Tuhan dan Perbuatan Manusia

Posted: February 15, 2010 in Aqidah Tauhid

Sesuai kaidah universal yang berlaku dalam sistem penciptaan semesta bahwa tiada seorang pun yang memiliki kepelakuan mutlak dan mandiri selain Tuhan. Apabila sebagian fenomena memiliki pengaruh dan perbuatan maka hal itu sesuai dengan kehendak dan izin Tuhan. “Wa maa tasya’una illa an yasyaa’ Alllah,” dan tidak hanya sumber perbuatan yang mengikuti kehendak Tuhan, perbuatan itu sendiri berada dalam domain kehendak Tuhan.

Secara umum pada domain pengetahuan praktis kehendak (iradah) hanya memiliki satu bagian. Dan kehendak tersebut adalah kehendak takwini dan bagian kedua kehendak tasyri’i pada ranah pembahasan-pembahasan yang bertalian dengan pengaturan hukum dan penetapan syariat. (Ali Rabbani Gulpaigani, 1368:84)

  1. Kehendak takwini adalah pengetahuan terhadap penciptaan secara sempurna dan keseluruhan. Artinya bahwa sebagaimana Tuhan mahamengetahui alam semesta secara keseluruhan dan sempurna, kemahapengetahuan terhadap semesta ini yang menjadi sebab penciptaan semesta dimana pengetahuan tersebut disebut sebagai kehendak. Dengan kata lain, ilmu dan kehendak pada kita sebagai wujud kontingen memiliki dua makna dan dua hakikat, namun pada dzat Wajib Tuhan keduanya adalah satu yaitu kehendak untuk menciptakan semesta.
  2. Kehendak tasyri’i adalah pengetahuan Allah Swt terhadap kemaslahatan pada perbuatan mukallaf dan ilmu terhadap kemaslahatan ini yang menjadi sumber diadakannya taklif dan kita menyebut hal ini sebagai kehendak tasyri’i. Karena itu apa yang tidak boleh dikosongkan dari taklif ilahi adalah pengetahuan terhadap kemaslahatan. Artinya kehendak tasyri’i yang harus terdapat pada tugas-tugas syariat (taklif). Dan apa yang mustahil dan berseberangan dengan maksud kehendak takwini. Bukan kehendak tasyri’i yang bertentangan dengan maksud kehendak tasyri’i yang merupakan perkara yang mungkin. Artinya boleh jadi Allah Swt memiliki pengetahuan terhadap kemaslahatan pelaksanaan shalat seorang hamba, namun hamba tersebut tidak melaksanakan shalat. Karena itu, apa yang diperlukan pada tugas-tugas syariat adalah kehendak tasyri’i. (Imam Khomeini:52)

Ketaatan dan maksiat, ibadah dan dosa merupakan titel-titel yang diabstraksikan dan diperoleh dalam benak tatkala dilakukan komparasi antara perbuatan-perbuatan mandiri manusia dan perintah-larangan Tuhan yang merupakan kehendak tasyri’i-Nya. Bukan komparasi dengan kehendak takwini Tuhan. Kehendak takwini Tuhan bertautan dengan seluruh perbuatan mandiri (ikhtiari) manusia.

Dari sudut pandang kecintaan dan kemurkaan – yang merupakan kriteria kehendak tasyri’i Tuhan – perbuatan-perbuatan manusia terbagi menjadi dua bagian:

  1. Perbuatan-perbuatan terpuji
  2. Perbuatan-perbuatan tercela

Bagian pertamanya berhubungan dengan kehendak tasyri’i Tuhan dan bagian keduanya tidak berkaitan dengan kehendak tasyri’i-Nya. Namun keduanya dengan memperhatikan adanya perbuatan bebas dan kehendak dalam perbuatan ini maka hal tersebut terkait dengan kehendak takwini Tuhan. Karena itu, perbuatan-perbuatan tercela, pertama dan secara langsung merupakan kehendak manusia dan secara tidak langsung merupakan kehendak takwini Tuhan dan pada saat yang sama juga bersebrangan dengan kehendak tasyri’i-Nya (yang seharusnya dikerjakan manusia).

Terpuji atau tercelanya pelbagai perbuatan ikhtiari (pilihan) manusia karena sesuainya atau tidak sesuainya dengan perintah dan titah syariat dimana perintah-perintah dan larangan-larangan syariat ini juga merupakan penjelas kerelaan dan keridaan atau ketidakrelaan dan kemarahan Tuhan dan sekali-kali tidak menjadi fokus keridhaan dan kebencian kehendak takwini Tuhan. (Allamah Thaba-Thabai, 1393:101)

Dalam hadis disebutkan Allah Swt berfirman: “Ya abna Adam! Ana awwali bihasanatika minka wa anta awwali bisayyiatika minni.” Dalam redaksi firman Ilahi apabila kita perhatikan secara seksama kita akan saksikan bahwa Tuhan menisbatkan kebaikan kepada diri-Nya dan juga kepada manusia. Namun firman-Nya, Aku lebih dahulu (utama) darimu terkait kebaikanmu, namun terkait dengan keburukan, Allah Swt berfirman, “Engkau lebih dahulu (utama) terkait dengan keburukanmu.”

Referensi :

Ali Rabbani Gulpaigani, Jabr wa Ikhtiar, Muassasah Tahqiqati Sayid al-Syuhada Qum, cetakan pertama, 1368, 84.

Imam Khomeini, Thalâb wa Irâdah, terjemahan dan ulasan, Sayid Ahmad Qahri, Intisyarat-e ‘Ilmi wa Farhanggi, hal. 52.

Allamah Thaba-thabai, Tafsir al-Mizân, Muassasah al-‘Alami al-Mathbu’at, Beirut Libanon, 1393, cetakan ketiga, jil. 1, hal. 101.

Ketiganya tersedia : http://www.google.com/tuhan+dam+perbuatan+manusia

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s