Proses Tumbuh dan Berkembangnya Aqidah Tauhid pada Kehidupan Manusia

Posted: March 26, 2010 in Aqidah Tauhid

Ibarat sebuah bangunan, ‘aqidah adalah pondasi dari bangunan tersebut. Tegak, dan kokohnya bangunan tergantung pada kuat dan lemahnya pondasi. Bila pondasi itu kuat maka bangunan tersebut akan berdiri dengan kokoh dan kuat. Sebaliknya, bila pondasi bangunan tersebut rapuh, maka seluruh bangunan di atasnya akan sangat mudah untuk runtuh bahkan hancur. Demikian pula kehidupan seseorang, kokoh dan tegaknya kehidupan dirinya sangat tergantung dari kuat dan lemahnya ‘aqidah yang ia miliki. Bila ‘aqidahnya kuat dan kokoh, maka ia akan mampu mengarungi kehidupan ini dengan selamat dan kokoh. Ia tidak mudah diombang-ambingkan badai kehidupan duniawi. Ia akan tetap tegar di tengah goncangan derita dan kenestapaan. Sebaliknya, tatkala ‘aqidahnya lemah, maka ia akan sangat mudah ditimpa keluh kesah, dan ketidaksabaran. Selain itu, dirinya juga sangat rentan dengan derita dan cobaan. Pendiriannya untuk selalu berada di jalan Allah SWT, mudah bergeser, hanya karena sedikit cobaan dan iming-iming duniawi. Seseorang yang lemah ‘aqidahnya akan sangat mudah menyimpang dari aturan-aturan Allah SWT. Mereka suka menyimpangkan aturan-aturan Allah, merubah-rubah, dan menafsirkan firman Allah SWT dan sabda Rasul-Nya, sesuai dengan keinginan hawa nafsunya. Seseorang tidak disebut beriman, hanya sekedar telah mengucapkan syahadat, atau telah mengerjakan hukum Islam. Akan tetapi, dirinya baru bisa disebut beriman, bila ia tunduk patuh, yakin, dan ridha terhadap ketetapan dari Allah SWT. Allah SWT telah berfirman:

Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah: ‘Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu…” (Qs. al-Hujurât [49]: 14).

Sesungguhnya orang-orang yang berîman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu lagi; dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. ” (Qs. al-Hujurât [49]: 14).

Ayat di atas merupakan penjelasan yang sangat gamblang, bahwa seseorang tidak disebut beriman, bila ia tidak menjalankan seluruh perintah Allah swt dengan penuh ketundukan, keyakinan, dan kepasrahan. Demikianlah seseorang baru absah disebut mukmin, tatkala ia menjalankan seluruh perintah-Nya berdasarkan keyakinan (‘aqidah) yang telah ia yakini kebenarannya secara pasti.

Sehingga aqidah merupakan faktor terpenting yang harus dimiliki seorang muslim agar dirinya mampu menjalani hidup sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah.

Lalu, bagaimanakah proses tumbuhnya aqidah pada manusia, khususnya bagi diri saya sendiri?

1.1 Membaca

Rasulullah saat pertama kali mendapat wahyu dari Allah melalui malaikat Jibril, diperintahkan untuk membaca. (Q.S. Al-Alaq)

1.2  Berfikir

Manusia telah diberi oleh Allah kemampuan untuk berfikir. Kemampuan ini merupakan faktor pembeda antara dirinya dengan makhluk Allah yang lain. Dengan akalnya pula, manusia bisa mencapai kedudukan lebih mulia dibandingkan makhluk yang lain, termasuk malaikat. Lalu, apa berfikir itu?

Berfikir adalah, “Memberikan justifikasi atas sesuatu dari sudut pandangan tertentu.” Oleh karena itu, berfikir Islami adalah, “Memberikan justifikasi atas sesuatu dari sudut pandangan Islam.”

Berdasarkan definisi semacam ini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa komponen yang terlibat dalam proses berfikir adalah, (1) fakta, (2) indera, (3) otak normal, (4) informasi sebelumnya. Inilah empat komponen utama dalam proses berfikir. Fakta merupakan obyek yang hendak hendak dinilai. Indera merupakan seperangkat organ tubuh yang berfungsi sebagai alat pengindera. Indera akan mencerap fakta, kemudian fakta yang telah dicerap oleh indera tersebut dikirim ke dalam otak. Setelah sampai di otak, fakta tersebut kemudian ditafsirkan berdasarkan informasi yang telah ada di dalam otak sebelum proses pencerapan itu terjadi.

Demikian juga, tatkala kita memikirkan wujud Allah SWT, indera hanya bisa mencerap sesuatu yang bisa dijangkaunya. Indera tidak bisa melampui batas cerapnya sendiri. Telinga misalnya, ia tidak bisa menangkap frekuensi yang melebihi atau kurang dari 16-20 ribu Hz. Akan tetapi, makhluk-makhluk lain telah diberi kemampuan untuk mencerap suara melebihi 50 ribu Hz, seperti kucing. Kelelawar mampu mencerap frekuensi sekitar 120 ribu Hz. Akan tetapi, secara umum bisa dinyatakan bahwa fakta yang bisa dicerap oleh akal manusia adalah alam semesta, kehidupan (spirit), dan manusia itu sendiri.

Wujud Allah SWT bisa dibuktikan dengan sekedar mengamati alam semesta, manusia, dan spirit (kehidupan). Bila anda mengamati alam semesta, manusia, dan kehidupan, maka anda akan berkesimpulan bahwa dibalik tiga hal tersebut ada yang menciptakan, yakni al-Khaliq al-Mudabbir (Sang Pencipta dan Pengatur). Keimanan terhadap al-Khaliq al-Mudabbir, merupakan keimanan yang pasti, tidak ada keraguan lagi.

Iman tidak cukup diyakini dengan hati, akan tetapi harus diucapkan dengan lisan, dan harus dikerjakan dengan amal perbuatan. Seseorang belum dikatakan mukmin tatkala ia belum berikrar menyatakan dua kalimat syahadat; dan belum melaksanakan seluruh konsekuensi dari keimanannya tersebut, yakni, menjalan aturan Allah SWT secara total tanpa pilih-pilih lagi.

Di sinilah kita bisa memahami secara ringkas, bahwa amal perbuatan manusia harus selalu bersumber pada keyakinannya. Tatkala ia berbuat harus selalu dibangun di atas keyakinannya yang pasti SWT. Ringkasnya, kehidupan seorang muslim harus selalu ditopang oleh ‘aqidah Islamiyyah. Ia tidak boleh melakukan aktivitas apapun dengan tidak didorong oleh ‘aqidah Islam.

Sungguh, bila anda mengkaji dan mendalami persoalan ini, maka anda akan berkesimpulan, bahwa hanya dengan ‘aqidah yang tangguh dan kokoh sajalah, kemudian menjalankan seluruh aturan Islam, anda akan bisa mengarungi kehidupan ini dengan benar, terarah, dan akan berakhir pada perjumpaan dengan Allah SWT kelak di hari akhir. Allah SWT berfirman:

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (Qs. al-Kahfi [18]: 110).

Proses Berkembangnya Aqidah Tauhid pada Kehidupan

Selanjutnya, yang menjadi proses berkembangnya aqidah tauhid adalah dengan melaksanakan amal ma’ruf nahi munkar.

Keimanan telah memastikan bahwa yang diimani tersebut memang benar-benar menyakinan dan tidak mungkin salah lagi. Atas dasar itu, keimanan mutlak memerlukan proses ‘ma’rifat’ (mengetahui) terhadap apa yang wajib diimani. Proses ma’rifat yang bisa menghasilkan keyakinan pasti, harus didasarkan pada proses berfikir yang benar, jernih dan mendalam. Rasulullah Saw telah bersabda, “Al-Imân al-ma’rifat bi al-Qalb qa Qaul bi al-Lisân, wa ‘Amal bi al-Arkân.” (Iman itu adalah ma’rifat [mengetahui] dengan al-qalb (akal), diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan rukun-rukun tertentu). [HR. ath-Thabaraniy]. Hadits ini menjelaskan dengan sangat gamblang, bahwa iman harus dimulai dengan proses ma’rifat (mengetahui), diucapkan dengan lisan, kemudian mengamalkan semua rukun-rukunnya. Oleh karena itu, keimanan seorang muslim harus dibangun berdasarkan proses berfikir mandiri, tidak sekedar ikut-ikutan (taqlid), atau mengikuti perasaan hati. Iman harus dibangun berdasarkan proses berfikir. Mayoritas ulama telah sepakat, bahwa taqlid (ikut-ikutan) dalam masalah ‘aqidah hukumnya haram. Imam Ahmad dalam sebuah riwayat menyatakan, “Tanda kedangkalan ilmu seseorang adalah taqlid (ikut-ikutan) dalam masalah ‘aqidah.”

Keimanan yang telah ditetapkan Allah SWT kepada kita adalah keimanan yang bersifat pasti, tidak boleh ragu. Sehingga kita pun harus mengamalkan rukun-rukunnya dengan sepenuh hati. Allah Berfirman :

Referensi

Tausiyah Ustadz Jamaludin

www.id.wikipedia.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s