Faktor Pendorong Berkembangnya Bertauhid

Posted: February 15, 2010 in Aqidah Tauhid

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَآءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَاوَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

14. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini, wanita dan anak-anak, timbunan harta berupa emas dan perak, kuda pilihan, binatang ternak, sawah dan ladang. Inilah kesenangan hidup di dunia, padahal di sisi Allahlah tempat kembali yang lebih baik. (Q.S. Ali-Imran: 14)

Ayat ini merupakan pernyataan menggelitik tentang sifat dasar manusia. Keinginan duniawi terlihat menarik dalam pandangan manusia. Perbuatan-perbuatan kita memiliki dalih pembenaran atas-nya; perbuatan buruk seseorang boleh jadi kecil pada awalnya, namun jika tidak diawasi, maka perbuatan-perbuatan itu akan bertambah setiap harinya. “Di sisi Allahlah tempat perlindungan yang lebih baik.” Allah telah memberikan kepada kita pegangan yang dapat kita gunakan baik untuk kembali kepada-Nya maupun untuk menahan diri kita. Orang yang memiliki mata hati (bashirah) tidak akan melihat wilayah yang samar; ia melihat hanya ada dua kemungkinan manusia: kafir atau bertauhid. Pembedaan antara dua keadaan ini menjadi lebih jelas seiring seinakin tajamnya mata hati atau penglihatan batini seseorang.

Tauhid itu ibarat sebatang pohon ia tumbuh dalam hati seseorang mukmin, kemudian tumbuh cabang-cabangnya yang semakin indah dan panjang. Demikian pula iman, semakin disirami dengan ketaatan yang dapat mendekatkannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, semakin bertambah pula kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya, semakin besar rasa takut dan harapnya serta semakin kuat tawakkalnya kepada-Nya.

Diantara faktor-faktor yang dapat menumbuhkan tauhid didalam jiwa seseorang ialah sebagai berikut :

1.   Berbuat ta’at karena mengharap pahala disisi Allah.
2.   Meninggalkan maksiat karena takut kepada siksaan Allah.
3.   Memikirkan/tafakkur tentang ciptaan-ciptaan Allah dilangit dan dibumi.
4.   Mengenali nama-nama dan sifat-sifat Allah, dan memahami konsekwensi-konsekwensinya, pengaruh-pengaruhnya dan kandungan maknanya yang menunjukkan kemuliaan dan kesempurnaan.
5.   Senantiasa menimba ilmu yang bermanfaat dan mengamalkannya.
6.   Membiasakan membaca Al-Qur’an dengan tadabbur/menghayati dan memahami makna dan maksudnya.
7.   Mendekatkan diri/taqarrub kepada Allah dengan mengerjakan amalan-amalan sunnah disamping yang fardhu.
8.    Senantiasa berdzikir kepada Allah dalam segala situasi dan kondisi, dengan lidah dan hati.
9.    Mengutamakan apa yang dicintai Allah diatas segala yang dicintai.

10.  Memperhatiakn segala nikmat Allah, yang zahir dan yang bathin serta menhadirkan didepan mata, bagaimana kebaikan dan karunia yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya.

11.  Memelas dan merendahkan hati diahdapan Allah.

12.  Berkhalwat/menyendiri dengan Allah pada waktu sepertiga malam terakhir, dengan menbaca Al-Qur’an dan menutupnya dengan istighfar/memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya.

13.  Selalu bergaul dan duduk bersama orang-orang shaleh dan ikhlash serta cinta kepada Allah, dan mengambil faedah dari ucapan dan cara hidup mereka.

14.  Menjauhi segala sarana yang dapat menghalangi hati dengan Allah.

15.  Meninggalkan perkataan yang tidak berguna, makan berlebihan, bergaul dan memandang kepada yang haram.

16.  Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencintai sesuatu bagi saudaranya sesama muslim, seperti ia mencintai sesuatu untuk dirinya.

17.  Membersihkan hati dari penyakit dengki, iri, takabbur, ghurur/merasa serba lebih dan ujub/membanggakan diri terhadap kaum mukminin.

18.  Ridha kepada aturan Allah.

19.  Bersyukur ketika mendapatkan nimmat, dan bersabar tatkala ditimpa musibah.

20.  Segera kembali/bertaubat kepada Allah dikala melakukan dosa.

21.  Memperbanyak amal shaleh, seperti berinfak, berbudi pekerti/akhlak yang baik, menyambung tali silaturrahim dll

22.  Mengikuti perilaku Nabi s.a.w dalam segala hal kecil maupun besar.

23.  Berjihad fisabilillah.

24.  Memakan makanan yang baik lagi halal.

25.  Melakukan amar ma’ruf nahi mungkar/mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan munkar.

Referensi :

Ash-shiddiqy, Muhammad Hasbi, Sejarah Dan Pengantar Ilmu Tauhid/Ilmu Kalam, Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 1999, cet. I.

Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam, Jakarta: Pt Rajagrafindo Persada, 2006.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s