Proses Belajar (Konsep)

Posted: January 10, 2011 in Psikologi Pendidikan

Proses belajar adalah tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi ke arah yang lebih maju dari keadaan sebelumnya.

Proses belajar dibedakan berdasarkan proses terjadinya, terbagi menjadi :

»        Pendapat I yakin proses belajar terjadi karena ada reinforcement sebagai motivasi siswa agar terjadi perubahan tingkah laku (behaviorisme), proses belajar terjadi sesuai tingkat perkembangan biologis seseorang (maturasionisme).

»        Pendapat ke II yakin proses belajar terjadi karena bentukan kita sendiri (selfcontructions).

Proses Belajar Menurut Para Ahli

Menurut Bruner terbagi 3 :

»        Fase informasi (tahap penerimaan materi)

»        Fase transformasi (tahap pengubahan materi)

»        Fase evaluasi (tahap penilaian materi)

Menurut Wittig (1981) terbagi menjadi :

»        Acquisition (tahap penerimaan informasi)

»        Storage (tahap penyimpanan informasi)

»        Retrieval (tahap mendapatkan kembali informasi)

Proses Belajar Berdasarkan Kerja Otak

»        Otak Kiri

Pada individu dengan pola belajar memakai otak kiri walau dapat membaca cepat, belum tentu pemahamannya baik. Untuk memahami apa yang dibaca , harus dengan membaca perlahan (silent) dan pelan pelan (slowly), sehingga kata kata tersebut akan masuk kedalam pikirannya. Biasanya menggunakan catatan, sehingga penyimpanan informasinya sistimatik.

Pada otak kiri, berpikirnya secara symbol dan dalam bentuk kata, sehingga mudah untuk menerjemahkan pikirannya ke kertas.

»        Otak Kanan

Proses berpikir pada individu dengan otak kanan adalah secara visual dan spasial(penglihatan dalam ruang).

Orientasi visualnya yang multidimensi membuat kecenderungan untuk melakukan kesalahan dalam menyalin huruf dan angka.

»        KeduaOtak

Merupakan gabungan dari proses belajar dengan dominan otak kiri dan otak kanan.

 

Referensi :

Muhibbin Syah. 2004. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

http://ajisaka.sosblog.com/index.htm

http://dokterwati.nurul.info/

Bandung, 27 Oktober 2010

dalam rangka memenuhi tugas

mata kuliah Psikologi Perkembangan I

 

Oleh :

Kelompok 3

Ferra Herawati (1209600035)

Indira A’ yuna (1209600044)

Muhammad Farid (1209600054)

Mochammad Rizki TB (1209600053)

Neina Qonita Istiqomah (1208600057)

Nuraini Azizah (1209600061)

Fakultas Psikologi

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SUNAN GUNUNG DJATI

B A N D U N G

2010


BAB I

PENDAHULUAN

Psikologi perkembangan sebagai cabang ilmu psikologi penalaah berbagai perubahan intraindividual dan perubahan-perubahan interindividual yang terjadi di dalam intraindividual. Tugas dari psikologi perkembangan tidak hanya mendeskripsikan tetapi juga menjelaskan atau mengeksplikasikan perubahan-perubahan perilaku menurut tingkat usia sebagai masalah hubungan anteseden (gejala yang mendahului) dan konsekuensinya.

Pengertian perkembangan berbeda dengan pertumbuhan, meskipun keduanya tidak berdiri sendiri. pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yaitu peningkatan ukuran dan struktur. Tidak saja anak menjadi lebih besar secara fisik, tetapi ukuran dan struktur rgandalam otak meningkat. Akibat adanya pertumbuhan otak anak memiliki kemampuan yang lebih besar untuk belajar, mengingat, dan berpikir. Sedangkan perkembangan berkaitan dengan perubahan kualitatif dan kuantitatif yang merupakan deretan progresif dari perubahan yang teratur dan koheren. Progresif menandai bahwa perubahannya terarah, membimbing mereka maju dan bukan mundur. Teratur dan koheren menunjukkan adanya hubungan nyata antara perubahan yang sebelumnya dan sesudahnya.

Istilah perkembangan berarti serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Seperti yang dikatakan oleh Van Den Daele “perkembangan berarti perubahan secara kualitatif”. Ini berarti bahwa perkembangan bukan sekedar penambahan beberapa sentimeter dari tinggi badan seseorang atau peningkatan kemampuan seseorang, melainkan suatu proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang kompleks.

 

BAB II

ISI

2.1       Isu-Isu Penting Perkembangan

Isu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah  masalah yang dikedepankan (untuk ditanggapi dsb). Isu-isu penting dalam perkembangan yaitu masalah-masalah yang dikedepankan dalam pembahasan perkembangan individu.

Menurut Miller (1993) dalam Desmita (2006), studi psikologi perkembangan pada dasarnya mengacu pada empat isu utama. Isu penting tersebut antara lain :

»        Sifat dasar manusia

»        Kualitas dan kuantitas

»        Natur dan nurture

»        Esensi perkembangan

Selain empat isu tersebut, kami tertarik pula untuk membahas isu :

»        Kontinuitas dan diskontinuitas

2.1.1    Sifat Dasar Manusia

Pandangan para ahli tentang perkembangan, erat sekali kaitannya dengan pandangannya mengenai sifat dasar manusia.Terdapat tiga pandangan dasar yang relevan dengan studi psikologi perkembangan yaitu :

  1. Pandangan Mekanistik

Pandangan mekanistik adalah suatu pandangan yang beranggapan bahwa semua benda di dunia, termasuk organisme hidup dapat dipahami dengan baik sebagai mesin. Terdapat asumsi yang menyatakan bahwa semua proses, termasuk proses psikologis, pada akhirnya dapat diredusir menjadi proses fisik dan kimiawi.

  1. Pandangan Organismik

Pandangan organismik adalah pandangan yang menganggap bahwa manusia merupakan suatu keseluruhan (gestalt), yang lebih daripada hanya penjumlahan dari bagian-bagiannya.

  1. Pandangan Konstekstual

Pandangan ini mengungkapkan bahwa perilaku mempunyai arti hanya dalam kaitannya dengan konteks sosial-historikal. Pandangan kontekstualis ini dilatarbelakangi oleh filsafat pragmatisme dari William James dan George Herbert Mead. (Disarikan dari Desmita, 2006: 29-30)

2.1.2    Kualitas dan Kuantitas

Perkembangan adalah perubahan yang sifatnya bertahap dan merupakan akumulasi dari perilaku dan kualitas pribadi yang sama yang sudah diperoleh sebelumnya. Dalam proses perkembangan itu terjadi pengayaan, penambahan, dan atau pengurangan melalui pengalaman atau interaksi individu dengan lingkungan. Jadi disaat anak memperoleh tambahan perilaku satu keterampilan baru, ia mengkombinasikan dan mengkombinasikan kembali perilaku atau ketrampilan tersebut dengan yang sudah ada untuk menghasilkan perilaku atau stabilitas yang semakin kompleks.

Dalam perkembangan bahasa, misalnya, dari mulai anak hanya bisa mengucapkan suatu suku kata, dua kata,dan seterusnya hingga beribu – ribu kata. Menurut pandangan ini kata pertama yang bisa diucapkan oleh anak sekalipun sebenarnya merupakan hasil akumulasi dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, meskipun sebenarnya merupakan pengalaman baru. Setiap perkembangan individu dianggap mulai suatu pola urutan perubahan yang berbeda secara kualitatif, tidak sekedar berbeda secara kuantitatif.

Dalam hal ini perkembangan individu dianggap berlangsung melalui terjadinya perubahan-perubahan perilaku yang relatif tiba-tiba dari suatu tahap ke tahap berikutnya. Jadi, disini terjadi peristiwa yang relatif tajam dari tahap perkembangan ketahap berikutnya.

2.1.3    Natur dan nurture

Natur dan nurture merupakan isu dasar yang menjadi perdebatan sengit dalam psikologi perkembangan. Natur (alam, sifat dasar) dapat diartikan sebagai sifat khas seseorang yang dibawa sejak kecil atau yang diwarisi sebagai sifat pembawaan. Sedangkan nurture (pemeliharaan, pengasuhan) dapat diartikan sebagai faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi individu sejak masa pembuahan sampai selanjutnya (Chaplin, 2002).

Isu natur dan nurture dalam psikologi perkembangan berkaitan dengan pertanyaan apakah pengetahuan dan tingkah laku berasal dari pembawaan genetik atau dari pengalaman yang diperoleh dari lingkungan? Untuk mengungkapkan kedua faktor ini, digunakan banyak istilah seperti nativisme-empirisme, endogen-eksogen, kematangan belajar, keturunan-lingkungan, biologi-kultur, diperoleh-memperoleh, serta bakat-pengalaman (Desmita, 2006: 32).

Contoh Kasus Nature dan Nurture

Berikut ini adalah beberapa contoh kasus yang menunjukkan bahwa baik nurture maupun nature ternyata sama-sama diperlukan dalam proses pemerolehan bahasa      manusia.

1.   Secara umum bayi memberikan reaksi dan menunjukkan aktivitas berbahasa terhadap lingkungan di sekitarnya meskipun ia tidak menyadari aktivitas tersebut. Ia mencoba mengeluarkan sejumlah potensi berupa bunyi bahasa atau kata dan secara teratur ia melakukan pengulangan. Jika tidak mendapat respon berupa pengakuan dari lingkungannya, seperti ayah, ibu atau saudaranya, maka bayi mengubah potensi tersebut dan mengulangi proses yang sama sampai ia mendapatkan pengakuan dari lingkungan (Pateda, 1991:102).

2.   Di sebuah desa di Perancis, pada tahun 1800, ditemukan anak laki-laki berusia 11-12 tahun yang tinggal di hutan dan sering menyusup ke desa untuk mencari makan. Ketika tertangkap dan dididik oleh direktur Institut Tuna Rungu yaitu Dr. Sicard, anak tersebut tidak dapat berbicara seperti manusia lain. Kemudian ia dididik oleh ahli lain, Jean-Marc-Gaspard Itard. Dibawah asuhan dan didikan yang baru ini, pola laku kehidupan Victor, nama yang diberikan pada anak laki-laki tersebut, dapat berubah namun tetap tidak mampu menggunakan bahasa (Dardjowidjojo, 2003:236-237).

3.  Di Los Angeles, pada tahun 1970, ditemukan seorang anak perempuan yang disekap oleh orang tuanya di gudang belakang rumahnya. Selama 13 tahun ia tinggal dan sering disiksa ayahnya di dalam gudang tersebut, dan hanya diberi makan namun tidak pernah diajak berbicara oleh orang tuanya. Setelah diselamatkan, anak perempuan tersebut diberi nama Ginie kemudian dilatih agar dapat berbahasa selama 8 tahun, namun ternyata sama halnya dengan Victor pada kasus sebelumnya, ia tetap tidak mampu menggunakan bahasa (Dardjowidjojo, 2003:237).

4.   Di Ohio, seorang anak perempuan berusia 6,5 tahun, yaitu Isabelle, diasuh oleh ibunya yang tuna wicara. Ia kemudian diasuh oleh Marie Mason, seorang pimpinan rumah sakit, dengan cara yang normal, dan ternyata Isabelle mampu menggunakan bahasa seperti anak-anak normal lainnya (Dardjowidjojo, 2003:237).

Pada contoh kasus pertama yang berhubungan dengan bayi pada umumnya, tampak bahwa memang manusia mempunyai bekal bawaan atau nature untuk menguasai bahasa dan dengan dibantu nurture maupun pengaruh dari lingkungan seperti orang tua atau saudaranya, bayi tersebut mampu mengembangkan bekal bawaannya tersebut sampai akhirnya ia dapat menggunakan bahasa dengan sempurna.

Sedangkan pada contoh kasus kedua dan ketiga, meskipun Victor dan Isabelle juga memiliki kemampuan bawaan untuk menguasai bahasa atau nature, namun karena tidak adanya pengaruh dari lingkungan semenjak mereka dilahirkan atau nurture, Victor tinggal di hutan dan Ginie yang meskipun tinggal dengan orangtuanya sendiri namun hanya disiksa dan tidak pernah diajak bicara, maka usaha yang diupayakan ketika mereka telah berusia lebih dari 10 tahun agar kedua anak tersebut dapat menggunakan bahasa menjadi sia-sia belaka.

Untuk kasus keempat, yaitu Isabelle, proses pemerolehan bahasa yang bersifat nurture yang diberikan di usia yang tergolong lebih muda daripada Victor dan Ginie, yaitu 6,5 tahun, ternyata memberikan bantuan yang cukup besar terhadap kemampuan bawaannya atau nature sehingga ia mampu menggunakan bahasa. Dengan demikian tampak bahwa antara sifat pemerolehan bahasa nature dan nurture ternyata yang satu tidaklah lebih penting dari yang lain karena tanpa satu sama lain, pemerolehan bahasa tidak dapat berjalan dengan baik bahkan dapat menemui kegagalan.

2.1.4    Esensi Perkembangan

Menurut Miller (1993) dalam Desmita (2006), pandangan mengenai esensi perkembangan ini tergantung pada asumsi teoritis dan metode penelitian dalam beberapa dimensi berikut :

»        Level analisis dari molekular ke molar

»        Apakah penekanannya pada struktur atau pada proses?

»        Isi pembahasan apakah yang dianggap penting?

»        Apakah penekanannya pada perilaku yang tampak atau pada yang bersifat terselubung?

»        Metodologi apakah yang digunakan untuk meneliti perkembangan?

Bagi Piaget, yang menjadi esensi perkembangan adalah perkembangan kognitif. Menurut pandangan kontemporer (seperti Santrock, 1995; Seifert & Hoffnung, 1994), esensi perkembangan meliputi 3 bidang utama, yaitu perkembangan fisik, kognitif, dan psikososial.

Terdapat beberapa unit analisis tentang apa yang berkembang, diantaranya struktur kognitif, struktur psikis, strategi proses informasi, penentuan pola tindakan, eksplorasi persepsi, dan perangkat kejiwaan.

2.1.5    Kontinuitas dan Diskontinuitas

Sampai saat ini para ahli yang masih memperdebatkan apakah perkembangan itu merupakan suatu proses yang berkesinambungan atau tidak berkesinambungan? Banyak sekali pendapat para ahli yang berbeda-beda.ada yang menekankan bahwa perkembangan itu bersifat kontinuitas, dan ada pula yang menekankan bahwa perkembangan itu bersifat diskontinuitas.

Para ahli kontinuitas meyakini bahwa perkembangan itu terjadi secara halus dan stabil melalui penambahan atau peningkatan bertahap dalam hal kemampuan, ketrampilan, dan pengetahuan baru pada suatu langkah yang relatif sama. Itulah sekelumit tentang teori kontinuitas dan diskontinuitas dalam perkembangan.

Disisi lain para ahli yang menekankan pada ketidaksinambungan dalam perkembangan menganggap bahwa proses pengembangan individu melibatkan tahapan-tahapan yang berbeda secara kualitas maupun kwantitas. Pada paham ini perubahan terjadi secara tiba-tiba dan masa transisinya relatif tajam dari satu tahap ketahap berikutnya. Para ahli diskontinuitas menyatakan bahwa beberapa aspek perkembagan muncul secara independent dari apa yang muncul sebelumnya dan tidak dapat diprediksi dari perilaku sebelumnya.

Perkembangan bersifat kontinuitas (berkesinambungan) maksudnya bahwa perkembangan itu belangsung secara bertahap dan terus menerus sejak si anak masih dalam kandungan sampai anak mencapai kematangan. Apa yang terjadi pada suatu tahap, maka akan mempengaruhi tahap berikutnya. Sebagai contoh, pada waktu anak kelas 1 SD pelajaran yang ia dapatkan juga akan mempengaruhi pelajaran dikelas 2 SD juga, pelajaran yang didapat dikelas 2 pun juga akan mempengaruhi pelajaran di kelas 3SD, begitu seterusnya sampai akhir si anak tersebut memperoleh pendidikan.

Contoh yang lainnya yaitu dalam hal perkembangan bahasa. Ketika masih bayi, seseorang hanya bisa mengucapkan beberapa suku kata saja, namun semakin bertambahnya usia perkembangan bahasa yang ia miliki akan bertambah dan terus bertambah sampai beribu – ribu kata. Perkembangan bahasa ini merupakan hasil dari pengalaman- pengalaman sebelumnya, sehingga menghasilkan kemampuan dan perilaku yang lebih kompleks dan lebih sempurna.

Selanjutnya yaitu perkembangan bersifat diskontinuitas atau tidak berkesinambungan. Perkembangan diskontinuitas ini merupakan proses perkembangan yang melibatkan proses – proses berbeda secara kualitatif. Perubahan – perubahan seseorang terjadi secara tiba – tiba dari suatu tahap ke tahap berikutnya. Jadi, memang sangat berbeda dengan perkembangan kontinuitas tadi yang tahapannya saling mempengaruhi.

Sebagai contoh perkembangan yang bersifat diskontinuitas yaitu tahap – tahap perkembangan cara berpikir anak. Perkembangan ini tidak menggambarkan adanya perbedaan pada tahap sebelumnya secara kuantitatif, melainkan secara kualitatif tetapi bukan sekedar dari pengalaman – pengalaman sebelumnya.

Mereka yang mengatakan sinambung berpendapat bahwa perkembangan itu terjadi secara bertahap dan saling berkaitan satu dengan yang lainya. Seperti contoh anak yang mendapatkan tambahan ilmu dari lingkungan maka sikapnya akan berubah. Dengan demikian satu proses akan mempengaruhi proses yang lain.

Sedangkan mereka yang setuju dengan diskontinuitas atau tidak sinambung beranggapan bahwa perkembangan itu diarahkan oleh faktor faktor internal biologis. Jadi perkembangan itu melalui proses yang berbeda antara proses satu dengan yang lainya. Para ahli menyatakan bahwa beberapa aspek perkembangan muncul secara independen dari apa yang sudah muncul sebelumnya dan tidak bisa diprediksikan dari perilaku-perilaku sebelumnya.

Para ahli kontinuitas meyakini bahwa perkembangan itu terjadi secara halus dan stabil melalui penambahan atau peningkatan bertahap dalam hal kemampuan, ketrampilan, dan pengetahuan baru pada suatu langkah yang relatif sama. Itulah sekelumit tentang teori kontinuitas dan diskontinuitas dalam perkembangan.

Disisi lain para ahli yang menekankan pada ketidaksinambungan dalam perkembangan menganggap bahwa proses pengembangan individu melibatkan tahapan-tahapan yang berbeda secara kualitas maupun kwantitas. Pada paham ini perubahan terjadi secara tiba-tiba dan masa transisinya relatif tajam dari satu tahap ketahap berikutnya. Para ahli diskontinuitas menyatakan bahwa beberapa aspek perkembagan muncul secara independent dari apa yang muncul sebelumnya dan tidak dapat diprediksi dari perilaku sebelumnya.

2.2       Prinsip-Prinsip Perkembangan

Pertumbuhan dan perkembangan manusia secara alamiah mengikuti pola teratur menurut prinsip atau hukum perkembangan. Menurut Sinolungan (1997), prinsip-prinsip perkembangan adalah pola-pola umum dalam suatu proses perubahan alamiah yang teratur, universal dan berkesinambungan, yang dimaksud dengan perubahan yang teratur adalah pertumbuhan pada manusia yang berjalan normal mengikuti tata urutan yang saling berkaitan.

Prinsip-prinsip perkembangan pada umumnya antara lain :

  1. Bahwa perkembangan melibatkan perubahan. Tujuan perkembangan adalah realisasi diri atau pencapaian kemampuan bawaan. Sikap anak terhadap perubahan dipengaruhi oleh kesadaran akan perubahan tersebut, bagaimana pengaruhnya terhadap perilaku anak, sikap social terhadap perubahan ini, bagaimanan mereka mempengaruhi penampilan anak, dan bagaimana mereka mempengaruhi penampilan anak, dan bagaimanan kelompok sosial bereaksi terhadap anak ketika perubahan ini terjadi.
  2. Perkembangan awal lebih kritis dari pada perkembangan selanjutnya. Bahwa perkembangan awal lebih penting dari pada perkembangan selanjutnya, karena dasar awal sangat dipengaruhi oleh proses belajar dan pengalaman. Apabila perkembangan membahayakan penyesuaian pribadi dan sosial anak, ia dapat diubah sebelumnya menjadi pola kebiasaan.
  3. Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar. Perkembangan menekankan kenyataan bahwa perkembangan timbul dari interaksi kematangan dan belajar dengan kematangan yang menetapkan batas dari perkembangan.
  4. Pola perkembangan dapat diramalkan. Walaupun pola yang dapat diramalakan ini dapat diperlambat dan dipercepat oleh kondisi lingkungan di masa pra lahir dan pascalahir.
  5. Pola perkembangan mempunyai karakteristik yang dapat diramalkan. Yang penting diantaranya adalah persamaan pola perkembangan bagi semua anak, perkembangan berlangsung dari tanggapan umum ke tanggapan spesifik, perkembangan terjadi secara berkesinambungan, berbagai bidang perkembangan dengan kecepatan yang berbeda, dan terdapat korelasi dalam perkembangan.
  6. Terdapat perbedaan individu dalam berkembang. Bahwa terdapat perbedaan individu dalam perkembangan yang sebagian karena pengaruh bawaan dan sebagian karena kondisi lingkungan. Ini berlaku baik dalam perkembangan fisik maupun psikologis. Kepentingan untuk mengetahui bahwa terdapat perbedaan individu dalam perkembangan adalah bahwa ia mennekankan pentingnya melatih anak sesuai dengan kebutuhannya dan tidak mengharapkan perilaku yang sama pada semua anak.
  7. Periode pola perkembangan. Periode perkembangan biasanya diebut periode pralahir, masa neonatus, masa bati, masa kanak-kanak, akhir masa kanak-kanak, dan masa puber. Dalam semua periode ini terdapat saat-saat keseimbangan dan ketidakseimbangan, serta pola perilaku yang normal dan yang terbawa dari periode sebelumnya biasanya disebut perilaku “bermasalah”.
  8. Pada setiap periode perkembangan terdapat harapan sosial. Harapan sosial ini terbentuk tugas perkembangan yang menungkinkan para orang tua dan guru mengetahui pada usia berapa anak-anak mampu menguasaiberbagai pola perilaku yang diperlukan bagi penyesuaian yang baik.
  9. Setiap bidang perkembangan mengandung bahaya dan potensial. Bahaya tersebut terjadi baik fisik maupun psikologis yang dapat mengubah pola perkembangan.

10.  Kebahagiaan bervariasi pada berbagai periode perkembangan. Tahun pertama kehidupan biasanya paling bahagia dan masa puber biasanya yang paling tidak bahagia.

Adapun prinsip- prinsip perkembangan individu, yaitu :

  1. Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti.
  2. Semua aspek perkembangan saling berhubungan.
  3. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan.
  4. Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas.
  5. Setiap individu normal akan mengalami tahapan perkembangan.
  6. Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu.
  7. Bagaimana pola atau arah perkembangan inidividu?

Arah atau pola perkembangan sebagai berikut :

  1. Cephalocaudal & proximal-distal (perkembangan manusia itu mulai dari kepala ke kaki dan dari tengah (jantung, paru dan sebagainya) ke samping (tangan).
  2. Struktur mendahului fungsi.
  3. Diferensiasi ke integrasi.
  4. Dari konkret ke abstrak.
  5. Dari egosentris ke perspektivisme.
  6. Dari outer control ke inner control.

Prinsip perkembangan menurut Hurlock (1991) terbagi tujuh. Prinsip-prinsip ini merupakan ciri mutlak dari pertumbuhan dan perkembangan yang dialami oleh seorang anak, ketujuh prinsip tersebut adalah :

  1. Adanya perubahan.

Manusia tidak pernah dalam keadaan statis dia akan selalu berubah dan mengalami perubahan mulai pertama pembuahan hingga kematian tiba. Perbuhan tersebut bisa menanjak, kemudian berada di titik puncak kemudian mengalami kemunduran.

Selama proses perkembangan seorang anak ada beberapa ciri perubahan yang mencolok, yaitu ;

  • Perubahan ukuran, Perubahan fisik yang meliputi : tinggi, berat, organ dalam tubuh, perubahan mental. Perubahan mental meliputi : memori, penalaran, persepsi, dan imajinasi.
  • Perubahan proporsi, Misalnya perubahan perbandingan antara kepala dan tubuh pada seorang anak.
  • Hilangnya ciri lama, Misalnya ciri egosentrisme yang hilang dengan sendirinya berganti dengan sikap prososial.
  • Mendapatkan ciri baru, Hilangnya sikap egosentrisme anak akan mendapatkan ciri yang baru yaitu sikap prososial.
  1. Perkembangan awal lebih kritis daripada perkembangan selanjutnya.

Lingkungan tempat anak menghaiskan masa kecilnya akan sangat berpengaruh kuat terhadap kemampuan bawaan mereka. Bukti-bukti ilmiaih telah menunjukkan bahwa dasar awal cenderung bertahan dan mempengaruhi sikap dari perilaku anak sepanjang hidupnya, terdapat 4 bukti yang membenarkan pendapat ini.

  1. Hasil belajar dan pengalaman merupakan hal yang dominan dalam perkembangan anak
  2. Dasar awal cepat menjadi pola kebiasaan, hal ihi tentunya akan berpengaruh sepanjang hidup dalam penyesuaian sosial dan pribadi anak
  3. Dasar awal sangat sulit berubah meskipun hal tersebut salah
  4. Semakin dini sebuah perubahan dilakukan maka semakin mudah bagi seorng anak untuk mengadakan perubahan bagi dirinya.
    1. Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar

Perkembangan seorang anak akan sangat diperngaruhi oleh proses kematangan yaitu terbukanya karateristik yang secara potensial sudah ada pada individu yang berasal dari warisan genetik individu. Seperti misalnya dalam fungsi filogentik yaitu mmerangkak, duduk kemudian berjalan. Sedangkan arti belajar adalah perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha. Melalui belajar ini anak anak memperoleh kemampuan menggunakan sumber yang diwariskan. Hubugan antara kematangan dan hasil belajar ini bisa dicontohkan pada saat terjadinya masa peka pada seorang anak, bila pembelajaran itu diberikan pada saat masa pekanya maka hasil dari pembelajaran tersebut akan cepat dikuasai oleh anak, demikian pula sebaliknya.

  1. Pola perkembangan dapat diramalkan

Dalam perkembangan motorik akan mengikuti hukum chepalocaudal yaitu perkembangan yang menyebar keseluruh tubuh dari kepala ke kaki ini berarti bahwa kemajuan dalam struktur dan fungsi pertama-tama terjadi di bagian kepala kemudian badan dan terakhir kaki. Hukuk yang kedua yaitu proxmodistal perkembangan dari yang dekat ke yang jauh. Kemampuan jari-jemari seorang anak akan didahului oleh ketrampilan lengan terlebih dahulu.

  1. Pola perkembangan mempunyai karateristik yang dapat diramalkan

Karateristik tertentu dalam perkembangan juga dapat diramalkan, ini berlaku baik untuk perkembangan fisik maupun mental. Semua anak mengikuti pola perkembangan yang sama dari saatu tahap menuju tahap berikutnya. Bayi berdiri sebelum dapat berjalan. Menggambar lingkaran sebelum dapat menggambar segi empat. Pola perkembangan ini tidak akan berubah sekalipun terdapat variasi individu dalam kecepatan perkembangan.

Pada anak yang pandai dan tidak pandai akan mengikuti urutan perkembangan yang sama seperti anak yang memiliki kecerdasan rata-rata. Namun ada perbedaan mereka yang pandai akan lebih cepat dalam perkembangannya dibandingkan dengan yg memiliki kecerdasan rata-rata, sedangkan anak yang bodoh akan berkembanga lebih lambat.

Perkembangan bergerak dari tanggapan yang umum menuju tanggapan yang lebih khusus. Misalnya seorang bayi akan mengacak-acak mainan sebelum dia mampu melakukan permainan itu dengan jari-jarinya. Demikian juga dengan perkembangan emosi, anak akan merespon ketekutan secara umum pada suatu hal yang baru namun selanjutnya akan merepon ketakutan secara khusus pada hal yang baru tersebut.

Perkembangan berlangsung secara berkesinambungan sejak dari pembuahan hingga kematian, namun hal ini terjadi dalam berbagai kecepatan, kadang lambat tapi kadang cepat. Perbedaan kecepatan perkembangan ini terjadi pada setiap bidang perkembangan dan akan mencapai puncaknya pada usia tertentu. Seperti imajinasi kreatif akan menonjol di masa kanak-kanak dan mencapai puncaknya pada masa remaja. Berkesinambungan memiliki arti bahwa setiap periode perkembangan akan berpengaruh terhadap perkembangan selanjutnya.

  1. Terdapat perbedaan individu dalam perkembangan

Walaupun pola perkembangan sama bagi semua anak, setiap anak akan megikuti pola yang dapat diramalkan dengan cara dan kecepatanya sendiri. Beberapa anak berkembang dengan lancar, bertahap langkah demi langkah, sedangkan lain bergerak dengan kecepatan yang melonjak, dan pada anak lain terjadi penyimpangan. Perbedaan ini disebabkan karena setiap orang memiliki unsur biologis dan genetik yang berbeda. Kemudian juga faktor lingkungan yang turut memberikan kontribusi terhadap perkembangan seorang anak. Misalnya perkembangan kecerdasan dipengaruhi oleh sejumlah faktor seperti kemampuan bawaan, suasana emosional, apakah seorang anak didorong untuk melakukan kegiatan intelektual atau tidak. Dan apakah dia diberi kesempatan untuk belajar atau tidak.

Selain itu meskipun kecepatan perkembangan anak berbeda tapi pola perkembangan tersebut memiliki konsistensi perkembangan tertentu. Pada anak yang memiliki kecerdasan rata-rata akan cenderung memiliki kecerdasan yang rata-rata pula ketika menginjak tahap perkembangan berikutnya.
Perbedaan perkembangan pada tiap individu mengindikasikan pada guru, orang tua, atau pengasuh untuk menyadari perbedaan tiap anak yang diasuhnya sehingga kemampuan yang diharapkan dari tiap anak seharusnya juga berbeda. Demikian pula pendidikan yang diberikan harus bersifat perseorangan.

  1. Setiap tahap perkembangan memiliki bahaya yang potensial

Pola perkembangan tidak selamanya berjalan mulus, pada setiap usia mengandung bahaya yang dapat mengganggu pola normal yang berlaku. Beberapa hal yang dapat menyebabkan antara lain dari lingkungan dari dari anak itu sendiri. Bahaya ini dapat mengakibatkan terganggunya penyesuaian fisik, psikologis dan sosial. Sehingga pola perkembangan anak tidak menaik tapi datar artinya tidak ada peningkatan perkembangan. Dan dapat dikatakan bahwa anak sedang mengalami gangguan penyesuaian yang buruk atau ketidakmatangan.
Peringatan awal adanya hambatan atau berhentinya perkembangan tersebut merupakan hal yang penting karena memungkinkan pengasuh (Orangtua, guru dll) untuk segera mencari penyebab dan memberikan stimulasi yang sesuai.

BAB III

PENUTUP

 

Isu penting perkembangan antara lain :

»        Sifat dasar manusia

»        Kualitas dan kuantitas

»        Natur dan nurture

»        Esensi perkembangan

»        Kontinuitas dan diskontinuitas

Prinsip-prinsip perkembangan yaitu :

»        Adanya perubahan.

»        Perkembangan awal lebih kritis dari pada perkembangan selanjutnya.

»        Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar.

»        Pola perkembangan dapat diramalkan.

»        Terdapat perbedaan individu dalam berkembang.

»        Periode pola perkembangan.

»        Pada setiap periode perkembangan terdapat harapan sosial.

»        Setiap bidang perkembangan mengandung bahaya dan potensial.

»        Kebahagiaan bervariasi pada berbagai periode perkembangan.

»        Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti.

»        Semua aspek perkembangan saling berhubungan.

»        Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan.

»        Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas.

»        Setiap individu normal akan mengalami tahapan perkembangan.

»        Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Chaplin, J.P. (2002). Kamus Psikologi. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Desmita. (2006). Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Hurlock, Elizabeth. (1994). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.

Reasoner, R. (2004). The True Meaning of Self-Esteem. http://www.self-esteem-nase.org/whatisselfesteem.shtml

http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/isu-remaja.html

http://ilmu-psikologi.blogspot.com/2009/05/prinsip-prinsip-perkembangan.html

http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/25/kontinuitas-vs-diskontinuitas-dalam-perkembangan/

Dollard & Miller

Posted: January 10, 2011 in Psikologi Kepribadian

dalam rangka memenuhi tugas

mata kuliah Psikologi Kepribadian II

Oleh

Neina Qonita Istiqomah       NIM. 1209600057

Muhammad Farid                   NIM. 1209600054

Nuraini Azizah                          NIM. 1209600061

Pahmi Taofik                             NIM. 1209600064

Fakultas Psikologi

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SUNAN GUNUNG DJATI

B A N D U N G

2010


BAB I

PENDAHULUAN

John Dollard dan Neil E. Miller keduanya mengabdi di Institute Of Human Relation, antara Dollard dan Neil E. Miller berbeda dalam mengambil suatu gagasan namun dengan pendekatan psikoanalisis antropologi dan sosial keduanya melakukan sebuah gagasan teori yang nantinya sangat berpengaruh di bidang psikologi yang dikenal dengan stimulus- response theory yang berkaitan dengan teori belajar.

Dari teori yang diketemukan oleh Dollard dan Miller bahwa mereka beranggapan bahwa kebiasaan merupakan salah satu elemen dalam struktur kepribadian, kemudian bagaimana Dollard dan Miller menjelaskan dinamika kepribadian, perkembangan kepribadian serta tingkah laku abnormal.

BAB II

ISI

2.1       BIOGRAFI

2.1.1    John Dollard

John Dollard dilahirkan di Menasha, Wisconsin, pada tanggal 29 Agustus 1900. Ia menerima gelar A.B. dari Universitas Wisconsin pada tahun 1922 dan berturut-turut meraih M.A. (1930) dan Ph.D.-nya (1931) dalam bidang sosiologi di Universitas Chicago. Dari tahun 1926 sampai de­ngan 1929 la menjadi salah seorang pem­bantu rektor Universitas Chicago.

Pada tahun 1932 ia menerima jabatan rektor di bidang antropologi di Universitas Yale dan pada tahun berikutnya menjadi rektor di bidang sosiologi pada Institut of Human Relations yang baru saja didirikan. Pada tahun 1935, ia menjadi peneliti pada institut tersebut dan pada tahun 1948 menjadi peneliti dan profesor di bidang psikologi. Ia dipensiunkan sebagai profesor pada tahun 1969. Ia memperoleh pendidikan dalam psikoanalisis dari Institut Berlin dan menjadi anggota dari Western New England Psychoanalytic Society. Ke­yakinan Dollard dan dedikasi pribadinya terhadap penyatuan ilmu-ilmu pengetahuan sosial tercermin tidak hanya dalam tu­lisan- tulisannya tetapi juga dalam fakta bahwa ia pernah meng­emban tugas- tugas akademik di bidang antropologi, sosiologi, dan psikologi pada satu universitas.

Dollard telah menulis banyak artikel teknis da­lam ilmu-ilmu pengetahuan sosial mulai dari etnologi sampai psikoterapi. Ia telah mengarang sejumlah buku yang juga mencer­minkan minatnya yang luas itu. Caste and class in a Southern town (1937) adalah suatu penelitian lapangan yang sangat di­hargai mengenai peranan orang- orang kulit hitam dalam suatu masyarakat di bagian selatan di AS dan merupakan salah satu contoh karya awal analisis kebudayaan dan kepribadian. Karya ini disusul oleh sebuah buku serupa, Children of bondage (1940), yang ditulis bersama Allison Davis. Ia menerbitkan dua buku berisi analisis psikologis tentang rasa takut: Victory over fear (1942) dan Fear in battle (1943); dan suatu monograf penting mengenai penggunaan bahan sejarah kehidupan, Criteria for the life history (1936). Bersama Frank Auld dan Alice White ia menerbitkan Steps in psychotherapy (1953), sebuah buku yang menyajikan suatu metode psikoterapi yang mencakup pendes­kripsian yang rinci tentang individu yang sedang dalam pera­watan, dan bersama Frank Auld menerbitkan Scoring human motives (1959).

2.2.2    Neal Miller

Neal Miller dilahirkan di Milwau­kee, Wisconsin, pada tanggal 3 Agustus 1909 dan meraih gelar B.S.-nya dari Universitas Washington pada tahun 1931. Ia meraih gelar M,.A.-nya dari Universitas Stanford pada tahun 1932 dan Ph.D.-nya di bidang psikologi dari Universitas Yale pada tahun 1935. Dari tahun 1932 sampai dengan tahun 1935 ia menjadi asisten di bidang Psikologi pada Institute of Human Relations dan antara tahun 1935-1936 ia mendapat beasiswa dari Social Science Researc Council dan memanfaatkannya untuk mengikuti pendidikan analisis pada Institut Psikoanalisis Wina. Dari tahun 1936 sampai tahun 1940, menjadi asisten dosen dan selanjutnya lektor pada Institute of Human Relations. Ia menjadi peneliti dan lektor pada tahun 1941. Dari tahun 1942 sampai tahun 1946, ia memimpin suatu proyek penelitian psikologi untuk Angkatan Udara AS. Pada tahun 1946, ia kembali ke Universitas Yale, menjadi profesor dalam program kuliah James Rowland Angell di bidang psikologi pada tahun 1952. Ia menetap di Yale sampai tahun 1966n dan selanjutnya menjadi profesor psikologi dan kepala Laboratorium Psikologi Fisiologis pada Universitas Rockefeller.

Selain karena kerjasamanya dengan John Dollard, Miller juga sangat terkenal di kalangan psikologi berkat karya eksperimental dan teoritisnya yang cermat tentang proses pemerolehan dorongan- dorongan, hakikat perkuatan, dan penelitian tentang konflik. Penelitian awalnya semata- mata bersifat behavioral, tetapi sejak tahun 1950-an Miller mulai menaruh perhatian pada mekanisme-­ mekanisme fisiologis yang mendasari dorongan dan perkuatan serta gejala- gejala sejenis lainnya. Karya ini disajikan secara rinci dalam terbitan-terbitan jurnal, meskipun banyak di anta­ranya telah pula diringkaskan dalam tiga bab buku pegangan yang sangat elok (Miller, 1944, 1951a, 1959). Penghargaan atas sumbangan-sumbangannya tercermin pada berbagai tanda jasa yang diterimanya. Ini meliputi keanggotaannya dalam National Academy of Science yang bergengsi itu, terpilih menjadi ketua American Psychological Association (1959), menerima medali Warren dari Society of Experimental Psychologist (1957), dan menerima Medal of Science dari Presiden (1965), suatu tanda kehormatan yang hanya dimilikinya bersama dua ilmuwan behavioral lain.

Miller dan Dol­lard bersama- sama telah menulis dua buku yang berisi penerapan versi yang disederhanakan dari teori Hull pada masalah- masalah yang menjadi garapan psikolog sosial (Social leraning and imitation, 1941) dan pada masalah- masalah yang menjadi perhatian psikolog klinis atau psikolog kepribadian (Personality and psychotherapy, 1950).

2.2       TEORI

Dollard dan Miller bekerja sama di Institute of Human Relations, Universitas Yale, mengembangkan pendekatan interdisiplin tiga bidang ilmu; teori belajar, psikoanalitik, dan antropologi sosial. Teori mereka banyak dipengaruhi oleh Teori Hull-Spence, yang terutama menangani peran motivasi dalam tingkah laku dan bagaimana motivasi belajar dapat diperoleh. Mereka berusaha menjelaskan konsep-konsep pentingdari psikoanalitik, seperti kecemasan-konflik-represi menggunakan prinsip-prinsip psikologi belajar dan kondisi sosial dari belajar. Menurut Dollard dan Miller, bentuk sederhana dari teori belajar adalah “mempelajari keadaan dimana terjadi hubungan antara respon dengan cue-stimulusnya”. Bahasan mengenai prinsip-prinsip asosiasi, ganjaran atau reinforsemen menjadi sangat penting.

Struktur kepribadian

Kebiasaan (habit) adalah satu-satunya elemen dalam teori Dollard dan Miller yang memiliki sifat struktural. Habit adalah ikAtan atau asosiasi antara stimulus dengan respon, yang relative stabil dan bertahan lama dalam kepribadian. Karena itu gambaran kebiasaan seseorang tergantung pada event khas yang menjadi pengalamannya. Namun susunan kebiasaan itu bersifat sementara. Maksudnya, kebiasaan hari ini mungkin berubah berkat pengalaman baru keesokan harinya. Dollard dan Miller menyerahkan kepada ahli lain rincian perangkat habit tertentu yang mungkin menjadi ciri seseorang, karena mereka lebih memusatkan bahasannya mengenai proses belajar, bukan kepemilikan atau hasilnya. Namun mereka menganggap penting kelompok habit dalam bentuk stimulus verbal dari orang itu sendiri atau dari orang lain, dan responnya yang umum juga berbentuk verbal. Dollard dan Miller juga mempertimbangkan dorongan sekunder (secondary drives), seperti rasa takut sebagai bagian kepribadian yang relative stabil. Dorongan primer (primary drives) dan hubungan stimulus-respon yang bersifat bawaan (innate) juga menyumbang struktur kepribadian, walaupun kurang penting dibanding habit dan dorongan sekunder, karena dorongan primer dan hubungan stimulus-respon bawaan ini menentukan taraf umum seseorang, bukan membuat seseorang menjadi unik.

Dinamika Kepribadian

Motivasi – Dorongan (Motivation – Drives)

Dollard dan Miller sangat memerhatikan motivasi atau drive. Mereka tidak menggambar atau mengklasifikasi motif tertentu, tetapi memusatkan perhatiannya pada motif-motif yang penting, seperti kecemasan. Dalam menganalisa perkembangan dan elaborasi kecemasan inilah mereka berusaha menggambarkan proses umum yang mungkin berlaku untuk semua motif. Dalam kehidupan manusia banyak sekali muncul dorongan yang dipelajari (secondary drives) dari atau berdasarkan dorongan primer seperti lapar, haus dan seks. Dorongan yang dipelajari itu berperan sebagai wajah semu yang fungsinya menyembunyikan dorongan bawaan. Kenyataannya, di masyarakat Barat yang modern, dari pengamatan sepintas terhadap masyarakat dewasa, pentinganya dorongan primer sering tidak jelas. Sebaliknya, yang kita lihat adalah dampak dari dorongan yang dipelajari seperti kecemasan, malu dan kebutuhan kepuasan. Hanya dalam proses perkembangan masa anak-anak atau dalam periode krisis dapat dilihat jelas beroperasinya dorongan primer. Dollard dan Miller mengemukakan bahwa bukan hanya dorongan primer yang diganti oleh dorongan sekunder, tetapi hadiah atau penguat yang primer ternyata juga diganti dengan hadiah atau penguat sekunder. Misalnya senyum orang tua secara bijak terus menerus dihubungkan dengan aktivitas pemberian makanan, penggantian popok dan aktivitas yang memberi kenyamanan lainnya: ”senyum” akan menjadi hadiah sekunder yang sangat kuat bagi bayi sampai dewasa.

Penting diperhatikan bahwa kemampuan hadiah/penguat sekunder untuk memperkuat tingkah laku itu tidak tanpa batas. Hadiah/penguat sekunder lama kelamaan menjadi tidak efektif , kecuali kalau hadiah/penguat sekunder itu kadang masih berlangsung bersamaan dengan penguat primer.

Dollard dan Miller setuju dengan Freud yang memandang kecemasan adalah tanda bahaya, semacam antisipasi menghindari rasa sakit (yang pernah dialami pada masa lalu). Behaviorisme menjelaskan perolehan kecemasan sebagai tanda bahaya itu melalui proses kondisioning klasik, dan penyebarannya ke dalam pribadi dijelaskan melalui perolehan reinforsemen dan generalisasi stimulus.

Proses Belajar

Dollard dan Miller melakukan eksperimen rasa takut terhadap tikus. Peralatannya adalah kotak yang dasarnya diberi aliran listrik yang menimbulkan rasa sakit. Kotak itu diberi sekat yang dapat diloncati tikus, sisi satu diberi warna putih dan sisi lain diberi warna hitam. Dibunyikan bel bersamaan dengan pemberian kejutan listrik pada kotak putih yang membuat tikus kesakitan, yang segera dihentikan kalau tikus itu meloncat dari kotak putih ke kotak hitam. Ternyata sesudah terjadi proses belajar, warna kotak yang putih dan atau bunyi bel saja (tanpa kejutan listrik) telah membuat tikus meloncati sekat. Ini adalah reaksi takut terhadap rasa sakit. Percobaan ditingkatkan dengan menutp sekat dan memasang pengumpil yang harus ditekan tikus agar pintu penghubung ke sekat hitam terbuka (tikus bisa lari ke kotak hitam yang bisa bebas dari kejutan listrik dan bel berhenti). Ternyata kemudian tikus berhenti berusaha menabrak sekat (yang tidak dapat diloncati lagi), dan menemukan cara baru yakni menekan pengumpil untuk membuaka pintu sekat. Eksperimen ini mendemonstrasikan beberapa prinsip belajar yakni;

  1. Classical conditioning (tikus terkondisi merespon bel sebagai tanda aka nada kejutan listrik)
  2. Instrumental learning (tikus belajar respon meloncati sekat sebagai instrumental menghindari rasa sakit)
  3. Extinction (tingkah laku meloncat tidak dilakukan lagi, diganti dengan menekan pengumpil)
  4. Tampak pula primary drive (rasa sakit dan tertekan) memunculkan learned atau secondary drive (rasa takut) yang kemudian memotivasi tingkah laku organisme bahkan ketika sumber rasa sakit sudah tidak muncul.

Dari eksperimen-eksperimennya, Dollard dan Miller menyimpulkan bahwa sebagian besar dorongan sekunder yang dipelajari manusia, dipelajari melalui belajar rasa takut dan anxiety. Mereka juga menyimpulkan bahwa untuk bisa belajar orang harus menginginkan sesuatu, mengenali sesuatu, mengerjakan sesuatu dan mendapat sesuatu (want something, notice something, do something,  get something). Inilah yang kemudian menjadi empat komponen utama belajar, yakni drive, cue, response dan reinforcement.

  1. Drive adalah stimulus (dari dalam diri organisme) yang mendorong terjadinya kegiatan tetapi tidak menentukan bentuk kegiatannya. Kekuatan drives tergantung kekuatan stimulus yang memunculkannya. Semakin kuat drivenya, semakin kuat tingkah laku yang dihasilkannya.
  2. Cue adalah stimulus yang member petunjuk perlunya dilakuakn respon yang sesungguhnya. Pengertian cue mirip dengan pengertian realitas subjektif dari Rogers, yakni cue adalah petunjuk yang ada pada stimulus sepanjang pemahaman subjektif individu.
  3. Response adalah aktivitas yang dilakukan seseorang. Menurut Dollard dan Miller, sebelim suatu respon dikaitkan dengan suatu stimulus, respon itu harus terjadi terlebih dahulu. Dalam situasi tertentu, suatu stimulus menimbulkan respon-respon yang berurutan, disebut initial hierarchy of response. Belajar akan menghilangkan beberapa respon yang tidak perlu, menjadi resultant hierarchy yang lebih efektif mencapai tujuan yang diharapkan.
  4. Reinforcement maksudnya agar belajar terjadi, harus ada reinforcement atau hadiah. Dollard dan Miller mendefinisikan reinforcement sebagai drive pereda dorongan (drive reduction). Event yang hanya meredakan sebentar stimuli pendorongnya akan memperkuat respon apapun yang terlibat. Bisa dikatakan, reduksi drive menjadi syarat mutlak dari reinforcement. Hipotesis mengenai reduksi drive ini menimbulkan kontroversi, dan Miller sendiri terus berusaha mencari pembenarannya.

Proses Mental yang Lebih Tinggi

Perluasan Stimulus – Respon

Dollard dan Miller memperluas apa yang dimaksud dengan stimulus – respon,. Untuk contoh kasus, seorang pilot yang pesawatnya meledak karena diserang musuh, kemudian sang pilot menjadi fobia, takut terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pesawat dan pertempuran. Konsep drive, cue, response dan reinforcement menjadi kurang tepat karena stimuli penyebab takut bukan lagi suara ledakan, tetapi juga pikirandan ingatan tentang pesawat dan ledakannya. Sehingga teori belajar bukan hanya menjelaskan tingkah laku yang sederhana, tetapi juga hal-hal yang makna dan terapannya berkaitan dengan persoalan kepribadian yang kompleks.

Pakar teori belajar tradisional umumnya beranggapan bahwa mengaburkan objektivitas dari definisi stimulus dan respon akan membuat teori belajar menjadi berbahaya yang sama dengan yang dihadapi psikoanalisis yakni; menjkadi sangat tidak cermat dan menipu. Namun perluasan pengertian itu membuat teori belajar tradisional terhindar dari objektivitas yang steril.

Generalisasi Stimulus

Menurut Dollard dan Miller, ada dua tipe interaksi individu dengan lingkungannya. Pertama, interaksi yang umumnya memiliki respon berdampak segera (immediate effect) terhadap lingkungan dan dituntun oleh cue atau situasi tunggal. Kedua, respon menghasilkan isyarat (cue producing response) yang fungsi utamanya membuka jalan terjadinya generalisasi atau diskriminasi.

Respon yang dipelajari dalam dalam kaitannya dengan suatu stimulus, dapat dipakai untuk menjawab stimulus lain yang bentuk atau wujud fisiknya mirip. Ini disebut generalisasi stimulus (stimulus generalization). Semakin mirip stimulus lain itu dengan stimulus aslinya, peluang terjadinya generalisasi tingkah laku, emosi, pikiran atau sikap semakin besar. Pada manusia, bisa terjadi generalisasi mediasi (mediated stimulus generalization), yakni generalisasi karena stimulus lain dengan stimulus asli dimasukkan ke dalam klasifikasi yang sama berdasarkan alasan (reasoning) tertentu, atau diberi label (nama) yang sama.

Reasoning

Cue Producing Response itu umumnya terjadi melalui sejumlah event internal yang disebut alur berpikir (train of thought). Reasoning pada dasarnya merupakan pengganti perbuatan nyata menjadi Cue Producing Response internal yang lebih efisien untuk memecahkan masalah daripada mencoba-coba. Reasoning memungkinkan orang menguji alternatif respon tanpa benar-benar mencobanya, sehingga menyingkat proses memilih tindakan pada masa yang akan datang, mengantisipasi respon agar menjadi lebih efektif. Lebih lanjut, urutan berpikir itu dapat dipandang sebagai hubungan stimulus-respon dalam kondisioning klasik.

Bahasa (Ucapan, Pikiran, Tulisan Maupun Sikap Tubuh)

Merupakan respon isyarat yang penting sesudah reasoning. Dua fungsinya yang penting sebagai respon isyarat adalah generalisasi dan diskriminasi. Dengan member label yang sama terhadap dua atau lebih event yang berbeda, terjadi generalisasi untuk meresponnya secara sama. Sebaliknya, label yang berbeda terhadap event yang hampir sama memaksa orang untuk merespon event itu secara berbeda pula. Perbedaan antara stimuli dipengaruhi oleh factor sosiokultural.

Dollard dan Milller sangat mementingkan peran bahasa dalam motivasi, hadiah dan pandangan ke depan. Kata mampu membangkitkan drive dan memperkuat atau member jaminan. Kata dapat berfungsi sebagai pengatur waktu, maksudnya kata dapat menguatkan tingkah laku sekarang secara verbal dengan menggambarkan konsekuensi masa yang akan datang. Jelasnya, intervensi verbal terhadap drive-cue-response-reinforcement telah membuat tingkah laku manusia menjadi semakin kompleks. Tanpa kata atau pikiran untuk mendukung motivasi lintas waktu, tingkah laku mungkin menjadi kurang konsisten dan kurang fleksibel.

Secondary Drives

Dalam masyarakat yang modern yang kompleks, tingkah laku tidak semata-mata diatur oleh penguat primer (misalnya, makanan dan air). Kehidupan manusia modern dibentuk oleh perjuangan memeroleh prestise, status, kebahagiaan, kekayaan, ketergantungan, dan sebagainya. Menurut Dollard dan Miller, stimulus atau cue apapun yang sering berasosiasi dengan kepuasan dorongan primer, dapat menjadi reinforcement sekunder.

Umumnya drive sekunder bersifat rentan, manakala drive itu berulang-ulang gagal menjadi reinforcement, drive itu menjadi lemah. Anak yang gagal mendapat pujian orang tua karena usahanya tidak mencapai prestasi yang diharapkan, sering berakibat anak menjadi bosan dan menolak berusaha mendapat pujian. Pada drive primer itu tidak terjadi. Namun ada juga drive sekunder yang sangat mantap, bahkan lebih kuat dibandingkan dengan drive lapar dan rasa sakit fisik. Misalnya nilai kebenaran dan integritas tetap dipertahankan (sebagai sumber reinforcement) sampai mati.

Model Konflik

Formulasi tingkah laku konflik dari Dollard Miller sangat terkenal. Tidak ada seorang pun yang kalis dari konflik berbagai motif dan kecenderungan, dan konflik yang parah sering mendasari tingkah laku menyedihkan dan simptom neurotik, karena konflik itu membuat orang tidak dapat merespon secara normal dapat meredakan drives yang tinggi. Ada tiga bentuk konflik, yakni konflik approach-avoidance (orang dihadapkan dengan pilihan nilai positif dan negatif yang ada di satu situasi), konflik avoidance-avoidance (orang dihadapkan dengan dua pilihan yang sama-sama negatif), dan konflik approach- approach (orang dihadapkan dengan pilihan yang sama-sama positif). Ketiga konflik itu yang mengikuti lima asumsi dasar mengenai tingkah laku konflik berikut:

  1. Kecenderungan mendekat (Gradient of Approach); kecendrungan mendekati tujuan positif semakin kuat kalau orang semakin semakin dekat dengan tujuannya itu.
  2. Kecenderungan menghundar (Gradient of Avoidance); kecenderungan menghundar dari stimulus negatif semakin kuat ketika orang semakin dekat dengan stimulus negative itu. Dua asumsi diatas sebagian dapat dijelaskan dari prinsip yang lebih mendasar, yakni kecenderungan mendapat perkuatan (Gradient of Reinforcement) dan generalisasi stimulus (Stimulus Generalization). Pengertian kecenderungan mendapat perkuatan: hadiah dan hukuman yang segera diberikan memberi dampak lebih besar dibanding menundanya. Semakin dekat ke tujuan, kenikmatan sebagai dampak dari pencapaian tujuan itu akan semakin segera diperoleh. Sedang generalisasi stimulus adalah fenomena; semakin jelas tujuannya, terjadi proses generalisasi tujuan sebagai stimulus, dan semakin kuat stimulus itu mendorong terjadinya respon yang sesuai.
  3. Peningkatan gradient of avoidance lebih besar dibanding gradient of approach.
  4. Meningkatnya dorongan yang berkaitan dengan mendekat atau menghindar akan meningkatkan tingkat gradient. Jadi meningkatnya motivasi akan memperkuat gradient mendekat atau gradient menjauh pada semua titik jarak dari tujuan. Hal sebaliknya akan terjadi kalau dorongannya menurun.
  5. Jikalau ada dua respon yang bersaing, yang lebih kuat akan terjadi.

Ketidaksadaran

Dollard dan Miller memandang penting faktor ketidaksadaran, tetapi formula analisis asal muasal factor ini berbeda denga Freud. Dollard dan Miller membagi isi-isi ketidaksadaran menjadi dua. Pertama ketidaksadaran berisi hal yang tidak pernah disadarai, sperti stimuli, drive dan respon yang dipelajari bayi sebelum bisa berbicara sehingga tidak memiliki label verbal. Juga apa yang dipelajari secara nonverbal, dan detil dari berbagai keterampilan motorik. Kedua, berisi apa yang pernah disadari tetapi tidak bertahan dan menjadi tidak disadari karena adanya represi. Orang belajar melakuakan represi, atau menolak memikirkan sesuatu yang menakutkan, rasa takut akan berkurang. Kurangnya rasa takut itu dapat dipandang sebagai suatu reinforcement dari tingkah laku tidak memikirkan (represi) hal yang menakutkan. Orang kemudian memiliki repertoire tingkah laku tidak mudah takut.

Kesadaran verbal sangat penting, karena label verbal sangat esensial dalam proses belajar. Generalisasi dan diskriminasi lebih efisien dengan memakai symbol verbal. Jika tanpa label maka kita dipaksa untuk bekerja dengan tingkat intelektual yang primitif. Kita harus terikat dengan ikatan stimulus yang nyata, dan tingkah laku kita mirip dengan tingkah laku bayi atau binatang yang tidak berbahasa.

Perkembangan Kepribadian

Perangkat Innate, Respon Sederhana dan Primary Process

Dollard dan Miller menganggap perubahan dari bayi yang sederhana menjadi dewasa yang kompleks sebagai proses yang menarik, sehingga banyak karyanya yang menjelaskan masalah ini. Bayi memiliki tiga repertoire penting, yakni:

  1. Refleks spesifik (specifics reflexes); Bayi memiliki beberapa refleks spesifik yang kebanyakan berupa respon tertentu terhadap stimulus atau kelompok stimulus tertentu. Misalnya, rooting reflex: sentuhan pada pipi direspon dengan memutar kepala kea rah pipi yang disentuh
  2. Respon bawaan yang hirarkis (innate hierarchies of response); Kecenderungan melakukan respon tertentu sebelum melakukan respon lainnya. Misalnya, bayi berusaha menghindari stimulus yang tidak menyenangkan sebelum menangis.
  3. Dorongan primar (primary drives); Stimulus internal yang kuat dan bertahan lama, yang biasanya berkaitan dengan proses fisiologik seperti lapar, haus dan rasa sakit. Drives ini memotivasi bayi untuk melakukan sesuatu tetapi tidak menentukan aktivitas spesifik apa yang harus dilakukan.

Melalui proses belajar, bayi berkembang dari tiga repertoire tingkah laku primitif diatas menjadi dewasa kompleks. Makhluk bayi itu terus-menerus berusaha mengurangi tegangan, dorongan, memunculkan respon-respon, menjawab stimuli baru, memberi reinforsemen respon baru, memunculkan motif sekunder dari drive primer, dan mengembangkan proses mental yang lebih tinggi melalui mediasi generalisasi stimulus.

Konteks Sosial

Kemampuan memakai bahasa dan respon isyarat sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dimana orang itu berkembang. Sebagian besar interaksi anak dengan lingkungannya berkenaan dengan bagaimana menghasilkan symbol komunikasi verbal (verbal cues), serta bagaimana memahami simbol verbal produk orang lain. Bahasa adalah produk sosial, dan kalau proses bahasa itu penting, lingkungan sosial pasti juga penting dalam perkembangan kepribadian.

Dollard dan Miller menekankan saling ketergantungan antara tingkah laku dengan lingkungan sosiokultural. Ditunjukkannya bagaimana psikolog memberikan prinsip belajar yang membantu ilmuwan sosial memeperhitungkan secara sistematik event kultural yang penting, dan sebaliknya bagaimana ilmuwan sosial membantu teoritisi belajar menyesuaikan prinsip-prinsip belajar dengan pengalaman nyata manusia yang menjadi kondisi belajar. Bagi Dollard dan Miller prinsip-prinsip belajarnya dapat diterapkan lintas budaya. Mereka yakin bahwa tingkah laku orang dipengaruhi oleh masyarakatnya.

Situasi Pembelajaran (Training Situation)

Seperti teoritisi psikoanalitik, Dollard dan Miller menganggap 12 tahun kehidupan awal sangat penting dalam menentukan tingkah laku dewasa. Berbeda dengan orang dewasa (dan anak) yang memiliki cara untuk keluar dari situasi yang menimbulkan frustrasi. Ada banyak peristiwa dimana konflik mental parah yang tidak disadari dapat terjadi. Dollard dan Miller mengemukakan empat hal yang mudah menimbulkan konflik dan gangguan emosi, yakni; situasi pemberian makan, toilet training (latihan kebersihan), pendidikan seks awal, dan latihan mengatur marah dan agresi. Analisis Dollard dan Miller terhadap empat situasi latihan diatasbanyak memakai formulasi Freud.

Tabel Asal Muasal Konflik Emosional: Situasi Belajar yang Kritis

Efikasi Lingkungan Prediksi Hasil Tingkah Laku
Tinggi Responsif Sukses, melaksanakan tugas yang sesuai dengan kemampuannya
Rendah Tidak responsif Depresi, melihat orang lain sukses pada tugas yang dianggapnya sulit
Tinggi Tidak Responsif Berusaha keras mengubah lingkungan menjadi responsive, melakukan protes, aktivitas sosial, bahkan memaksakan perubahan
Rendah Responsif Orang menjadi apatis, pasrah, merasa tidak mampu
  1. Situasi makan (feeding situation); adalah situasi pertama yang banyak mengajarkan sesuatu.
  2. Pendidikan kebersihan (cleaning training); Belajar mengontrol proses urinasi dan defakasi merupakan tugas yang kompleks dan sulit bagi bayi.
  3. Pendidikan seks awal (Early sex training); Tabu mengenai masturbasi yang membuat anak merasa sangat berdosa sesudah melakukan masturbasi, bersumber dari orang tua yang menanamkan dalam diri anak kecemasan yang sangat dalam seks.
  4. Pengendalian marah dan agresi (Anger-anxiety); Apabila anaknya marah, orang tua sering mengamuk, menghukum, sehingga anak belajar menekan rasa marahnya. Tanpa rasa marah ini akan membuat kepribadian anak tidak dapat berkembang.

2.3       DISKUSI MENGENAI ADLER

2.3.1    Kelebihan Teori

  1. Konsep-konsep utamanya jelas dan memiliki rincian yang di dukung oleh data empirik.
  2. Jarang ada formulasi yang kabur semacam intuisi, karena memakai pendekatan positif secara keras.
  3. Kecuali hal pendekatan positivis yang keras, teori S-R terbuka untuk merangkul fenomena empiric yang luas, teori ini tidak keberatan memakai konsep-konsepnya untuk membantu mengembangkan fenomena kompleksitas tingkah laku. Teori Dollard dan Miller berusaha menjelaskan konsep-konsep psikoalisis menjadi semakin “ilmiah”.
  4. Teori Dollard dan Miller secara khas adalah teori proses belajar, sesuatu yang sangat penting dari semua teori kepribadian, tetapi tidak banyak mendapar perhatian. Karena itu teorinya menjadi model dari teoritisi lainnya.
  5. Dollard dan Miller secara eksplisit memakai variable sosiokultural lebih dari pakar lainnya. Karena itu teorinya banyak dipakai oleh pakar antropologi cultural setara dengan pemakaian psikoanalisis.

2.3.2    Kekurangan

  1. Teori S-R dikritik dalam hal mementingkan tingkah laku sederhana, utamanya dalam tingkah laku binatang, dan mengabaikan fungsi kognitif yang kompleks.
  2. Teoritisi Holistik berpendapat bahwa teori S-R yang terpisah-pisah, pendekatan atomistik tidak dapat memahami tingkah laku manusia seutuhnya.

BAB III

PENUTUP

Dollard dan Miller bekerja sama di Institute of Human Relations, Universitas Yale, mengembangkan pendekatan interdisiplin tiga bidang ilmu; teori belajar, psikoanalitik, dan antropologi sosial. Teori mereka banyak dipengaruhi oleh Teori Hull-Spence, yang terutama menangani peran motivasi dalam tingkah laku dan bagaimana motivasi belajar dapat diperoleh. Mereka berusaha menjelaskan konsep-konsep pentingdari psikoanalitik, seperti kecemasan-konflik-represi menggunakan prinsip-prinsip psikologi belajar dan kondisi sosial dari belajar. Menurut Dollard dan Miller, bentuk sederhana dari teori belajar adalah “mempelajari keadaan dimana terjadi hubungan antara respon dengan cue-stimulusnya”. Bahasan mengenai prinsip-prinsip asosiasi, ganjaran atau reinforsemen menjadi sangat penting.

  1. Konsep-konsep utamanya jelas dan memiliki rincian yang di dukung oleh data empirik.
  2. Jarang ada formulasi yang kabur semacam intuisi, karena memakai pendekatan positif secara keras.
  3. Kecuali hal pendekatan positivis yang keras, teori S-R terbuka untuk merangkul fenomena empiric yang luas, teori ini tidak keberatan memakai konsep-konsepnya untuk membantu mengembangkan fenomena kompleksitas tingkah laku. Teori Dollard dan Miller berusaha menjelaskan konsep-konsep psikoalisis menjadi semakin “ilmiah”.
  4. Teori Dollard dan Miller secara khas adalah teori proses belajar, sesuatu yang sangat penting dari semua teori kepribadian, tetapi tidak banyak mendapar perhatian. Karena itu teorinya menjadi model dari teoritisi lainnya.
  5. Dollard dan Miller secara eksplisit memakai variable sosiokultural lebih dari pakar lainnya. Karena itu teorinya banyak dipakai oleh pakar antropologi cultural setara dengan pemakaian psikoanalisis.
  1. Teori S-R dikritik dalam hal mementingkan tingkah laku sederhana, utamanya dalam tingkah laku binatang, dan mengabaikan fungsi kognitif yang kompleks.
  2. Teoritisi Holistik berpendapat bahwa teori S-R yang terpisah-pisah, pendekatan atomistik tidak dapat memahami tingkah laku manusia seutuhnya.

REFERENSI

Alwisol. (2004). Psikologi Kepribadian.

http://a11no4.wordpress.com/2010/03/21/teori-stimulus-respon-hull-dollard-miller/

Refleksi Ilmu Kalam

Posted: January 10, 2011 in Filsafat Ilmu

PENDAHULUAN

 

Ilmu Kalam adalah salah satu dari empat disiplin keilmuan yang telah tumbuh dan menjadi bagian dari tradisi kajian tentang agama Islam. Tiga lainnya ialah disiplin-disiplin keilmuan Fiqh, Tasawuf, dan Falsafah. Jika Ilmu Fiqh membidangi segi-segi formal peribadatan dan hukum, sehingga tekanan orientasinya sangat eksoteristik, mengenai hal-hal lahiriah, dan Ilmu Tasawuf membidangi segi-segi penghayatan dan pengamalan keagamaan yang lebih bersifat pribadi, sehingga tekanan orientasinya pun sangat esoteristik, mengenai hal-hal batiniah, kemudian Ilmu Falsafah membidangi hal-hal yang bersifat perenungan spekulatif tentang hidup ini dan lingkupnya seluas-luasnya, maka Ilmu Kalam mengarahkan pembahasannya kepada segi-segi mengenai Tuhan dan berbagai derivasinya. Karena itu ia sering diterjemahkan sebagai Teologia, sekalipun sebenarnya tidak seluruhnya sama dengan pengertian Teologia dalam agama Kristen, misalnya. (Dalam pengertian Teologia dalam agama kristen, Ilmu Fiqh akan termasuk Teologia). Karena itu sebagian kalangan ahli yang menghendaki pengertian yang lebih persis akan menerjemahkan Ilmu Kalam sebagai Teologia dialektis atau Teologia Rasional, dan mereka melihatnya sebagai suatu disiplin yang sangat khas Islam.

 

REFLEKSI ILMU KALAM

 

Pada zaman Abbasiyah, telah banyak berlaku pembahasan di dalam perkara-perkara akidah termasuk perkara-perkara yang tidak wujud pada zaman Nabi s.a.w. atau zaman para sahabatnya. Berlaku pembahasan tersebut dengan memberi penumpuan agar ia menjadi satu ilmu baru yang diberi nama Ilmu Kalam. Ilmu ini muncul dan berkembang atas sebab-sebab dalaman dan luaran.

Sebab-sebab dalaman

Berikut ini adalah sebab-sebab dalaman yang menjadi punca munculnya ilmu Kalam:
1. Al-Quran di dalam seruannya kepada tauhid membentangkan aliran-aliran penting dan agama-agama yang bertebaran pada zaman Nabi s.a.w., lalu al-Quran menolak perkataan-perkataan mereka. Secara tabi’I, para ulamak telah mengikut cara al-Quran di dalam menolak mereka yang bertentangan, di mana apabila penentang memperbaharui cara, maka kaum muslimin juga memperbaharui cara menolaknya.

2. Pada zaman pemerintahan Bani Umaiyah, hampir-hampir keseluruhan umat Islam di dalam keimanan yang bersih dari sebarang pertikaian dan perdebatan. Dan apabila kaum muslimin selesai melakukan pembukaan negeri dan kedudukannya telahpun mantap, mereka beralih tumpuan kepada pembahasan sehingga menyebabkan berlaku perselisihan pendapat di kalangan mereka.

3. Perselisihan di dalam masalah politik menjadi sebab di dalam perselisihan mereka mengenai soal-soal keagamaan. Jadilah parti-parti politik tersebut sebagai satu aliran keagamaan yang mempunyai pandangannya sendiri. Parti (kelompok) Imam Ali r.a. membentuk golongan Syiah, dan manakala mereka yang tidak bersetuju dengan Tahkim dari kalangan Syiah telam membentuk kelompok Khawarij. Dan mereka yang membenci perselisihan yang berlaku di kalangan umat Islam telah membentuk golongan Murji’ah.

Sebab-sebab luaran

Berikut ini adalah sebab-sebab luaran yang menjadi punca muncul ilmu Kalam:
1. Ramai orang yang memeluk agama Islam selepas pembukaan beberapa negeri adalah terdiri dari penganut agama lain seperti yahudi, Nasrani, Ateis dan lain-lain. Kadangkala mereka menzahirkan pemikiran-pemikiran agama lama mereka bersalutkan pakaian agama mereka yang baru (Islam).

2. Kelompok-kelompok Islam yang pertama, khususnya Muktazilah, perkara utama yang mereka tekankan ialah mempertahankan Islam dan menolak hujah mereka yang menentangnya. Negeri-negeri Islam terdedah dengan semua pemikiran-pemikiran ini dan setiap kelompok berusaha untuk membenarkan pendapatnya dan menyalahkan pendapat kelompok lain. Orang-orang Yahudi dan Nasrani telah melengkapkan diri mereka dengan senjata ilmu Falsafah, lalu Muktazilah telah mempelajarinya agar mereka dapat mempertahankan Islam dengan senjata yang telah digunakan oleh pihak yang menyerang.

3. Ahli-ahli Kalam memerlukan falsafah dan mantiq (ilmu logik), hingga memaksa mereka untuk mempelajarinya supaya dapat menolak kebatilan-kebatilan (keraguan-keraguan) yang ada di dalam ilmu berkenaan.

Kemunculan aliran-aliran Islam

Masalah khilafah (pemerintahan) adalah masalah yang menyebabkan telah berlaku perselisihan yang kuat antara kaum muslimin. Kesan dari perselisihan ini ialah, terbentuknya beberapa kelompok besar di dalam Islam, yaitu:
1. Syiah: Mereka ialah orang-orang yang berpendapat bahawa yang lebih berhak terhadap pemerintahan selepas kewafatan Rasulullah s.a.w. ialah saiyidina Ali r.a.

2. Khawarij: Iaitu mereka yang tidak menyetujui majlis Tahkim. Mereka keluar dari kelompok saiyidina Ali.

3. Murji’ah: Iaitu mereka yang membenci perselisihan dan menjauhi dua kelompok di atas.

Setelah kaum muslimin selesai membuka negeri-negeri, lalu ramai dari kalangan penganut agama lain yang memeluk Islam. Mereka ini menzahirkan pemikiran-pemikiran baru yang diambil dari agama lama mereka tetapi diberi rupabentuk Islam.

Iraq, khususnya di Basrah merupakan tempat segala agama dan aliran. Maka terjadilah perselisihan apabila ada satu golongan yang menafikan kemahuan (iradah) manusia. Kelompok ini diketuai oleh Jahm bin Safwan. Dan antara pengikutnya ialah para pengikut aliran Jabbariyah yang diketuai oleh Ma’bad al-Juhni. Aliran ini lahir ditengah-tengah kecelaruan pemikiran dan asas yang dibentuk oleh setiap kelompok untuk diri mereka.

Kemudian bangkitlah sekelompok orang yang ikhlas memberi penjelasan mengenai akidah-akidah kaum muslimin berdasarkan jalan yang ditempoh oleh al-Quran. Antara yang masyhur di kalangan mereka ialah Hasan al-Basri.

Dan sebahagian dari kesan perselisihan antara Hasan al-Basri dengan muridnya Washil bin Atho’ ialah lahirnya satu kelompok baru yang dikenali dengan Muaktazilah. Perselisihan tersebut ialah mengenai hukum orang beriman yang mengerjakan dosa besar, kemudian mati sebelum sempat bertaubat.

Pada akhir kurun ketiga dan awal kurun keempat, lahirlah imam Abu Mansur al-Maturidi yang berusaha menolak golongan yang berakidah batil. Mereka membentuk aliran al-Maturidiah.

Kemudian muncul pula Abul Hasan al-Asy’ari yang telah mengumumkan keluar dari kelompok Mu’tazilah dan menjelaskan asas-asas pegangan barunya yang bersesuaian dengan para ulamak dari kalangan fuqahak dan ahli hadis. Dia dan pengikutnya dikenal sebagai aliran Asya’irah.

Dan dari dua kelompok ini, terbentuklah kelompok Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Dan kesimpulannya, kita dapat melihat bahawa kemunculan kelompok-kelompok di dalam Islam adalah kembali kepada dua perkara:

1. Perselisihan mengenai pemerintahan

2. Perselisihan di dalam masalah usul atau asas agama.

Sebagai unsur dalam studi klasik pemikiran keislaman. Ilmu Kalam menempati posisi yang cukup terhormat dalam tradisi keilmuan kaum Muslim. Ini terbukti dari jenis-jenis penyebutan lain ilmu itu, yaitu sebutan sebagai Ilmu Aqd’id (Ilmu Akidah-akidah, yakni, Simpul-simpul [Kepercayaan]), Ilmu Tawhid (Ilmu tentang Kemaha-Esaan [Tuhan]), dan Ilmu Ushul al-Din (Ushuluddin, yakni, Ilmu Pokok-pokok Agama). Di negeri kita, terutama seperti yang terdapat dalam sistem pengajaran madrasah dan pesantren, kajian tentang Ilmu Kalam merupakan suatu kegiatan yang tidak mungkin ditinggalkan. Ditunjukkan oleh namanya sendiri dalam sebutan-sebutan lain tersebut di atas, Ilmu Kalam menjadi tumpuan pemahaman tentang sendi-sendi paling pokok dalam ajaran agama Islam, yaitu simpul-simpul kepercayaan, masalah Kemaha-Esaan Tuhan, dan pokok-pokok ajaran agama. Karena itu, tujuan pengajaran Ilmu Kalam di madrasah dan pesantren ialah untuk menanamkan paham keagamaan yang benar. Maka dari itu pendekatannya pun biasanya doktrin, seringkali juga dogmatis.

Meskipun begitu, dibanding dengan kajian tentang Ilmu Fiqh, kajian tentang Ilmu Kalam di kalangan kaum “Santri” masih kalah mendalam dan meluas. Mungkin dikarenakan oleh kegunaannya yang praktis, kajian Ilmu Fiqh yang membidangi masalah-masalah peribadatan dan hukum itu meliputi khazanah kitab dan bahan rujukan yang kaya dan beraneka ragam. Sedangkan kajian tentang Ilmu Kalam meliputi hanya khazanah yang cukup terbatas, yang mencakup jenjang-jenjang permulaan dan menengah saja, tanpa atau sedikit sekali menginjak jenjang yang lanjut (advanced). Berkenaan dengan hal ini dapat disebutkan contoh-contoh kitab yang banyak digunakan di negeri kita, khususnya di pesantren-pesantren, untuk pengajaran Ilmu Kalam. Yaitu dimulai dengan kitab ‘Aqidat al-‘Awamm (Akidat Kaum Awam), diteruskan dengan Bad’ al-Amal (Pangkal Berbagai Cita) atau Jawharat al-Tauhid (Pertama Tauhid), mungkin juga dengan kitab Al-Sanusiyyah (disebut demikian karena dikarang oleh seseorang bernama al-Sanusi).

Disamping itu, sesungguhnya Ilmu Kalam tidak sama sekali bebas dari kontroversi atau sikap-sikap pro dan kontra, baik mengenai isinya, metodologinya, maupun klaim-klaimnya. Karena itu penting sekali mengerti secukupnya ilmu ini, agar terjadi pemahaman agama yang lebih seimbang.

Pertumbuhan Ilmu Kalam

Sama halnya dengan disiplin-disiplin keilmuan Islam lainnya, Ilmu Kalam juga tumbuh beberapa abad setelah wafat Nabi. Tetapi lebih dari disiplin-disiplin keilmuan Islam lainnya, Ilmu Kalam sangat erat terkait dengan skisme dalam Islam. Karena itu dalam penelusurannya ke belakang, kita akan sampai kepada peristiwa pembunuhan ‘Utsman Ibn ‘Aff’an, Khalifah III. Peristiwa menyedihkan dalam sejarah Islam yang sering dinamakan al-Fitnat al-Kubra (Fitnah Besar), sebagaimana telah banyak dibahas, merupakan pangkal pertumbuhan masyarakat (dan agama) Islam di berbagai bidang, khususnya bidang-bidang politik, sosial dan paham keagamaan. Maka Ilmu Kalam sebagai suatu bentuk pengungkapan dan penalaran paham keagamaan juga hampir secara langsung tumbuh dengan bertitik tolak dari Fitnah Besar itu.

Sebelum pembahasan tentang proses pertumbuhan Ilmu Kalam ini dilanjutkan, dirasa perlu menyisipkan sedikit keterangan tentang Ilmu Kalam (‘Ilm al-Kalam), dan akan lebih memperjelas sejarah pertumbuhannya itu sendiri. Secara harfiah, kata-kata Arab kalam, berarti “pembicaraan”. Tetapi sebagai istilah, kalam tidaklah dimaksudkan “pembicaraan” dalam pengertian sehari-hari, melainkan dalam pengertian pembicaraan yang bernalar dengan menggunakan logika. Maka ciri utama Ilmu Kalam ialah rasionalitas atau logika. Karena kata-kata kalam sendiri memang dimaksudkan sebagai ter jemahan kata dan istilah Yunani logos yang juga secara harfiah berarti “pembicaraan”, tapi yang dari kata itulah terambil kata logika dan logis sebagai derivasinya. Kata Yunani logos juga disalin ke dalam kata Arab manthiq, sehingga ilmu logika, khususnya logika formal atau silogisme ciptaan Aristoteles dinamakan Ilmu Mantiq (‘Ilm al-Mantiq). Maka kata Arab “manthiqi” berarti “logis”.

Dari penjelasan singkat itu dapat diketahui bahwa Ilmu Kalam amat erat kaitannya dengan Ilmu Mantiq atau Logika. Itu, bersama dengan Falsafah secara keseluruhan, mulai dikenal orang-orang Muslim Arab setelah mereka menaklukkan dan kemudian bergaul dengan bangsa-bangsa yang berlatar-belakang peradaban Yunani dan dunia pemikiran Yunani (Hellenisme). Hampir semua daerah menjadi sasaran pembebasan (fat’h, liberation) orang-orang Muslim telah terlebih dahulu mengalami Hellenisasi (disamping Kristenisasi). Daerah-daerah itu ialah Syria, Irak, Mesir dan Anatolia, dengan pusat-pusat Hellenisme yang giat seperti Damaskus, Atiokia, Harran, dan Aleksandria. Persia (Iran) pun, meski tidak mengalami Kristenisasi (tetap beragama Majusi atau Zoroastrianisme), juga sedikit banyak mengalami Hellenisasi, dengan Jundisapur sebagai pusat Hellenisme Persia.

Adalah untuk keperluan penalaran logis itu bahan-bahan Yunani diperlukan. Mula-mula ialah untuk membuat penalaran logis oleh orang-orang yang melakukan pembunuhan ‘Utsm’an atau menyetujui pembunuhan itu. Jika urutan penalaran itu disederhanakan, maka kira-kira akan berjalan seperti ini: Mengapa ‘Utsman boleh atau harus dibunuh? Karena ia berbuat dosa besar (berbuat tidak adil dalam menjalankan pemerintahan) padahal berbuat dosa besar adalah kekafiran. Dan kekafiran, apalagi kemurtadan (menjadi kafir setelah Muslim), harus dibunuh. Mengapa perbuatan dosa besar suatu kekafiran? Karena manusia berbuat dosa besar, seperti kekafiran, adalah sikap menentang Tuhan. Maka harus dibunuh! Dari jalan pikiran itu, para (bekas) pembunuh ‘Utsman atau pendukung mereka menjadi cikal-bakal kaum Qadari, yaitu mereka yang berpaham Qadariyyah, suatu pandangan bahwa manusia mampu menentukan amal perbuatannya, maka manusia mutlak bertanggung jawab atas segala perbuatannya itu, yang baik dan yang buruk.

Peranan Kaum Khawarij dan Mu’tazilah

Para pembunuh ‘Utsman itu, menurut beberapa petunjuk kesejarahan, menjadi pendukung kekhalifahan ‘Ali Ibn Abi Thalib, Khalifah IV. Ini disebutkan, misalnya, oleh Ibn Taymiyyah, sebagai berikut:

Sebagian besar pasukan Ali, begitu pula mereka yang memerangi Ali dan mereka yang bersikap netral dari peperangan itu bukanlah orang-orang yang membunuh ‘Utsman. Sebaliknya, para pembunuh ‘Utsman itu adalah sekelompok kecil dari pasukan ‘Ali, sedangkan umat saat kekhalifahan ‘Utsman itu berjumlah dua ratus ribu orang, dan yang menyetujui pembunuhannya seribu orang sekitar itu.

Tetapi mereka kemudian sangat kecewa kepada ‘Ali, karena Khalifah ini menerima usul perdamaian dengan musuh mereka, Mu’awiyah ibn Abu Sufyan, dalam “Peristiwa Shiffin” di situ ‘Ali mengalami kekalahan di plomatis dan kehilangan kekuasaan “de jure”-nya. Karena itu mereka memisahkan diri dengan membentuk kelompok baru yang kelak terkenal dengan sebutan kaum Khawarij (al-Kahwarij, kaum Pembelot atau Pemberontak). Seperti sikap mereka terhadap ‘Utsman, kaum Khawarij juga memandang ‘Ali dan Mu’awiyah sebagai kafir karena mengkompromikan yang benar (haqq) dengan yang palsu (bathil). Karena itu mereka merencanakan untuk membunuh ‘Ali dan Mu’awiyah, juga Amr ibn al-‘Ash, gubernur Mesir yang sekeluarga membantu Mu’awiyah mengalahkan Ali dalam “Peristiwa Shiffin” tersebut. Tapi kaum Khawarij, melalui seseorang bernama Ibn Muljam, berhasil membunuh hanya ‘Ali, sedangkan Mu’awiyah hanya mengalami luka-luka, dan ‘Amr ibn al-‘Ash selamat sepenuhnya (tapi mereka membunuh seseorang bernama Kharijah yang disangka ‘Amr, karena rupanya mirip).

Karena sikap-sikap mereka yang sangat ekstrem dan eksklusifistik, kaum Khawarij akhirnya boleh dikatakan binasa. Tetapi dalam perjalanan sejarah pemikiran Islam, pengaruh mereka tetap saja menjadi pokok problematika pemikiran Islam. Yang paling banyak mewarisi tradisi pemikiran Khawarij ialah kaum Mu’tazilah. Mereka inilah sebenarnya kelompok Islam yang paling banyak mengembangkan Ilmu Kalam seperti yang kita kenal sekarang. Berkenaan dengan Ibn Taymiyyah mempunyai kutipan yang menarik dari keterangan salah seorang ‘ulama’ yang disebutnya Imam ‘Abdull’ah ibn al-Mubarak. Menurut Ibn Taymiyyah, sarjana itu menyatakan demikian:

Agama adalah kepunyaan ahli (pengikut) Hadits, kebohongan kepunyaan kaum Rafidlah, (ilmu) Kalam kepunyaan kaum Mu’tazilah, tipu daya kepunyaan (pengikut) Ra’y (temuan rasional).

Karena itu ditegaskan oleh Ibn Taymiyyah bahwa Ilmu Kalam adalah keahlian khusus kaum Mu’tazilah. Maka salah satu ciri pemikiran Mu’tazili ialah rasionalitas dan paham Qadariyyah. Namun sangat menarik bahwa yang pertama kali benar-benar menggunakan unsur-unsur Yunani dalam penalaran keagamaan ialah seseorang bernama Jahm ibn Shafwan yang justru penganut paham Jabariyyah, yaitu pandangan bahwa manusia tidak berdaya sedikit pun juga berhadapan dengan kehendak dan ketentuan Tuhan. Jahm mendapatkan bahan untuk penalaran Jabariyyah-nya dari Aristotelianisme, yaitu bagian dari paham Aristoteles yang mengatakan bahwa Tuhan adalah suatu kekuatan yang serupa dengan kekuatan alam, yang hanya mengenal keadaan-keadaan umum (universal) tanpa mengenal keadaan-keadaan khusus (partikular). Maka Tuhan tidak mungkin memberi pahala dan dosa, dan segala sesuatu yang terjadi, termasuk pada manusia, adalah seperti perjalanan hukum alam. Hukum alam seperti itu tidak mengenal pribadi (impersonal) dan bersifat pasti, jadi tak terlawan oleh manusia. Aristoteles mengingkari adanya Tuhan yang berpribadi personal God. Baginya Tuhan adalah kekuatan maha dasyat namun tak berkesadaran kecuali mengenai hal-hal universal. Maka mengikuti Aristoteles itu Jahm dan para pengikutpya sampai kepada sikap mengingkari adanya sifat bagi Tuhan, seperti sifat-sifat kasib, pengampun, santun, maha tinggi, pemurah, dan seterusnya. Bagi mereka, adanya sifat-sifat itu membuat Tuhan menjadi ganda, jadi bertentangan dengan konsep Tauhid yang mereka akui sebagai hendak mereka tegakkan. Golongan yang mengingkari adanya sifat-sifat Tuhan itu dikenal sebagai al-Nufat (“pengingkar” [sifat-sifat Tuhan]) atau al-Mu’aththilah (“pembebas” [Tuhan dari sifat-sifat]).

Kaum Mu’tazilah menolak paham Jabiriyyah-nya kaum Jahmi. Kaum Mu’tazilah justru menjadi pembela paham Qadariyyah seperti halnya kaum Khawarij. Maka kaum Mu’tazilah disebut sebagai “titisan” doktrinal (namun tanpa gerakan politik) kaum Khawarij. Tetapi kaum Mu’tazilah banyak mengambil alih sikap kaum Jahmi yang mengingkari sifat-sifat Tuhan itu. Lebih penting lagi, kaum Mu’tazilah meminjam metologi kaum Jahmi, yaitu penalaran rasional, meskipun dengan berbagai premis yang berbeda, bahkan berlawanan (seperti premis kebebasan dan kemampuan manusia). Hal ini ikut membawa kaum Mu’tazilah kepada penggunaan bahan-bahan Yunani yang dipermudah oleh adanya kegiatan penerjemahan buku-buku Yunani, ditambah dengan buku-buku Persi dan India, ke dalam bahasa Arab. Kegiatan itu memuncak di bawah pemerintahan al-Ma’mun ibn Harun al-Rasyid. Penterjemahan itu telah mendorong munculnya Ahli Kalam dan Falsafah.

Khalifah al-Ma’mun sendiri, di tengah-tengah pertikaian paham berbagai kelompok Islam, memihak kaum Mu’tazilah melawan kaum Hadits yang dipimpin oleh Ahmad ibn Hanbal (pendiri mazhab Hanbali, salah satu dari empat mazhab Fiqh). Lebih dari itu, Khalifah al-Ma’mun, dilanjutkan oleh penggantinya, Khalifah al-Mu’tashim, melakukan mihnah (pemeriksaan paham pribadi, inquisition), dan menyiksa serta menjebloskan banyak orang, termasuk Ahmad ibn Hanbal, ke dalam penjara. Salah satu masalah yang diperselisihkan ialah apakah Kalam atau Sabda Allah, berujud al-Qur’an, itu qadim (tak terciptakan karena menjadi satu dengan Hakikat atau Dzat Ilahi) ataukah hadits (terciptakan, karena berbentuk suara yang dinyatakan dalam huruf dan bahasa Arab)? Khalifah al-Ma’mun dan kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa Kalam Allah itu hadits, sementara kaum Hadits (dalam arti Sunnah, dan harap diperhatikan perbedaan antara kata-kata hadits [a dengan topi] dan hadits [i dengan topi]) berpendapat al-Qur’an itu qadim seperti Dzat Allah sendiri. Pemenjaraan Ahmad ibn Hanbal adalah karena masalah ini.

Mihnah itu memang tidak berlangsung terlalu lama, dan orang pun bebas kembali. Tetapi ia telah meninggalkan luka yang cukup dalam pada tubuh pemikiran Islam, yang sampai saat inipun masih banyak dirasakan orang-orang Muslim. Namun jasa al-Ma’mun dalam membuka pintu kebebasan berpikir dan ilmu pengetahuan tetap diakui besar sekali dalam sejarah umat manusia. Maka kekhalifahan al-Ma’mun (198-218 H/813-833 M), dengan campuran unsur-unsur positif dan negatifnya, dipandang sebagai salah satu tonggak sejarah perkembangan pemikiran Islam, termasuk perkembangan Ilmu Kalam, dan juga Falsafah Islam.

 

PENUTUP

 

Secara harfiah, kata-kata Arab kalam, berarti “pembicaraan”. Tetapi sebagai istilah, kalam tidaklah dimaksudkan “pembicaraan” dalam pengertian sehari-hari, melainkan dalam pengertian pembicaraan yang bernalar dengan menggunakan logika. Maka ciri utama Ilmu Kalam ialah rasionalitas atau logika. Karena kata-kata kalam sendiri memang dimaksudkan sebagai ter jemahan kata dan istilah Yunani logos yang juga secara harfiah berarti “pembicaraan”, tapi yang dari kata itulah terambil kata logika dan logis sebagai derivasinya. Kata Yunani logos juga disalin ke dalam kata Arab manthiq, sehingga ilmu logika, khususnya logika formal atau silogisme ciptaan Aristoteles dinamakan Ilmu Mantiq (‘Ilm al-Mantiq). Maka kata Arab “manthiqi” berarti “logis”.

Ilmu Kalam amat erat kaitannya dengan Ilmu Mantiq atau Logika. Itu, bersama dengan Falsafah secara keseluruhan, mulai dikenal orang-orang Muslim Arab setelah mereka menaklukkan dan kemudian bergaul dengan bangsa-bangsa yang berlatar-belakang peradaban Yunani dan dunia pemikiran Yunani (Hellenisme). Hampir semua daerah menjadi sasaran pembebasan (fat’h, liberation) orang-orang Muslim telah terlebih dahulu mengalami Hellenisasi (disamping Kristenisasi). Daerah-daerah itu ialah Syria, Irak, Mesir dan Anatolia, dengan pusat-pusat Hellenisme yang giat seperti Damaskus, Atiokia, Harran, dan Aleksandria. Persia (Iran) pun, meski tidak mengalami Kristenisasi (tetap beragama Majusi atau Zoroastrianisme), juga sedikit banyak mengalami Hellenisasi, dengan Jundisapur sebagai pusat Hellenisme Persia.

 

REFERENSI

 

Al-Qur’an Terjemahan.

Rahardjo, Dawam. (2007). Filsafat Manusia. Bandung: Insan Kamil.

Madjid, DR. Nurcholis. (2008). Ilmu Kalam. Tersedia : http://media.isnet.org/

DEFINISI

Psikiater dari Jakarta, Roan, menyatakan bahwa trauma berarti cidera, kerusakan jaringan, luka atau shock. Sementara trauma psikis dalam psikologi diartikan sebagai kecemasan hebat dan mendadak akibat peristiwa dilingkungan seseorang yang melampaui batas kemampuannya untuk bertahan, mengatasi atau menghindar (Roan: 2003).

PTSD merupakan sindrom kecemasan, labilitas otonomik, ketidakrentanan emosional, dan kilas balik dari pengalaman yang amat pedih itu setelah stress fisik maupun emosi yang melampaui batas ketahanan orang biasa (Kaplan: 1997).

National Institute of Mental Health (NIMH) mendefinisikan PTSD sebagai gangguan berupa kecemasan yang timbul setelah seseorang mengalami peristiwa yang mengancam keselamatan jiwa atau fisiknya. Peristiwa trauma ini bisa berupa serangan kekerasan, bencana alam yang menimpa manusia, kecelakaan atau perang (Anonim: 2005d).

Hikmat (2005) mengatakan PTSD adalah sebuah kondisi yang muncul setelah pengalaman luar biasa yang mencekam, mengerikan dan mengancam jiwa seseorang, misalnya peristiwa bencana alam, kecelakaan hebat, sexual abuse (kekerasan seksual), atau perang.

Gangguan stress pascatrauma mempengaruhi setidaknya 8% orang kadangkala sepanjang hidup mereka, termasuk masa kanak-kanak. Banyak orang mengalami peristiwa traumatik, seperti veteran perang dan korban pemerkosaan atau kegiatan kekerasan lainnya, mengalami gangguan stress pascatrauma.

GEJALA

Tiga tipe gejala yang sering terjadi pada PTSD adalah, pertama, pengulangan pengalaman trauma, ditunjukkan dengan selalu teringat akan peristiwa yang menyedihkan yang telah dialami itu, flashback (merasa seolah-olah peristiwa yang menyedihkan terulang kembali), nightmares (mimpi buruk tentang kejadian-kejadian yang membuatnya sedih), reaksi emosional dan fisik yang berlebihan karena dipicu oleh kenangan akan peristiwa yang menyedihkan.

Kedua, penghindaran dan emosional yang dangkal, ditunjukkan dengan menghindari aktivitas, tempat, berpikir, merasakan, atau percakapan yang berhubungan denga n trauma. Selain itu juga kehilangan minat terhadap semua hal, perasaan terasing dari orang lain, dan emosi yang dangkal.

Ketiga , sensitifitas yang meningkat, ditunjukkan dengan susah tidur, mudah marah/tidak dapat mengendalikan marah, susah berkonsentrasi, kewaspadaan yang berlebih, respon yang berlebihan atas segala sesuatu (Anonim, 2005a; Anonim, 2005b).

Gejala Lainnya

Gangguan stress pasca-trauma Posttraumatic Stress Disorder (PTSD) ditandai oleh pengulangan, ingatan yang mengganggu pada peristiwa traumatik yang menggoncang jiwa. Peristiwa yang bisa menyebabkan gangguan pascatrauma termasuk dibawah ini :

Berhubungan dengan peperangan.

Mengalami atau melihat kekerasan fisik atau seks.

Terkena bencana, baik alam (misalnya, angin topan) atau buatan manusia (misal, kecelakan mobil hebat).

Kadangkala gejala tidak dimulai sampai berbulan-bulan atau bahkan tahunan setelah peristiwa traumatik terjadi. Jika gangguan stress pascatrauma telah ada selama 3 bulan atau lebih, hal ini dianggap kronis.

Pada gangguan stress posttraumatic, orang mengalami frekuensi, ingatan yang tidak diinginkan menimbulkan kembali peristiwa traumatik. Mimpi buruk adalah biasa. Kadangkala peristiwa hidup kembali sebagaimana jika terjadi (flashback). Gangguan hebat seringkali terjadi ketika orang berhadapan dengan peristiwa atau keadaan yang mengingatkan mereka kepada trauma asal. Misal beberapa ingatan adalah perayaan pada peristiwa traumatik tersebut, melihat senjata setelah dipukul dengan senjata ketika perampokan, dan berada di perahu kecil setelah kecelakaan tenggelam.

Orang secara terus menerus menghindari benda yang mengingatkan pada trauma. Mereka bisa juga berusaha untuk menghindari pikiran, perasaan, atau pembicaraan mengenai peristiwa traumatik dan menghindari kegiatan, keadaan, atau orang yang bisa mengingatkan. Penghindaran bisa juga termasuk kehilangan ingatan (amnesia) untuk aspek tertentu pada peristiwa yang traumatik. Orang mengalami mati rasa atau kematian pada reaksi emosional dan gejala yang muncul meningkat (seperti kesulitan tertidur, menjadi waspada terhadap tanda bahaya beresiko, atau menjadi mudah terkejut). Gejala pada depresi adalah umum, dan orang menunjukkan sedikit ketertarikan pada aktifitas menyenangkan sebelumnya. Perasaan bersalah juga biasa. Misal, mereka bisa merasa bersalah bahwa ketika mereka bertahan hidup ketika orang lain tidak.

GANGGUAN SOSIAL

PTSD memiliki gejala yang menyebabkan gangguan. Umumnya, gangguan tersebut adalah panic attack (serangan panik), perilaku menghindar, depresi, membunuh pikiran dan perasaan, merasa disisihkan dan sendiri, merasa tidak percaya dan dikhianati, mudah marah, dan gangguan yang berarti dalam kehidupan sehari -hari (Anonim, 2005b). Panic attack (serangan panik).

Anak/remaja yang mempunyai pengalaman trauma dapat mengalami serangan panik ketika dihadapkan/menghadapi sesuatu yang mengingatkan mereka pada trauma. Serangan panik meliputi perasaan yang kuat atas ketakutan atau tidak nyaman yang menyertai gejala fisik dan psikologis. Gejala fisik meliputi jantung ber -debar, berkeringat, gemetar, sesak nafas, sakit dada, sakit perut, pusing, merasa kedinginan, badan panas, mati rasa.

Perilaku menghindar. Salah satu gejala PTSD adalah menghindari hal -hal yang dapat mengingatkan penderita pada kejadian traumatis. Kadang -kadang penderita mengaitkan semua kejadian dalam kehidupannya setiap hari dengan trauma, padahal kondisi kehidupan sekarang jauh dari kondisi trauma yang pernah dialami. Hal ini sering menjadi lebih parah sehingga penderita menjadi takut untuk keluar rumah dan harus ditemani oleh orang lain jika ha rus keluar rumah.

Depresi. Banyak orang menjadi depresi setelah mengalami pengalaman trauma dan menjadi tidak tertarik dengan hal -hal yang disenanginya sebelum peristiwa trauma. Mereka mengembangkan pe-rasaan yang tidak benar, perasaan ber -salah, menyalahkan diri sendiri, dan merasa peristiwa yang dialami merupakan kesalah -annya, walau-pun semua itu tidak benar.

Membunuh pikiran dan perasaan. Kadang -kadang orang yang depresi berat merasa bahwa kehidupannya sudah tidak berharga. Hasil penelitian menjelaskan bahwa 50 % korban kejahatan mempunyai pikiran untuk bunuh diri. Jika anda dan orang yang terdekat dengan anda mempunyai pemikiran untuk bunuh diri setelah mengalami peristiwa traumatik, segeralah mencari pertolongan dan berkonsultasi dengan para profesional.

Merasa disisihkan dan sendiri. Penderita PTSD memerlukan dukungan dari lingkungan sosialnya tetapi mereka seringkali merasa sendiri dan terpisah. Karena perasaan mereka tersebut, penderita kesulitan untuk berhubungan dengan orang lain dan mendapatkan pertolongan.

Penderita susah untuk percaya bahwa orang lain dapat memahami apa yang telah dia alami. Merasa tidak percaya dan dikhianati. Setelah mengalami pengalaman yang menyedihkan, penderita mungkin kehilangan kepercayaan dengan orang lain dan merasa dikhianati atau ditipu oleh dunia, nasib atau oleh Tuhan.

Marah dan mudah tersinggung adalah reaksi yang umum diantara penderita trauma. Tentu saja kita dapat salah kapan saja, khususnya ketika penderita merasa tersakiti, marah adalah suatu reaksi yang wajar dan dapat dibenarkan. Bagaimanapun, kemarahan yang berlebihan dapat mempengaruhi proses penyembuhan dan menghambat penderita untuk berinteraksi dengan orang lain di rumah dan di tempat terapi.

Gangguan yang berarti dalam kehidupan sehari -hari. Beberapa penderita PTSD mempunyai beberapa gangguan yang terkait dengan fungsi sosial dan gangguan di sekolah dalam jangka waktu yang lama setelah trauma. Seorang korban kejahatan mungkin menjadi sangat takut untuk tinggal sendirian. Penderita mungkin kehilangan kema mpuannya dalam berkonsentrasi dan melakukan tugasnya di sekolah. Bantuan perawatan pada penderita sangat penting agar permasalahan tidak berkembang lebih lanjut.

Persepsi dan kepercayaan yang aneh. Adakalanya seseorang yang telah mengalami trauma yang menjengkelkan, seringkali untuk sementara dapat mengembangkan ide atau persepsi yang aneh (misalnya: percaya bahwa dia bisa berkomunikasi atau melihat orang-orang yang sudah meninggal). Walaupun gejala ini menakutkan, menyerupai halusinasi dan khayalan, gejala itu bersifat sementara dan hilang dengan sendirinya.

Penelitian mengatakan bahwa terjadi hubungan antara ekposur kejadian traumatis (seperti perang, kekerasan, atau bencana alam), mengalami simptoms  post-traumatic stress disorder (PTSD), dan masalah kesehatan fisik. Masalah kesehatan yang berhubungan dengan PTSD bisa menyangkut berbagai sistem tubuh, termasuk cardiovascular, neurologi, dan gastrointestinal systems.

PTSD bisa menyebabkan kesehatan yang buruk melalui interaksi yang rumit antara mekanisme biologi dan psikologi. Studi tentang mekanisme ini dilaksanakan di National Center untuk PTSD dan pada laboratorium di seluruh dunia. Pemikiran saat ini adalah bahwa pengalaman trauma membawa perubahan neurochemical di otak. Perubahan tersebut bisa mempunyai efek biologi pada kesehatan, seperti:

- Rentan terhadap hipertensi dan atherosclerotic heart disease

- Tyroid yang tidak normal dan fungsi hormon lainnya

- Kecurigaan yang meningkat akan infeksi dan gangguan sistem kekebalan tubuh

- Permasalahan dengan persepsi rasa sakit, toleransi sakit, dan sindrom sakit kronis

- perubahan neurochemical yang berhubungan dengan ekspos trauma

PTSD juga bisa mempunyai efek psikologi dan perilaku yang kemudian dapat mempengaruhi kesehatan fisik, seperti :

- depresi

- Isolasi sosial dan gangguan dalam berhubungan dengan orang lain

- meningkatkan permusuhan dan kemarahan

- keterampilan penanganan yang salah

- meningkatnya konsumsi alkohol dan merokok

- kebiasaan makan yang salah

Studi pada pasien yang mencari penanganan kesehatan fisik menunjukan bahwa banyak orang telah terekspos trauma dan mengalami stress traumatis, tetapi belum mendapatkan penanganan kesehatan mental yang diperlukan. Bukti terkini menyarankan bahwa bantuan penanganan masalah emosional dapat mencegah atau mengurangi secara nyata kepelikan PTSD.

PENGOBATAN

Pengobatan bisa termasuk psikoterapi (mendukung dan melakukan terapi) dan pemberian obat antidepresan. Pengobatan memerlukan psikoterapi (termasuk terapi kontak) dan terapi obat. Karena sering kegelisahan hebat yang dihubungkan dengan kenangan yang menggoncangkan jiwa, psikoterapi mendukung memainkan tugas yang teramat penting pada pengobatan. Ahli terapi secara terbuka berempati dan bersimpati dalam mengenal rasa sakit psikologis. Ahli terapi menenteramkan orang bahwa respon mereka nyata tetapi menganjurkan mereka menghadapi kenangan mereka (sebagai bentuk terapi kontak). Mereka juga diajar cara untuk kegelisahan kontrol, yang menolong memodulasi dan mengintegrasikan kenangan menyiksa ke dalam kepribadian mereka.
Psikoterapi insight-oriented bisa membantu orang yang merasa merasa bersalah memahami mengapa mereka menghukum diri mereka sendiri dan membantu menghilangkan perasaan bersalah.

Obat antidepresi kelihatannya memberikan beberapa keuntungan. Gangguan stress posttraumatic kronis bisa tidak hilang tetapi seringkali sangat berkurang seiring waktu bahkan tanpa pengobatan. Meskipun demikian, beberapa orang menjadi cacat tetap dengan gangguan tersebut.

Ada dua macam terapi pengobatan yang dapat dilakukan penderita PTSD, yaitu dengan menggunakan farmakoterapi dan psikoterapi. Pengobatan farmakoterapi dapat berupa terapi obat hanya dalam hal kelanjutan pengobatan pasien yang sudah dikenal.

Pengobatan psikoterapi. Para terapis yang sangat berkonsentrasi pada masalah PTSD percaya bahwa ada tiga tipe psikoterapi yang dapat digunakan dan efektif untuk penanganan PTSD, yaitu: anxiety management, cognitive therapy, exposure therapy .

Pada anxiety management, terapis akan mengajarkan beberapa ketrampilan untuk membantu mengatasi gejala PTSD dengan lebih baik melalui: 1) relaxation training, yaitu belajar mengontrol ketakutan dan kecemasan secara sistematis dan merelaksasikan kelompok otot -otot utama, 2) breathing retraining, yaitu belajar bernafas dengan perut secara perlahan -lahan, santai dan menghindari bernafas dengan tergesa-gesa yang menimbulkan perasaan tidak nyaman, bahkan reaksi fisik yang tidak baik seperti jantung berdebar dan sakit kepala, 3) positive thinking dan self-talk, yaitu belajar untuk menghilangkan pikiran negatif dan mengganti dengan pikiran positif ketika menghadapi hal-hal yang membuat stress (stresor), 4) asser-tiveness training, yaitu belajar bagaimana

mengekspresikan harapan, opini dan emosi tanpa menyalahkan atau menyakiti orang lain, 5) thought stopping, yaitu belajar bagaimana mengalihkan pikiran ketika kita sedang memikirkan hal-hal yang membuat kita stress (Anonim, 2005b).

Dalam cognitive therapy, terapis membantu untuk merubah kepercayaan yang tidak rasional yang mengganggu emosi dan mengganggu kegiatan -kegiatan kita. Misalnya seorang korban kejahatan mungkin menyalahkan diri sendiri karena tidak hati -hati. Tujuan kognitif terapi adalah mengidentifikasi pikiran-pikiran yang tidak rasional, mengumpulkan bukti bahwa pikiran tersebut tidak rasional untuk melawan pikiran tersebut yang kemudian mengadopsi pikiran yang lebih realistik untuk membantu mencapai emosi yang lebih seimbang (Anonim, 2005b).

Sementara itu, dalam exposure therapy para terapis membantu meng-hadapi situasi yang khusus, orang lain, obyek, memori atau emosi yang mengingatkan pada trauma dan menimbulkan ketakutan yang tidak realistik dalam ke -hidupannya. Terapi dapat berjalan dengan cara: exposure in the imagination, yaitu bertanya pada penderita untuk mengulang cerita secara detail sampai tidak mengalami hambatan menceritakan; atau exposure in reality, yaitu membantu menghadapi situasi yang sekarang aman tetapi ingin dihindari karena menyebabkan ketakutan yang sangat kuat (misal: kembali ke rumah setelah terjadi perampokan di rumah). Ketakutan bertambah kuat jika kita berusaha mengingat situasi tersebut dibanding berusaha melupakannya. Pengulangan situasi disertai penyadaran yang berulang akan membantu menyadari situasi lampau yang menakutkan tidak lagi berbahaya dan dapat diatasi (Anonim, 2005b).

Di samping itu, didapatkan pula terapi bermain (play therapy) mungkin berguna pada penyembuhan anak dengan PTSD. Terapi bermain dipakai untuk menerapi anak dengan PTSD. Terapis memakai permainan untuk memulai topik yang tidak dapat dimulai secara langsung. Hal ini dapat membantu anak lebih merasa nyaman dalam berproses dengan pengalaman traumatiknya (Anonim, 2005b).

Terapi debriefing juga dapat digunakan untuk mengobati traumatik. Meskipun ada banyak kontroversi tentang debriefing baik dalam literatur PTSD umum dan di dalam debriefing yang dipimpin oleh bidan. Cochrane didalam systematic reviews-nya merekomendasi-kan perlu untuk melakukan debriefing pada kasus korban -korban trauma (Rose et al, 2002). Mengenai debriefing oleh bidan, Small gagal menunjukkan secara jelas manfaatnya (Small et al., 2000). Meski begitu, Boyce dan Condon merekomendasikan bidan untuk melakukan debriefing pada semua wanita yang berpotensi mengalami kejadian traumatik ketika melahirkan (Boyce & Condon, 2000).

Selain itu, didapatkan pula support group therapy dan terapi bicara. Dalam support group

therapy seluruh peserta merupakan penderita PTSD yang mempunyai pengalaman serupa

(misalnya korban bencana tsunami, korban gempa bumi) dimana dalam proses terapi mereka saling menceritakan tentang pengalaman traumatis mereka, kemdian mereka saling memberi penguatan satu sama lain (Swalm, 2005). Sementara itu dalam terapi bicara memperlihatkan bahwa dalam sejumlah studi penelitian dapat membuktikan bahwa terapi saling berbagi cerita mengenai trauma, mampu memperbaiki kondisi jiwa penderita. Dengan berbagi, bisa memperingan beban pikiran dan kejiwaan yang dipendam. Bertukar cerita membuat merasa senasib, bahkan merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Kondisi ini memicu seseorang untuk bangkit dari trauma yang diderita dan melawan kecemasan (Anonim, 2005b).

Pendidikan dan supportive konseling juga merupakan upaya lain untuk mengobati PTSD.

Konselor ahli mempertimbangkan pentingnya penderita PTSD (dan keluarganya) untuk mempelajari gejala PTSD dan bermacam treatment (terapi dan pengobatan) yang cocok untuk PTSD.

Walaupun seseorang mempunyai gejala PTSD dalam waktu lama, langkah pertama yang pada akhirnya dapat ditempuh adalah mengenali gejala dan permasalahannya sehingga dia mengerti apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya (Anonim, 2005b).

Di lain pihak, sampai saat ini masih didapatkan pula beberapa tipe psikoterapi yang lain. Misalnya, eye movement desensitization reprocessing (EMDR), hypnotherapy dan psikodinamik psikoterapi, yang seringkali digunakan untuk terapi PTSD dan kadang sangat membantu bagi sebagian penderita (Anonim, 2005b).

Referensi :

Yurika Fauzia Wardhani & Weny Lestari, “Gangguan Stres Pasca Trauma pada Korban Pelecehan Seksual dan Perkosaan”.

W. Roan, “Melupakan Kenangan Menghapus Trauma” dalam Intisari, Desember 2003,

http://www.jaga-jaga.com/anIjakTerkini. php? ida= 65234, diakses 4 Mei 2005.

http://id.88db.com/Kesehatan-Pengobatan/Terapi-Kesehatan-Lain/ad-260583/

http://medicastore.com/penyakit_subkategori/5/index.html

Owl Creek Bridge

Posted: April 8, 2010 in Bahasa Inggris

Main Idea

During the civil war of the 1816 between The American States of The North and The States of The South, there are a group of soldiers from The South tried to stop northern military movement across The Owl Creek Bridge. But, they were caught and become prisoner. Three soldiers of the northern army would hang him. Before he died, he dreams he has escaped. He could free his hands, then he could get the rope off his neck and jumped into the river, he could swim under the water and escaped a fire of their guns, he could reach the other side of the river and get home through the forest. His house is outside of their military area and his wife and children are safe there, he would be too. But that’s really the images in the prisoner’s mind, so he died, hanging in The Owl Creek Bridge.

The Meaning of Death in Islam

Muslims believe that the present life is a trial in preparation for the next realm of existence. When a Muslim dies, he or she is washed and wrapped in a clean, white cloth (usually by a family member) and buried after a special prayer, preferably the same day. Muslims consider this a final service that they can do for their relatives and an opportunity to remember that their own existence here on earth is brief.

The question of whether there is life after death does not fall under the jurisdiction of science, as science is concerned only with classification and analysis of sense data.

Did they realize the truth through perceptual consciousness? They couldn’t, as perceptual experience of life after death is impossible. God has given man besides perceptual consciousness, rational, aesthetic and moral consciousness too. It is this consciousness that guides man regarding realities that cannot be verified through sensory data. That is why all the Prophets of God while calling people to believe in God and life after death appeal to the aesthetic, moral and rational consciousness of man.

On another occasion, the Quran very clearly says that the disbelievers have no sound basis for their denial of life after death. It is based on pure conjecture:

And they say, “There is not but our worldly life; we die and live (i.e. some people die and others live, replacing them) and nothing destroys us except time.” And they have of that no knowledge; they are only assuming. And when Our verses are recited to them as clear evidences, their argument is only that they say, “Bring [back] our forefathers, if you should be truthful.” Say, “God causes you to live, then causes you to die; then He will assemble you for the Day of Resurrection, about which there is no doubt,” but most of the people do not know. (Quran, 45:24-26)

Surely God will raise all the dead. But God has His own plan of things. A day will come when the whole universe will be destroyed and then the dead will be resurrected to stand before God. That day will be the beginning of a life that will never end, and on that day every person will be rewarded by God according to his or her good or evil deeds.

The Quran very emphatically states that the Day of Judgment must come and that God will decide the fate of each soul according to his or her record of deeds:

But those who disbelieve say, “The Hour (i.e. the Day of Judgment) will not come to us.” Say, “Yes, by my Lord, it will surely come to you. [God is] the Knower of the unseen.” Not absent from Him is an atom’s weight within the heavens or within the earth or [what is] smaller than that or greater, except that it is in a clear register – That He may reward those who believe and do righteous deeds. Those will have forgiveness and noble provision. But those who strive against Our verses [seeking] to cause failure (i.e. to undermine their credibility) – for them will be a painful punishment of foul nature. (Quran, 34:3-5)

The Quran also states that this worldly life is a preparation for the eternal life after death. But those who deny it become slaves of their passions and desires, making fun of virtuous and God-conscious persons.

Such persons realize their folly only at the time of their death and wish to be given a further chance in the world but in vain.

The belief in life after death not only guarantees success in the Hereafter but also makes this world full of peace and happiness by making individuals most responsible and dutiful in their activities.

Death is one of little day of judgment for people who thinking, kullu nafsin dzaa iqatul maut. Alladziina idza asobathum musibatun innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Events of the Day of Judgment

God states in the Quran about the events of the Day of Judgment:

Then when the Horn is blown with one blast, and the earth and the mountains are lifted and leveled with one blow [i.e. stroke] – Then on that Day, the Occurrence [i.e. Resurrection] will occur, And the heaven will split [open], for that Day it is infirm (i.e. weak, enfeebled and unstable). And the angels are at its edges. And there will bear the Throne of your Lord above them, that Day, eight [of them]. That Day, you will be exhibited [for judgment]; not hidden among you is anything concealed (i.e. any person or any secret you might attempt to conceal). So as for he who is given his record in his right hand, he will say, “Here, read my record! Indeed, I was certain that I would be meeting my account.” So he will be in a pleasant life – In an elevated Garden, Its [fruit] to be picked hanging near. [They will be told], “Eat and drink in satisfaction for what you put forth (i.e. literally, advanced in anticipation of reward in the Hereafter) in the days past.” But as for he who is given his record in his left hand, he will say, “Oh, I wish I had not been given my record, and had not known what is my account. I wish it [i.e. my death] had been the decisive one (i.e. ending life rather than being the gateway to eternal life). My wealth has not availed me. Gone from me is my authority.” [God will say], “Seize him and shackle him. Then into Hellfire drive him. Then into a chain whose length is seventy cubits insert him.” Indeed, he did not used to believe in God, the Most Great. (Quran, 69:13-33)

The Prophet Muhammad  taught that three things continue to benefit a [believing] person even after death – charity which he had given (which continues to benefit others), beneficial knowledge which he had left behind (i.e. authored or taught), and supplication on his behalf by a righteous child (Narrated by Saheeh Muslim).

The Meaning of Death in Psychology

Human beings think about the impact and inevitability of death throughout much of their lives. Most children understand by the ages of 5 to 7 that death is the irreversible ending of all life functions, and that it happens to all living beings. Adolescents fully comprehend the meaning of death, but they often believe that they are somehow immortal. As a result, they may engage in risky behavior, such as driving recklessly or smoking, with little thought of dangerous consequences.

Although most young and middle adults have gained a more realistic view of death through the death of some family members or friends, anxiety about death may be more likely to peak in middle adulthood. As people continue aging, they gradually learn to accept the eventual deaths of loved ones, as well as their own deaths. By later adulthood, most people come to accept—perhaps with some tranquility if they feel they have lived meaningfully—the inevitability of their own demise, which prompts them to live day by day and make the most of whatever time remains. If they do not feel they have lived meaningfully, older adults may react to impending death with feelings of bitterness or even passivity.

The concept of searching for meaning in life through death is one of the foundations of existential psychology. Existential psychologists like Rollo May believe that individuals must accept the inevitability of their own deaths and the deaths of loved ones; otherwise, they cannot fully embrace or find true meaning in life. This theory tracks with research that indicates that the more purpose and meaning that individuals see in their lives, the less they fear death. In contrast, the denial of death leads to existential anxiety, which can be a source of emotional troubles in daily life.

Created By :

Ferra Herawati

Leni Novianti

Muhammad Rizki

Nuraini Azizah

Rafij Riska Ratna Kumala Dewi

Buku-buku sebelum penemuan percetakan mahal harganya. Tidak ada yang bisa memilikinya kecuali orang-orang kaya, karena ditulis dengan beban (kesulitan) yang tinggi. Dengan demikian orang-orang yang mampu dari para pecinta ilmu mendirikan perpustakaan dengan mengumpulkan buku-buku dan membuka pintu-pintu bagi para pecinta ilmu untuk membaca dan melakukan penelitian. Perpustakaan ini juga melaksanakan apa yang dilaksanakan oleh lembaga-lembaga ilmu dan universitas di saat ini.

Khalifah Harun Ar-Rasyid telah membangun Baitul Hikmah yang merupakan perpustakaan umum yang pertama di dunia Islam. Perpustakaan tersebut menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpulnya para ilmuwan untuk belajar dan melakukan penelitian, dan juga tempat belajar para pencari ilmu, sehingga masa Khalifah Al-Ma’mun dipandang sebagai masa kejayaan Baitul Hikmah, dimana banyak diterjemahkanya sejumlah besar buku-buku dari Yunani, Persia, dan India.

Dari beberapa perpustakaan yang terkenal, diantaranya Darul Hikmah yang dibangun pada akhir abad ke-4 H di Kairo. Telah banyak buku-buku yang diambil dari lemari istana dan buku-buku tersebut diizinkan masuk untuk semua bangsa. Diantara mereka ada yang datang untuk membaca atau untuk menyalin dan untuk mempelajarinya. Pembangunan perpustakaan ini sangat besar dengan meliputi 40 lemari dan berisi sekitar 18.000 buku dengan rak-rak yang terbuka dan buku-buku yang terjangkau untuk semua pihak.

Terjemah dari Buku Bahasa Arab.

Kelompok 7

Ferra Herawati

Nuraini Azizah

Rafij Riska Ratna Kumala Dewi