Ar-Risalah, Kisah Nabi Muhammad (

Posted: April 3, 2010 in Sejarah Peradaban Islam

PENDAHULUAN

Islam (Arab: al-islām: “berserah diri kepada Allah”) adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Islam memiliki arti “penyerahan”, atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti “seorang yang tunduk kepada Allah”, atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah

Muhammad (bahasa Arab: محمد, juga dikenal sebagai Mohammad, Mohammed) adalah pembawa ajaran Islam, dan diyakini oleh umat Muslim sebagai nabi Allah (Rasul) yang terakhir. “Muhammad” dalam bahasa Arab berarti “dia yang terpuji”. Muslim mempercayai bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad adalah penyempurnaan dari agama-agama yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya. Mereka memanggilnya dengan gelar Rasulullah, dan menambahkan kalimat sallallaahu alayhi wasallam, yang berarti “semoga Allah memberi kebahagiaan dan keselamatan kepadanya”; sering disingkat “s.a.w” atau “S.A.W”) setelah namanya. Selain itu Al-Qur’an dalam Surah As-Saff (QS 61:6) menyebut Muhammad dengan nama “Ahmad”, yang dalam bahasa Arab juga berarti “terpuji”.

Michael H. Hart, dalam bukunya The 100, menetapkan Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Menurut Hart, Muhammad adalah satu-satunya orang yang berhasil meraih keberhasilan luar biasa baik dalam hal agama maupun hal duniawi. Dia memimpin bangsa yang awalnya terbelakang dan terpecah belah, menjadi bangsa maju yang bahkan sanggup mengalahkan pasukan Romawi di medan pertempuran.

MASA SEBELUM KEDATANGAN ISLAM

Pada mulanya bangsa Arab mengikuti ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Pergaulan mereka dengan bangsa lain mempengaruhi kepercayaan mereka, sehingga mereka menyembah berhala yang terbuat dari batu-batu dan logam. Menurut riwayat sebab-sebab orang Arab menyembah berhala adalah Amr bin Luay Al-Khuzai yakni dari orang Khuza’ah meniru orang- orang Balk di daerah Syam dan ia tertarik akan perbuatan itu, maka sewaktu kembali ke Mekkah ia membawa patung Hubban dan diletakkan di dekat Ka’bah kemudian disembahnya serta ia menganjurkan agar masyarakat Arab untuk menyembah berhala tersebut.

Pada abad ke-6 Masehi berada dalam kesesatan, di Ka’bah terdapat 360 berhala, jumlah ini sesuai dengan jumlah suku Arab.  Diantaranya bernama: Hubban (tuhan cita- cita), Latta, Manah (tuhan kemudahan), Ujjah (tuhan kebahagiaan), dll.

Bangsa Arab pada waktu itu mempunyai sifat atau watak yang baik dan ada juga sifat yang buruk. Diantara sifat yang baik itu adalah:
Menghormati tamu; Pemberani dalam segala hal; Ahli pidato dan syair, sudah menjadi lambang kejayaan suatu suku bila terdapat juru pidato dan penyair, mereka selalu mengadakan perlombaan- perlombaan di pasar- pasar seperti di pasar Ukaz. Diceritakan dalam Film Ar-Risalah, seorang penyair memuji Abu Sofyan yang sedang melewati pasar tersebut dengan kata-kata puitisnya sehingga Abu Sofyan memberikan sekantong uang.

Sedangkan sifat- sifat buruknya adalah:

Hidup berfoya- foya; Suka mabuk-mabukan; Berzina; Berjudi; Makan dan minum masih kotor; Melakukan pencurian; Bila melahirkan bayi perempuan diantara suku Arab ada yang mengubur hidup- hidup karena mereka takut akan cela dan hina; Tidak mempunyai kesopanan, contohnya ketika mengerjakan Thowaf suka tidak berpakaian (telanjang bulat); mandi di depan orang banyak tidak menutupi aurat; Pertengkaran dan perkelahian.

KERASULAN NABI MUHAMMAD SAW

Setelah 14 tahun berumah tangga dengan Khadijah, Muhammad sering berkhalwat ke Gua Hira yang terdapat di Bukit Nur (Jabal Nur). Berkhalwat ini dilakukan Muhammad dengan khusyu’, kadang-kadang sampai beberapa hari baru beliau pulang. Pada suatu hari Muhammad telat pulang berkhalwatnya, sehingga Khadijah khawatir dengan suaminya, beliau menyuruh Zaed untuk mencari suaminya kerumah Abu Bakar dan rumah pamannya Abu Thalib. Di kedua rumah tersebut Muhammad tidak diketemukan. Zaed langsung ke Gua Hira dimana Muhammad suka berkhalwat. Setelah sampai di Gua Hira ternyata sedang menerima wahyu melalui malaikat Jibril, Zaed menyaksikan hal itu, Muhammad berselimut dan badannya bergemetar. Jibril memeluk Muhamad seraya berkata “Bacalah ya Muhammad”. Muhammad menjawab, “saya tidak bisa membaca”.

Malaikat Jibril memeluk Muhammad kembali dan menyuruh membaca, Muhammad menjawab “saya tidak bisa membaca”. Untuk ketiga kalinya malaikat Jibril menyuruh Muhammad untuk membaca sambil memeluk erat-erat. Muhammad akhirnya berkata kepada malaikat Jibril “apa yang harus saya baca?”, kemudian malaikat Jibril menjawab pertanyaan Muhammad yakni wahyu pertama dari Allah SWT seperti yang tercantum dalam surat Al-‘Alaq ayat 1-5, mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya dan Muhammadpun membaca seolah-olah ditulis sebuah ayat di hatinya.

1.  Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,

2.  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

3.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,

4.  Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],

5.  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

(Q.S. Al-‘Alaq: 1-5)

[1589]  Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.

Muhammad keluar dari Gua tersebut, beliau mendengar dari langit, “Engkaulah utusan Allah dan aku Jibril”. Beliaupun cerita kepada istrinya apa yang ia saksikan dan lihat selama dia di Gua Hira sampai tiba dirumah. Khadijahpun berkata: “Sampaikanlah! Tegarlah! Demi Allah aku sangat mengharapkan kau menjadi Nabi bagi ummat ini”.

Nabi Muhammad mulai menyebarkan agama Islam mulai dari sanak keluarga yang terdekat dan teman sejawat. Seruan Nabi Muhammad dalam menegakkan agama Allah kepada penduduk Mekkah mendapat sambutan baik dari kalangan sahabat dan keluarga.

Adapun orang-orang yang mula-mula masuk islam antara lain:
Khadijah, istri Nabi Muhammad dari golongan wanita
Abu Bakar bin Abu Quhafah, kawan dekat Nabi Muhammad dari golongan laki-laki.
Ali bin Abi Thalib, kemenakan Nabi Muhammad yang diasuhnya sejak kecil, beliau dari golongan anak-anak.
Zaed bin Harits, hamba sahaya Nabi Muhammad yang telah dimerdekakan, dari golongan hamba sahaya.

PENYEBARAN ISLAM

Untuk pembinaan keimanan mereka Nabi Muhammad mengambil tempat di rumah salah seorang sahabat yang bernama Al-Arqam, kemudian tempat tersebut diberi nama Darul Arqam. Pada awalnya Nabi Muhammad dakwah secara sembunyi-sembunyi (Sir) yang berlangsung selama 3 tahun. Ketika Nabi Muhammad mendapat pengikut 30 orang, mereka mendapat sebutan Assabiqunal Awwalun, artinya orang yang pertama kali masuk islam.

Orang-orang kafir yang tidak suka dengan ajaran Islam semakin membenci ajaran yang dibawa Nabi. Mereka merintangi disebarkannya agama Islam. Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy yakni Abu Lahab dkk. antara lain dengan menyiksa hamba sahaya dan orang-orang fakir yang masuk islam. Diantaranya orang yang pernah disiksa adalah: Bilal bin Rabbah, Yasir, Amar bin Yasir, Sumaiyah (istri Yasir) dll. Mereka menerima siksaan diluar perikemanusiaan dengan berbagai macam cara misalnya dengan pukulan, cambukan, tidak diberi makan dan minum, seperti halnya Bilal dijemur dibawah terik matahari dan diatasnya diberi batu besar. Penyebabnya Bilal tidak mau mencambuk Amar bin Yasir ketika ada dalam tahanan, tapi yang dikatakan oleh Bilal hanya “Ahad….. Ahad….. Allahu Ahad”.

Perintah da’wah secara terang-terangan telah disampaikan kepada orang-orang yang sudah masuk Islam. Mereka pun bersemangat dengan mengucapkan tahlil dan berbondong-bondong keluar ke jalan-jalan. Hal ini tidak mudah karena dalam perjalanan tersebut orang kafir Quraisy melempari dan menghalangi jalan mereka dengan membakar kayu bakar di tengah jalan yang akan mereka lewati sehingga turunlah surat Al-Lahab :
1.  Binasalah kedua tangan abu Lahab dan Sesungguhnya dia akan binasa[1607].
2.  Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.
3.  Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.
4.  Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar[1608].
5.  Yang di lehernya ada tali dari sabut.
(Q.S. Al-Lahab: 1-5)
[1607]  yang dimaksud dengan kedua tangan abu Lahab ialah abu Lahab sendiri.

[1608]  Pembawa kayu bakar dalam bahasa Arab adalah kiasan bagi penyebar fitnah. isteri abu Lahab disebut pembawa kayu bakar Karena dia selalu menyebar-nyebarkan fitnah untuk memburuk-burukkan nabi Muhammad s.a.w. dan kaum muslim. Biasanya tukang-tukang sihir dalam melakukan sihirnya membikin buhul-buhul dari tali lalu membacakan jampi-jampi dengan menghembus-hembuskan nafasnya ke buhul tersebut.

Ketika orang Islam dianiaya dan mengalami ketidakberdayaan, datanglah Hamzah, seorang pemburu singa yang ditakuti di Mekkah, beliau membela Rasulullah dan menyatakan dia berada dalam barisan Rasulullah.

Orang kafir itu marah sehingga berencana untuk membantai orang-orang yang lemah. Siksaan tersebut diterima oleh keluarga Amar yakni ayah dan ibunya. Mereka disuruh meninggalkan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad, ayahnya dicekik dan ibunya ditusuk dengan lembing sampai terpanggang dan akhirnya meninggal, tapi Amar tidak dibunuh dia terpaksa mengucapkan nama tuhan orang kafir Quraisy yakni Hubban. Nabi Muhammad mengerti apa yang dilakukan Amar tersebut tidak disertai dengan keyakinan hati, sehingga beliau mema’afkan Amar.

Atas kejadian tersebut yakni orang kafir Quraisy menindas dan menyiksa orang-orang yang masuk Islam, Nabi Muhammad memerintahkan meninggalkan kota Mekkah (hijrah) menuju Habsyah.

HIJRAH KE HABSYAH

Akibat halangan dari masyarakat jahiliyyah di Mekkah, sebagian orang Islam disiksa, dianiaya, disingkirkan dan diasingkan. Penyiksaan yang dialami hampir seluruh pengikutnya membuat lahirnya ide berhijrah (pindah) ke Habsyah. Negus, raja Habsyah, memperbolehkan orang-orang Islam berhijrah ke negaranya dan melindungi mereka dari tekanan penguasa di Mekkah.

Setibanya di Habsyi, sahabat dan rombongan bertemu dengan Raja Habsyi. Kemudian Raja Habsyi menanyakan mengapa Muhammad mengirim mereka kesini. Kemudian sahabat menjawab, karena kalian dari ahlul kitab, beriman kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya. Tapi Amr mengatakan bahwa perkataan mereka bagai yang haus akan air. Raja Habsyi itu sangat teguh, tidak akan terpengaruh dengan cepat. Akhirnya sahabat menjelaskan, ”Kami sebelumnya dari bangsa yang yang bodoh, menyembah patung yang kami buat dari batu dan kayu. Kami memakan bangkai, kami melakukan hal-hal keji, berpecah belah, yang kuat menginjak yang lemah. Sehingga Allah mengutus seorang Rasul kepada kami, yaitu yang diketahui keturunannya, kejujurannya dan dapat dipercaya dan ia mengajak kami untuk menyembah Tuhan yang Satu. Dan melarang menyembah kepada apa-apa yang disembah oleh orang tua kami dari batu dan kayu”.

Lalu Amr berkata,”Kalian telah menghina tuhan kami yang agung, kami tidak menyembah tuhan kami dari kayu dan batu, kami menyembah arwah yang kami sebut sebagai perantara pendekatan kepada Allah”.
”Agama kami menyuruh kami untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukannya, serta menyuruh mengerjakan shalat, berbicara jujur, menyampaikan amanat, mempererat persaudaraan, bertetangga dengan baik menjauhkan hal-hal yang haram dan darah, juga melarang kami dari hal-hal yang keji, dusta, memakan harta anak yatim dan membunuh para gadis.”

Raja bertanya, ”Untuk apa engkau memperdulikan tuhan kami yang banyak apakah kamu memahami mereka yang bertuhan Esa?”
Sahabat menjawab, ”Tuhan kami, Tuhan manusia seluruhnya. Tuhannya Ibrahim, Musa, Zakaria, Yahya dan Isa, memberikan wahyu kepada mereka sebelumnya. Seperi memberikan wahyu kepada Muhammad. Tidak kami bedakan salah satu diantara para Rasul tersebut”.

Raja berkata, ”Siapakah yang mengajarkan kalian nama-nama itu?!”
Sahabat menjawab, ”Al Quran yang telah diturunkan kepada Muhammad”.
Amr berkata, ”Muhammad? Kita tahu, ia seorang anak yatim, hai Yang Mulia”.
Sahabat  berkata, ”Isa juga lahir dalam keadaan yatim. Aku katakan kebenaran pada kalian bahwa apa-apa yang dibawa oleh Muhammad dan Isa bersumber dari cahaya yang satu.”
“Hai Raja, mereka mengatakan kepadamu tentang Isa, perkataan yang tidak pantas kepadamu”, ujar Amr.
Lalu sahabat berkata, ”Kami katakan tentang Isa bersumber dari yang diturunkan kepada Muhammad: ia adalah ruh, kekuasaan Tuhan disampaikan melalui Maryam yang tidak bersuami”.
Amr    : “Tanya kepada mereka! Siapa yang melahirkan Isa? Dan bagaimana?”
Raja    : “Apakah dalam Al Quran ada sesuatu tentang kelahiran Isa?”
Sahabat    : “Ya, aku akan membacakannya.”
Raja    : “Baiklah, berikan apa yang ada padamu.”
Lalu sahabat menyampaikan ayat Al-Qur’an sebagai berikut :

Dan Ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, 17.  Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu kami mengutus roh Kami[901] kepadanya, Maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. 18.  Maryam berkata: “Sesungguhnya Aku berlindung dari padamu kepada Tuhan yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”. 19.  Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya Aku Ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. 20.  Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan Aku bukan (pula) seorang pezina!” 21.  Jibril berkata: “Demikianlah”. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagiKu; dan agar dapat kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”. (Q.S. Maryam: 16-21)

Raja Habsyi kemudian berkata, “kamu dan orang-orangmu boleh menetap disini sampai Allah mengizinkan kalian kembali”.

TAHUN KESEDIHAN

Di Mekah rumah-rumah dirusak, dibakar dan orang-orang diusir. Setahun telah berlalu, Muhammad dan kaumnya tetap sabar atas segala penderitaan. Ditambah dengan kesedihan atas wafatnya Khadijah disusul dengan sakitnya paman Rasul hingga meninggal, itulah tahun duka cita. Sesudah Rasul melihat bahwa Mekah tidak lagi sesuai menjadi pusat dakwah Islam, maka berpindahlah beliau keluar kota Mekah. Negeri yang dituju ialah Thaif. Thaif merupakan kota kedua dari kota-kota Arab dimana Nabi dan orang-orang besertanya menuju kota tersebut yang diharapkan ada pertolongan dari raja kota itu. Ajakan Nabi Muhammad itu ditolak mereka dengan kasar. Nabi diusir, disoraki, dan dikejar-kejar sambil dilempari dengan batu. Dari kakinya mengalir darah, beliau berdoa kepada Allah. Allah mengabulkan doa Nabi-Nya. Sejak tahun itu beberapa orang berhaji dengan sembunyi-sembunyi masuk Islam. Dan pada musim haji berikutnya dimana kaum Quraisy lengah, para utusan dari laki-laki kaum Aup dan Khadraz membaiat mereka untuk membantu dan menolong orang-orang yang dalam kebajikan. Mereka mengharapkan Nabi pindah ke kota mereka dan menyelamatkan kota mereka dari kedengkian dan kebinasaan. Tapi pembai’atan belum sempurna hingga mereka tahu untuk apa mereka memba’iat.

HIJRAH KE MADINAH

Kaum Muhajirin meninggalkan kota serombongan demi serombongan. Yang hijrah di jalan Alloh, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Ubaid bin Jarrah, Umar bin Khottob, dan semua yang lebih awal beriman dari orang-orang yang terkemuka dan orang-orang kuat. 70 lebih dari mereka semua yang mengikuti jalan yang ditakdirkan untuk memperbaiki zaman dan manusia serta merubah permukaan dunia. Tapi Rasulullah belum meninggalkan Mekkah sampai hatinya tenang atas keselamatan kaum Muhajirin Terjadi pertemuan antara Abu Sufyan dan Ibnu Sahil. Ibnu Sahil berpura-pura Islam. Mereka menyusun rencana untuk membunuh Muhammad. Mereka mengambil beberapa pemuda dan anak-anak yang kuat untuk mengeroyok dan membunuhnya. Pada suatu malam mereka mengelilingi rumah Rasul ketika mereka memasuki rumah itu ternyata yang ada Ali sedangkan Rasulullah tidak ada. Akhirnya Abu Sufyan pun mengejar Rasulullah dan Abu Bakkar beserta seorang penunjuk jalan. Ketika sampai di sebuah gua, Abu Sufyan berteriak agar Rasulullah menyerah untuk ikut bersama Abu Sufyan. Ketika Abu Sufyan mendekati mulut gua ada sarang laba-laba. Sehingga mereka berfikir tidak mungkin ada orang di dalamnya. Lalu Abu Sufyan pergi. Rasulullah dan Abu Bakkar pun selamat. Abu Bakkar tidak pernah meninggalkan Nabi dalam penyebaran dan Nabi selalu memberikan semangat dengan keyakinan ucapan, ”Jangan bersedih karena Allah beserta kita”. Setelah beberapa hari dalam perjalanan yang sangat panas, kemudian Rasulullah, Sahabatnya, dan seorang penunjuk jalan melewati jalan pintas yang belum pernah dilewati oleh manusia. Di Madinah, orang-orang Muslim menunggu kedatangan Rasul, hati mereka takut dan cemas. Rasulullah pun tiba di Madinah Munawaroh disambut dengan meriah. Semuanya menginginkan Rasulullah tinggal dirumahnya, akhirnya diputuskan dengan onta, dimana onta itu berhenti maka disitulah akan dibangun mesjid dan rumah Rasulullah. Kemudian dibangunlah sebuah mesjid. Dan untuk menyerukan panggilan shalat dengan suara manusia oleh Bilal. Kemudian Rasulullah mempersatukan Kaum Muhajirin dan Kaum Anshar.

PERANG BADAR

Ibnu Sahil mendatangi Abu Sufyan. Mereka merencanakan mengambil apa yang ditinggal oleh kaum Muhajirin yang di Mekkah. Kemudian Ibnu Sahil kembali lagi ke Madinah dan memberitahukan bahwa harta mereka hilang tak tersisa. Rumah Rasulullah pun dijual. Hamzah mengusulkan untuk berperang. Namun Rasulullah melarangnya sebelum Allah memerintahkannya. Setelah beberapa saat perang pun akan dimulai. Semuanya mempersiapkan peralatan. Pedang Ali merupakan pedang pertama. Pertempuran Badar (bahasa Arab: غزوة بدر, ghazawāt badr), adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini terjadi pada 17 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadhan 2 Hijriah. Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313, orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy dari Mekkah yang berjumlah 1.000 orang. Setelah bertempur habis-habisan sekitar dua jam, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan. Sebelum pertempuran ini, kaum Muslim dan penduduk Mekkah telah terlibat dalam beberapa kali konflik bersenjata skala kecil antara akhir 623 sampai dengan awal 624, dan konflik bersenjata tersebut semakin lama semakin sering terjadi. Meskipun demikian, Pertempuran Badar adalah pertempuran skala besar pertama yang terjadi antara kedua kekuatan itu. Muhammad saat itu sedang memimpin pasukan kecil dalam usahanya melakukan pencegatan terhadap kafilah Quraisy yang baru saja pulang dari Syam, ketika ia dikejutkan oleh keberadaan pasukan Quraisy yang jauh lebih besar. Pasukan Muhammad yang sangat berdisiplin bergerak maju terhadap posisi pertahanan lawan yang kuat, dan berhasil menghancurkan barisan pertahanan Mekkah sekaligus menewaskan beberapa pemimpin penting Quraisy, antara lain ialah Abu Jahal alias Amr bin Hisyam. Tetapi juga Rasulullah memerintahkan bahwa tawanan perang jangan diikat serta yang bisa membaca dan menulis diperintahkan untuk memberikan pengajaran kepada umat Islam. Bagi kaum Muslim awal, pertempuran ini sangatlah berarti karena merupakan bukti pertama bahwa mereka sesungguhnya berpeluang untuk mengalahkan musuh mereka di Mekkah. Mekkah saat itu merupakan salah satu kota terkaya dan terkuat di Arabia zaman jahiliyah. Kemenangan kaum Muslim juga memperlihatkan kepada suku-suku Arab lainnya bahwa suatu kekuatan baru telah bangkit di Arabia, serta memperkokoh otoritas Muhammad sebagai pemimpin atas berbagai golongan masyarakat Madinah yang sebelumnya sering bertikai. Berbagai suku Arab mulai memeluk agama Islam dan membangun persekutuan dengan kaum Muslim di Madinah; dengan demikian, ekspansi agama Islam pun dimulai. Setelah perang tersebut, suatu hari di Yatsrib, ketika umat Muslim shalat berjamaah di Masjid Nabawi, datanglah pedagang dari Yaman. Pedagang yang mampir itu keheranan kenapa dagangan-dagangan di pasar ditinggalkan begitu saja. Tiba-tiba Hamzah lewat dan berkata bahwa, “Allah yang menjaganya!”. Kemudian pedagang tersebut menceritakan bahwa dia telah melewati Mekah dan melihat orang-orang Quraisy sedang mempersiapkan perang lagi. Kekalahan Quraisy dalam Pertempuran Badar menyebabkan mereka bersumpah untuk membalas dendam, dan hal ini terjadi sekitar setahun kemudian dalam Pertempuran Uhud.  PERANG UHUD Pertempuran Uhud adalah pertempuran yang pecah antara kaum muslimin dan kaum kafir Quraisy pada tanggal 22 Maret 625 M (7 Syawal 3 H). Pertempuran ini terjadi kurang lebih setahun lebih seminggu setelah Pertempuran Badr. Tentara Islam berjumlah 700 orang sedangkan tentara kafir berjumlah 3.000 orang. Tentara Islam dipimpin langsung oleh Rasulullah sedangkan tentara kafir dipimpin oleh Abu Sufyan. Disebut Pertempuran Uhud karena terjadi di dekat bukit Uhud yang terletak 4 mil dari Masjid Nabawi dan mempunyai ketinggian 1000 kaki dari permukaan tanah dengan panjang 5 mil. Rasulullah menempatkan pasukan Islam di kaki bukit Uhud di bagian barat. Tentara Islam berada dalam formasi yang kompak dengan panjang front kurang lebih 1.000 yard. Sayap kanan berada di kaki bukit Uhud sedangkan sayap kiri berada di kaki bukit Ainain (tinggi 40 kaki, panjang 500 kaki). Sayap kanan Muslim aman karena terlindungi oleh bukit Uhud, sedangkan sayap kiri berada dalam bahaya karena musuh bisa memutari bukit Ainain dan menyerang dari belakang, untuk mengatasi hal ini Rasulullah menempatkan 50 pemanah di Ainain dibawah pimpinan Abdullah bin Jubair dengan perintah yang sangat tegas dan jelas yaitu, “Gunakan panahmu terhadap kavaleri musuh. Jauhkan kavaleri dari belakang kita. Selama kalian tetap di tempat, bagian belakang kita aman. jangan sekali-sekali kalian meninggalkan posisi ini. Jika kalian melihat kami menang, jangan bergabung; jika kalian melihat kami kalah, jangan datang untuk menolong kami.” Di belakang pasukan Islam terdapat 14 wanita yang bertugas memberi air bagi yang haus, membawa yang terluka keluar dari pertempuran, dan mengobati luka tersebut. Di antara wanita ini adalah Fatimah, putri Rasulullah yang juga istri Ali. Rasulullah sendiri berada di sayap kiri. Posisi pasukan Islam bertujuan untuk mengeksploitasi kelebihan pasukan Islam yaitu keberanian dan keahlian bertempur. Selain itu juga meniadakan keuntungan musuh yaitu jumlah dan kavaleri (kuda pasukan Islam hanya 2, salah satunya milik Rasulullah). Abu Sufyan tentu lebih memilih pertempuran terbuka dimana dia bisa bermanuver ke bagian samping dan belakang tentara Islam dan mengerahkan seluruh tentaranya untuk mengepung pasukan tersebut. Tetapi Rasulullah menetralisir hal ini dan memaksa Abu Sufyan bertempur di front yang terbatas dimana infantri dan kavalerinya tidak terlalu berguna. Juga patut dicatat bahwa tentara Islam sebetulnya menghadap Madinah dan bagian belakangnya menghadap bukit Uhud, jalan ke Madinah terbuka bagi tentara kafir. Tentara Quraisy berkemah satu mil di selatan bukit Uhud. Abu Sufyan mengelompokkan pasukan ini menjadi infantri di bagian tengah dan dua sayap kavaleri di samping. Sayap kanan dipimpin oleh Khalid bin Walid dan sayap kiri dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahl, masing-masing berkekuatan 100 orang. Amr bin Al Aas ditunjuk sebagai panglima bagi kedua sayap tapi tugasnya terutama untuk koordinasi. Abu Sufyan juga menempatkan 100 pemanah di barisan terdepan. Bendera Quraisy dibawa oleh Talha bin Abu Talha. Pasukan Muslim hampir saja mampu menghabisi musuhnya, ketika kemudian perhatian mereka teralihkan. Ketika tentara Muslim melihat harta rampasan perang yang tercecer, tanpa peduli akan perintah Rasulullah, mereka meninggalkan tempat jaga mereka dan lalu mengejar harta tersebut. Dan tiba-tiba pasukan Quraisy datang menyerang dari belakang bukit Uhud. Sehingga umat Muslim mengalami kekalahan. Hamzahpun syahid di perang ini, kemudian hatinya dirobek oleh Hindun binti Utbah yang ingin membalas dendam kematian keluarganya.

PERJANJIAN HUDAIBIYAH

Pada tahun 628 M, sekitar 1400 Muslim berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka mempersiapkan hewan kurban untuk dipersembahkan kepada kaum Quraisy. Quraisy, walaupun begitu, menyiagakan pasukannya untuk menahan Muslim agar tidak masuk ke Mekkah. Pada waktu ini, bangsa Arab benar benar bersiaga terhadap kekuatan militer Islam yang sedang berkembang. Nabi Muhammad mencoba agar tidak terjadi pertumpahan darah di Mekkah, karena Mekkah adalah tempat suci. Akhirnya kaum Muslim setuju, bahwa jalur diplomasi lebih baik daripada berperang. Kejadian ini dituliskan pada surah Al-Fath ayat 4 : <span style=”font-style: italic;”>4.  Dia-lah yang Telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang Telah ada). dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi[1394] dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana,[1394]  yang dimaksud dengan tentara langit dan bumi ialah penolong yang dijadikan Allah untuk orang-orang mukmin seperti malaikat-malaikat, binatang-binatang, angin taufan dan sebagainya,

Garis besar Perjanjian Hudaibiyah berisi : “Dengan nama Tuhan. Ini perjanjian antara Muhammad (SAW) dan Suhail bin ‘Amru, perwakilan Quraisy. Tidak ada peperangan dalam jangka waktu sepuluh tahun. Siapapun yang ingin mengikuti Muhammad (SAW), diperbolehkan secara bebas. Dan siapapun yang ingin mengikuti Quraisy, diperbolehkan secara bebas. Seorang pemuda, yang masih berayah atau berpenjaga, jika mengikuti Muhammad (SAW) tanpa izin, maka akan dikembalikan lagi ke ayahnya dan penjaganya. Bila seorang mengikuti Quraisy, maka ia tidak akan dikembalikan. Tahun ini Muhammad (SAW) akan kembali ke Madinah. Tapi tahun depan, mereka dapat masuk ke Mekkah, untuk melakukan tawaf disana selama tiga hari. Selama tiga hari itu, penduduk Quraisy akan mundur ke bukit-bukit. Mereka haruslah tidak bersenjata saat memasuki Mekkah”
Manfaat Hudaibiyah bagi kaum Muslim adalah :
·    Bebas dalam menunaikan agama Islam
·    Tidak ada teror dari Quraisy
·    Mengajak kerajaan-kerajaan luar seperti Ethiopia untuk masuk Islam
Perjanjian Hudaibiyah ternyata dilanggar oleh Quraisy, tapi kaum Muslim bisa membalasnya dengan penaklukan Mekkah (Fathul Makkah) pada tahun 630 M

FATHUL MEKKAH

Meskipun hubungan yang lebih baik terjadi antara Mekkah dan Madinah setelah penandatanganan Perjanjian Hudaibiyah, 10 tahun gencatan senjata dirusak oleh Quraisy, dengan sekutunya Bani Bakr, menyerang Bani Khuza’ah yang merupakan sekutu Muslim. Pada saat itu musyrikin Quraisy ikut membantu Bani Bakr, padahal berdasarkan kesepakatan damai dalam perjanjian tersebut dimana Bani Khuza’ah telah bergabung ikut dengan Nabi Muhammad dan sejumlah dari mereka telah memeluk islam, sedangkan Bani Bakr bergabung dengan musyrikin Quraisy.

Abu Sufyan, kepala suku Quraisy di Mekkah, pergi ke Madinah untuk memperbaiki perjanjian yang telah dirusak itu, tetapi Muhammad menolak, Abu Sufyan pun pulang dengan tangan kosong. Sekitar 10.000 orang pasukan Muslim pergi ke Mekkah yang segera menyerah dengan damai. Muhammad bermurah hati kepada pihak Mekkah, dan memerintahkan untuk menghancurkan berhala di sekitar dan di dalam Ka’bah. Selain itu hukuman mati juga ditetapkan atas 17 orang Mekkah atas kejahatan mereka terhadap orang Muslim, meskipun pada akhirnya beberapa di antaranya diampuni.

Tanggal 10 Ramadhan 8 H, Nabi Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kota Madinah diwakilkannya kepada Abu Ruhm Al-Ghifary.

Ketika sampai di Dzu Thuwa, Nabi Muhammad membagi pasukannya, yang terdiri dari tiga bagian, masing-masing adalah:
1)    Khalid bin Walid memimpin pasukan untuk memasuki Mekkah dari bagian bawah,
2)    Zubair bin Awwam memimpin pasukan memasuki Mekkah bagian atas dari bukit Kada’, dan menegakkan bendera di Al-Hajun,
3)    Abu Ubaidah bin al-Jarrah memimpin pasukan dari tengah-tengah lembah hingga sampai ke Mekkah.Dari Al-Hajun Nabi Muhammad memasuki Mesjid Al-Haram dengan dikelilingi kaum Muhajirin dan Anshar. Setelah thawaf mengelilingi Ka’bah, Nabi Muhammad mulai menghancurkan berhala dan membersihkan Ka’bah. Dan selesailah pembebasan Mekkah.

HAJI WADA’

Anas bin Malik r.a. berkata: “Apabila roh Rasulullah s.a.w. telah sampai di dada beliau telah bersabda: “Aku wasiatkan kepada kamu agar kamu semua menjaga shalat dan apa-apa yang telah diperintahkan ke atasmu.” Bahwa sesungguhnya harta dan darah kalian diharamkan bagi kalian, hingga kalian bertemu tuhan kalian, seperti hari kemuliaan hari kalian ini dan bulan ini.

Ali r.a. berkata: “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. ketika menjelang saat-saat terakhir, telah mengerakkan kedua bibir beliau sebanyak dua kali, dan saya meletakkan telinga, saya dengan Rasulullah s.a.w. berkata: “Umatku, umatku.” Telah bersabda Rasulullah s.a.w. bahawa: “Malaikat Jibril a.s. telah berkata kepadaku; “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah s.w.t. telah menciptakan sebuah laut di belakang gunung Qaf, dan di laut itu terdapat ikan yang selalu membaca selawat untukmu, Barangsiapa yang mengambil seekor ikan dari laut tcrsebut maka akan lumpuhlah kedua belah tangannya dan ikan tersebut akan menjadi batu.”

Seluruh umat Islam pada saat haji perpisahan tersebut menangis.

REFERENSI

Film Ar-Risalah

Holy Al-Qur’an

http://www.id.wikipedia.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s