You don’t have to walk straight.
Sway, or turn if you like, as long as it’s your own walk.
Walk on your own feet.
I’ll be waiting here.

 

Quote  —  Posted: May 6, 2012 in Bahasa Inggris, Uncategorized

Permasalahan 1 : M hilang (kabur) dari rumah saudaranya.

Diskusi                : Kemungkinan terjadinya permasalahan tersebut adalah kurangnya pengawasan yang dilakukan oleh keluarga terhadap M. Sehingga saat M meninggalkan rumah, keluarganya tidak ada yang curiga atau mengawasinya.

Menurut John DeFrain (dalam David H.L. Olson & John DeFrain, 2002), terdapat enam karakteristik yang sama dimiliki oleh keluarga-keluarga kokoh baik di negara maju ataupun berkembang. Salah satunya adalah waktu bersama yang berkualitas, memprioritaskan kebersamaan. Kesanggupan keluarga dalam menyediakan waktu bersama untuk saling berbagi kasih dan perhatian, kelembutan, kegembiraan, ketakutan bahkan dalam kemarahan merupakan unsur yang memperkokoh keluarga. Keluarga yang kokoh dan sehat adalah yang meluangkan waktu bersama, melakukan sesuatu bersama.

Jadi permasalahan tersebut dapat dilihat sebagai kurangnya waktu bersama yang berkualitas dalam keluarga M. Meskipun banyak saudaranya yang sedang berkumpul, muncul asumsi bahwa M tidak terlalu merasa nyaman dalam situasi tersebut, dan M lebih memilih meninggalkan rumah (untuk bertemu teman Facebook­-nya) daripada menghabiskan waktu bersama keluarganya.

Pengawasan dapat dilakukan melalui komunikasi secara terbuka dengan si anak. Ini terutama dimaksudkan agar orangtua dapat memantau pergaulan anaknya. Orangtua harus mengetahui orang-orang di sekitar si anak yang sering menjadi temannya dalam ber-facebook.

 

Permasalahan 2 : M menggunakan situs jejaring sosial padahal usianya belum mencukupi.

Diskusi                : Kemungkinan terjadinya permasalahan tersebut adalah anak belum mulai belajar untuk mengontrol perilakunya sendiri. Sehingga dengan menyadari atau tidak aturan-aturan dalam situs tersebut, ia tetap menggunakannya meskipun belum tahu ‘kejahatan’ apa saja yang ada di dalamnya.

Menurut Santrock (2008), pola asuh indulgent adalah gaya asuh dimana orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anaknya tapi tidak banyak memberi batasan atau kekangan pada perilaku mereka. Orang tua ini sering membiarkan anaknya untuk melakukan apa yang si anak inginkan dan membiarkan anak mencari cara sendiri untuk mencapai tujuannya, sebab orang tua model ini percaya bahwa kombinasi dukungan pengasuhan dan sedikit prmbatasan akan menciptakan anak yang kreatif dan percaya diri. Hasilnya adalah si anak biasanya tidak belajar untuk mengontrol perilakunya sendiri. Orang tua ini tidak memperhitungkan seluruh aspek perkembangan si anak.

Selain itu, berdasarkan teori pola hubungan keluarga, yaitu hubungan antar orang tua-anak. Beberapa hal yang menjadi indikasi serasinya hubungan antara orang tua-anak antara lain: Adanya pengetahuan dan wawasan orang tua-anak tentang pentingnya hubungan yang setara dalam keluarga; Tumbuhnya rasa cinta dan kasih sayang antara orang tua-anak atau sebaliknya; Munculnya rasa hormat dan menghargai satu sama lainnya; Adanya sikap dan perilaku orang tua yang rasional dan bertanggung jawab terhadap proses tumbuh kembang anak; Adanya kemampuan orang tua untuk mendeteksi gejala yang memungkinkan timbulnya permasalahan anak.

Jadi permasalahan tersebut dapat dilihat sebagai adanya ketidaksamaan kebutuhan dan keinginan antara pengharapan orang tua terhadap anak dengan apa yang sebenarnya diinginkan oleh anak yang menjadi sumber dari tidak efektifnya komunikasi antara orang tua dengan anak. Tanpa orang tua M sadari, mereka memberikan kebebasan yang berlebihan tanpa pengawasan pada aktivitas yang dilakukan M.


Permasalahan 3 : M diduga bertemu dan dibawa teman dari situs jejaring sosial tersebut yang baru dikenalnya.

Diskusi                : Kemungkinan terjadinya permasalahan tersebut adalah penggunaan situs jejaring sosial yang tanpa kontrol. Sehingga ia dapat mengenal siapa saja di dunia luar, yang belum tentu itu adalah identitas aslinya dan tidak terjamin keamanannya.

Menurut Stanley Hall (dalam Alan Slater & J. Gavin Bremmer, 2003), “Masa remaja adalah masa ‘stress and strain’ (masa kegoncangan dan kebimbangan). Akibatnya para pemuda-pemudi melakukan penolakan-penolakan pada kebiasaan di rumah, sekolah dan mengasingkan diri dari kehidupan umum, membentuk kelompok hanya untuk ‘gangnya’. Mereka bersifat sentimentil, mudah terguncang dan bingung. Tugas perkembangan remaja yang berkaitan dengan permasalahan ini adalah: Mencapai hubungan sosial yang lebih matang dengan teman-teman sebayanya, baik dengan teman-teman sejenis maupun jenis kelamin lain; Dapat menjalankan peranan-peranan sosial menurut jenis kelamin masing-masing; Menerima kenyataan (realitas) jasmaniah serta menggunakannya seefektif-efektifnya dengan perasaan puas; Mencapai kebebasan emosional dari orang tua atau orang dewasa lainnya; Memperlihatkan tingkah laku yang secara sosial dapat dipertanggung jawabkan; Memperoleh sejumlah norma-norma sebagai pedoman-pedoman dalam tindakan-tindakannya dan sebagai pandangan hidupnya.

Teman pergaulan (sering juga disebut teman bermain) pertama kali didapatkan manusia ketika ia mampu berpergian ke luar rumah. Pada awalnya, teman bermain dimaksudkan sebagai kelompok yang bersifat rekreatif, namun dapat pula memberikan pengaruh dalam proses sosialisasi setelah keluarga. Puncak pengaruh teman bermain adalah pada masa remaja. Kelompok bermain lebih banyak berperan dalam membentuk kepribadian seorang individu.

Berbeda dengan proses sosialisasi dalam keluarga yang melibatkan hubungan tidak sederajat (berbeda usia, pengalaman, dan peranan), sosialisasi dalam kelompok bermain dilakukan dengan cara mempelajari pola interaksi dengan orang-orang yang sederajat dengan dirinya. Oleh sebab itu, dalam kelompok bermain, anak dapat mempelajari peraturan yang mengatur peranan orang-orang yang kedudukannya sederajat dan juga mempelajari nilai-nilai keadilan.

Jadi permasalahan tersebut dapat dilihat sebagai bukti penyalahgunaan teknologi informasi dan komunikasi yang dapat mengakibatkan munculnya dampak negatif. Hal ini dapat menjadikan  anak dan remaja sebagai korban penculikan oleh sindikat perdagangan manusia, dll.

Fase perkembangan anak rentan terhadap dampak negatif  internet ini. Mereka memasuki fase perkembangan yang tidak stabil. Sejalan dengan perkembangan fungsi jasmani, perkembangan intelektualnya berlangsung sangat intensif. Mereka biasanya memiliki minat yang tinggi terhadap pengetahuan dan pengalaman baru.

Anak dan remaja otomatis memerlukan perlindungan mental, fisik, sosial, ekonomi dari dampak negatif internet, termasuk pengawasan terhadap penggunaan facebook. Perlindungan ini harus dilakukan kalangan keluarga, sekolah, masyarakat, maupun pemerintah.

Hak anak sudah dilindungi hukum. Ini tertuang melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. UU ini menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Hak anak tersebut merupakan bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi  keluarga, masyarakat, serta pemerintah dan negara. UU tersebut harus diterjemahkan secara konkret dalam kehdiupan sehari-hari. Keluarga harus senantiasa mengawasi anak mereka saat memanfaatkan layanan internet.

 

Referensi

Olson, David H.L. & DeFrain, John. 2002. Marriages and Families: Intimacy, Diversity, and Strengths. Boston: McGraw-Hill.

Santrock, John W. 2008. Psikologi Pendidikan Edisi ke-2. Dallas: University of Texas.

Slater, Alan & Bremmer, J. Gavin. 2003. An Introduction to Developmental Psychology. Malden: Wiley-Blackwell.

Sinopsis

Diterbitkan oleh Broadway pada tahun 1999, The Freedom Writers Diary adalah kisah nyata guru bahasa Inggris Erin Gruwell, dia bertugas mengajar pertama kali di Long Beach, California. Gruwell dengan cepat belajar bahwa murid-muridnya memiliki lebih banyak potensi yang perlu diperhatikan daripada PR harian.

Suatu hari,  Gruwell ketika lewat disisi bangku murid-muridnya dia melihat karikatur rasis penuh kebencian. Murid-murid Gruwell mengatakan bahwa itu adalah semacam kebencian dan kesalah pahaman yang menuju Holocaust. Gruwell terkejut mengetahui bahwa murid-muridnya belum pernah mendengar tentang Holocaust.

Gruwell bekerja paruh waktu untuk mendapatkan uang tambahan untuk membeli buku The Diary of a Young Girl karangan Anne Frank. Dia juga memberikan setiap siswa jurnal agar mereka untuk memiliki tempat untuk mendiskusikan perasaan mereka, ketakutan mereka, dan pengalaman mereka. Yang memang untuk pertama kalinya, para siswa berminat di bidang akademik.

Untuk melakukan perubahan hidup yang bersejarah ini, para siswa mengadakan “Taste for Change” untuk mengumpulkan uang guna mengundang Miep Gies ke sekolah mereka, wanita yang menyembunyikan keluarga Anne Frank. Mereka juga dikunjungi oleh Zlatá Filipovic. Siswa-siswi ini mendapatkan pengakuan yang luar biasa dari media dan dari pemerintah, berharap bahwa orang lain akan menemukan inspirasi dalam kisah sukses mereka. Dan akhirnya seluruh anggota dari The Freedom Writers lulus dari SMA dan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Analisis

Dilihat dari perspektif psikologi pendidikan, Erin Gruwell menggunakan pendekatan humanistik dalam pengajarannya. Adapun prinsip-prinsip humanistik antara lain :

a.  Memahami manusia sebagai suatu totalitas

b.  Metode yang digunakan adalah life history

c.  Mengakui pentingnya personal freedom dan responsibility dalam proses pengambilan keputusan yang berlangsung sepanjang hidup.

d.  Mind bersifat aktif, dinamis. Melalui mind, manusia mengekspresikan keunikan kemampuannya sebagai individu, terwujud dalam aspek kognisi, willing, dan judgement.

Berdasarkan prinsip itu, Erin ingin membuat murid-muridnya menjadi individu yang lebih baik dan saling menghormati satu sama lain dengan menggunakan berbagai metode pengajaran yang berbeda-beda dan disesuaikan dengan fenomena yang dialami murid-muridnya. Seperti saat dia membuat permainan garis, mengadakan kunjungan ke museum, dan mengundang Miep Gies.

Film ini juga menceritakan bagaimana proses pendidikan multikultural berlangsung dan dapat terlaksana dengan baik. Meskipun pihak sekolah yang sudah mendapat otonomi sekolah terintegrasi tidak menjalankan sistem pendidikan multikultural ini, tetapi Erin tetap menjalankannya dengan dukungan dari pihak-pihak lain.

Permainan garis dan kunjungan ke museum merupakan pelatihan yang diberikan Erin kepada murid-muridnya agar lebih sadar budaya (kultur), dengan menganalisis kultur yang dipengaruhi faktor historis, sosial, dan politik sehingga membentuk pandangan mereka tentang kultur dan etnis.

Tokoh-tokohnya antara lain : Sigmund Freud, Carl Jung, Otto Rank, William Reich, Karen Honey, Alfred Adler, Harry Stack Sullivan, dll.

Konsep Freud yang anti rasionalisme menekankan motivasi tidak sadar, konflik, dan simbolisme sebagai konsep primer. Manusia pada hakekatnya bersifat biologis, dilahirkan dengan dorongan-dorongan instingtif, dan perilaku merupakan fungsi mereaksi secara mendalan terhadap dorongan-dorongan itu. Manusia bersifat tidak rasional dan tidak sosial, dan destruktif terhadap dirinya dan orang lain. Energi psikis yang paling dasar disebut libido yang bersumber dari dorongan seksual yang terarah kepada pencapaian kesenangan.

Pada mulanya Freud mengembangkan teorinya tentang struktur kepribadian dan sebab-sebab gangguan jiwa. Manusia pada hakekatnya bersifat biologis, dilahirkan dengan dorongan-dorongan instingtif, dan perilaku merupakan fungsi mereaksi secara mendalam terhadap dorongan-dorongan tersebut. Manusia bersifat tidak rasional, tidak sosial, dan destruktif terhadap dirinya sendiri ddan orang lain. Menurut Freud teori kepribadian menyangkut 3 hal

  1. Struktur kepribadian

Kepribadian terdiri dari 3 sistem

  • Id adalah aspek biologis yang merupakan sistem kepribadian yang asli.
  • Ego adalah aspek psikologis yang timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan dengan dunia kenyataan.
  • Super ego adalah aspek sosiologis yang mencerminkan nilai-nilai tradisiona serta cita-cita masyarakt yang ada di dalam kepribadian individu.
  1. Dinamika kepribadian

Terdiri dari cara bagaimana energi psikis itu disitribusikan serta digunkan oleh id, ego, dan super ego.

  1. Perkembangan kepribadian

Kepribadian individu menurut Freud telah mulai terbentuk pada tahun-tahun pertama di masa kanak-kanak. Pada umur 5 tahun hampir seluruh struktur kepribadian telah terbentuk, pada tahun-tahun berikutnya hanya menghaluskan struktur dasar tersebutTujuan konseling psikoanalitik adalah membentuk kembali struktur karakter individu dengan membuat yang tidak sadar menjadi sadar dalam diri klien.

 

Proses Konseling

Tujuan konseling adalah membentuk kembali struktur karakter individu dengan membuat yang tidak sadar menjadi sadar pada diri klien. Proses dipusatkan pada usaha menghayati kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Pengalaman masa lampau ditata, didiskusikan, dianalisa, dan ditafsirkan dengan tujuan untuk merekontruksikan kepribadian.
Satu karakteristik konseling ini adalah bahwa terapi atau analisa bersikap anonim(tak dikenal) dan bertindak dengan sangat sedikit menunjukan perasaan dan pengalamanya, sehingga dengan demikian klien akan memantulkan perasaanya kepada konselor. Konselor terutam berkenaan dengan membantu klien mencapai kesadaran diri, ketulusan hati, dan berhubungan pribdi yang lebih efektif, dalam menghadapi kecemasan melaui cara-cara realistis. Pertamam-tama konselor harus membuat suatu hubungan kerjasama dengan klien dan kemudian melakukan serangkaian kegiatan mendengarkan dan menafsirkan. Konselor memberikan perhatian kepada resistensi atau penolakan klien. Sementara klien berbicara, konselor mendengarkan dan memberikan penafsiran yang memadai fungsinya adalah pempercepat proses penyadaran hal-hal yang tersimapan dalam ketidaksadaran.

  1. Proses konseling dipusatkan pada usaha menghayati kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Pengalaman masa lampau ditata, didiskusikan, dianalisa dan ditafsirkan dengan tujuan untuk merekonstruksi kepribadian.
  2. Konseling analitik menekankan dimensi afektif dalam membuat pemahaman ketidak sadaran.
  3. Tilikan dan pemahaman intelektual sangat penting, tetapi yang lebih adalah mengasosiasikan antara perasaan dan ingatan dengan pemahaman diri.
  4. Satu karakteristik konseling psikonalisa adalah bahwa terapi atau analisis bersikap anonim (tak dikenal) dan bertindak sangat sedikit menunjukkan perasaan dan pengalamannya, sehingga dengan demikian klien akan memantulkan perasaannya kepada konselor. Proyeksi klien merupakan bahan terapi yang ditafsirkan dan dianalisia.
  5. Konselor harus membangun hunbungan kerja sama dengan klien kemudian melakukan serangkaian kegiatan mendengarkan dan menafsirkan.
  6. Menata proses terapeutik yang demikian dalam konteks pemahaman struktur kepribadian dan psikodinamika memungkinkan konselor merumuskan masalah klien secara sesungguhnya. Konselor mengajari klien memaknai proses ini sehingga klien memperoleh tilikan mengenai masalahnya.
  7. Klien harus menyanggupi dirinya sendiri untuk melakukan proses terapi dalam jangka panjang. Setiap pertemuan biasa berlangsung satu jam.
  8. Setelah beberapa kali pertemuan kemudian klien melakukan kegiatan asosiasi bebas. Yaitu klien mengatakan apa saja ynag terlintas dalam pikirannya.

 

Peranan Konselor

  1. Konselor sebagai ahli; mendorong transferensi dan ekspolrasi ketidaksadaran, menggunakan interpretasi.
  2. Konselor bersikap anonim, artinya konselor berusaha tidak dikenal klien, dan bertindaksedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya. Tujuannya agar klien dengan mudah memantulkan perasaan kepada konselor. Pemantulan ini merupakan proyeksi klien yang menjadi bahan analisis bagi konselor (Willis, 2004: 16)

 

Hubungan Antara Terapis Dan Klien

Hubungan antara klien dengan penganalisis dikonseptualisasikan dalam proses  transferensi, yang merupakan inti dari pendekatan psikoanalitik. Transferensi memberi peluang bagi klien untuk melekat pada diri terapis tanggung jawab dari urusan yang belum terselesaikan” yang berasal dari hubungan masa lalu. Transferensi terjadi manakal klien bagkit kembali dari konflik-konflik berat usia dini yang ada hubunagnnya dengan cinta kasih, seksualitas, permusuhan,  keresahan dan kemarahan, membawanya ke masa kini, mengalaminya kembali dan lekatannya pada diri penganalisis (Corey, 1995: 169). Pada proses trnsfensi ini, liendapat secara bebas mengungkapkan pengalaman-pengalamnnya agar terapis dapat mengetahui masalh yang dihadapi klien secara lebih detail.

Teknik-Teknik Terapi

Tujuan terapi:

  1. Membuat tidak  sadar menjadi sadar;
  2. Mengatasi tahap-tahap perkembangan tidak terpecahkan
  3. Membantu klien belajar dan mengatasi dan menyesuaikan
  4. Rekonstruksi kepribadian.

Terapi-terapinya:

  1. Asosiasi bebas. Teknik pokok dalam terapai psikoanalisa adalah asosiasi bebas. Konselor memerintahkan klien untuk menjernihkan pikiranya adari pemikiran sehari-hari dan sebanyak mungkin untuk mengatakan apa yang muncul dalam kesadaranya. Yang pokok, adalah klien mengemukakan segala sesuatu melalui perasaan atau pemikiran dengan melaporkan secepatnya tanpa sensor. Metode ini adalah metoda pengungkapan pangalaman masa lampau dan penghentian emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatik dimasa lalu.
  2. Interpretasi. Adalah prosedur dasar yang digunakan dalam analisis asosiasi bebas, analisi mimpi, analisis resistensi dan analisis transparansi. Prosedurnya terdiri atas penetapan analisis, penjelasan, dan mengajarkan klien tentang makna perilaku dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi dan hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi interpretasi adalah membiarkan ego untuk mencerna materi baru dan mempercepat proses menyadarkan hal-hal yang tersembunyi.
  3. Analisis Mimpi. Merupakan prosedur yang penting untuk membuka hal-hal yang tidak disadari dan membantu klien untuk memperoleh tilikan kepada masalah-masalah yang belum terpecahkan.
  4. Analisis Resistensi. Freud memandang resistensi sebagai suatu dinamika yang tidak disadari yang mendorong seseorang untuk mempertahankan terhadap kecemasan. Interpretasi konselor terhadap resistensi ditujukan kepada bantuan klien untuk menyadari alasan timbulnya resistensi.
  5. Analisis transferensi (pemindahan). Transferensi muncul dengan sendirinya dalam proses terapeutik pada saat dimana kegiatan-kegiatan klien masa lalu yang tak terselesaikan dengan orang lain, menyebabkan dia mengubah masa kini dan mereaksi kepada analisis sebagai yang dia lakukan kepada ibunya atau ayahnya atau siapapun.

 

Kritik dan Kontribusi

Beberapa Kritik terhadap psikoanalisa antara lain:

  1. Pandangan yang terlalu deterministik dinilai terlalu merendahkan martabat kemanusiaan
  2. Terlalu banyak menekankan kepada pengalaman masa kanak-kanak, dan menganggap kehidupan seolah-olah sepenuhnya ditentukan masa lalu.
  3. Terlalu meminimalkan rasionalitas
  4. Penyembuhan dalam psikoanalisa terlalu bersifat rasional dalam pendekatannya.
  5. Data penelitian empiris kurang banyak mendukung system psikoanalisa.

Sedangkan kontribusi yang diberikan antara lain;

  1. adanya motivasi yang tidak selamanya disadari
  2. teori kepribadian dan teknik psikoterapi
  3. pentingnya masa kanak-kanak dalam perkembangan kepribadian.
  4. model penggunaan wawancara sebagai alat terapi
  5. pentingnya sikap non-moral pada terapis
  6. adanya persesuaian antara teori dan teknik.

Hal-hal yang harus diperhatikan konselor:

  1. ”Manusia adalah Makhluk yang Memiliki Kebutuhan dan Keinginan”. Konsep ini dapat dikembangkan dalam proses bimbingan, dengan melihat hakikatnya manusia itu memiliki kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan dasar. Dengan demikian konselor dalam memberikan bimbingan harus selalu berpedoman kepada apa yang dibutuhkan dan yang diinginkan oleh konseli, sehingga bimbingan yang dilakukan benar-benar efektif.
  2. “Kecemasan” yang dimiliki manusia dapat digunakan sebagai wahana pencapaian tujuan bimbingan, yakni membantu individu  supaya mengerti dirinya dan lingkungannya; mampu memilih, memutuskan dan merencanakan hidup secara bijaksana; mampu mengembangkan kemampuan dan kesanggupan, memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya; mampu mengelola aktivitasnya sehari-hari dengan baik dan bijaksana; mampu memahami dan bertindak sesuai dengan norma agama, sosial, dalam masyarakat.
  3. Dengan demikian kecemasan yang dirasakan akibat ketidakmampuannya dapat diatasi dengan baik dan bijaksana. Karena  setiap manusia  selalu hidup dalam kecemasan, kecemasan karena manusia akan punah, kecemasan karena tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan dll,
  4. Bimbingan   merupakan wadah dalam rangka mengatasi kecemasan.
  5. Pengaruh masa lalu (masa kecil) terhadap perjalanan manusia. Walaupun banyak para ahli yang mengkritik, namun dalam beberapa hal konsep ini sesuai dengan konsep pembinaan dini bagi anak-anak dalam pembentukan moral individual. Dalam sistem pemebinaan akhlak individual,  keluarga dapat melatih dan membiasakan anak-anaknya agar dapat tumbuh berkembang sesuai dengan norma agama dan sosial. Norma-norma ini tidak bisa datang sendiri, akan tetapi melalui proses interaksi yang panjang dari dalam lingkungannya. Bila sebuah keluarga mampu memberikan bimbingan yang baik, maka kelak anak itu diharapkan akan tumbuh menjadi manusia yang baik.
  6. “Tahapan Perkembangan Kepribadian Individu” dapat digunakan dalam proses bimbingan, baik sebagai materi maupun pendekatan. Konsep ini memberi arti bahwa materi, metode dan pola bimbingan harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan kepribadian individu, karena pada setiap tahapan itu memiliki karakter dan sifat yang berbeda. Oleh karena itu konselor yang melakukan bimbingan haruslah selalu melihat tahapan-tahapan perkembangan ini, bila ingin bimbingannya menjadi efektif.
  7. “Ketidaksadaran” dapat digunakan dalam proses  bimbingan yang  dilakukan pada individu dengan harapan dapat mengurangi impuls-impuls dorongan Id yang bersifat irrasional  sehingga berubah menjadi rasional.

 

Family Therapy

Posted: March 7, 2012 in Psikoterapi
Tags:

Kelompok 5

Ni’matun Hasanah

Nur’aini Azizah

Fakultas Psikologi

UIN Sunan Gunung Djati Bandung

The essence of family therapy is its view that “change calls for altering the process, not discovering the original culprit”.

(Goldenberg & Goldenberg, 2004, hal. 16)

 

Fokus dari family therapy bukan pada pasien individu, melainkan keluarga secara keseluruhan. Argumen dasarnya adalah bentuk treatment ini lebih logis, cepat, memuaskan, dan ekonomis untuk merawat seluruh anggota keluarga daripada berkonsentrasi pada satu orang yang harus diberikan treatment. Tugas dari family therapist adalah untuk mengubah hubungan antara anggota keluarga yang bermasalah sehingga perilaku simtomatik tersebut hilang. Untuk mencapai hal ini, family therapists mengembangkan berbagai strategi dan teknik, berdasarkan teori yang berbeda-beda, dengan tujuan memperbaiki hubungan sehingga seluruh anggota keluarga dapat menyesuaikan diri, termasuk pasiennya itu sendiri.

Family therapy mencakup metode dalam menghadapi keluarga dengan berbagai macam kesulitan biopsikososial. Beberapa family therapists berpendapat bahwa seluruh masalah manusia secara esensi berhubungan dan family therapy terlibat dalam hal tersebut. Yang lain berargumen bahwa marital dan family therapy digunakan untuk masalah hubungan yang spesifik atau sebagai pendamping treatment farmakologis, seperti pada penderita skizofrenia.

Sebagian family therapists juga berpendapat bahwa masalah yang perlu diatasi dengan terapi adalah masalah yang dihadapi klien, seperti orang tua, anak-anak, atau pasangan yang membutuhkan bantuan. Yang lain berpendapat bahwa masalahnya lebih baik dihadapi oleh diagnosa psikiatrik professional, seperti kekerasan dalam rumah tangga, atau seseorang dengan masalah alcohol.

BAB II

ISI

2.1  Sejarah Perkembangan Family Therapy

Pada awal abad ke-20, psikoanalisis menjadi kekuatan dari terapi. Mengikuti langkah Freud, pada tahun 1950-an terapis meyakini bahwa berbahaya jika proses terapi melibatkan lebih dari satu anggota keluarga (Broderick & Scharder, 1991). Kemudian di akhir Perang Dunia Kedua muncul berbagai tantangan baru diantaranya stress pada keluarga yang berkaitan dengan pernikahan pada masa peperangan, tekanan baby boom, dan perubahan peran laki-laki dan perempuan sebagai hasil dari peluang pendidikan dan pekerjaan yang baru

Hal ini memancing peneliti dan clinician untuk memperhatikan proses intrafisik dan individual untuk menemukan akar permasalahan psikologis; yang kemudian menjadi awal kelahiran family therapy.

Family therapy tidak secara langsung muncul dari kajian psikologi, melainkan berawal dari teori general systems dan cybernetics. Norbert Wiener, seorang matematis dari Massachusetts Institute od Technology menginisiasi pengembangan teknologi dalam perang di awal 1940-an, mulai mempelajari mesin, membandingkan hal tersebut dengan organisme hidup untuk memahami dan mengendalikan sistem yang kompleks (Becyar & Becyar, 2003). Hasil dari penelitiannya dinamakan cybernetics, studi tentang mekanisme feedback dalam sistem regulasi diri (David, 2004; Nichols & Schwartz, 2006). Feedback yaitu proses dimana perilaku sebuah sistem dapat diperbaiki dan dipandu melalui informasi yang dimiliki sistem tersebut. Informasi ini terdiri dari systems performance yang berhubungan dengan lingkungan, juga hubungan diantara bagian-bagian dari sistem. Feedback untuk mengembalikan kondisi dasar, yang dinamakan homeostatis, atau menguatkan performance dari sistem.

Dari teori general systems dan cybernetics, pendekatan atau pemikiran sistemik telah mencapai konsep yang lebih fokus terhadap hubungan diantara elemen dibanding atribut elemen tersebut, sebagaimana yang biasa dilakukan psikoanalisis secara tradisional. Istilah “cybernetics” lebih sering digunakan di Eropa, sedangkan di Amerika Serikat lebih dikenal sebagai “systems theory”, dimana family therapy mulai dikembangkan (Becvar & Becvar, 2003).

Sebagaimana sistem yang mengorganisasikan bagian-bagian dalam membentuk keseluruhan yang kompleks dan lebih besar dari bagian-bagian tersebut, keluarga lebih dari sekedar sekelompok individu; yakni jaringan hubungan. Serupa dengan bagaimana mengontrol sistem informasi-proses dalam cybernetics, keluarga mengatur interaksi diantara anggotanya dan menjaga kestabilan perilaku mereka, dimana terdapat beberapa keluarga yang terjebak dalam perilaku tidak produktif yang berulang selama proses tersebut (Nichols & Schwartz, 2006). Sistem pemikiran clinician tentang konsep perilaku manusia dalam konteks sosial bukan fokus terhadap individu, melainkan pada hubungan individu tersebut dengan lingkungannya. Family therapy yang melibatkan systems thinking, mengembangkan dari terapi individual dengan mengubah emphasis perilaku manusia dari “why” menjadi “what”, dan dari masa lalu menjadi masa kini. Family therapists lebih memperhatikan apa yang terjadi pada keluarga saat ini, daripada latar belakang masalah ataupun berakar dari masa kanak-kanak (seperti yang diyakini psikoanalis).

Tujuan dari family therapy adalah untuk memahami konteks, mengidentifikasi pola yang membangun masalah, dan akhirnya mengubah konteks untuk mengeliminasi masalah. Pola dalam mengatasi masalah tersebut sering melibatkan solusi bersama dan komunikasi keluarga mengenai masalahnya (Becvar & Becvar, 2003).

Family therapy dimulai “dari berbagai tempat dari terapis dan peneliti individual di banyak daerah” (Broderick & Schrader, 1991, hal.21). Terdapat beberapa pionir yang memprakarsai bidang family therapy.

Sigmund Freud

Terdapat dua pemikiran Freud yang melandasi family therapy. Yang pertama datang dari pelatihan awalnya dalam ilmu biologi, dari teori instincts­-nya. Yang kedua, terdapat penjelasan yang lebih psikologis, dalam teori Oedipus Complex. Di awal tahun 1909, Freud (1964) melihat hubungan antara simtom fobia anak laki-laki dan hubungan dengan ayahnya. Freud memilih memberikan treatment pada ayahnya, dan pilihan ini mempengaruhi terapis pada dekade selanjutnya.

Alfred Adler

Adler memiliki pengaruh yang penting tetapi secara tidak langsung terhadap family therapy. Hal yang paling mempengaruhi adalah yang disebut social thinkers dalam terapi. Adler melihat konteks dan lingkungan sebagai esensi. Manusia lebih didasari oleh sosial daripada insting, dimotivasi bukan oleh drives tetapi oleh tujuan.

Yang kedua, Adler menekankan pada pentingnya kumpulan keluarga.  Hal ini tidak hanya melihat interaksi anatara anak dan orang tua-konsepnya diperluas menjadi termasuk saudara dan hubungannya. Pemikiran Adler mengenai posisi saudara ini menjadi konsep dasar dalam pemikiran sekolah family therapy Murray Bowen (1971).

Nathan Ackerman-Menninger Institute, Topeka

Meskipun Freud disebut sebagai “ayah” dari psikoterapi, penemu family therapy masih diperdebatkan. Banyak yang mempertimbangkan Nathan Ackerman sebagai penemu asli family therapy, berdasarkan tulisannya mengenai dinamika keluarga pada tahun 1930-an dan assessment klinis tentang keluarga pada akhir 1940-an (Green & Framo, 1981). Selama karirnya, dia menganut psikoanalisis dan fokus pada konflik intrafisik tentang bagaimana dampak psikologis keluarga terhadap individu. Sebagai psikiater di Child Guidance Clinic di Menninger Institute, Topeka, tahun 1937, Ackerman meyakini bahwa  penelitian keluarga dalam area skizofrenia pada tahun 1950 sampai 1960-an adalah cikal bakal asli dari family therapy “dalam studi tentang gangguan nonpsikotik pada anak-anak yang berhubungan dengan lingkungan keluarga” (Ackerman, dalam Becvar & Becvar, 2003, hal.22).

Ackerman memiliki konsep tentang kausalitas sirkular dalam sistem pemikiran, dimana konflik intrafisik (seperti diantara perasaan dan hasrat) menuntun pada konflik interpersonal dalam keluarga. Untuk mengatasi simtom pada individu, terapis membawa konflik tersebut ke dalam interaksi keluarga (Nichols & Schwartz, 2006). Pendekatan terapeutik Ackerman melibatkan hubungan yang mendalam dengan keluarga dimana masalah digali secara mendalam; termasuk konflik dan fantasi yang terkubur dalam alam bawah sadar individu. Fungsi terapis sebagai dynamic catalyst yang menggunakan gaya komunikasi terbuka dan provokatif, dan jujur secara brutal dalam melakukan observasi dan interpretasi. Dia memiliki kesamaan pemikiran dengan Don Jackson, Lyman Wynne, dan Murray Bowen. Dia juga menemukan family process bersama Jackson pada tahun 1962, sebagai jurnal pertama di area family therapy.

John Bell-Massachusetts

John Bell juga merupakan pionir pertama yang menangani keluarga. Sebagai psikolog di Clark University, Worcester, Massachusetts, Bell “merasuki” family therapy dengan cara yang bisa disebut sebagai “happy accident”. Dia salah meyakini bahwa John Bowlby menggunakan keluarga dalam menghadapi anak-anak dan memutuskan untuk melakukan eksperimen dengan metode barunya sendiri pada tahun 1951. Dengan mengadopsi pendekatan terapi kelompok, Bell berperan sebagai fasilitator pada diskusi terbuka saat sesi keluarga. Bell belum mempublikasikan idenya sampai tahun 1961. Tidak seperti penemu family therapy lainnya, dia bukannya mendirikan pusat klinis yang penting melainkan menghasilkan murid-murid yang terkenal (Nichols & Schwartz, 2006).

Yang Mengawali dari Skizofrenia

Meskipun terapis seperti Ackerman dan Bell telah mulai mengkaji keluarga dan treatment-nya terhadap anak-anak pada tahun 1950-an, akar teoritis yang sebenarnya dari perkembangan keluarga berasal dari studi tentang skizofrenia.

Harry Stack Sullivan

Kontribusi Sullivan terhadap family therapy berdasar pada penelitiannya tentang skizofrenia. Sullivan berpindah dari penjelasan biologis menjadi penjelasan psikologis, menemukan bahwa hubungan antara ibu dan anak berperan penting dalam skizofrenia. Sullivan berpendapat bahwa fokus terapi berpindah dari intrafisik menjadi interpersonal.

Dari banyak yang memperhatikan sistem keluarga untuk pemahaman yang lebih baik tentang manifestasi gangguan mental, salah satunya adalah antropolog dan etnologist Gregory Bateson. Darinya dan koleganya di Palo Alto, California, banyak teori dan konsep yang dikembangkan sebagai fondasi intelektual dari family therapy.

Palo Alto Group lebih mengedepankan proses daripada isi/ content dalam memahami perilaku manusia dan penyakit mental (Guttman, 1991). Pada tahun 1952, Bateson mendapat kesempatan untuk meneliti fenomena paradox dalam komunikasi manusia, yang kemudian menjadi Palo Alto project. Bateson mengumpulkan sekelompok peneliti, yang beberapa diantaranya menjadi figur signifikan dalam family therapy, seperti Jay Haley, seorang ahli komunikasi, dan John Weakland, seorang insinyur kimia dan antropolog budaya. Proyek ini mengkaji konflik antara level yang berbeda-beda dalam komunikasi.

Double-Bind Theory. Pada tahun 1954, kelompok peneliti tersebut mulai mengkaji komunikasi schizophrenic (Becvar & Becvar, 2003). Dengan bergabungnya Don Jackson, tim tersebut fokus dalam mengembangkan model komunikasi yang dapat menjelaskan awal mula perilaku skizofrenik, khususnya pada konteks keluarga. Mereka menemukan bahwa pola komunikasi patologis dalam keluarga berpengaruh terhadap berkembangnya perilaku skizofrenik salah satu anggota keluarga tersebut. Hal ini menjadi landasan double-bind theory pada tahun 1956; Bateson dan koleganya mendefinisikannya sebagai situasi dimana seseorang terkonfrontasi oleh dua pesan kontradiktif dalam level berbeda yang berasal dari orang lain yang memiliki hubungan intens dengannya. Contohnya dalam kasus seorang ibu yang berkata pada anaknya, “Tidurlah, kau sangat lelah dan saya ingin kau segera tidur.” Pernyataan sebenarnya di balik pesan penuh cinta itu mungkin, “Menyingkirlah karena saya muak denganmu.” Jika anaknya menangkap respon penolakan dari si ibu, dia mungkin memahami persepsi anak tersebut sebagai suatu kritik bahwa dia bukan ibu yang baik dan akan mendekati anaknya untuk membuktikan bahwa anaknya salah. Sebaliknya, jika si anak mengabaikan pesan tak tampak itu dan mendekati ibunya, si ibu malah akan merasa penolakan yang dilakukannya menjadi sebuah ketakutan. Si anak akan merasa kebingungan, dan tidak mampu menghindari situasi ini. Dengan kata lain, si anak mengalami kegagalan dalam merespons; yang bisa disebut sebagai double-bind (Bateson, Jackson, Haley, & Weakland, 1956; Goldenberg & Goldenberg, 2004).

Family Homeostatis. Selain hipotesis double-bind, teori penting lainnya yang mengembangkan konsep family therapy juga berasal dari grup Palo Alto.

Paradoks Terapeutik dalam Strategic Family Therapy. Selain grup Palo Alto, MRI juga mengembangkan model komunikasi pada tahun 1960-an. Strategic therapy berakar dari model komunikasi dan dikembangkan oleh Jay Haley. Strategic therapy menggunakan paradox terarah dan terapeutik; terdiri dari explicit atau implicit directives, atau tugas yang mencegah interaksi yang berulang dan tidak efektif (Goldenberg & Goldenberg, 2004). Seperti yang dikatakan Madanes (1981), “tugas terapis adalah untuk merancang sebuah intervensi terhadap klien dalam situasi sosial” (hal. 19).

Dua family therapists lainnya yang mengawali penelitian di MRI adalah Cloe Madanes dan Virginia Satir. Seperti Haley, Madanes bekerja bersama Salvador Minuchin dalam mengembangkan struktur family therapy di Philadelphia Child Guidance Clinic di tahun 1970-an. Pada tahun 1976, dia dan Haley meninggalkan Philadelphia dan mendirikan Family Therapy Institute di Washington, DC. Sementara Satir, dikenal dari pendekatan experiential dan humanistic dalam family therapy. Dia fokus pada tingkat emosional orang sebagai “sebuah dimensi perasaan yang membantu menyeimbangkan dengan pendekatan relatively cool dan cerebral (Nichols & schwartz, 2006, hal. 30).

Fusion. Bowen (1971) menggunakan istilah fusion dalam menggambarkan proses observasinya terhadap keluarga skizofrenik. Yaitu bahwa berbagai anggota keluarga berhubungan satu sama lain dalam suatu cara yang tidak satupun dari mereka memiliki perasaan sebenarnya terhadap individu yang independen.

Pseudomutuality. Lyman Wynne, Irving Ryckoff, Juliana Day, dan Stanley Hirsch menggambarkan pseudomutuality sebagai jenis kedekatan yang salah dalam keluarga skizofrenik. Terdapat ketergantungan dalam keluarga, sehingga anggotanya terjebak dan tidak bisa pergi. Tidak ada intimasi atau kedekatan sejati, yang ada hanya pseudo-love atau caring. Keluarga berkumpul bukan karena pilihan tapi karena diperlukan.

Mystification. R.D. Laing di Inggris, yang melakukan penelitian dengan remaja skizofrenik dalam keluarga, menambahkan proses yang disebut mystification, sebuah proses dimana seseorang yang dilihat bermasalah sebenarnya keluarganya yang paling bermasalah.

Pionir lainnya yang mengawali dari kajian skizofrenia dan family systems antara lain Theodore Lidz dari Yale yang mengembangkan karakter instabilitas dan strife pada skizofrenia dalam keluarga; Ivan Boszormenyi-Nagy-Philadelphia yang mengembangkan contextual family therapy yang fokus pada dimensi etik; Carl Whitaker; Salvador Minuchin; David Kantor, Fred Duhl, dan Bunny Duhl yang mendirikan Boston Family Institue di tahun 1969; dan James Framo.

Family Life Cycle. Diprakarsai oleh Betty Carter dan Monica McGoldrick pada tahun 1980. Pemikiran ini menggambarkan urutan tingkat perkembangan yang dilalui keluarga, seperti tingkat perkembangan yang dilalui individu. Enam tingkat dalam perkembangan keluarga yaitu:

  1. Leaving home: single young adults
  2. Joining of families through marriage: the new couple
  3. Families with young children
  4. Families with adolescents
  5. Launching children and move on
  6. Families in later life

Dalam tingkatan perkembangan ini terdapat alur stress vertical dan horizontal dari dalam dan luar family system.

Functional versus Dysfunctional Families. Carter dan McGoldrick (1999) melihat masalah keluarga muncul sebagai hasil dari kegagalan dalam mengatasi stressor lingkungan atau tantangan perkembangan yang menunjukkan disfungsi keluarga. Seluruh keluarga adalah sistem terbuka, dimana mereka berinteraksi dengan lingkungannya dan mampu meregulasi dan memelihara dirinya dengan memanfaatkan lingkungan. Semakin family system-nya terbuka, maka keluarga itu akan semakin mampu beradaptasi dengan masalah (Goldenberg & Goldenberg, 2004). Tingkatan keterbukaan ditunjukkan dari lingkaran/ boundaries yang memisahkan keluarga dari lingkungan.

  1. Firm boundaries: permeable, menerima informasi yang diperlukan saja dari lingkungan
  2. Diffuse boundaries: permeable but not durable, tanpa ada filter informasi yang masuk
  3. Closed boundaries: menolak interaksi dari luar
  4. Rigid boundaries: tidak berubah selamanya
  5. Flexible boundaries: melakukan penyesuaian (David, 2004).

Keluarga yang sehat adalah keluarga yang memiliki firm dan flexible boundaries. Untuk memelihara homeostatis atau stabilitas, keluarga harus bertahan pada aturan tentang perilaku dan interaksi anggotanya, mulai dari pernyataan eksplisit hingga implisit. Selain itu juga, kebutuhan dari family systems harus diseimbangkan dengan kebutuhan anggotanya.

Psychoanalysis                                                                                             Systems

2.2  Konsep dan Teori Family Therapy

Family therapy dapat didefinisikan sebagai upaya untuk memodifikasi hubungan dalam keluarga untuk mencapai harmoni. Sebuah keluarga dilihat sebagai sistem terbuka, dimana terdapat tiga konsep dasar dalam family therapy: sistem, triangles, dan feedback. Family therapy adalah sebuah loncatan kuantum dari (a) paradigma utama mengenai memandang orang sebagai individu yang terpisah dari yang lainnya (b) melihat mereka dalam hubungannya dengan orang lain. Sebagai hasilnya, letak patologi bergeser dari individual ke sistem. Dalam family therapy, pasien diidentifikasi sebagai simtom dan sistem (keluarga) dilihat sebagai klien.

Konsep Sistem

Sebuah sistem (Buckley, 1967) tersusun dari bagian-bagian yang berbeda dengan kesamaan pada dua hal: (a) bagian-bagian tersebut saling berhubungan dan bergantung dengan hubungan timbal balik satu sama lain, dan (b) setiap bagian berkaitan dengan yang lain dalam cara yang stabil. Sistem terbuka seperti keluarga, memiliki tiga bagian penting: wholeness, relationship, dan equifinality.

  1. Wholeness. Sistem bukan hanya gabungan dari bagian yang terpisah, tetapi juga termasuk interaksinya. Sehingga suatu bagian tidak akan mampu mengetahui bagiannya kecuali ia memahami hubungannya dengan bagian lain. Secara terapeutik, hal ini berarti klien harus dilihat dari konteks kehidupan mereka, khususnya hubungan mereka dengan keluarganya. Wholeness merepresentasikan konsep Gestalt karena keseluruhan berbeda dan lebih dari sekedar gabungan bagian-bagian; keluarga terdiri dari orang-orang di dalamnya dan hubungan antar individual.
  2. Relationship. Mempertimbangkan apa yang terjadi diantara bagian-bagian dan menguji interaksi. Hubungan ini lebih mengkaji apa yang terjadi daripada mengapa itu terjadi. Sehingga menghasilkan penggunaan paradigm lebih berdasarkan konsep sistem dibanding kumpulan yang terpisah dari individu.
  3. Equifinality. Atau struktur self-perpetuation, memiliki arti bahwa intervensi dibuat disini dan sekarang, perubahan dapat dihasilkan karena sistem terbuka tidak diatur oleh kondisinya. Sistem tidak memiliki ingatan. Silvano Arieti (1969) berpendapat bahwa menghindari masa lalu yang disebut “genetic fallacy,” dapat menjadi kontribusi yang paling penting yang dibuat sistem pemikiran untuk terapi.

Interlocking Triangles

Sekumpulan interlocking triangles adalah pondasi dasar dari sistem hubungan keluarga (Bowen, 1971). Sebuah jaringan emosional seperti keluarga tersusun dari sekumpulan interlocking triangles yang membuat sistem stabil. Terdapat pernyataan: Saat keseimbangan emosional diantara dua orang terlalu dekat atau terlalu jauh, pihak ketiga dapat digunakan untuk mengembalikan keseimbangan pada sistem dan menjaga stabilitas.

Menganalisa berbagai triangles dalam suatu sistem dan memberikan intervensi untuk merubah sistem adalah tugas utama dari family therapist. Murray Bowen dan pendukung teori family systems fokus pada triangles yang melibatkan tiga generasi: kakek-nenek, orang tua, dan anak. Salvador Minuchin (1974) dan structuralist lainnya lebih fokus pada triangles yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Bagaimanapun keduanya bekerja dalam triangles sebagai salah satu cara dalam menghasilkan perubahan, bukan dengan individu dalam sistem.

Feedback

Dalam teori sistem, feedback berarti proses dimana sistem menyesuaikan dirinya. Feedback negatif adalah proses yang dilalui dimana deviasi dalam sistem diperbaiki dan keseimbangan sebelumnya dikembalikan. Feedback positif menghancurkan sistem dengan memaksanya untuk berubah, tidak mengizinkannya untuk kembali ke kondisi sebelumnya.

Pola observasi klinis mengilustrasikan konsep feedback negative sebagai berikut. Orang tua John meminta tolong dalam mengatasi anaknya yang “school phobic.” Terapis melihat masalah John sebagai respon dari family system: dia terlalu dekat dengan ibunya dan terlalu jauh dengan ayahnya. Dia melihat John sebagai cover-up dari masalah orang tuanya. Konselor mulai melakukan konseling dengan orang tua dan pernikahannya, kemudian John mulai lega dan mau ke sekolah. Tetapi pernikahan orang tuanya memburuk dan semakin banyak masalah yang tidak terselesaikan. John ‘mencium’ hubungan mereka yang memburuk dan mulai mengalami fobia lagi. Orang tua John sekarang bersama kembali demi anaknya. School phobia yang dialami John dapat disebut “negative feedback” yang membutuhkan sistem yang lama tetap dijaga.

Positive feedback disebut Carl Whitaker (1975) sebagai pendekatan “menara miring Pisa”. Seorang terapis, bukannya memperbaiki simtom, melainkan mendorong masalah ke arah lain sehingga sistem kembali ke jalurnya. Pendekatan ini menggunakan absurditas simtom, dan bukannya mengembalikan keseimbangan, malah mengarahkannya ke kekacauan hingga kehancuran mutlak. Positive feedback  dapat ditemukan pada tulisan Mara Palazzoli, dkk di Milan, Italia (1978). Terlatih sebagai seorang child analyst, atas pengaruh dari Gregory Bateson, dia bergabung dengan grup Palo Alto dan menggabungkan ide mereka dengan karyanya dalam anak anorexia.

Kepribadian

Family therapy menampilkan teori kepribadian yang unik. Setiap pendekatan terapi menggunakan pendekatan mengenai konsep apa itu human nature, apa itu kesehatan, apa itu sakit, dan apa yang dapat terapis lakukan dalam mengintervensi.

Teori Kepribadian

Teori kepribadian keluarga menyatakan bahwa perkembangan psikologis individu berasal dari family system. Keluarga adalah sumber dasar dari kondisi sehat dan sakit. Teori keluarga fokus pada family system lebih dari sistem psikoterapeutik karena semua hal menjadi sederajat, pendorong utama dari perkembangan individu adalah keluarga. Dalam family therapy, terdapat tiga isu yang perlu dibahas.

What Is a Family?

Setiap individu memiliki kebutuhan dasar: sebagian fisik, sebagian emosional. Bagian fisik yang lebih mudah dikenali; sebaliknya emosi sangat sulit. Kebutuhan emosi terbagi dalam tiga dimensi: intimacy, power, dan meaning. Orang-orang perlu dekat satu sama lain untuk rasa memiliki (melibatkan hubungan heteroseksual). Mereka juga perlu untuk mengekspresikan diri, untuk menjadi unik (melibatkan pekerjaan). Akhirnya, mereka perlu merasa berarti atau memiliki tujuan dalam hidup (terkait dengan memiliki anak).

Orang-orang biasanya menikah dikarenakan mereka memahami pernikahan sebagai cara yang paling mampu memuaskan kebutuhan emosional mereka. Cara mereka mengatasi perbedaan menentukan keberhasilan suatu pernikahan. Dapatkah aku dekat denganmu dan tetap menjadi diriku sendiri? Dapatkah aku tidak dikalahkan olehmu? Apakah hubungan kita memberi arti pada hidupku? Proses pernikahan dapat menjawab berbagai pertanyaan tersebut.

What Is a “Dysfunctional Family”?

Family therapists lebih banyak membahas mengenai disfungsi daripada kondisi sakit karena kondisi ini lebih jelas terlihat sebagai masalah yang fundamental-ketidakmampuan anggota keluarga dalam mencapai tujuan kedekatan, ekspresi diri, dan menjadi berarti. Saat tujuan ini tidak tercapai, muncullah perilaku simtomatik. Sebagai contoh, suami yang berselingkuh, sehingga istrinya mengalami depresi, dan anaknya mengalami school phobic.

Carter dan McGoldrick (1999) melihat masalah keluarga muncul sebagai hasil dari kegagalan dalam mengatasi stressor lingkungan atau tantangan perkembangan yang menunjukkan disfungsi keluarga. Seluruh keluarga adalah sistem terbuka, dimana mereka berinteraksi dengan lingkungannya dan mampu meregulasi dan memelihara dirinya dengan memanfaatkan lingkungan. Semakin family system-nya terbuka, maka keluarga itu akan semakin mampu beradaptasi dengan masalah (Goldenberg & Goldenberg, 2004).  Tingkatan keterbukaan ditunjukkan dari lingkaran/ boundaries yang memisahkan keluarga dari lingkungan.

  1. Firm boundaries: permeable, menerima informasi yang diperlukan saja dari lingkungan
  2. Diffuse boundaries: permeable but not durable, tanpa ada filter informasi yang masuk
  3. Closed boundaries: menolak interaksi dari luar
  4. Rigid boundaries: tidak berubah selamanya
  5. Flexible boundaries: melakukan penyesuaian (David, 2004).

Keluarga yang sehat adalah keluarga yang memiliki firm dan flexible boundaries. Untuk memelihara homeostatis atau stabilitas, keluarga harus bertahan pada aturan tentang perilaku dan interaksi anggotanya, mulai dari pernyataan eksplisit hingga implisit. Selain itu juga, kebutuhan dari family systems harus diseimbangkan dengan kebutuhan anggotanya.

Why Must a Family Change?

Sebagaimana individu melalui serangkaian tingkatan, begitu juga dengan keluarga. Di awal pernikahan, suami dan istri harus bersatu ke dalam sistem yang fungsional. Mereka harus membentuk fungsi “kita” dalam kepribadian mereka masing-masing.

Tahapan selanjutnya adalah membuka sistem, mengizinkan yang lain untuk masuk, khususnya anak-anak (Entwistle & Doering, 1981). Kehadiran pihak ketiga berarti munculnya kemungkinan munculnya jeda dan perbedaan. Suami dan istri harus memainkan peran baru, yaitu orang tua. Hal ini sangat jauh berbeda dari peran sebagai pasangan. Tingkat banyak orang meningkat saat menjadi orang tua, tapi lingkungan sekitar memberi dukungan positif pada masa ini, mengurangi keraguan dan kecemasan orang tua baru.

Sistem berpikir membahas tentang perbedaan dan kesulitan pada masa orang tua dengan konsep feedback. Jika suami mengecawakan istrinya, feedback dapat dengan mudah dilakukan dan diperbaiki. Berbeda dengan peran orang tua. Orang tua harus memikirkan apa yang mereka lakukan. Apakah aku terlalu ketat? Apakah aku terlalu memanjakan?  Jawabannya tidak bisa diketahui dalam beberapa tahun. Feedback pada masa ini tidak dapat dengan cepat dilakukan.

Hubungan yang terlalu dekat antara orang tua dan anak juga bisa menimbulkan perilaku simtomatik. Sebagai contoh, seorang ibu tidak akan memberikan kebebasan pada anaknya yang beranjak dewasa karena hal ini membuat dia merasa tidak memiliki arti lagi dalam hidupnya.

Konsep

Dalam family therapy, kepribadian individu-bagaimana seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak-dilihat sebagai hasil dari myriad, hubungan yang kompleks yang terjadi dalam keluarga. Terdapat tiga dimensi dalam family therapy: the marital subsystem, the sibling subsystem,  dan homeostatis.

  1. Marital Subsystem

Family systems diawali oleh adanya pasangan. Mereka membentuk kesatuan yang menempatkan mereka dalam satu tempat, terpisah dari orang lain. Proses diferensiasi harus dilakukan oleh keduanya. Fusion, atau enmeshment adalah hasil dari ketidakmampuan dalam memisahkan diri dari keluarga asal karena terlalu dekat dengan orang tuanya, pasangannya, atau anaknya.

Secara simbol, kemampuan dalam “menutup pintu,” memiliki privasi bersama, sangat vital demi pernikahan yang sehat. Suami dan istri perlu memiliki rahasia yang tidak diketahui orang tua dan anak-anak mereka. Perlu adanya intimasi yang dapat memelihara privasi mereka.

Selain itu, pernikahan yang baik mengutamakan pasangannya dari yang lain. Anak-anak selalu mengenal pernikahan itu disfungsional. Anak-anak memaknakan keluarga bahagia saat ayah dan ibunya memiliki kehangatan dalam hubungan. Seorang laki-laki harus selalu menjadi suami baru kemudian menjadi ayah, dan seorang wanita menjadi istri dahulu baru kemudian menjadi ibu.

Orang tua yang paling sukses adalah yang mengutamakan perannya sebagai pasangan, dan kedua sebagai orang tua. Alasannya adalah seseorang yang menikah dengan normal tidak membutuhkan anak untuk melengkapi atau memberi makna hidup pada pernikahan. Dengan merasa puas pada dirinya sendiri dan pernikahannya, pasangan dapat memberi kebebasan pada anaknya untuk memilih. Anak-anak tidak terperangkap dalam perasaan marah-dengan “melakukannya sendirian” dan merasa bersalah.

Triangles yang ada diantara suami, istri, dan anak berkurang dengan bersatunya pasangan. Jika mereka membuat koalisi, hal ini mencegah anak untuk memihak salah satu dari orang  tuanya. Hal ini diperlukan untuk membuat anak mampu menjalin hubungan dengan teman sebayanya, khususnya kakak atau adiknya.

  1. Sibling Subsystem

Konsekuensi alami dari koalisi orang tua adalah formasi sebuah sibling subsystem yang memberikan kesempatan pada anak untuk menjalin kedekatan dengan kakak dan adiknya. Family therapists memaksa anak-anak harus memiliki rahasia dari orang tuanya; untuk memelihari kehidupan pribadinya. Setiap subsystem, seperti layaknya orang, harus memiliki boundaries yang sesuai.

Selama anak-anak tumbuh, perbedaan tiap individu harus dihormati. Privasi adalah hal yang penting bagi perkembangan kepribadian. Seberapa banyak kebebasan yang diberikan kepada anak dipengaruhi oleh dua faktor: maturity dan culture.

Perkembangan fisik, intelektual, dan emosional anak-anak tidak tumbuh dalam kecepatan yang sama. Mereka akan memiliki keunikan masing-masing. Sebagai konsekuensinya, si A tidak akan mendapat privilege yang sama dengan si B. Maka hal ini juga dapat menjadi konflik. Keinginan untuk membagi perbedaan dan mengkompromikannya adalah tanda dari keluarga yang fungsional.

Area yang paling mengganggu dalam family therapy adalah dampak dari budaya (culture). Bagaimana anggota keluarga bertindak, akan berbeda dari budaya satu dengan yang lainnya. Bagaimana perasaan diekspresikan, penggunaan uang, menghabiskan waktu dengan anggota lain, dll sangat bervariasi (Papajohn & Spiegel, 1975).

  1. Homeostatis

Konstruk dari family homeostatis ini yaitu dasar dari stabilitas dan keseimbangan yang dicari keluarga untuk dapat dipelihara atau menghilangkan stress (Goldenberg & Goldenberg, 2004). Menurut Jackson, keluarga sebagai unit, cenderung menolak perubahan. Konsep ini menggambarkan apa yang membuat keluarga terjebak dalam suatu masalah dan bagaimana simtom seseorang mempengaruhi stabilitas keluarganya.

Hubungan Symmetrical dan Complementary. Jackson menyebutkan dua jenis pola komunikasi dalam keluarga. Pada hubungan symmetrical, perilaku seseorang menjadi cermin bagi yang lainnya. Sebagai contoh, pasangan menikah yang berusaha tampak “lebih” di hadapan anaknya dengan menyebutkan perannya masing-masing dalam keluarga. Hubungan symmetrical juga bisa ditemukan pada dua individu yang berusaha memuaskan satu sama lain. Sebaliknya, hubungan complementary, menonjolkan perbedaan yang membuat participants saling melengkapi, misalnya yang satu asertif (pursuer role) dan yang lainnya submissive (distance role) (Nichols & Schwartz, 2006).

2.3  Proses Family Therapy

Terapi keluarga pada dasarnya adalah sebuah cara unik untuk melihat patologi dalam sistem keluarga. Historisnya yaitu dimulai pada diri individu yang menekankan pada aspek intrapsikisnya kemudian berlanjut kepada individu sebagai anggota keluarga sehingga meningkatnya hubungan interpersonal dan komunikasi diantara mereka. Terapi keluarga berfokus pada cara suatu sistem keluarga yang mengorganisasi patologis yang terstruktur dengan dipandang sesuatu yang salah.

Teori Psikoterapi

Emosi, kognitif, dan kehendak, merupakan aspek yang ada di dalam diri manusia yang menyebabkan permasalahan. Dalam terapi ini, terapis mengikuti pola pembicaraan tentang perasaan, pemikiran dan tindakan anggota keluarga.

Diagnosa

Terapi tradisional mendapat banyak perhatian untuk mendapatkan diagnosis yang benar. Hal ini dianggap penting untuk mengetahui apakah seorang klien adalah neurotik, memiliki gangguan karakter, atau psikotik. Dalam terapi keluarga, ada kekhawatiran sedikit untuk bagian diagnosis ini karena kurangnya cara untuk mengukur disfungsi keluarga yang berkaitan dengan sistem.

Pengaruh

Terapi lebih menggunakan anggota keluarga untuk mengubah interaksi mereka dibandingkan dengan mengatasi dirinya terhadap perasaan sendiri. Misalnya dia akan menjadi marah dengan ayah yang memungkinkan anaknya untuk mengolok-olok dia untuk mendapatkan ayah dan membuat beberapa perubahan dalam hubungannya dengan anak. Dia tidak akan berkonsentrasi pada kurangnya merasa bahwa ayah sedang mengalami hal tersebut, tetapi lebih pada cara di mana kekurangan yang dapat digunakan untuk memindahkan sistem itu ke arah yang lain.

Peran pembelajaran

Masalah ini biasanya bagaimana membuat klien atau keluarga menyadari proses belajar. Hubungan terapis dan klien yaitu dengan menghabiskan waktu menganalisis hubungan masa lalu dan mendiskusikan bagaimana mereka mempengaruhi masa sekarang. Mengajarkan anggota keluarga cara-cara baru untuk berhubungan yang akan menajdi tujuan dari seorang terapis.

Transferensi dan Ketidaksadaran

Analis adalah langkah penting dalam terapi (Sutandar, 1967). Tranferensi dan kontratransferensi memiliki peran unik dalam bentuk pemikiran dari Carl Whitaker (Whitaker & Keith, 1981). Whitaker menggunakan perasaan sendiri dan reaksi untuk membantu melakukan terapi sistem keluarga dan melihat sebagai proses yang baik bagi pertumbuhan dirinya sendiri.

Terapis sebagai guru dan model

Terapis keluarga umumnya sepakat bahwa media perubahan adalah terapis tidak sebagai objek transference tetapi sebagai guru model, yang dipelajari adalah komunikasi atau individuasi.

Proses Psychotherapy

Terapi keluarga sangat bervariasi, terdiri dari beberapa sesi tergantung pada permasalahan yang ada, yang dapat diselesaikan dan bisa mencapai dalam waktu setahun.

Awal Wawancara

Ada dua tujuan dalam wawancara ini: pertama, untuk mengungkapkan masalah, dan kedua, untuk melibatkan keluarga.

Tahapan

Terapis mengumpulkan semua anggota keluarga untuk sesi awal, dia melanjutkan dalam serangkaian tahapan dalam proses treatment.

  1. 1.      Warm-Up

Setiap anggota keluarga duduk dengan kursi yang dipilihnya sendiri sehingga ada kontak langsung sesama anggota keluarga dan membicarakan hubungan satu sama lain.

  1. 2.      Relabeling the problem
  2. 3.      Spreading the problem
  3. 4.      Kebutuhan untuk berubah
  4. 5.      Changing pathways

Penggunaan Teknik

Beberapa teknik yang digunakan oleh terapis keluarga meliputi :

  1. 1.      Pemeragaan

Yaitu dengan cara memperagakan ketika masalah itu muncul. Misalnya ayah dan anaknya sehingga mereka saling diam bertengkar, maka terapis membujuk mereka untuk berbicara setelah itu terapis memberikan saran-sarannya dan bisa disebut dengan psikodrama. Dan komunikasi dalam keluarga paling penting.

  1. 2.      Homework

Yaitu dengan cara mengumpulkan seluruh anggota keluarga agar saling berkomunikasi diantaranya.

  1. 3.      Family Sculpting

Cara untuk mendekatkan diri dengan anggota keluarga yang lain dengan cara nonverbal.

  1. 4.      Genograms

Sebuah diagram terstruktur dari sistem hubungan tiga generasi keluarga. Diagram ini sebagai roadmap dari sistem hubungan keluarga. Hal ini berarti memahami masalah dalam bentuk grafik daripada hanya membicarakannya saja.

  1. 5.      Teknik Modifikasi Tingkah Laku

Terdapat kesamaan antara teknik modifikasi perilaku dan pendekatan strategic, dan kemudian Gregory Bateson mengembangkannya. Pendekatan ini banyak dikaji oleh peneliti dan terapis.

  1. 6.      Multiple Family Therapy

Menggunakan beberapa teknik dalam melakukan family therapy.

Lama Treatment

Ada beberapa sesi yang harus dilakukan untuk memberikan terapi. Intervensi struktural dan strategis cenderung lebih singkat daripada hubungan klien dan sistem terapi keluarga. Gerald Zuk (1975) mengungkapkan panjang pengobatan tergantung pada tujuan yang diinginkan oleh keluarga.

  1. Berlangsung selama 1-6 wawancara jika tujuan utamanya mengurangi ketegangan
  2. Dan pengurangan ketegangan tersebut bisa berlanjut dengan mengambil 10 sampai 15 sesi
  3. Jika menginginkan komunikasi yang lebih baik ada 25 sampai 30 sesi selama periode 6-8 bulan yang diperlukan
  4.  Jika restrukturisasi keluarga dengan diferensiasi yang lebih baik dari anggota keluarga, panjangnya sesi mulai dari 40 atau lebih selama periodenya diperpanjang

Kebanyakan terapis tidak mengambil pretests dan posttests dalam terapi keluarga. Kebanyakan dari individu mengungkapkan permasalahannya sendiri. Terapis keluarga berkonsentrasi pada perubahan perilaku sebagai bukti kemajuan.


BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Family therapy dapat didefinisikan sebagai upaya untuk memodifikasi hubungan dalam keluarga untuk mencapai harmoni. Sebuah keluarga dilihat sebagai sistem terbuka, dimana terdapat tiga konsep dasar dalam family therapy: sistem, triangles, dan feedback.

Terdapat tiga dimensi dalam family therapy: the marital subsystem, the sibling subsystem,  dan homeostatis.

Tahapan proses treatment: warm-up, Relabeling the “problem”, spreading the problem, kebutuhan untuk berubah, dan changing pathways.

Beberapa teknik yang digunakan oleh terapis keluarga meliputi: Pemeragaan, Homework, Family Sculpting, Genograms, Teknik Modifikasi Tingkah Laku, dan Multiple Family Therapy.

DAFTAR PUSTAKA

Carr, Allan. 2006. Family Therapy Concepts, Process, and Practice. Chichester: John Wiley & Sons, Ltd.

J. Corsini, Raymond & Wedding, Danny. 2000. Current Psychotherapies, Fourth Edition. Illinois: F.E. Peacock Publishers, Inc.

Kerr, Christine, et.al. 2008. Family Art Therapy: Foundations of Theory and Practice. New York: Routledge (Taylor & Francis Group).

Tes Forer

Posted: March 7, 2012 in Tes Psikologi
Tags:

Kelompok 5

Muhammad Farid

Nur’aini Azizah

 

Fakultas Psikologi

UIN Sunan Gunung Djati Bandung

 

Survey mengenai penggunaan tes menemukan bahwa sentence completion tests (SCT) paling banyak digunakan dalam instrument assessment kepribadian. Tes ini diberi peringkat kedua oleh clinician Jepang (Ogawa & Piotrowski, 1992), peringkat ketiga oleh psikolog klinis (Goh & Fuller, 1983), peringkat kelima oleh clinician yang bekerja pada remaja (Archer, Maruish, Imhof, & Piotrowski, 1991), peringkat keempat oleh psikolog sekolah (Kennedy, Faust, Willis, & Piotrowski, 1994), peringkat kelima oleh penyedia layanan kesehatan mental representative, dan peringkat ketiga oleh anggota Society for Personality Assessment dalam respons dengan pertanyaan: “Withwhat 5 projective tests should the professional practitioner be competent?” (Piotrowski, 1985, hal. 81).

Sangat menarik bahwa SCT diklasifikasikan secara umum, sementara instrument kepribadian lain diberi peringkat sesuai namanya (seperti Rorscach atau Minnesota Multiphasic Personality Inventory–2 [MMPI–2]), tidak berdasarkan kategorinya (misalnya inkblot dan storytelling technique). Padahal dalam SCT juga terdapat beberapa macam tes yang dibuat oleh ahli yang berbeda. Pada makalah ini kami membahas salah satu dari SCT tersebut, yaitu Forer Sentence Completion Test.

2.1  Sejarah Tes Forer

Bertram R. Forer (24 Oktober 1914-6 April 2000) adalah psikolog Amerika yang terkenal dengan Forer effect, atau validasi subjektif. Lahir di Springfield, Massachusetts, Forer lulus dari University of Massachusetts Amherst  pada tahun 1936. Dia mendapat gelar M.A. dan Ph.D. dalam psikologi klinis dari University of California, Los Angeles. Dia menjadi psikolog dan administrasi di rumah sakit militer Perancis selama Perang Dunia Kedua. Setelah itu ia bekerja di veteran administration klinik mental di Los Angeles, dan membuka praktik di Malibu, California.

Dalam eksperimen klasiknya di tahun 1948, B. R. Forer memberikan sebuah uji kepribadian pada mahasiswanya, mengabaikan jawaban mereka, dan membagikan hasil yang sama pada setiap siswa. Ia meminta mereka menilai tugas mereka pada skala dari 0 hingga 5, dimana 5 sangat akurat. Evaluasi yang diberikan rata-rata 4.26. Tes ini telah diulang ratusan kali dan rata-ratanya tetap sekitar 4.2.

Orang cenderung menerima deskripsi kepribadian umum dan kabur berlaku pada diri mereka sendiri tanpa menyadari deskripsi yang sama dapat berlaku pada siapa saja. Orang cenderung menerima klaim mengenai diri mereka sendiri yang sebanding dengan keinginan mereka kalau klaim tersebut benar daripada sebanding dengan ketelitian empiris dari klaim seperti yang diukur oleh standar non subjektif.

Efek Forer mungkin penyebab kenapa orang percaya astrologi, bioritme, peramal keberuntungan, grafologi, pembaca guratan telapak tangan, dan metode lain analisis karakter. Forer mengatakan kalau kecerobohan dapat bertanggung jawab atas kecenderungan pelanggan untuk menerima hasil tes kepribadian yang sama. Tampak lebih rumit daripada itu dan mungkin melihatkan bukan hanya kecerobohan, namun juga penipuan diri, pemikiran berharap, dan bias konfirmasi.

Kita cenderung menerima tanpa mempertanyakan, bahkan pernyataan yang samah mengenai diri kita sendiri, bila kita merasa ia cukup positif. Kita sering memberi penafsiran yang sangat liberal pada klaim yang kabur atau tidak konsisten mengenai diri kita sendiri untuk membuat klaim tersebut masuk akal. (Carroll 2003: 147).

Fenomena tersebut disebut juga sebagai Barnum Effect, yang diambil dari nama P. T. Barnum, seorang showbiz man yang pernah mengatakan bahwa “any good circus should have something for everyone”. Pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa untuk membuat sesuatu yang menarik, kita harus bisa membuatnya menarik bagi semua orang. Dalam kaitannya dengan eksperimennya, Forer menyimpulkan bahwa untuk terlihat akurat, deskripsi astrologi tidak harus akurat. Alih-alih, seorang astrologer dapat memberikan gambaran kepribadian yang umum dan samar kepada orang-orang, yang sebenarnya gambaran tersebut dapat berlaku juga bagi setiap orang lainnya. Dalam beberapa literatur psikologi, hal ini juga sering disebut dengan pernyataan “one size fits all”, yaitu di mana sebuah pernyataan berlaku bagi (hampir) semua orang.

Sejumlah ilmuwan psikologi mencoba mereplikasi apa yang dilakukan oleh Forer. Dari penelitian-penelitian tersebut, ditemukan bahwa hampir semua orang sangat rentan terhadap Barnum Effect –orang tua dan kaum muda, laki-laki dan perempuan, orang-orang yang percaya maupun yang skeptis terhadap astrologi, dan bahkan para Manajer SDM sekalipun.

Dalam penelitian lain, Margaret Hamilton, seorang psikolog dari University of Wisconsin, menemukan bahwa terdapat perbedaan dalam tingkat kepercayaan terhadap keakuratan horoskop. Secara tradisional, keduabelas zodiak dibagi menjadi enam zodiak “positif” (Aries, Gemini, Leo, Libra, Sagitarius, dan Aquarius) dan enam zodiak “negatif” (Taurus, Cancer, Virgo, Scorpio, Capricorn, dan Pisces). Sifat-sifat yang diasosiasikan dengan zodiak-zodiak “positif” cenderung lebih menyenangkan daripada sifat-sifat yang diasosiasikan dengan zodiak-zodiak “negatif”. Dalam penelitian tersebut, partisipan diberikan sebuah deskripsi kepribadian menurut zodiak. Setelah itu, mereka diminta untuk memberi penilaian mengenai deskripsi tersebut dan sejauh mana mereka percaya terhadap astrologi. Dari penelitian tersebut terungkap bahwa partisipan yang berzodiak positif, dibandingkan dengan mereka yang berzodiak negatif, cenderung lebih percaya terhadap penjelasan astrologi yang dipaparkan dalam penelitian tersebut. Dalam hal ini, terjadi flattery effect di mana orang-orang akan cenderung percaya dan mendukung gagasan-gagasan yang membuat mereka terlihat positif. Temuan ini mendukung gagasan Forer sebelumnya, bahwa dalam astrologi yang terpenting bukanlah akurasi, melainkan bagaimana membuat orang mengiyakan gambaran diri yang diberikan.

 “Anda memiliki kebutuhan yang besar untuk disukai dan dikagumi oleh orang lain. Anda memiliki kecenderungan untuk bersikap kritis terhadap diri sendiri. Anda memiliki kapasitas besar dalam diri Anda yang belum Anda manfaatkan untuk menjadi sesuatu yang menguntungkan. Walaupun memiliki sejumlah kelemahan, secara umum Anda mampu mengkompensasi kelemahan itu. Di luar, Anda adalah orang yang disiplin dan mampu mengendalikan diri, tetapi di dalam, Anda cenderung pencemas dan gelisah. Terkadang, Anda memiliki keraguan besar apakah Anda telah membuat keputusan yang tepat atau melakukan hal yang benar. Anda senang akan adanya sejumlah perubahan dan keanekaragaman dalam hidup dan tidak suka jika dikelilingi oleh peraturan dan batasan. Anda bangga menjadi seorang pemikir yang independen dan tidak bisa menerima pernyataan orang lain tanpa adanya bukti yang meyakinkan. Anda melihat bahwa tidak baik untuk terlalu terus terang dalam menunjukkan diri kepada orang lain. Di beberapa kesempatan, Anda terbuka, ramah, dan mudah bergaul, di kesempatan lainnya Anda tertutup, ragu-ragu, dan pendiam. Beberapa aspirasi Anda cenderung tidak realistis. Keamanan adalah salah satu tujuan utama Anda dalam hidup.” (http://en.wikipedia.org/wiki/Forer_effect)

2.2  Administrasi Tes Forer

Tes Forer (ditulis pada tahun 1950; Forer, 1960, 1993) dirancang dengan fokus pada berbagai macam attitudes dan sistem nilai yang didasari teori Henry Murray tentang kebutuhan, tekanan, dan inner states. Tes ini diterbitkan oleh Western Psychological Services (1998).

Tes ini mengidentifikasi sikap dan pandangan individu mengenai dirinya, orang lain, dan dunia. Pernyataan dalam tes sebagai stimulus dicocokkan dalam kondidi orang ketiga dan orang pertama baik tunggal maupun jamak. Struktur Tes Forer meliputi spesifikasi pernyataan awal dan sistem evaluasi digunakan untuk meng-assess kualitas respons. Waktu mengerjakan tes ini 15-20 menit, dengan subjek populasi remaja dan dewasa.

Tes ini terdiri dari 100 item yang dibagi dalam subskala:

  1. Interpersonal Figures: sikap terhadap karakteristik interpersonal figures (ayah, ibu, laki-laki, perempuan, kelompok, tokoh otoritas).
  2. Wishes: keinginan-keinginan.
  3. Causes of Personal Emotions: sebab-sebab dari perasaan atau tindakan seseorang.
  4. Reactions to Emotions: reaksi-reaksi terhadap keadaan luar

Skoring

Respons diberi skor dengan menggunakan checklist dan form evaluasi klinis untuk menganalisa subskala dalam variasi emosi, dorongan, dan keinginan. Bentuk ini memberikan skema evaluasi yang terstruktur bahwa pemeriksa dapat menggunakan grup dari item-item ke dalam salah satu dari empat subskala tadi.

 

2.3  Interpretasi Tes Forer

Setiap item ditentukan berdasarkan “attitudes toward” dan “characteristics of” dalam dua kategori pertama, dan “attitudes toward” dalam dua kategori terakhir. Forer telah mencoba untuk mendefinisikan istilah-istilah tesnya secara operasional dalam pedoman klinis, secara spesifik dan implikasi tentang struktur dan organisasi dari kepribadian seseorang. Sedangkan untuk standarisasi tes ini, reliabilitas dan validitas masih kurang karena masih menggunakan sistem manual yang tidak berisi informasi tentang reliabilitas dan validitasnya. Untuk penggunaan norma-normanya pun sangat minim. Oleh karena keterbatasan tersebut, penggunaan tes Forer dianjurkan sebagai tambahan untuk tes psikologis dalam setting klinis dan penelitian.

 

3.1  Kesimpulan

Tes Forer (ditulis pada tahun 1950; Forer, 1960, 1993) dirancang dengan fokus pada berbagai macam attitudes dan sistem nilai yang didasari teori Henry Murray tentang kebutuhan, tekanan, dan inner states. Tes ini diterbitkan oleh Western Psychological Services (1998).

Waktu mengerjakan tes ini 15-20 menit, dengan subjek populasi remaja dan dewasa. Tes ini terdiri dari 100 item yang dibagi dalam subskala:

  1. Interpersonal Figures: sikap terhadap karakteristik interpersonal figures (ayah, ibu, laki-laki, perempuan, kelompok, tokoh otoritas).
  2. Wishes: keinginan-keinginan.
  3. Causes of Personal Emotions: sebab-sebab dari perasaan atau tindakan seseorang.
  4. Reactions to Emotions: reaksi-reaksi terhadap keadaan luar

Respons diberi skor dengan menggunakan checklist dan form evaluasi klinis untuk menganalisa subskala dalam variasi emosi, dorongan, dan keinginan.

Setiap item ditentukan berdasarkan “attitudes toward” dan “characteristics of” dalam dua kategori pertama, dan “attitudes toward” dalam dua kategori terakhir. Untuk standarisasi tes ini, reliabilitas dan validitas masih kurang karena masih menggunakan sistem manual yang tidak berisi informasi tentang reliabilitas dan validitasnya. Untuk penggunaan norma-normanya pun sangat minim.

 DAFTAR PUSTAKA

 

Bagaskara, M.Si, Sunu. 2011. Astrologi; Bisa Dipercaya Gak Sih?. Tersedia di: http://www.dailypsychology.net.

Holaday, Margot. A. Smith, Debra. Sherry, Alissa. 2000. Sentence Completion Tests: A Review of the Literature and Results of a Survey of Members of the Society for Personality Assessment. _____: Lawrence Erlbaum Associates, Inc. Dalam JOURNAL OF PERSONALITY ASSESSMENT, 74(3), 371–383.

__________. 2011. Bertram Forer. Tersedia di: http://www.en.wikipedia.org/Bertram_Forer.

__________. 2011. Forer Effect. Tersedia di: http://www.en.wikipedia.org/Forrer_effect.

http://www.kids-iq-tests.com/Forer-Structured-Sentence-Completion-Test.html

Prasangka & Politik

Posted: January 10, 2011 in Psikologi Sosial

dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Sosial

Oleh :

Kelompok 13

Ahmad Maulana

Imas Fauzyah

Nuraini Azizah

Rizka Magenda

Fakultas Psikologi

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SUNAN GUNUNG DJATI

B A N D U N G

2010

BAB I

PENDAHULUAN

Prasangka berkaitan dengan persepsi orang tentang seseorang atau kelompok lain, dan sikap serta perilakunya terhadap mereka. Prasangka dan politik merupakan dua bidang terapan psikologi sosial yang sangat penting. Prasangka terhadap anggota suatu kelompok sosial ternyata merupakan jenis sikap yang secara social sangat merusak, Lebih dari enam juta orang Yahudi Eropa dibunuh oleh Nazi pada tahun 1940-an, dengan kedok “memurnikan” ras Eropa. Dewasa ini hanya ada sedikit orang Yahudi yang tetap tinggal di Eropa.

Menurut Erich Fromm, masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang membiarkan anggota-anggotanya mengembangkan cinta satu sama lain. Sedangkan masyarakat yang sakit menciptakan permusuhan, kecurigaan, dan ketidaksalingpercayaan anggota-anggotanya (dalam Schultz, 1991). Mendasarkan pada kriteria ini, tampak jelas bahwa adanya prasangka yang luas di masyarakat merupakan indikasi jelas ketidaksehatan sosiopsikologis dalam masyarakat bersangkutan. Hal ini karena prasangka menumbuhkan kecurigaan, ketidakpercayaan, dan permusuhan. Prasangka juga menghalangi anggota-anggota masyarakat untuk mengembangkan cinta satu sama lain di antara anggota-anggota masyarakat dan untuk menyebarkan perdamaian.

Banyak pihak yang menilai bahwa masyarakat Indonesia saat ini merupakan masyarakat berprasangka. Penilaian itu tentu bukan tanpa dasar. Saat ini masyarakat Indonesia memiliki kecurigaan yang akut terhadap segala sesuatu yang berbeda atau dikenal dengan istilah heterophobia. Segala sesuatu yang baru dan berbeda dari umumnya orang akan ditanggapi dengan penuh kecurigaan. Kehadiran anggota kelompok yang berbeda apalagi berlawanan akan dicurigai membawa misi-misi yang mengancam.

BAB II

ISI

2.1  Prasangka

2.1.1  Definisi Prasangka

Prasangka adalah penilaian terhadap suatu kelompok atau seorang individu yang terutama didasarkan pada kelompok atau seorang individu yang terutama didasarkan pada keanggotaan kelompok orang itu. (David O. Sears, :149)

Prasangka adalah sikap (biasanya negatif) kepada anggota kelompok tertentu yang semata-mata didasarkan pada keanggotaan mereka dalam kelompok (Baron & Byrne, 1991). Misalnya karena pelaku pemboman di Bali adalah orang Islam yang berjanggut lebat, maka seluruh orang Islam, terutama yang berjanggut lebat, dicurigai memiliki itikad buruk untuk menteror. Sementara itu, Daft (1999) memberikan definisi prasangka lebih spesifik yakni kecenderungan untuk menilai secara negatif orang yang memiliki perbedaan dari umumnya orang dalam hal seksualitas, ras, etnik, atau yang memiliki kekurangan kemampuan fisik. Soekanto (1993) dalam ‘Kamus Sosiologi’ menyebutkan pula adanya prasangka kelas, yakni sikap-sikap diskriminatif terselubung terhadap gagasan atau perilaku kelas tertentu. Prasangka ini ada pada kelas masyarakat tertentu dan dialamatkan pada kelas masyarakat lain yang ada didalam masyarakat. Sudah jamak kelas atas berprasangka terhadap kelas bawah, dan sebaliknya kelas bawah berprasangka terhadap kelas atas. Sebagai contoh, jika kelas atas mau bergaul dengan kelas bawah maka biasanya kelas atas oleh kelas bawah dicurigai akan memanfaatkan mereka. Bila kelas bawah bergaul dengan kelas atas dikira oleh kelas atas akan mencuri dan sebagainya.

Prasangka sosial (social prejudice) merupakan gejala psikologi sosial. Prasangka sosial ini merupakan masalah yang penting dibahas di dalam intergroup relation. Prasangka sosial atau juga prasangka kelompok  yaitu suatu prasangka yang diperlihatkan anggota-anggota suatu kelompok terhadap kelompok-kelompok lain termasuk di dalamnya para anggotanya.

Beberapa ahli meninjau pengertian prasangka sosial dari berbagai sudut:

1)    Feldman (1985)

Prasangka sosial adalah sikap negatif terhadap kelompok sosial tertentu yang hanya didasarkan pada keanggotaan mereka dalam kelompok itu.

2)   Mar’at (1981)

Prasangka sosial adalah dugaan-dugaan yang memiliki nilai positif atau negative tetapi dugaan itu lebih bersifat negatif.

3)   Kimball Young

Prasangka adalah mempunyai ciri khas pertentangan antara kelompok yang ditandai oleh kuatnya ingroup dan outgroup.

4)   Sherif and Sherif

Prasangka sosial adalah suatu sikap negatif para anggota suatu kelompok, berasal dari norma mereka yang pasti kepada kelompok lain beserta anggotanya.

Dari pendapat-pendapat para ahli tersebut mempunyai kecenderungan bahwa prasangka sosial adalah suatu sikap negatif yang diperlihatkan oleh individu atau kelompok terhadap individu lain atau kelompok lain.

Ciri-Ciri Prasangka Sosial

Brighman (1991) menjelaskan prasangka sosial menjelaskan tentang ciri-ciri prasangka sosial bahwa individu mempunyai kecenderungan untuk membuat kategori sosial (social categorization). Kategori sosial adalah kecenderungan untuk membagi dunia sosial menjadi dua kelompok, yaitu “kelompok kita” (ingroup) dan “kelompok mereka” (outgroup). Ingroup adalah kelompok sosial di mana individu merasa dirinya dimilki atau memiliki  (“kelompok kami”). Sementara outgroup adalah grup di luar grup sendiri (“kelompok mereka”).

Komponen Prasangka

Sebagai sebuah sikap, prasangka mengandung tiga komponen dasar sikap yakni perasaan (feeling), kecenderungan untuk melakukan tindakan (behavioral tendention), dan adanya suatu pengetahuan yang diyakini mengenai objek prasangka (beliefs). Perasaan yang umumnya terkandung dalam prasangka adalah perasaan negatif atau tidak suka bahkan kadangkala cenderung benci. Kecenderungan tindakan yang menyertai prasangka biasanya keinginan untuk melakukan diskriminasi, melakukan pelecehan verbal seperti menggunjing, dan berbagai tindakan negatif lainnya. Sedangkan pengetahuan mengenai objek prasangka biasanya berupa informasi-informasi, yang seringkali tidak berdasar, mengenai latar belakang objek yang diprasangkai. Misalnya bila latar belakang kelompoknya adalah etnik A, maka seseorang yang berprasangka terhadapnya mesti memiliki pengetahuan yang diyakini benar mengenai etnik A, terlepas pengetahuan itu benar atau tidak.

Menurut Poortinga (1990) prasangka memiliki tiga faktor utama yakni stereotip, jarak sosial, dan sikap diskriminasi. Ketiga faktor itu tidak terpisahkan dalam prasangka. Stereotip memunculkan prasangka, lalu karena prasangka maka terjadi jarak sosial, dan setiap orang yang berprasangka cenderung melakukan diskriminasi.

Sementara itu Sears, Freedman & Peplau (1999) menggolongkan prasangka, stereotip dan diskriminasi sebagai komponen dari antagonisme kelompok, yaitu suatu bentuk oposan terhadap kelompok lain. Stereotip adalah komponen kognitif dimana kita memiliki keyakinan akan suatu kelompok. Prasangka sebagai komponen afektif dimana kita memiliki perasaan tidak suka. Dan, diskriminasi adalah komponen perilaku.

  • Stereotip

Stereotip adalah kombinasi dari ciri-ciri yang paling sering diterapkan oleh suatu kelompok terhadap kelompok lain, atau oleh seseorang kepada orang lain (Soekanto, 1993). Secara lebih tegas Matsumoto (1996) mendefinisikan stereotip sebagai generalisasi kesan yang kita miliki mengenai seseorang terutama karakter psikologis atau sifat kepribadian. Stereotip dapat diwariskan dari generasi ke generasi melalui bahasa verbal tanpa pernah adanya kontak dengan tujuan/objek stereotip (Brisslin,1993). Beberapa contoh stereotip terkenal berkenaan dengan asal etnik adalah stereotip yang melekat pada etnis jawa, seperti lamban dan penurut. Stereotip etnis Batak adalah keras kepala dan maunya menang sendiri. Stereotip orang Minang adalah pintar berdagang. Stereotip etnis Cina adalah pelit dan pekerja keras.

Stereotip berfungsi menggambarkan realitas antar kelompok, mendefinisikan kelompok dalam kontras dengan yang lain, membentuk imej kelompok lain (dan kelompok sendiri) yang menerangkan, merasionalisasi, dan menjustifikasi hubungan antar kelompok dan perilaku orang pada masa lalu, sekarang, dan akan datang di dalam hubungan itu (Bourhis, Turner, & Gagnon, 1997). Melalui stereotip kita bertindak menurut apa yang sekiranya sesuai terhadap kelompok lain. Misalnya etnis jawa memiliki stereotip lemah lembut dan kurang suka berterus terang, maka kita akan bertindak berdasarkan stereotip itu dengan bersikap selembut-lembutnya dan berusaha untuk tidak mempercayai begitu saja apa yang diucapkan seorang etnis jawa kepada kita. Sebagai sebuah generalisasi kesan, stereotip kadang-kadang tepat dan kadang-kadang tidak. Misalnya stereotip etnis jawa yang tidak suka berterus terang memiliki kebenaran cukup tinggi karena umumnya etnis jawa memang kurang suka berterus terang. Namun tentu saja terdapat pengecualian-pengecualian karena banyak juga etnis jawa yang suka berterus terang.

  • Jarak Sosial

Jarak sosial adalah suatu jarak psikologis yang terdapat diantara dua orang atau lebih yang berpengaruh terhadap keinginan untuk melakukan kontak sosial yang akrab. Jauh dekatnya jarak sosial seseorang dengan orang lain bisa dilihat dari ada atau tidaknya keinginan-keinginan berikut :

-       Keinginan untuk saling berbagi,

-       Keinginan untuk tinggal dalam pertetanggaan,

-       Keinginan untuk bekerja bersama,

-       Keinginan yang berhubungan dengan pernikahan.

Pada umumnya prasangka terlahir dalam kondisi dimana jarak sosial yang ada diantara berbagai kelompok cukup rendah. Apabila dua etnis dalam suatu wilayah tidak berbaur secara akrab, maka kemungkinan terdapat prasangka dalam wilayah tersebut cukup besar. Sebaliknya prasangka juga melahirkan adanya jarak sosial. Semakin besar prasangka yang timbul maka semakin besar jarak sosial yang terjadi. Jadi antara prasangka dan jarak sosial terjadi lingkaran setan.

Sampai saat ini masih mudah ditemui adanya keengganan orangtua bila anak-anaknya menikah dengan orang yang berbeda etniknya. Masih mudah pula ditemui orangtua yang membatasi pilihan anak-anaknya hanya boleh menikah dengan etnis sendiri atau beberapa etnis tertentu saja, sementara beberapa etnis yang lain dilarang. Kenyataan seperti itu merupakan cerminan dari adanya prasangka antar etnik. Saya pernah mendengar secara langsung ada petuah orang tua pada anaknya laki-laki, yang kebetulan etnis jawa, untuk tidak mencari jodoh etnis Dayak, etnis Minang, dan etnis Sunda. Diluar ketiga etnis itu dipersilahkan, tetapi lebih disukai apabila sesama etnis jawa.

  • Diskriminasi

Diskriminasi adalah perilaku menerima atau menolak seseorang semata-mata berdasarkan keanggotaannya dalam kelompok (Sears, Freedman & Peplau,1999). Misalnya banyak perusahaan yang menolak mempekerjakan karyawan dari etnik tertentu. Lalu ada organisasi yang hanya mau menerima anggota dari etnik tertentu saja meskipun jelas-jelas organisasi itu sebagai organisasi publik yang terbuka untuk umum. Contoh paling terkenal dan ekstrim dalam kasus diskriminasi etnik dan ras terjadi di Afrika Selatan pada tahun 80-an. Politik aphartheid yang dijalankan pemerintah Afrika Selatan membatasi akses kulit hitam dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya. Diskriminisi ras itu dikukuhkan secara legal melalui berbagai peraturan yang sangat diskriminatif terhadap kulit hitam. Misalnya anak-anak kulit hitam tidak boleh bersekolah di sekolah untuk kulit putih, kulit hitam tidak boleh berada di tempat-tempat tertentu seperti hotel, restoran dan tempat publik lainnya. Kulit hitam juga tidak boleh naik kendaraaan umum untuk kulit putih, dan bahkan tidak boleh memasuki wilayah pemukiman kulit putih.

Diskriminasi bisa terjadi tanpa adanya prasangka dan sebaliknya seseorang yang berprasangka juga belum tentu akan mendiskriminasikan (Duffy & Wong, 1996). Akan tetapi selalu terjadi kecenderungan kuat bahwa prasangka melahirkan diskriminasi. Prasangka menjadi sebab diskriminasi manakala digunakan sebagai rasionalisasi diskriminasi. Artinya prasangka yang dimiliki terhadap kelompok tertentu menjadi alasan untuk mendiskriminasikan kelompok tersebut.

2.1.2  Asal-Usul Prasangka

Perdebatan umum yang terjadi adalah tentang antagonis kelompok berpangkal pada realitas atau tidak.Sebagian orang mengalami sikap mereka terhadap berbagai kelompok  social sebagai pencerminan dari realitas karakteristik kelompok tersebut.Mungkin kita merasa bahwa kita memperoleh persepsi ini melalui pengalawan kita dengan anggota  kelompok,tidak peduli apakah pengalaman tatap muka langsung atau pengalaman lain yang tidak langsung.

Sebagian besar kategorisasi yang menimbulkan stereotip didasarkan pada norma sosial yang sewenang-wenang.kita membuat kategorisasi berdasarkan sifat yang menonjol. Sifat apa yang sangat menonjol sangat tergantung pada arah perhatian kita, dan ini biasanya tergantung pada norma yang kita pelajari. Di Amerika serikat, misalnya, ras merupakan hal yang sangat menonjol. Di Kuba atau Brasil, ras tidak menonjol; warna kulit merupakan hal yang umum, kategorisasi berdasarkan ras tidak lazim terjadi. Di Libanon atau Irlandia Utara, pilihan keagamaan merupakan dasar utama katergorisasi; orang katolik atau protestan. Ras tidak begitu penting.

Masalah kedua yang berkaitan dengan pemikiran tentang stereotip yang di dasarkan pada realitas adalah bahwa penganut stereotip seringkali hanya mempunyai sedikit pengalaman pribadi dengan kelompok yang distereotip, sehingga tidak bisa memperoleh stereotip yang didasarkan pada generalisasi tentang orang-orang yang dikenalnya. Sebagai contoh, para mahasiswa yang berpartisipasi dalam penelitian hanya memiliki kontak pribadi dengan anggota kelompok yang distereotip.

Karena itu, yang sangat mengesankan adalah bahwa mahasiswa yang terlibat dalam survey tersebut menggunakan standar stereotip  yang sama tentang kelompok itu, tanpa memiliki kontak langsung dengan mereka.Ini menunjukan bahwa stereotip merupakan masalah tradisi social. Orang cenderung merasa bahwa antagonisme mereka terhadap kelompok sosial lain berakar pada karakteristik itu sendiri.

Pengalaman pribadi dengan kelompok seringkali terlalu singkat,dan dasar perceptual stereotip terlalu sewenang-wenang, sehingga “realitas” kurang bisa dijadikan penjelasan yang adekuat bagi antagonisme.

Orang tidak begitu saja secara otomatis berprasangka terhadap orang lain. Tetapi ada faktor-faktor tertentu yang menyebabkan ia berprasangka. Prasangka di sini berkisar pada masalah yang bersifat negatif pada orang (kelompok) lain. Ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya prasangka.

1)     Orang berprasangka dalam rangka mencari kambing hitam. Dalam berusaha, seseorang mengalami kegagalan atau kelemahan. Sebab dari kegagalan itu tidak dicari pada dirinya sendiri tetapi pada orang lain. Orang lain inilah yang dijadikan kambing hitam sebagai sebab kegagalannya.

2)     Orang berprasangka, karena memang ia sudah dipersiapkan di dalam lingkungannya atau kelompoknya untuk berprasangka.

3)     Prasangka timbul karena adanya perbedaan, di mana perbedaan ini menimbulkan perasaan superior. Perbedaan di sini bisa meliputi :

a)      Perbedaan fisik/biologis, ras. Mis. : Amerika Serikat dengan Negro

b)      Perbedaan lingkungan/ geografis. Mis. : orang kota dan orang desa

c)      Perbedaan kekayaan. Mis. : orang kaya dan orang miskin

d)     Perbedaan status sosial. Mis. : majikan dan buruh

e)      Perbedaan kepercayaan/agama

f)       Perbedaan norma sosial, dsb.

4)     Prasangka timbul karena kesan yang menyakitkan atau pengalaman yang tidak menyenangkan.

5)     Prasangka timbul karena adanya anggapan yang sudah menjadi pendapat umum atau kebiasaan di dalam lingkungan tertentu.

Prasangka sosial tidak dibawa sejak dilahirkan tetapi terbentuk selama perkembangannya, baik melalui didikan maupun dengan cara identifikasi dengan orang-orang lain. Dalam beberapa penelitian dan observasi tampak bahwa di sekolah-sekolah internasional tidak terdapat sedikitpun prasangka sosial pada anak-anak sekolah yang berasal dari bermacam-macam golongan ras atau kebudayaan. Mereka baru akan memperolehnya di dalam perkembangannya apabila mereka bergaul erat dengan orang-orang yang berprasangka sosial. Dan hal ini berlangsung secara sendirinya dan pada taraf tidak sadar malalui proes-proses imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati yang memegang peranana utama di dalam interaksi itu. Sementara itu, secara tidak sadar mereka lambat laun mungkin memperoleh sikap-sikap tertentu terhadap golongan-golongan tertentu yang lambat laun dapat melahirkan stereotip-stereotip.

Selain itu, adapula satu faktor yang dapat mempertahankan adanya prasangka sosial seperti yang dapat berkembang secara tidak sadar itu, yaitu faktor ketidaksadaran (ketidakinsyafan) akan kerugian-kerugian masyarakat apabila prasangka itu dipupuk terus-menerus, yang mudah terjelma dalam tindakan-tindakan diskriminatif.

2.1.3  Teori Prasangka

Teori Konflik Kelompok

Teori ini menyatakan bila dua kelompok bersaing memperebutkan sumber yang langka, mereka akan saling mengancam. Hal ini menimbulkan permusuhan diantara mereka dan dengan demikian menciptakan penilaian  negatif yang bersifat timbal balik. Jadi prasangka merupakan konsekuensi dari konflik nyata yang tidak bisa di elakkan. Mungkin dapat diminimalkan, tetapi tidak dapat dialihilangkan sama sekali, karena ditimbulkan oleh realitas yang tidak dapat dihindarkan.

Bila prasangka timbul karena dua kelompok benar-benar saling mengancam, maka ancaman itu akan menjadi sebab psikologis prasangka yang paling kuat bagi individu. Dengan kata lain, individu yang paling merasa terncam akan menjadi individu yang paling besar prasangkanya.

Bila dua kelompok bersaing, mereka saling mengancam. Hal ini menimbulkan permusuhan diantara mereka dan keadaan demikian menciptakan penilaian negatif yang bersifat timbal balik. Jadi, prasangka merupakan konsekuensi dari konflik nyata yang tidak dapat dielakkan. LeVine dan Campbell (1972) menyebutnya sebagai konflik kelompok yang realistis. Kadang-kadang dua kelompok berada dalam situasi dimana mereka bersaing untuk memperebutkan sumber langka yang sama.

Teori Belajar Sosial

Prasangka adalah sesuatu yang dipelajari seperti orang-orang belajar nilai-nilai sosial yang lain. Prasangka diperoleh anak-anak melaui sosialisasi. Misalnya, sebelum remaja anak Melayu (Malaysia) mengamati masyarakat di mana ia tinggal bahwa orang Melayu secara sosial lebih tinggi di berbagai hal dibanding orang keturunan India.

Teori Kognitif

Dalam mengamati orang lain, seseorang mencoba mengembangkan kesan yang terstruktur tentang orang lain. Seseorang melakukan proses kategorisasi. Kategorisasi seringkali hanya didasarkan pada isyarat yang sangat jelas dan menonjol. Warna kulit, bentuk tubuh, logat bahasa, dijadikan dasar penggolongan. Prasangka muncul karena adanya perbedaan antara “kelompok kami” (ingroup) dan “kelompok mereka” (outgroup).

Teori Psikodinamika

Prasangka adalah agresi yang dialihkan. Pengalihan terjadi bila sumber frustasi tidak dapat diserang karena rasa takut dan frustasi itu benar-benar tidak ada. Dalam kondisi semacam ini, orang mencari kambing hitam yang dapat dipersalahkan dan dierang.

2.1.4  Pengaruh Prasangka

Prasangka dan stereotip mempengaruhi sikap dan perilaku melalui berbagai cara.

1)   Persepsi tentang individu anggota kelompok sasaran

Dalam kasus tertentu, stereotip mewarnai persepsi subjek tentang interaksi sosial.

2)   Membentuk sikap yang konsisten dengan prasangka kita

Tekanan psikologis terhadap konsistensi psikologis sering menyebabkan kita membentuk sikap yang konsisten dengan prasangka kita. Dampak prasangka rasial dalam situasi penjurian pura-pura merupakan fokus dari salah satu penelitian. (Ugwuegbu, 1979 dalam Sears, 1994)

3)   Respons politik terhadap kelompok minoritas

Prasangka sangat mempengaruhi sikap dan perilaku politik orang, tidak peduli apakah itu merupakan sikap mereka terhadap kebijakan umum atau perilaku mereka dalam memberikan suara.

4)   Menimbulkan perilaku diskriminasi dengan cara yang lebih nyata tetapi tidak langsung

Prasangka tidak hanya dapat mempengaruhi sikap dan perilaku orang dewasa, tetapi juga sikap dan perilaku anak-anak, sehingga dapat membatasi kesempatan mereka untuk berkembang menjadi orang yang mempunyai toleransi rasial.

5)   Menjadi dugaan pemuas-diri

Bila diterapkan pada stereotip, rangkaian dugaan pemuas-diri melibatkan empat tahap :

a)      stereotip (harapan) tentang bagaimana orang lain akan berperilaku;

b)      perubahan perilaku pada diri penganut stereotip;

c)      menimbulkan perubahan perilaku pada diri orang yang menjadi sasaran;

d)     persepsi tentang perilaku orang yang menjadi sasaran sebagai penyesuaian terhadap stereotip dan bukan sebagai respons terhadap perilaku si penganut stereotip.

2.1.5  Mengelola prasangka

Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam mengelola prasangka, antara lain :

1)   Efek Sosialisasi

Salah satu pemecahan untuk mengurangi prasangka adalah dengan mengubah proses sosialisasi awal. Bila orang tidak mulai diajar untuk berprasangka, mungkin prasangka itu nantinya tidak akan berkembang.

2)   Peran Pendidikan Tinggi

Orang yang pernah duduk di perguruan tinggi biasanya memiliki prasangka yang lebih sedikit dibandingkan orang yang tidak pernah.  Salah satu faktor penting yang menentukan pengaruh pendidikan tinggi adalah adanya norma kelompok teman sebaya yang baru.

3)   Kontak Langsung

Ada keyakinan bahwa kontak dapat menghilangkan stereotip, dan bahwa kedekatan dan interaksi biasanya dapat meningkatkan rasa suka. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa peningkatan kontak dapat mengurangi antagonisme, prasangka, dan stereotip. Teori kontak dari Allport (1954), menyatakan bahwa kontak antarkelompok hanya dapat mengurangi permusuhan antarras bila kontak itu memenuhi tiga kondisi penting :

a)      kontak yang akrab;

b)      saling ketergantungan yang kooperatif;

c)      kontak harus terjadi dalam status yang sederajat.

2.2  Politik

2.3.1  Definisi Politik

Secara bahasa, kata politik  berasal dari bahasa Yunani yaitu politeia yang berasal dari kata polis, yang artinya kesatuan masyarakat yang mengurus dirinya sendiri, dan teia yang berarti urusan. Politeia berarti menyelenggarakan urusan negara. Jadi secara etimologi pengertian politik adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan yang menyangkut kepentingan dari sekelompok masyarakat atau negara.

Secara umum, politik mempunyai dua arti yaitu politik dalam arti kepentingan umum (politics) dan politik dalam arti kebijakan (policy). Politik dalam arti politics adalah rangkaian asa/prinsip, keadaan, jalan, cara atau alat yang akan digunakan untuk mencapai tujuan. Sedankan Politik dalam arti policy adalah penggunaan pertimbangan tertentu yang dapat menjamin terlaksananya usaha untuk mewujudkan keinginan dan cita-cita yang dikehendaki.

Dari situs wikipedia bahasa Indonesia dijelaskan bahwa politik merupakan  proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik.

Menurut Prof Miriam Budiarjo, pada umumnya dapat dikatakan bahwa politik adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistim politik (negara) yang menyangkut menentukan tujuan-tujuan dari sistim itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu. Politik mempunyai beberapa konsep dasar yaitu: Negara (state); Kekuasaan (power); Pengambilan keputusan (decision making); Kebijakan (policy); Pembagian (distribution); dalam hal ini pembagian kekuasaan.

Adapun definisi politik dari sudut pandang Islam adalah pengaturan urusan-urusan (kepentingan) umat baik dalam negeri maupun luar negeri berdasarkan hukum-hukum Islam. Pelakunya bisa negara (khalifah) maupun kelompok atau individu rakyat.

Rasulullah saw bersabda:

“Adalah Bani Israel, para Nabi selalu mengatur urusan mereka. Setiap seorang Nabi meninggal, diganti Nabi berikutnya. Dan sungguh tidak ada lagi Nabi selainku. Akan ada para Khalifah yang banyak” (HR Muslim dari Abu Hurairah ra).

Jadi, esensi politik dalam pandangan Islam adalah pengaturan urusan-urusan rakyat yang didasarkan kepada hukum-hukum Islam. Adapun hubungan antara politik dan Islam secara tepat digambarkan oleh Imam al-Ghajali: “Agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan runtuh dan segala sesuatu yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang dan lenyap”.

Berbeda dengan pandangan Barat politik diartikan sebatas pengaturan kekuasaan, bahkan menjadikan kekuasaan sebagai tujuan dari politik. Akibatnya yang terjadi hanyalah kekacauan dan perebutan kekuasaan, bukan untuk mengurusi rakyat. Hal ini bisa kita dapati dari salah satu pendapat ahli politik di barat, yaitu Loewenstein yang berpendapat “politic is nicht anderes als der kamps um die Macht” (politik tidak lain merupakan perjuangan kekuasaan).

2.3.2  Perkembangan Ilmu Politik

Ilmu politik adalah salah satu ilmu tertua dari berbagai cabang ilmu yang ada. Sejak orang mulai hidup bersama, masalah tentang pengaturan dan pengawasan dimulai. Sejak itu para pemikir politik mulai membahas masalah-masalah yang menyangkut batasan penerapan kekuasaan, hubungan antara yang memerintah serta yang diperintah, serta sistem apa yang paling baik menjamin adanya pemenuhan kebutuhan tentang pengaturan dan pengawasan.

Ilmu politik diawali dengan baik pada masa Yunani Kuno, membuat peningkatan pada masa Romawi, tidak terlalu berkembang di Zaman Pertengahan, sedikit berkembang pada Zaman Renaissance dan Penerangan, membuat beberapa perkembangan substansial pada abad 19, dan kemudian berkembang sangat pesat pada abad 20 karena ilmu politik mendapatkan karakteristik tersendiri.

Ilmu politik sebagai pemikiran mengenai Negara sudah dimulai pada tahun 450 S.M. seperti dalam karya Herodotus, Plato, Aristoteles, dan lainnya. Di beberapa pusat kebudayaan Asia seperti India dan Cina, telah terkumpul beberapa karya tulis bermutu. Tulisan-tulisan dari India terkumpul dalam kesusasteraan Dharmasatra dan Arthasastra, berasal kira-kira dari tahun 500 S.M. Di antara filsuf Cina terkenal, ada Konfusius, Mencius, dan Shan Yang (±350 S.M.).

Di Indonesia sendiri ada beberapa karya tulis tentang kenegaraan, misalnya Negarakertagama sekitar abad 13 dan Babad Tanah Jawi. Kesusasteraan di Negara-negara Asia mulai mengalami kemunduran karena terdesak oleh pemikiran Barat yang dibawa oleh Negara-negara penjajah dari Barat.

Di Negara-negara benua Eropa sendiri bahasan mengenai politik pada abad ke-18 dan ke-19 banyak dipengaruhi oleh ilmu hukum, karena itu ilmu politik hanya berfokus pada negara. Selain ilmu hukum, pengaruh ilmu sejarah dan filsafat pada ilmu politik masih terasa sampai perang Dunia II.

Di Amerika Serikat terjadi perkembangan berbeda, karena ada keinginan untuk membebaskan diri dari tekanan yuridis, dan lebih mendasarkan diri pada pengumpulan data empiris. Perkembangan selanjutnya bersamaan dengan perkembangan sosiologi dan psikologi, sehingga dua cabang ilmu tersebut sangat mempengaruhi ilmu politik. Perkembangan selanjutnya berjalan dengan cepat, dapat dilihat dengan didirikannya American Political Science Association pada 1904.

Perkembangan ilmu politik setelah Perang Dunia II berkembang lebih pesat, misalnya di Amsterdam, Belanda didirikan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, walaupun penelitian tentang negara di Belanda masih didominasi oleh Fakultas Hukum. Di Indonesia sendiri didirikan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, seperti di Universitas Riau. Perkembangan awal ilmu politik di Indonesia sangat dipengaruhi oleh ilmu hukum, karena pendidikan tinggi ilmu hukum sangat maju pada saat itu.Sekarang, konsep-konsep ilmu politik yang baru sudah mulai diterima oleh masyarakat.

Di negara-negara Eropa Timur, pendekatan tradisional dari segi sejarah, filsafat, dan hukum masih berlaku hingga saat ini. Sesudah keruntuhan komunisme, ilmu politik berkembang pesat, bisa dilihat dengan ditambahnya pendekatan-pendekatan yang tengah berkembang di negara-negara barat pada pendekatan tradisional.

Perkembangan ilmu politik juga disebabkan oleh dorongan kuat beberapa badan internasional, seperti UNESCO. Karena adanya perbedaan dalam metodologi dan terminologi dalam ilmu politik, maka UNESCO pada tahun1948 melakukan survei mengenai ilmu politik di kira-kira 30 negara. Kemudian, proyek ini dibahas beberapa ahli di Prancis, dan menghasilkan buku Contemporary Political Science pada tahun 1948. Selanjutnya UNESCO bersama International Political Science Association (IPSA) yang mencakup kira-kira ssepuluh negara, diantaranya negara Barat, di samping India, Meksiko, dan Polandia. Pada tahun 1952 hasil penelitian ini dibahas di suatu konferensi di Cambridge, Inggris dan hasilnya disusun oleh W. A. Robson dari London School of Economics and Political Science dalam buku The University Teaching of Political Science. Buku ini diterbitkan oleh UNESCO untuk pengajaran beberapa ilmu sosial(termasuk ekonomi, antropologi budaya, dan kriminologi) di perguruan tinggi. Kedua karya ini ditujukan untuk membina perkembangan ilmu politik dan mempertemukan pandangan yang berbeda-beda.

Pada masa-masa berikutnya ilmu-ilmu sosial banyak memanfaatkan penemuan-penemuan dari antropologi, sosiologi, psikologi, dan ekonomi, dan dengan demikian ilmu politik dapat meningkatkan mutunya dengan banyak mengambil model dari cabang ilmu sosial lainnya. Berkat hal ini, wajah ilmu politik telah banyak berubah dan ilmu politik menjadi ilmu yang penting dipelajari untuk mengerti tentang politik.

2.3  Prasangka dan Politik

2.3.1  Peranan Media dalam Politik

Tahap Pertama : Kekuatan yang Besar. Penelitian tentang pengaruh media dalam politik dilakukan melalui tiga tahap. Tahap pertama di mulai pada tahun 1920-an dan 1930-an, ketika pesawat radio menjadi hal yang umum digunakan Negara-negara Barat dan film bicara, yang diikuti dengan film berita, menjadi sumber hiburan masyarakat. Untuk pertama kalinya, para pemimpin politik dapat menjangkau masyarakat melalui saluran audio dan visual, dan tidak hanya melalui pernyataan tertulis.

Tahap Kedua: Pengaruh yang Minimal. Pemikiran ini menyoroti perlunya pengujian dampak media secara lebih sistematis tentang dampak media massa, dengan menggunakan metode baru untuk menyelediki pendapat umum. Analisis itu menemukan dua penemuan pokok : (1) Relatif sedikit responden yang mengubah pilihan mereka selama berlangsungnya massa kampanye; dan ini bertentangan dengan rasa takut para analisis sebelumnya. (2) Perubahan yang tidak terjadi tidak berkaitan dengan latar belakang sosial yang ada. Kenyataannya, orang menghadiri kampanye masing-masing kandidat ini biasanya sudah menjadi pendukung sebelum mereka mendengarkan propaganda tersebut. Mereka memilih untuk menempatkan diri di isi yang telah mereka tentukan. Kontak pribadi lebih penting dibandingkan propaganda media. Keputusan pemberian suara merupakan “pengalaman sosial”.

Tahap Ketiga : Pembaruan Penghargaan. Dua dasarwara terakhir merupakan pengantar bagi munculnya jaman ketiga, jaman pembaruan penghargaan kekuatan media dalam politik. Hal ini sebagian disebabkan oleh adanya televisi dan kecintaan masyarakat Amerika terhadap televisi. Sebagian lagi karena adanya perubahan acara televisi.

Dampak Media Terhadap Politik : Dampak Yang Terbatas

Sangat sulit untuk menghasilkan perubahan besar dalam sikap  sesorang terhadap sesuatu yang di perhatikan dan dilibatinya. Sebagian besar kasur persuasi massa tidak banyak menghasilkan perubahan nyata.

2.3.2  Hambatan yang Dihadapi

Hambatan utama yang dihadapi media dalam kehidupan politik antara lain :

1)   Tingkat penyiaran yang rendah

Beberapa faktor yang menimbulkan gangguan diantara sumber dan target. Jika suatu pesan tidak mencapai targetnya, tidak akan ada perubahan sikap. Orang yang terlibat dalam usaha mempengaruhi masyarakat tahu bahwa masalah mereka yang paling penting dan sulit adalah cara menjangkau orang-orang yang ingin mereka pengaruhi.

2)   Penyiaran selektif

Selain menghadapi kesulitan yang disebabkan oleh tingkat penyiaran yang rendah, pakar propaganda juga menghadapi masalah yang lain. Bila suatu pesan dikirimkan, ada kemungkinan bahwa orang yang menerima pesan itu sudah memiliki pandangan yang sama dengan isi pesan tersebut. Ini adalah gejala penyiaran selektif. Orang cenderung menutup diri terhadap informasi yang bertentangan dengan keyakinannya.

3)   Perlawanan terhadap persuasi

Seorang komunikator yang berhasil menyampaikan pesan kepada target belum berarti dapat mengubah opini target. Informasi baru diinterpretasi berdasarkan sikap yang dianut. Tampaknya ini merupakan tanggapan yang khas terhadap sebagian besar komunikasi massa. Perlawanan yang sangat besar terhadap perubahan sikap menunjukkan bahwa sikap itu mencerminkan keterikatan yang cukup kuat. Kenyataan ini merupakan masalah utama dalam usaha mencapai perubahan untuk  mengatasi hambatan juga akan menghadapi sikap yang terikat kuat.

BAB III

KESIMPULAN

Prasangka adalah penilaian terhadap suatu kelompok atau seorang individu yang terutama didasarkan pada kelompok atau seorang individu yang terutama didasarkan pada keanggotaan kelompok orang itu. (David O. Sears, :149)

Teori prasangka :

1)      Teori Konflik Kelompok

2)      Teori Belajar Sosial

3)      Teori Kognitif

4)      Teori Psikodinamika

Pengaruh media dalam politik meliputi tahapan kekuatan yang besar, pengaruh yang minimal, dan pembaruan penghargaan.

Hambatan utama yang dihadapi media dalam kehidupan politik antara lain :

1)      Tingkat penyiaran yang rendah

2)      Penyiaran selektif

3)      Perlawanan terhadap persuasi

REFERENSI

O. Sears, David. et al. Psikologi Sosial. 1994. Jakarta: Erlangga.

http://smartpsikologi.blogspot.com/

http://ichwanmuis.com/

http://tomysmile.wordpress.com/

http://definisi-pengertian.blogspot.com/