Perbuatan-Perbuatan Manusia yang Dapat Menghambat Perkembangan Bertauhid

Posted: February 15, 2010 in Aqidah Tauhid

Al-Qur’an al-karīm merupakan petunjuk (hudan) bagi manusia dan pembeda (al-furqān) mana yang benar dan yang salah, mana yang bersih dan mana yang kotor. Ia mengumpulkan hukum-hukum dari umat-umat terdahulu serta berita-berita tentang mereka. Ia juga memadukan kepekaan syi‘ir dengan kefasihan prosa, antara pokok-pokok akidah dengan prinsip-prinsip akhlak serta hukum-hukum praktis; memadukan antara tuntunan jasmani dan ruhani sebagai pegangan, kebaikan dunia dan akhirat.

Manusia sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Syams (91): 7-10, pada dasarnya diciptakan oleh Allah subhānahu wa ta‘ālā dalam keadaan suci dan sempurna, tapi ia dapat tercemar menjadi kotor jika kesucian dan kesempurnaan itu tidak dijaga. Hati yang suci itu dapat dikotori oleh berbagai macam perbuatan dosa, baik kecil maupun besar. Sehingga, jika dosa itu menumpuk di hati seseorang, maka akibatnya akan menjadikan orang itu bertambah mudah dalam melakukan berbagai pelanggaran, dan bahkan ia akan merasa tidak ragu-ragu lagi dalam melakukan dosa-dosa besar, apalagi dosa-dosa kecil.

Khamr dan perjudian bukanlah sesuatu yang langka bagi masyarakat Indonesia, sehingga tidak heran persoalan-persoalan yang dihadapi oleh bangsa ini semakin hari semakin rumit. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan kotor itu semua bahkan mengundang kehancuran hati dan berakibat azab yang dahsyat dari Allah subhānahu wa ta‘ālā tanpa mereka sadari.

Umat terdahulu ditimpakan azab oleh Allah subhānahu wa ta‘ālā disebabkan pelanggaran-pelanggaran yang mereka lakukan, kaum ‘Ād dan kaum Tsamūd contohnya, mereka diazab oleh Allah subhānahu wa ta‘ālā karena menentang seruan rasul dengan tetap melakukan kesyirikan dan larangan-larangan Allah.

Perbuatan-perbuatan itu, dalam al-Qur’an disebut dengan term rijs, yakni suatu perbuatan yang kotor menurut pandangan tabi‘at, akal, dan syara‘, sehingga terkadang diartikan dengan kekufuran, hukuman dan atau bahkan azab dari Allah subhānahu wa ta‘ālā. Term al-rijs ini, disebut sembilan kali dalam al-Qur’an yaitu dalam QS. Al-Mā’idah (5): 90, QS. Al-An‘ām (6): 125, QS. Al-An‘ām (6): 145, QS. Al-A‘rāf (7): 71, QS. Al-Tawbah (9): 95, QS. Al-Tawbah (9): 125, QS. Yūnus (10): 100, QS. Al-Hajj (22): 30, QS. Al-Ahzāb (33): 33.

Posisi iman terletk di dalam hati, oleh karena itu, lingkungan hati harus diberi kondisi yang diridhai oleh Allah SWT, yaitu dengan cara memperbanyak membaca Al-Qur’an dan shalawat kepada Nabi SAW, makan makanan halal dan menata tingkah laku. Ini sudah menjadi latar belakangnya. Maka, dengan membaca Al-Qur’an, Shalawat dan ibadah, tauhid kita akan terjaga.

Sekarang ini tauhid ini dibahayakan (terancam) hampir dalam segala jurusan. Jurusan yang pertama adalah jurusan yang menjauhkan atau membuat manusia tidak lagi percaya pada kekuasaan Allah SWT. Karena orang-orang dalam keadaan miskin, merek mulai menuhankan uang. Sehingga bunyi teks Pancasila berubah menjadi; “Keuangan Yang Maha Kuasa”, karena semua hal ujung-ujungnya adalah uang, bahkan idealisme sekalipun merupakan bagian dari uang, padahal seharusnya uang adalah bagian dari penegakan idealisme. Semua ini mengakibatkan kekufuran. Misalnya: Orang mempunyai sifat matrealistik, berarti dia percaya kepada tuhan secara simbolik, akan tetapi tidak secara faktual. Materialisme inilah yang menjadi bencana terbesar abad ini terhadap tauhid kepada Allah SWT. Orang hanya mencari materi, materialisme ini membuat orang hanya percaya kepada materi dan tidak percaya kepada immateri, dan perbuatan ini sudah termasuk kafir.

Gejala yang kedua yang membahayakan tauhid adalah gejala perlawanan terhadap patokan fundamental dari agama. Contohnya adalah masalah Poligami. Orang diperbolehkan untuk tidak suka pada poligami, kalau dia memang jujur. Kalau laki-laki tidak suka poligami, biasanya dia tidak jujur, karena laki-laki itu biasanya mempunyai sifat penggeragasan, bagian akomodasi, tampung sana tampung sini, alasannya adalah untuk kemanusiaan (humanitas). Bahwa orang tidak suka poligami itu boleh, begitu juga jika dia tidak suka dipologami. Akan tetapi tidak boleh malawan Al-Qur’an yang membolehkan poligami. Kalau diibaratkan, Al-Qur’an itu ibarat rumah, saya boleh tidak memilih kamar yang pertama, namun memilih kamar nomor dua. Begitu juga dengan Al-Qur’an yang memberikan pilihan antara poligami dan monogami.

Dan yang ketiga adalah otoritarianisme. Otoritarianisme adalah faham yang mengabsahkan tindakan menggunakan kekuasaan Tuhan yang dilakukan seseorang, kelompok atau institusi untuk menyatakan bahwa pandangan keagamaannya (tafsir atas teks suci) paling benar dan itulah yang sebenarnya dikehendaki Tuhan. Sementara interpretasi yang dikemukakan pihak lain dianggap salah dan bukan kehendak Tuhan atau bahkan pada titik tertentu dituding sesat dan menyesatkan.

Referensi :

http://www.al-hikam.or.id/

http://dunia.pelajar-islam.or.id/dunia.pii/209/otoritarianisme-catatan-hitam-peradaban-islam.html [Asnawi Ihsan]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s