929 la menjadi salah seorang pem­bantu rektor Universitas Chicago.

Pada tahun 1932 ia menerima jabatan rektor di bidang antropologi di Universitas Yale dan pada tahun berikutnya menjadi rektor di bidang sosiologi pada Institut of Human Relations yang baru saja didirikan. Pada tahun 1935, ia menjadi peneliti pada institut tersebut dan pada tahun 1948 menjadi peneliti dan profesor di bidang psikologi. Ia dipensiunkan sebagai profesor pada tahun 1969. Ia memperoleh pendidikan dalam psikoanalisis dari Institut Berlin dan menjadi anggota dari Western New England Psychoanalytic Society. Ke­yakinan Dollard dan dedikasi pribadinya terhadap penyatuan ilmu-ilmu pengetahuan sosial tercermin tidak hanya dalam tu­lisan- tulisannya tetapi juga dalam fakta bahwa ia pernah meng­emban tugas- tugas akademik di bidang antropologi, sosiologi, dan psikologi pada satu universitas.

Dollard telah menulis banyak artikel teknis da­lam ilmu-ilmu pengetahuan sosial mulai dari etnologi sampai psikoterapi. Ia telah mengarang sejumlah buku yang juga mencer­minkan minatnya yang luas itu. Caste and class in a Southern town (1937) adalah suatu penelitian lapangan yang sangat di­hargai mengenai peranan orang- orang kulit hitam dalam suatu masyarakat di bagian selatan di AS dan merupakan salah satu contoh karya awal analisis kebudayaan dan kepribadian. Karya ini disusul oleh sebuah buku serupa, Children of bondage (1940), yang ditulis bersama Allison Davis. Ia menerbitkan dua buku berisi analisis psikologis tentang rasa takut: Victory over fear (1942) dan Fear in battle (1943); dan suatu monograf penting mengenai penggunaan bahan sejarah kehidupan, Criteria for the life history (1936). Bersama Frank Auld dan Alice White ia menerbitkan Steps in psychotherapy (1953), sebuah buku yang menyajikan suatu metode psikoterapi yang mencakup pendes­kripsian yang rinci tentang individu yang sedang dalam pera­watan, dan bersama Frank Auld menerbitkan Scoring human motives (1959).

2.2.2    Neal Miller

Neal Miller dilahirkan di Milwau­kee, Wisconsin, pada tanggal 3 Agustus 1909 dan meraih gelar B.S.-nya dari Universitas Washington pada tahun 1931. Ia meraih gelar M,.A.-nya dari Universitas Stanford pada tahun 1932 dan Ph.D.-nya di bidang psikologi dari Universitas Yale pada tahun 1935. Dari tahun 1932 sampai dengan tahun 1935 ia menjadi asisten di bidang Psikologi pada Institute of Human Relations dan antara tahun 1935-1936 ia mendapat beasiswa dari Social Science Researc Council dan memanfaatkannya untuk mengikuti pendidikan analisis pada Institut Psikoanalisis Wina. Dari tahun 1936 sampai tahun 1940, menjadi asisten dosen dan selanjutnya lektor pada Institute of Human Relations. Ia menjadi peneliti dan lektor pada tahun 1941. Dari tahun 1942 sampai tahun 1946, ia memimpin suatu proyek penelitian psikologi untuk Angkatan Udara AS. Pada tahun 1946, ia kembali ke Universitas Yale, menjadi profesor dalam program kuliah James Rowland Angell di bidang psikologi pada tahun 1952. Ia menetap di Yale sampai tahun 1966n dan selanjutnya menjadi profesor psikologi dan kepala Laboratorium Psikologi Fisiologis pada Universitas Rockefeller.

Selain karena kerjasamanya dengan John Dollard, Miller juga sangat terkenal di kalangan psikologi berkat karya eksperimental dan teoritisnya yang cermat tentang proses pemerolehan dorongan- dorongan, hakikat perkuatan, dan penelitian tentang konflik. Penelitian awalnya semata- mata bersifat behavioral, tetapi sejak tahun 1950-an Miller mulai menaruh perhatian pada mekanisme-­ mekanisme fisiologis yang mendasari dorongan dan perkuatan serta gejala- gejala sejenis lainnya. Karya ini disajikan secara rinci dalam terbitan-terbitan jurnal, meskipun banyak di anta­ranya telah pula diringkaskan dalam tiga bab buku pegangan yang sangat elok (Miller, 1944, 1951a, 1959). Penghargaan atas sumbangan-sumbangannya tercermin pada berbagai tanda jasa yang diterimanya. Ini meliputi keanggotaannya dalam National Academy of Science yang bergengsi itu, terpilih menjadi ketua American Psychological Association (1959), menerima medali Warren dari Society of Experimental Psychologist (1957), dan menerima Medal of Science dari Presiden (1965), suatu tanda kehormatan yang hanya dimilikinya bersama dua ilmuwan behavioral lain.

Miller dan Dol­lard bersama- sama telah menulis dua buku yang berisi penerapan versi yang disederhanakan dari teori Hull pada masalah- masalah yang menjadi garapan psikolog sosial (Social leraning and imitation, 1941) dan pada masalah- masalah yang menjadi perhatian psikolog klinis atau psikolog kepribadian (Personality and psychotherapy, 1950).

2.2       TEORI

Dollard dan Miller bekerja sama di Institute of Human Relations, Universitas Yale, mengembangkan pendekatan interdisiplin tiga bidang ilmu; teori belajar, psikoanalitik, dan antropologi sosial. Teori mereka banyak dipengaruhi oleh Teori Hull-Spence, yang terutama menangani peran motivasi dalam tingkah laku dan bagaimana motivasi belajar dapat diperoleh. Mereka berusaha menjelaskan konsep-konsep pentingdari psikoanalitik, seperti kecemasan-konflik-represi menggunakan prinsip-prinsip psikologi belajar dan kondisi sosial dari belajar. Menurut Dollard dan Miller, bentuk sederhana dari teori belajar adalah “mempelajari keadaan dimana terjadi hubungan antara respon dengan cue-stimulusnya”. Bahasan mengenai prinsip-prinsip asosiasi, ganjaran atau reinforsemen menjadi sangat penting.

Struktur kepribadian

Kebiasaan (habit) adalah satu-satunya elemen dalam teori Dollard dan Miller yang memiliki sifat struktural. Habit adalah ikAtan atau asosiasi antara stimulus dengan respon, yang relative stabil dan bertahan lama dalam kepribadian. Karena itu gambaran kebiasaan seseorang tergantung pada event khas yang menjadi pengalamannya. Namun susunan kebiasaan itu bersifat sementara. Maksudnya, kebiasaan hari ini mungkin berubah berkat pengalaman baru keesokan harinya. Dollard dan Miller menyerahkan kepada ahli lain rincian perangkat habit tertentu yang mungkin menjadi ciri seseorang, karena mereka lebih memusatkan bahasannya mengenai proses belajar, bukan kepemilikan atau hasilnya. Namun mereka menganggap penting kelompok habit dalam bentuk stimulus verbal dari orang itu sendiri atau dari orang lain, dan responnya yang umum juga berbentuk verbal. Dollard dan Miller juga mempertimbangkan dorongan sekunder (secondary drives), seperti rasa takut sebagai bagian kepribadian yang relative stabil. Dorongan primer (primary drives) dan hubungan stimulus-respon yang bersifat bawaan (innate) juga menyumbang struktur kepribadian, walaupun kurang penting dibanding habit dan dorongan sekunder, karena dorongan primer dan hubungan stimulus-respon bawaan ini menentukan taraf umum seseorang, bukan membuat seseorang menjadi unik.

Dinamika Kepribadian

Motivasi – Dorongan (Motivation – Drives)

Dollard dan Miller sangat memerhatikan motivasi atau drive. Mereka tidak menggambar atau mengklasifikasi motif tertentu, tetapi memusatkan perhatiannya pada motif-motif yang penting, seperti kecemasan. Dalam menganalisa perkembangan dan elaborasi kecemasan inilah mereka berusaha menggambarkan proses umum yang mungkin berlaku untuk semua motif. Dalam kehidupan manusia banyak sekali muncul dorongan yang dipelajari (secondary drives) dari atau berdasarkan dorongan primer seperti lapar, haus dan seks. Dorongan yang dipelajari itu berperan sebagai wajah semu yang fungsinya menyembunyikan dorongan bawaan. Kenyataannya, di masyarakat Barat yang modern, dari pengamatan sepintas terhadap masyarakat dewasa, pentinganya dorongan primer sering tidak jelas. Sebaliknya, yang kita lihat adalah dampak dari dorongan yang dipelajari seperti kecemasan, malu dan kebutuhan kepuasan. Hanya dalam proses perkembangan masa anak-anak atau dalam periode krisis dapat dilihat jelas beroperasinya dorongan primer. Dollard dan Miller mengemukakan bahwa bukan hanya dorongan primer yang diganti oleh dorongan sekunder, tetapi hadiah atau penguat yang primer ternyata juga diganti dengan hadiah atau penguat sekunder. Misalnya senyum orang tua secara bijak terus menerus dihubungkan dengan aktivitas pemberian makanan, penggantian popok dan aktivitas yang memberi kenyamanan lainnya: ”senyum” akan menjadi hadiah sekunder yang sangat kuat bagi bayi sampai dewasa.

Penting diperhatikan bahwa kemampuan hadiah/penguat sekunder untuk memperkuat tingkah laku itu tidak tanpa batas. Hadiah/penguat sekunder lama kelamaan menjadi tidak efektif , kecuali kalau hadiah/penguat sekunder itu kadang masih berlangsung bersamaan dengan penguat primer.

Dollard dan Miller setuju dengan Freud yang memandang kecemasan adalah tanda bahaya, semacam antisipasi menghindari rasa sakit (yang pernah dialami pada masa lalu). Behaviorisme menjelaskan perolehan kecemasan sebagai tanda bahaya itu melalui proses kondisioning klasik, dan penyebarannya ke dalam pribadi dijelaskan melalui perolehan reinforsemen dan generalisasi stimulus.

Proses Belajar

Dollard dan Miller melakukan eksperimen rasa takut terhadap tikus. Peralatannya adalah kotak yang dasarnya diberi aliran listrik yang menimbulkan rasa sakit. Kotak itu diberi sekat yang dapat diloncati tikus, sisi satu diberi warna putih dan sisi lain diberi warna hitam. Dibunyikan bel bersamaan dengan pemberian kejutan listrik pada kotak putih yang membuat tikus kesakitan, yang segera dihentikan kalau tikus itu meloncat dari kotak putih ke kotak hitam. Ternyata sesudah terjadi proses belajar, warna kotak yang putih dan atau bunyi bel saja (tanpa kejutan listrik) telah membuat tikus meloncati sekat. Ini adalah reaksi takut terhadap rasa sakit. Percobaan ditingkatkan dengan menutp sekat dan memasang pengumpil yang harus ditekan tikus agar pintu penghubung ke sekat hitam terbuka (tikus bisa lari ke kotak hitam yang bisa bebas dari kejutan listrik dan bel berhenti). Ternyata kemudian tikus berhenti berusaha menabrak sekat (yang tidak dapat diloncati lagi), dan menemukan cara baru yakni menekan pengumpil untuk membuaka pintu sekat. Eksperimen ini mendemonstrasikan beberapa prinsip belajar yakni;

  1. Classical conditioning (tikus terkondisi merespon bel sebagai tanda aka nada kejutan listrik)
  2. Instrumental learning (tikus belajar respon meloncati sekat sebagai instrumental menghindari rasa sakit)
  3. Extinction (tingkah laku meloncat tidak dilakukan lagi, diganti dengan menekan pengumpil)
  4. Tampak pula primary drive (rasa sakit dan tertekan) memunculkan learned atau secondary drive (rasa takut) yang kemudian memotivasi tingkah laku organisme bahkan ketika sumber rasa sakit sudah tidak muncul.

Dari eksperimen-eksperimennya, Dollard dan Miller menyimpulkan bahwa sebagian besar dorongan sekunder yang dipelajari manusia, dipelajari melalui belajar rasa takut dan anxiety. Mereka juga menyimpulkan bahwa untuk bisa belajar orang harus menginginkan sesuatu, mengenali sesuatu, mengerjakan sesuatu dan mendapat sesuatu (want something, notice something, do something,  get something). Inilah yang kemudian menjadi empat komponen utama belajar, yakni drive, cue, response dan reinforcement.

  1. Drive adalah stimulus (dari dalam diri organisme) yang mendorong terjadinya kegiatan tetapi tidak menentukan bentuk kegiatannya. Kekuatan drives tergantung kekuatan stimulus yang memunculkannya. Semakin kuat drivenya, semakin kuat tingkah laku yang dihasilkannya.
  2. Cue adalah stimulus yang member petunjuk perlunya dilakuakn respon yang sesungguhnya. Pengertian cue mirip dengan pengertian realitas subjektif dari Rogers, yakni cue adalah petunjuk yang ada pada stimulus sepanjang pemahaman subjektif individu.
  3. Response adalah aktivitas yang dilakukan seseorang. Menurut Dollard dan Miller, sebelim suatu respon dikaitkan dengan suatu stimulus, respon itu harus terjadi terlebih dahulu. Dalam situasi tertentu, suatu stimulus menimbulkan respon-respon yang berurutan, disebut initial hierarchy of response. Belajar akan menghilangkan beberapa respon yang tidak perlu, menjadi resultant hierarchy yang lebih efektif mencapai tujuan yang diharapkan.
  4. Reinforcement maksudnya agar belajar terjadi, harus ada reinforcement atau hadiah. Dollard dan Miller mendefinisikan reinforcement sebagai drive pereda dorongan (drive reduction). Event yang hanya meredakan sebentar stimuli pendorongnya akan memperkuat respon apapun yang terlibat. Bisa dikatakan, reduksi drive menjadi syarat mutlak dari reinforcement. Hipotesis mengenai reduksi drive ini menimbulkan kontroversi, dan Miller sendiri terus berusaha mencari pembenarannya.

Proses Mental yang Lebih Tinggi

Perluasan Stimulus – Respon

Dollard dan Miller memperluas apa yang dimaksud dengan stimulus – respon,. Untuk contoh kasus, seorang pilot yang pesawatnya meledak karena diserang musuh, kemudian sang pilot menjadi fobia, takut terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pesawat dan pertempuran. Konsep drive, cue, response dan reinforcement menjadi kurang tepat karena stimuli penyebab takut bukan lagi suara ledakan, tetapi juga pikirandan ingatan tentang pesawat dan ledakannya. Sehingga teori belajar bukan hanya menjelaskan tingkah laku yang sederhana, tetapi juga hal-hal yang makna dan terapannya berkaitan dengan persoalan kepribadian yang kompleks.

Pakar teori belajar tradisional umumnya beranggapan bahwa mengaburkan objektivitas dari definisi stimulus dan respon akan membuat teori belajar menjadi berbahaya yang sama dengan yang dihadapi psikoanalisis yakni; menjkadi sangat tidak cermat dan menipu. Namun perluasan pengertian itu membuat teori belajar tradisional terhindar dari objektivitas yang steril.

Generalisasi Stimulus

Menurut Dollard dan Miller, ada dua tipe interaksi individu dengan lingkungannya. Pertama, interaksi yang umumnya memiliki respon berdampak segera (immediate effect) terhadap lingkungan dan dituntun oleh cue atau situasi tunggal. Kedua, respon menghasilkan isyarat (cue producing response) yang fungsi utamanya membuka jalan terjadinya generalisasi atau diskriminasi.

Respon yang dipelajari dalam dalam kaitannya dengan suatu stimulus, dapat dipakai untuk menjawab stimulus lain yang bentuk atau wujud fisiknya mirip. Ini disebut generalisasi stimulus (stimulus generalization). Semakin mirip stimulus lain itu dengan stimulus aslinya, peluang terjadinya generalisasi tingkah laku, emosi, pikiran atau sikap semakin besar. Pada manusia, bisa terjadi generalisasi mediasi (mediated stimulus generalization), yakni generalisasi karena stimulus lain dengan stimulus asli dimasukkan ke dalam klasifikasi yang sama berdasarkan alasan (reasoning) tertentu, atau diberi label (nama) yang sama.

Reasoning

Cue Producing Response itu umumnya terjadi melalui sejumlah event internal yang disebut alur berpikir (train of thought). Reasoning pada dasarnya merupakan pengganti perbuatan nyata menjadi Cue Producing Response internal yang lebih efisien untuk memecahkan masalah daripada mencoba-coba. Reasoning memungkinkan orang menguji alternatif respon tanpa benar-benar mencobanya, sehingga menyingkat proses memilih tindakan pada masa yang akan datang, mengantisipasi respon agar menjadi lebih efektif. Lebih lanjut, urutan berpikir itu dapat dipandang sebagai hubungan stimulus-respon dalam kondisioning klasik.

Bahasa (Ucapan, Pikiran, Tulisan Maupun Sikap Tubuh)

Merupakan respon isyarat yang penting sesudah reasoning. Dua fungsinya yang penting sebagai respon isyarat adalah generalisasi dan diskriminasi. Dengan member label yang sama terhadap dua atau lebih event yang berbeda, terjadi generalisasi untuk meresponnya secara sama. Sebaliknya, label yang berbeda terhadap event yang hampir sama memaksa orang untuk merespon event itu secara berbeda pula. Perbedaan antara stimuli dipengaruhi oleh factor sosiokultural.

Dollard dan Milller sangat mementingkan peran bahasa dalam motivasi, hadiah dan pandangan ke depan. Kata mampu membangkitkan drive dan memperkuat atau member jaminan. Kata dapat berfungsi sebagai pengatur waktu, maksudnya kata dapat menguatkan tingkah laku sekarang secara verbal dengan menggambarkan konsekuensi masa yang akan datang. Jelasnya, intervensi verbal terhadap drive-cue-responsereinforcement telah membuat tingkah laku manusia menjadi semakin kompleks. Tanpa kata atau pikiran untuk mendukung motivasi lintas waktu, tingkah laku mungkin menjadi kurang konsisten dan kurang fleksibel.

Secondary Drives

Dalam masyarakat yang modern yang kompleks, tingkah laku tidak semata-mata diatur oleh penguat primer (misalnya, makanan dan air). Kehidupan manusia modern dibentuk oleh perjuangan memeroleh prestise, status, kebahagiaan, kekayaan, ketergantungan, dan sebagainya. Menurut Dollard dan Miller, stimulus atau cue apapun yang sering berasosiasi dengan kepuasan dorongan primer, dapat menjadi reinforcement sekunder.

Umumnya drive sekunder bersifat rentan, manakala drive itu berulang-ulang gagal menjadi reinforcement, drive itu menjadi lemah. Anak yang gagal mendapat pujian orang tua karena usahanya tidak mencapai prestasi yang diharapkan, sering berakibat anak menjadi bosan dan menolak berusaha mendapat pujian. Pada drive primer itu tidak terjadi. Namun ada juga drive sekunder yang sangat mantap, bahkan lebih kuat dibandingkan dengan drive lapar dan rasa sakit fisik. Misalnya nilai kebenaran dan integritas tetap dipertahankan (sebagai sumber reinforcement) sampai mati.

Model Konflik

Formulasi tingkah laku konflik dari Dollard Miller sangat terkenal. Tidak ada seorang pun yang kalis dari konflik berbagai motif dan kecenderungan, dan konflik yang parah sering mendasari tingkah laku menyedihkan dan simptom neurotik, karena konflik itu membuat orang tidak dapat merespon secara normal dapat meredakan drives yang tinggi. Ada tiga bentuk konflik, yakni konflik approach-avoidance (orang dihadapkan dengan pilihan nilai positif dan negatif yang ada di satu situasi), konflik avoidance-avoidance (orang dihadapkan dengan dua pilihan yang sama-sama negatif), dan konflik approach- approach (orang dihadapkan dengan pilihan yang sama-sama positif). Ketiga konflik itu yang mengikuti lima asumsi dasar mengenai tingkah laku konflik berikut:

  1. Kecenderungan mendekat (Gradient of Approach); kecendrungan mendekati tujuan positif semakin kuat kalau orang semakin semakin dekat dengan tujuannya itu.
  2. Kecenderungan menghundar (Gradient of Avoidance); kecenderungan menghundar dari stimulus negatif semakin kuat ketika orang semakin dekat dengan stimulus negative itu. Dua asumsi diatas sebagian dapat dijelaskan dari prinsip yang lebih mendasar, yakni kecenderungan mendapat perkuatan (Gradient of Reinforcement) dan generalisasi stimulus (Stimulus Generalization). Pengertian kecenderungan mendapat perkuatan: hadiah dan hukuman yang segera diberikan memberi dampak lebih besar dibanding menundanya. Semakin dekat ke tujuan, kenikmatan sebagai dampak dari pencapaian tujuan itu akan semakin segera diperoleh. Sedang generalisasi stimulus adalah fenomena; semakin jelas tujuannya, terjadi proses generalisasi tujuan sebagai stimulus, dan semakin kuat stimulus itu mendorong terjadinya respon yang sesuai.
  3. Peningkatan gradient of avoidance lebih besar dibanding gradient of approach.
  4. Meningkatnya dorongan yang berkaitan dengan mendekat atau menghindar akan meningkatkan tingkat gradient. Jadi meningkatnya motivasi akan memperkuat gradient mendekat atau gradient menjauh pada semua titik jarak dari tujuan. Hal sebaliknya akan terjadi kalau dorongannya menurun.
  5. Jikalau ada dua respon yang bersaing, yang lebih kuat akan terjadi.

Ketidaksadaran

Dollard dan Miller memandang penting faktor ketidaksadaran, tetapi formula analisis asal muasal factor ini berbeda denga Freud. Dollard dan Miller membagi isi-isi ketidaksadaran menjadi dua. Pertama ketidaksadaran berisi hal yang tidak pernah disadarai, sperti stimuli, drive dan respon yang dipelajari bayi sebelum bisa berbicara sehingga tidak memiliki label verbal. Juga apa yang dipelajari secara nonverbal, dan detil dari berbagai keterampilan motorik. Kedua, berisi apa yang pernah disadari tetapi tidak bertahan dan menjadi tidak disadari karena adanya represi. Orang belajar melakuakan represi, atau menolak memikirkan sesuatu yang menakutkan, rasa takut akan berkurang. Kurangnya rasa takut itu dapat dipandang sebagai suatu reinforcement dari tingkah laku tidak memikirkan (represi) hal yang menakutkan. Orang kemudian memiliki repertoire tingkah laku tidak mudah takut.

Kesadaran verbal sangat penting, karena label verbal sangat esensial dalam proses belajar. Generalisasi dan diskriminasi lebih efisien dengan memakai symbol verbal. Jika tanpa label maka kita dipaksa untuk bekerja dengan tingkat intelektual yang primitif. Kita harus terikat dengan ikatan stimulus yang nyata, dan tingkah laku kita mirip dengan tingkah laku bayi atau binatang yang tidak berbahasa.

Perkembangan Kepribadian

Perangkat Innate, Respon Sederhana dan Primary Process

Dollard dan Miller menganggap perubahan dari bayi yang sederhana menjadi dewasa yang kompleks sebagai proses yang menarik, sehingga banyak karyanya yang menjelaskan masalah ini. Bayi memiliki tiga repertoire penting, yakni:

  1. Refleks spesifik (specifics reflexes); Bayi memiliki beberapa refleks spesifik yang kebanyakan berupa respon tertentu terhadap stimulus atau kelompok stimulus tertentu. Misalnya, rooting reflex: sentuhan pada pipi direspon dengan memutar kepala kea rah pipi yang disentuh
  2. Respon bawaan yang hirarkis (innate hierarchies of response); Kecenderungan melakukan respon tertentu sebelum melakukan respon lainnya. Misalnya, bayi berusaha menghindari stimulus yang tidak menyenangkan sebelum menangis.
  3. Dorongan primar (primary drives); Stimulus internal yang kuat dan bertahan lama, yang biasanya berkaitan dengan proses fisiologik seperti lapar, haus dan rasa sakit. Drives ini memotivasi bayi untuk melakukan sesuatu tetapi tidak menentukan aktivitas spesifik apa yang harus dilakukan.

Melalui proses belajar, bayi berkembang dari tiga repertoire tingkah laku primitif diatas menjadi dewasa kompleks. Makhluk bayi itu terus-menerus berusaha mengurangi tegangan, dorongan, memunculkan respon-respon, menjawab stimuli baru, memberi reinforsemen respon baru, memunculkan motif sekunder dari drive primer, dan mengembangkan proses mental yang lebih tinggi melalui mediasi generalisasi stimulus.

Konteks Sosial

Kemampuan memakai bahasa dan respon isyarat sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dimana orang itu berkembang. Sebagian besar interaksi anak dengan lingkungannya berkenaan dengan bagaimana menghasilkan symbol komunikasi verbal (verbal cues), serta bagaimana memahami simbol verbal produk orang lain. Bahasa adalah produk sosial, dan kalau proses bahasa itu penting, lingkungan sosial pasti juga penting dalam perkembangan kepribadian.

Dollard dan Miller menekankan saling ketergantungan antara tingkah laku dengan lingkungan sosiokultural. Ditunjukkannya bagaimana psikolog memberikan prinsip belajar yang membantu ilmuwan sosial memeperhitungkan secara sistematik event kultural yang penting, dan sebaliknya bagaimana ilmuwan sosial membantu teoritisi belajar menyesuaikan prinsip-prinsip belajar dengan pengalaman nyata manusia yang menjadi kondisi belajar. Bagi Dollard dan Miller prinsip-prinsip belajarnya dapat diterapkan lintas budaya. Mereka yakin bahwa tingkah laku orang dipengaruhi oleh masyarakatnya.

Situasi Pembelajaran (Training Situation)

Seperti teoritisi psikoanalitik, Dollard dan Miller menganggap 12 tahun kehidupan awal sangat penting dalam menentukan tingkah laku dewasa. Berbeda dengan orang dewasa (dan anak) yang memiliki cara untuk keluar dari situasi yang menimbulkan frustrasi. Ada banyak peristiwa dimana konflik mental parah yang tidak disadari dapat terjadi. Dollard dan Miller mengemukakan empat hal yang mudah menimbulkan konflik dan gangguan emosi, yakni; situasi pemberian makan, toilet training (latihan kebersihan), pendidikan seks awal, dan latihan mengatur marah dan agresi. Analisis Dollard dan Miller terhadap empat situasi latihan diatasbanyak memakai formulasi Freud.

Tabel Asal Muasal Konflik Emosional: Situasi Belajar yang Kritis

Efikasi Lingkungan Prediksi Hasil Tingkah Laku
Tinggi Responsif Sukses, melaksanakan tugas yang sesuai dengan kemampuannya
Rendah Tidak responsif Depresi, melihat orang lain sukses pada tugas yang dianggapnya sulit
Tinggi Tidak Responsif Berusaha keras mengubah lingkungan menjadi responsive, melakukan protes, aktivitas sosial, bahkan memaksakan perubahan
Rendah Responsif Orang menjadi apatis, pasrah, merasa tidak mampu
  1. Situasi makan (feeding situation); adalah situasi pertama yang banyak mengajarkan sesuatu.
  2. Pendidikan kebersihan (cleaning training); Belajar mengontrol proses urinasi dan defakasi merupakan tugas yang kompleks dan sulit bagi bayi.
  3. Pendidikan seks awal (Early sex training); Tabu mengenai masturbasi yang membuat anak merasa sangat berdosa sesudah melakukan masturbasi, bersumber dari orang tua yang menanamkan dalam diri anak kecemasan yang sangat dalam seks.
  4. Pengendalian marah dan agresi (Anger-anxiety); Apabila anaknya marah, orang tua sering mengamuk, menghukum, sehingga anak belajar menekan rasa marahnya. Tanpa rasa marah ini akan membuat kepribadian anak tidak dapat berkembang.

2.3       DISKUSI MENGENAI ADLER

2.3.1    Kelebihan Teori

  1. Konsep-konsep utamanya jelas dan memiliki rincian yang di dukung oleh data empirik.
  2. Jarang ada formulasi yang kabur semacam intuisi, karena memakai pendekatan positif secara keras.
  3. Kecuali hal pendekatan positivis yang keras, teori S-R terbuka untuk merangkul fenomena empiric yang luas, teori ini tidak keberatan memakai konsep-konsepnya untuk membantu mengembangkan fenomena kompleksitas tingkah laku. Teori Dollard dan Miller berusaha menjelaskan konsep-konsep psikoalisis menjadi semakin “ilmiah”.
  4. Teori Dollard dan Miller secara khas adalah teori proses belajar, sesuatu yang sangat penting dari semua teori kepribadian, tetapi tidak banyak mendapar perhatian. Karena itu teorinya menjadi model dari teoritisi lainnya.
  5. Dollard dan Miller secara eksplisit memakai variable sosiokultural lebih dari pakar lainnya. Karena itu teorinya banyak dipakai oleh pakar antropologi cultural setara dengan pemakaian psikoanalisis.

2.3.2    Kekurangan

  1. Teori S-R dikritik dalam hal mementingkan tingkah laku sederhana, utamanya dalam tingkah laku binatang, dan mengabaikan fungsi kognitif yang kompleks.
  2. Teoritisi Holistik berpendapat bahwa teori S-R yang terpisah-pisah, pendekatan atomistik tidak dapat memahami tingkah laku manusia seutuhnya.

BAB III

PENUTUP

Dollard dan Miller bekerja sama di Institute of Human Relations, Universitas Yale, mengembangkan pendekatan interdisiplin tiga bidang ilmu; teori belajar, psikoanalitik, dan antropologi sosial. Teori mereka banyak dipengaruhi oleh Teori Hull-Spence, yang terutama menangani peran motivasi dalam tingkah laku dan bagaimana motivasi belajar dapat diperoleh. Mereka berusaha menjelaskan konsep-konsep pentingdari psikoanalitik, seperti kecemasan-konflik-represi menggunakan prinsip-prinsip psikologi belajar dan kondisi sosial dari belajar. Menurut Dollard dan Miller, bentuk sederhana dari teori belajar adalah “mempelajari keadaan dimana terjadi hubungan antara respon dengan cue-stimulusnya”. Bahasan mengenai prinsip-prinsip asosiasi, ganjaran atau reinforsemen menjadi sangat penting.

  1. Konsep-konsep utamanya jelas dan memiliki rincian yang di dukung oleh data empirik.
  2. Jarang ada formulasi yang kabur semacam intuisi, karena memakai pendekatan positif secara keras.
  3. Kecuali hal pendekatan positivis yang keras, teori S-R terbuka untuk merangkul fenomena empiric yang luas, teori ini tidak keberatan memakai konsep-konsepnya untuk membantu mengembangkan fenomena kompleksitas tingkah laku. Teori Dollard dan Miller berusaha menjelaskan konsep-konsep psikoalisis menjadi semakin “ilmiah”.
  4. Teori Dollard dan Miller secara khas adalah teori proses belajar, sesuatu yang sangat penting dari semua teori kepribadian, tetapi tidak banyak mendapar perhatian. Karena itu teorinya menjadi model dari teoritisi lainnya.
  5. Dollard dan Miller secara eksplisit memakai variable sosiokultural lebih dari pakar lainnya. Karena itu teorinya banyak dipakai oleh pakar antropologi cultural setara dengan pemakaian psikoanalisis.
  1. Teori S-R dikritik dalam hal mementingkan tingkah laku sederhana, utamanya dalam tingkah laku binatang, dan mengabaikan fungsi kognitif yang kompleks.
  2. Teoritisi Holistik berpendapat bahwa teori S-R yang terpisah-pisah, pendekatan atomistik tidak dapat memahami tingkah laku manusia seutuhnya.

REFERENSI

Alwisol. (2004). Psikologi Kepribadian.

http://a11no4.wordpress.com/2010/03/21/teori-stimulus-respon-hull-dollard-miller/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s