Teknik Meningkatkan Bertauhid

Posted: February 15, 2010 in Aqidah Tauhid

Ulama yang telah merealisasikan makna-makna tauhid dalam jiwa dan raganya membagi tauhid dari sudut praktis kepada 3 tahapan:

  1. Tauhid Imani

Adalah pembenaran hati (tasdiq) terhadap ke-Esaan Allah melalui Alqura’an dan Hadis, serta pengakuan lisan (1qrar). Konsekwensi dari tasdiq dan iqrar ini si pemilik tauhid ini akan terbebas dari penyakit syirik yang nyata (jaliy), penyembahan selain Allah SWT, masuk ke garis muslim, tidak abadi di neraka, dan termasuk kepada golongan orang-orang beriman. Tauhid dasar ini sama dimiliki oleh semua umat Islam yang beriman alim atau awam, pendosa atau orang-orang soleh dan para aulia. Akan tetapi orang-orang Arif billah (mengenal Allah) tauhidnya beberapa tingkat lebih maju dari mereka. Cahaya tauhid ini di dalam hati pemiliknya umpama sinar bintang-bintang di langit di malam gelap gulita.

  1. Tauhid Yaqini

Tauhid yang diperoleh melalui keyakinan hati, bahwa tidak ada sebuah wujud hakikat, dan tidak ada pelaku serta pemberi pengaruh mutlaq dalam jagad raya ini melainkan Dzat Allah Yang Maha Suci. Semua dzat, sifat-sifat dan perbuatan di alam raya ini cerminan dari Dzat, Sifat dan Perbuatan Allah SWT.

Tauhid ini adalah sebuah langkah kedua dari kemajuan tauhid dasar di atas yang tumbuh dalam hati orang beriman, si pemilik tauhid ini akan merasakan (dzauq) banyak kegembiraan terhadap kemajuan hatinya, oleh karena ia senantiasa melakukan sesuatu amal sesuai dengan tuntunana ilmu syari’ah dan terbebas dari pandangan dan ketergantungan kepada hubungan sebab akibat dan perantara (ikhlas), sehingga konsekwensi dari tauhid ini ia terbebas dari sebagian syirik khafi (syirik yang sangat halus), umpama bulan purnama yang terang benerang menyinari bumi ini, demikianlah kira-kira ilustrasi cahaya tauhid ini di hati si pemiliknya.

  1. Tauhid Haali

“Hal” adalah istilah untuk sebuah kedudukan spiritual seseorang yang menduduki puncak tauhid yang paling tinggi sehingga menimbulkan apresiasi sifat-sifat mulai dari sumber hati yang penuh dengan cahaya hak. Pemilik tauhid ini sering dikenal sebagai para wali Allah, ‘arif billah, muqarrabiin, atau orang-orang Siddiqin.

Sumber tauhid ini muncul dari jiwa yang musyahadah kepada Allah SWT, cahanya menyinari jiwa raga dan kehidupan di sekelilingnya umpama sinar mentari yang menembus semua sisi gelap di semua penjuru. Sehingga si pemilik tauhid ini harus merasakan penanganan Allah SWT terhadap dirinya, segala gerak-gerik dan kemauannya telah senantiasa ia sesuaikan dengan iradah Penciptanya lahir dan bathin, ia betul-betul telah mengalami tingkat kepercayaan (tsiqah) dan kepasrahan (tawakal) yang sangat tinggi dalam seluruh kehidupannya. Maka tidak ayal lagi orang ini telah betul-betul mendapatkan ketentraman jiwa yang sangat mapan, umpama gunung tinggi yang tak bergeming meskipun diterpa topan dan goncangan bumi apapun.

Teknik untuk meningkatkan bertauhid dapat kita raih dengan banyak cara. Cara meningkatkan tauhid antara orang yang satu dengan yang lain berbeda-beda, maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Ada 2 (dua) cara bertauhid yang kita peroleh, yakni :

  1. Tauhid Mutakallimin

Yakni bertauhid dengan jalan mengambil dalil naqli dan aqli, mempelajari sifat-sifat yang wajib, mustahil, dan harus bagi Allah. Di kalangan awam ilmu tauhid ini disebut sifat 20.

  1. Tauhid Mutasawwifin

Yakni bertauhid dengan jalan mengamalkan ilmu tasawuf. Para ulama tasawuf mengatakan tidak akan berhasil tasawuf tanpa mengamalkan suatu thariqat.

Realisasi dari teknik meningkatkan bertauhid ini, kita harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Mentadaburi Al-Qur’an, Hadits, dan Ijtihad, dengan mentadaburi al-qur’an kita semakin faham tentang makna tauhid kepada Alloh.
  2. Memaknai kehidupan yang ada disekitar kita.
  3. Mempelajari ilmu syari’at sekaligus mengamlkannya sesuai dengan Alqur’an dan Sunnah
  4. Bertauladan, bercermin kepada orang-orang soleh serta menimba pengalaman spiritual mereka.
  5. Melakukan mujahadah untuk mendirikan dominasi iradah kebaikan terhadap iradah keburukan atau menjauhi karakter buruk mejadi akhlak mulia, dan menumbuhkan rasa pengawasan (muraqabah) Allah dalam diri kita, ntuk meningkat tauhid imani ini kepada tauhid yaqini.
  6. Berdzikir kepada Allah SWT senantiasa, sehingga istiqamah dalam taqwa Allah dan mendapat musyahadah kepada-NYA, demi mencapai tauhid haly .

Referensi :

Ahmad Yasser Noor Hafidz, Memahami Tauhid dari Sudut Praktis. [http://yasser-nh.blogspot.com/]

H. Husnan Malik SH (Dosen Metafisika UNPAB), Esensi Tauhid dan Syirik dalam Islam. [http://aahik.multiply.com/journal/item/7/Esensi_Tauhid_Dan_Syirik_Dalam_Islam]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s